Sponsored by > https://m9wins.weebly.com/
Laras pernah punya segalanya yang orang bilang "cukup bahagia".
Rumah kecil dua kamar di pinggir kota, suami yang bekerja sebagai supir truk antar kota, dan seorang anak perempuan berusia lima tahun yang suka menyanyi lagu anak-anak sambil memeluk boneka kelinci lusuh.Tapi semuanya berubah sejak nama M9WIN masuk ke hidupnya.Awalnya hanya iseng.
Teman grup WhatsApp kantor mengirim link "coba aja sekali, modal 20 ribu bisa balik ratusan".
Laras tertawa kecil, transfer 50 ribu dari sisa gaji bulanan, lalu membuka Mahjong Ways 2 untuk pertama kalinya.Ubin-ubin emas berjatuhan.
Musik ceria.
Scatter.
Free spin.
Multiplier ×15.
Dalam 12 menit, saldo jadi 1,4 juta. Malam itu dia pulang membawa martabak besar, es krim cup, dan boneka baru untuk anaknya.
Suaminya, Andi, tersenyum lebar sambil mengelus kepala Laras.
"Kerja lembur ya tadi?" tanyanya lembut.
Laras hanya mengangguk sambil menahan senyum.
Dia tidak bilang kalau "lembur" itu dilakukan sambil duduk di kasur, menatap layar handphone sampai mata perih.Kemenangan pertama itu seperti candu yang manis.
Dia mulai mengejar lagi.
Kadang menang besar, kadang kalah separuh.
Tapi selalu ada suara di kepala: "Besok pasti balik lagi… sekali lagi saja…"Enam bulan kemudian, hutang sudah menumpuk di tiga pinjol berbeda.
Cicilan motor Andi telat tiga bulan.
Uang sekolah anak ditunda.
Rekening koran Laras menunjukkan angka minus yang semakin dalam setiap bulan.Andi tahu.
Bukan karena Laras cerita, tapi karena dia menemukan screenshot kemenangan dan kekalahan yang tersimpan di galeri, notifikasi pinjol yang tak henti berdatangan, dan tatapan mata Laras yang semakin kosong setiap malam.Malam itu hujan deras.
Andi duduk di kursi kayu reyot di ruang tamu, menatap Laras yang baru saja pulang dari minimarket—bukan belanja, tapi top up lagi.
"Berapa lagi hutangnya sekarang?" suara Andi pelan, tapi berat.Laras diam.
Tangan memegang handphone erat-erat sampai buku jarinya memutih."Sudah berapa kali aku bilang stop, Ras?"
Andi menatap istrinya lama sekali.
"Aku capek… aku capek pulang malam-malam nyetir truk, mikirin anak sekolahnya gimana, mikirin cicilan motor yang hampir disita, mikirin istriku di rumah malah main judi online sampai lupa waktu.
"Laras ingin menangis, tapi air matanya sudah kering sejak lama.
Dia hanya bergumam,
"Aku cuma pengen bantu… pengen kasih yang lebih buat kita…"Andi tertawa kecil, pahit.
"Bantu? Yang kamu bantu cuma situs itu, Ras. Bukan kita."Malam yang sama, Andi mengemasi baju-bajunya ke dalam tas besar.
Dia tidak marah besar-besaran.
Tidak membentak.
Hanya diam, tapi diamnya lebih menyakitkan daripada teriakan.Pagi harinya, ketika Laras bangun, rumah terasa lebih sepi.
Di meja makan ada secarik kertas bertulisan tangan Andi:"Ras, aku bawa anak ke rumah ibu dulu.
Kamu cari cara lunasin hutangmu.
Kalau sudah selesai, kalau kamu sudah benar-benar berhenti…
kita bicara lagi.
Tapi sekarang, aku nggak sanggup lihat kamu hancur karena ubin-ubin emas itu."Laras duduk di lantai dapur, memeluk lutut.
Handphone di sampingnya masih menyala, menampilkan halaman deposit M9WIN yang baru saja dia buka tadi malam.Di luar, hujan masih turun pelan.
Seperti menangisi apa yang sudah tidak bisa dikembalikan lagi.Di layar, ubin emas masih berkilau indah.
Tapi kali ini, kilau itu tidak lagi terasa hangat.
Hanya dingin.
Dan kosong.
Laras tidak langsung menyerah setelah Andi pergi membawa anak mereka.
Malam itu, setelah pintu tertutup dan suara motor Andi menghilang di ujung gang, Laras duduk di lantai dapur sampai subuh.
