Sponsored By >> https://m9wins.weebly.com/
---
Di bawah pohon mangga yang daunnya berguguran seperti hujan duka yang tak pernah berhenti, gerobak kecil Mbak Rina berdiri kesepian di pinggir jalan raya Depok.
Aroma klepon dan putu ayu yang dulu membangkitkan kenangan masa kecil para pelanggan, kini hanya menyisakan pilu yang menusuk hati.
Setiap subuh, saat azan berkumandang, Rina sudah berlutut di sajadah usangnya, tangan gemetar memohon: "Ya Allah, lindungi anak-anak hamba.
Jangan biarkan mereka melihat ibunya hancur seperti ini."
Air mata jatuh membasahi sajadah, mencampur dengan doa yang pecah-pecah karena isak yang tak tertahankan.
Hidupnya seperti kain robek yang tak bisa dijahit lagi.
Rina, 38 tahun, pernah punya mimpi indah seperti dongeng: rumah kecil penuh tawa, suami yang memeluknya setiap malam, dan gerobak kue yang ramai seperti pesta.
Tapi tiga tahun lalu, mimpi itu hancur seketika.
Suaminya, Mas Budi, pergi selamanya dalam kecelakaan motor yang tragis, meninggalkan Rina dengan Andi yang berusia 10 tahun dan Sinta yang baru 7 tahun.
"Bu, ayah bilang dia bakal beli boneka baru buat aku,"
isak Sinta suatu malam, memeluk foto ayahnya yang sudah pudar.
Rina memeluknya erat, air matanya membanjiri rambut anaknya, hati seperti ditusuk ribuan jarum.
"Ayah di surga sekarang, Nak. Kita harus kuat… demi ayah." Tapi di balik pelukan itu, Rina merasa seperti pohon yang roboh, akarnya tercabut dari tanah.Untuk bertahan, Rina pinjam uang dari rentenir Pak Joko: 20 juta untuk oven baru dan stok bahan, berharap dagangan bangkit lagi.
Tapi harga bahan melambung, pelanggan lari ke minimarket, dagangan rugi setiap hari.
Hutang membengkak seperti monster yang haus darah, jadi 65 juta dengan bunga yang kejam.
Setiap sore, Pak Joko datang dengan motornya yang menggelegar seperti petir, duduk di gerobak sambil merokok kretek.
Matanya seperti pisau belati:
"Mbak Rina, bunga jalan terus, Kalau nggak bayar besok, gerobak ini aku sita. Anak-anakmu gimana makan?"
Rina berlutut di depannya, air mata berlinang:
"Pak, kasihanilah kami. Anak-anak… mereka yatim. Beri waktu lagi, Pak. Aku mohon."
Pak Joko tertawa dingin, hembusan asap rokoknya seperti kabut maut.
Rina pulang malam itu, memeluk anak-anaknya yang sudah tidur, isaknya tertahan agar tidak membangunkan mereka.
"Maafin Ibu, Nak. Ibu gagal jadi pahlawan kalian…"
Di puncak keputusasaan, saat angin malam meniup dingin menusuk tulang, handphone jadul Rina berdering lemah.
Grup WhatsApp pedagang pasar: "Slot Habanero di M9WIN gacor! Modal kecil jadi jutaan!"
Rina menatap layar retak itu, hati berperang hebat.
"Judi itu dosa besar," bisiknya, mengingat ayahnya yang dulu memperingatkannya.
Tapi besok tagihan jatuh tempo.
Sinta batuk-batuk malam ini, obatnya belum dibeli.
Andi bertanya pelan, "Bu, besok sekolah aku bayar belum?"
Rina menangis tersedu, tangan gemetar transfer 100 ribu sisa jualan hari itu ke M9WIN.
"Ya Allah, ampuni hamba. Ini buat anak-anak… hanya sekali ini…"
Doanya terputus oleh isak yang dalam, seperti jiwa yang retak.
Spin pertama:
kalah.
Rina menutup mata, rasanya seperti dunia runtuh.
Spin kedua:
kalah lagi.
Air mata mengalir deras, membasahi layar.
"Kenapa Tuhan? Kenapa aku selalu gagal?"
Tapi spin ketiga:
scatter muncul seperti cahaya malaikat di kegelapan neraka.
Free spin bergulir seperti doa yang terkabul, buah-buahan berjatuhan seperti hujan rahmat dari langit.
