Cherreads

Chapter 14 - Benang yang Terurai, Kartu yang Menyatukan

Sponsored by > https://m9wins.weebly.com/

---

Di Pasar Baru Tanah Abang, di antara deretan kios-kios kain yang berjejer rapat, ada sebuah lapak kecil bernama "Jahit Mbak Sari".

Lapak itu hanya seluas 2x3 meter, dindingnya dari triplek yang sudah melengkung karena lembab, dan atap seng yang bocor kalau hujan deras. Mbak Sari, nama aslinya Sariati, 42 tahun, sudah 18 tahun menjahit di sana.

Tangannya kasar karena jarum dan benang, tapi jahitannya rapi—baju kurung, kebaya, gamis, bahkan jas pengantin, semuanya dia kerjakan dengan telaten.

Tapi belakangan, pelanggan mulai berkurang. Orang-orang lebih suka beli baju jadi di mall atau online, lebih murah dan cepat.

Pesanan Sari tinggal setengah dari dulu. Sementara tagihan terus datang: sewa kios 3 juta sebulan, listrik dan air 800 ribu, bahan kain dari supplier yang sudah telat bayar tiga bulan, dan yang paling berat—utang modal usaha dari rentenir.

Total menggunung jadi 87 juta rupiah.Setiap pagi, sebelum membuka kios, dua orang berjaket hitam sudah duduk di warung kopi sebelah.

Mereka tidak bicara banyak, hanya menatap Sari sambil menyeruput kopi tubruk. Kadang salah satunya bilang pelan, "Bu, kapan ya? Bapak sudah nggak sabar." Sari selalu menunduk, bilang, "Tunggu minggu depan, Mas.

Pesanan lagi banyak." Bohong. Pesanan hampir tidak ada.Suatu malam, setelah menutup kios jam 10 malam, Sari duduk di bangku kayu kecilnya, menatap tumpukan kain sisa yang tidak terpakai. Matanya merah karena capek dan menahan tangis.

Di tangannya ada handphone jadul yang layarnya sudah retak. Dia buka WhatsApp, grup tetangga pasar ramai dengan screenshot kemenangan warna-warni dari M9WIN.

Ada yang bilang, "Main Baccarat aja, Bu. Modal kecil, menang gede.

Gue kemarin WD 15 juta dalam 2 jam."Sari geleng-geleng kepala.

"Judi itu dosa, Nak," katanya pada diri sendiri, mengingat nasihat ibunya dulu.

Tapi tagihan listrik besok jatuh tempo.

Anaknya, Dita, semester 3 kuliah di universitas swasta, sudah telat bayar UKT dua bulan.

Dan rentenir itu… Sari tahu mereka tidak main-main.Dia menatap layar handphone lama sekali.

Lalu, dengan tangan gemetar, dia klik link yang dikirim teman di grup.

Daftar, Deposit pertama: 200 ribu, sisa uang jajan seminggu.

Malam itu Sari belajar bermain Baccarat.

Awalnya bingung, tapi aturannya sederhana: Player atau Banker, tebak siapa yang mendekati 9.

Dia mulai kecil-kecilan, 10 ribu per tangan.

Menang.

Kalah.

Menang lagi.

Dealer live-nya, seorang wanita berpakaian merah dengan senyum ramah, bilang,

"Tenang aja Mbak Sari, ikuti saja feeling-nya."

Sari tersenyum kecil.

Sudah lama tidak ada yang memanggil namanya dengan lembut seperti itu.Dua minggu pertama, naik-turun.

Kadang untung 500 ribu, kadang rugi 300 ribu.

Tapi Sari punya aturan sendiri: main hanya malam, setelah shalat Isya.

Kalau kalah 100 ribu, stop.

Kalau untung 500 ribu, WD langsung.

Dia tidak mau terjebak seperti cerita-cerita buruk yang pernah dia dengar.

Bulan kedua, keberuntungan datang.

Malam itu hujan deras, pasar sepi.

Sari main di meja Baccarat VIP, taruhan lebih besar karena modal sudah bertambah dari kemenangan sebelumnya.

Tangan demi tangan, Banker menang terus.

Sari ikut Banker.

10 tangan beruntun.

Saldo melonjak dari 2 juta jadi 18 juta dalam 90 menit.

Dia WD 15 juta, sisanya ditinggal untuk main lagi besok.Pagi harinya, Sari datang ke warung kopi sebelah kios.

Dua orang rentenir itu sudah duduk seperti biasa.

Sari maju, suaranya tenang tapi tegas:"Mas, ini lunas semuanya.

Plus bunga yang tertunggak.

Total 92 juta

Uang tunai.

Sekarang."Salah satu dari mereka membuka tasnya, hitung uang, lalu mengangguk pelan.

"Bu Sari… hebat. Kami nggak nyangka."

Mereka pergi tanpa kata ancaman lagi.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Sari bisa bernapas lega.Dia tidak berhenti di situ.

Uang sisa dia pakai bayar UKT Dita setahun penuh.

Beli mesin jahit baru yang lebih cepat.

Renovasi kios kecilnya jadi lebih rapi, tambah lampu terang, dan pasang spanduk "Jahit Mbak Sari – Cepat, Rapi, Terpercaya".Pelanggan mulai kembali.

Bukan karena keajaiban, tapi karena Sari sekarang punya waktu untuk fokus jahit lagi, tidak lagi gelisah memikirkan tagihan.

Dita lulus kuliah tepat waktu, dapat pekerjaan di perusahaan konveksi besar.

Suatu sore, Dita datang ke kios sambil bawa martabak dan es teh manis."Bu, makasih ya. Aku tahu Ibu susah banget belakangan ini."

Tapi sekarang… Ibu kelihatan bahagia lagi."Sari memeluk anaknya erat-erat.

Air matanya jatuh ke bahu Dita, tapi kali ini air mata bahagia.Malam itu, Sari buka M9WIN lagi.

Bukan untuk main besar-besaran.

Hanya deposit kecil 100 ribu, main santai.

Dealer yang sama menyapa,

"Mbak Sari datang lagi~ Senang lihat Mbak sehat dan ceria hari ini."Sari tersenyum ke kamera.

"Alhamdulillah, Nak. Ibu sekarang main hanya buat senang-senang.

Udah nggak ada yang harus dilunasi lagi."Dia main 30 menit, untung 400 ribu, lalu WD.

Lalu matikan handphone.

Berdiri, mematikan lampu kios, dan berjalan pulang di bawah lampu jalan pasar yang mulai redup.Benang yang dulu terurai sekarang sudah dijahit rapi.

Kartu yang dulu jadi harapan terakhir kini hanya hiburan kecil.

Dan hidup Sari, setelah sekian lama berjuang di antara tumpukan tagihan dan kain sisa, akhirnya kembali utuh.

Bahagia.

Sederhana.

Dan nyata.

---

Link m9win >> https://heylink.me/m9wins

#m9win #m9winnovel

More Chapters