Handphone di tangannya masih menyala, tapi kali ini dia tidak membuka M9WIN.
Dia membuka galeri foto: gambar anaknya tertawa di ayunan taman, foto pernikahan mereka di KUA kecil, selfie bertiga di warung bakso langganan.
Air matanya jatuh pelan, tapi dia tidak menyeka.
Biarkan basah.
Biarkan sakitnya terasa nyata.Pagi harinya, Laras mulai berjuang.
Bukan dengan janji manis pada diri sendiri, tapi dengan langkah kecil yang nyata dan melelahkan.
Pertama, dia blokir semua grup WhatsApp yang pernah mengirim link slot.
Nomor-nomor pinjol yang mengganggu dia simpan dalam folder "Hutang" di notes handphone, lengkap dengan jumlah, bunga, dan jatuh tempo.
Total: Rp 28 juta lebih.
Angka itu seperti batu besar di dada setiap kali dia menghitung ulang.Dia berhenti beli kopi kekinian di minimarket.
Sarapan hanya roti tawar murah dan selai sisa.
Makan siang dibawa bekal nasi bungkus dari rumah.
Setiap rupiah dia catat di buku tulis kecil yang dia beli seharga seribu rupiah.
Laras mulai mencari kerja tambahan.
Pagi-pagi sebelum jam kerja kantor, dia jadi penjaga parkir dadakan di depan pasar pagi—dapat 30–50 ribu sehari kalau ramai.
Siang hari, setelah pulang kantor, dia ambil jahitan baju tetangga: gaun anak, baju kurung, celana sobek.
Malam hari, kalau badan masih kuat, dia jadi operator ojek online sampai jam 11 malam.
Punggungnya sering pegal, mata perih karena layar handphone dan lampu jalan, tapi dia terus.Setiap kali godaan datang—notification pinjol yang mengancam, iklan slot yang muncul di feed Instagram, mimpi buruk tentang ubin emas yang berjatuhan—Laras punya ritual kecil.
Dia buka foto anaknya di lockscreen handphone, lalu berbisik pelan:
"Buat kamu, Nak. Buat kita balik lagi."Enam bulan berlalu.
Hutang pinjol pertama lunas.
Lalu yang kedua.
Yang ketiga masih tersisa separuh, tapi bunga sudah tidak lagi membengkak karena dia selalu bayar tepat waktu sekarang.Suatu malam, setelah WD terakhir dari m9win (bukan dari situs slot lain), Laras duduk di teras rumah kecil yang sudah lama kosong dari suara anak dan suami.
Dia buka aplikasi bank.
Saldo: Rp 1.200.000.
Bukan banyak, tapi cukup untuk bayar sisa hutang pinjol terakhir, plus sisihkan buat beli tiket kereta ke rumah ibu mertua.Dia tidak langsung transfer.
Dia menunggu sampai pagi, mandi, pakai baju rapi yang sudah lama tidak dipakai, lalu pergi ke ATM.
Di sana, dia transfer sisa hutang itu sambil menahan napas.
Notifikasi masuk: "Pembayaran berhasil. Saldo lunas."Laras menangis di depan ATM.
Bukan tangis pilu lagi, tapi tangis lega.
Tangis orang yang akhirnya melihat ujung terowongan.Malam itu, dia kirim pesan ke Andi—pesan pertama setelah enam bulan hening:"Andi,
Hutang sudah lunas semua.
Aku sudah berhenti.
Benar-benar berhenti.
Kalau kamu masih mau bicara… aku tunggu.
Kalau tidak… aku paham.
Tapi anak kita, boleh aku lihat sebentar saja?"Pesan terkirim.
Laras mematikan handphone, lalu duduk di teras lagi.
Langit malam cerah, bintang-bintang terlihat jelas.
Tidak ada lagi kilau ubin emas yang palsu.
Hanya cahaya bulan yang tenang, dan harapan kecil yang mulai tumbuh kembali di dadanya.Perjuangan itu tidak indah.
Penuh keringat, air mata, dan malam-malam panjang tanpa tidur.
Tapi bagi Laras, setiap langkah kecil itu jauh lebih berharga daripada jackpot terbesar yang pernah dia kejar.Karena kali ini, yang dia menangkan bukan saldo di layar.
Yang dia menangkan adalah dirinya sendiri.
Dan mungkin—hanya mungkin—kesempatan untuk pulang ke pelukan keluarga yang dulu dia hampir hilangkan selamanya.
link m9win > https://heylink.me/m9wins
#m9win #m9winnovel