Multiplier naik, suara musik slot seperti nyanyian surga yang lama hilang.
Saldo melonjak jadi 1,2 juta. Rina jatuh berlutut, tangan menutup mulut, air mata bahagia bercampur syukur:
"Ya Allah… Engkau Maha Pengasih!"
Dia WD 1 juta, sisanya ditinggal.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Rina tidur sambil memeluk anak-anaknya, mimpi buruk diganti mimpi indah tentang masa depan yang cerah.
Pagi harinya, Pak Joko datang dengan wajah garang seperti singa lapar.
Rina maju, suaranya gemetar tapi penuh harapan:
"Ini Pak, 5 juta dulu. Sisanya segera. Tolong… beri kami kesempatan hidup. "
Pak Joko membuka amplop uang itu, matanya melebar kaget, suaranya pelan:
"Mbak Rina… ini dari mana? Kamu… menang lotre?"
Rina menunduk, air mata kelegaan jatuh seperti hujan yang membersihkan luka:
"Dari rezeki Tuhan, Pak. Tolong pahami, aku cuma ingin anak-anakku bahagia."
Rina tidak berhenti.
Dia main lagi, tapi dengan doa yang lebih dalam: hanya malam setelah anak tidur, modal kecil, stop kalau untung cukup.
Bulan pertama, menang 15 juta.
Saat lunas hutang terakhir, Rina berlutut di depan Pak Joko, air mata mengalir deras:
"Ini semua, Pak. 65 juta lunas. Terima kasih sudah beri waktu. Aku… aku hampir putus asa."
Pak Joko, mata yang dulu dingin sekarang berkaca-kaca, memegang tangan Rina:
"Mbak Rina, kamu perempuan paling kuat yang aku kenal. Maafkan aku pernah kasar. Semoga Tuhan berkahi kamu."
Dengan uang sisa, Rina renovasi gerobak: etalase baru, lampu cerah, spanduk besar.
Dagangan laris seperti air bah, aroma kue menyebar seperti harapan yang bangkit.
Dia jual online, pesanan membanjir.
Tapi di balik senyumnya, Rina ingat masa kecilnya: yatim sejak kecil, dibesarkan di panti asuhan dengan kasih sayang donatur yang seperti orang tua pengganti.
"Aku harus balas budi,"
bisiknya pada foto suaminya, air mata jatuh lagi:
"Mas, aku lakukan ini buat kita… buat anak-anak yatim seperti aku dulu."
Enam bulan kemudian, dengan tabungan 150 juta dari usaha dan kemenangan bijak, Rina beli rumah kecil.
Dia renovasi jadi panti asuhan
"Rumah Harapan Mbak Rina".
Hari pembukaan, Rina berdiri di depan pintu, tangan gemetar memotong pita merah.
Anak-anak yatim berlarian, memeluknya sambil menangis bahagia:
"Terima kasih, Bu Rina! Kami punya rumah sekarang!"
Sinta dan Andi tersenyum bangga, memeluk ibunya:
"Bu, ayah pasti bangga di surga."
Rina menangis tersedu, memeluk mereka semua, air mata bahagia membanjiri wajahnya seperti sungai yang membersihkan segala duka.Pak Joko datang, bawa sumbangan besar, matanya basah:
"Mbak Rina, dari rugi dan air mata, kamu jadi cahaya bagi anak-anak ini. Aku… aku belajar dari kamu."
Rina memeluknya seperti saudara, suaranya pecah:
"Terima kasih, Pak. Semua karena doa dan rahmat Tuhan."
Rina sekarang jarang main slot, hanya buat hiburan kecil.
Hidupnya penuh manis: tawa anak-anak di panti, aroma kue yang laris, dan hati yang penuh syukur.
Setiap malam, dia berdoa dengan air mata haru:
"Ya Allah, terima kasih atas rezeki ini. Biarkan hamba terus memberi, seperti yang pernah hamba terima dulu."
Dan di bawah langit malam yang bertabur bintang, Rina tahu: kemenangan terbesar bukan uang, tapi air mata bahagia yang jatuh karena bisa mengubah duka menjadi harapan bagi orang lain.
Hidupnya, yang dulu seperti kue busuk yang dibuang, kini jadi manis yang dibagikan pada dunia.
---
Link login m9win >> https://heylink.me/m9wins
#m9win #m9winnovel
