Han-eol tidak marah. Dia tidak berteriak. Rasa sakit selama puluhan tahun di kehidupan sebelumnya telah mengubah kemarahannya menjadi sebuah kekosongan yang damai.
Selama seminggu, dia mengamati. Dia melihat bagaimana istrinya tersenyum lebar saat menelepon Do-jun, senyum yang tak pernah diberikan padanya. Dia melihat anak-anaknya berlari memeluk Do-jun di halaman rumah, seolah pria itu adalah pahlawan mereka, sementara Han-eol dianggap sebagai gangguan.
Cukup, pikir Han-eol. Jika kalian menginginkannya, ambillah.
Malam itu, Han-eol duduk di ruang kerjanya. Dia tidak menyusun laporan bisnis. Dia menyusun dua dokumen: Surat Cerai dan Surat Penyerahan Hak Perwalian & Posisi Direktur Operasional.
Keesokan harinya, saat makan malam—momen langka di mana mereka semua berkumpul karena Do-jun juga hadir—Han-eol meletakkan amplop cokelat di atas meja.
"Apa ini?" tanya Ji-soo, alisnya bertaut.
"Kebebasan kalian," jawab Han-eol tenang. Dia menyesap tehnya, merasa sangat ringan. "Ji-soo, aku memberikanmu perceraian yang kau inginkan secara tersirat selama ini. Dan untukmu, Do-jun..."
Han-eol menatap pria yang dulu dia sebut sahabat itu.
"Aku menyerahkan posisiku, hak-hakku, dan tanggung jawab atas keluarga ini padamu. Kau sudah berperan sebagai ayah dan suami lebih baik dariku di mata mereka. Jadi, silakan. Ambil alih secara resmi."
Suasana meja makan mendadak hening. Si-woo dan Seo-yeon menatapnya bingung, sementara wajah Do-jun memucat.
"Han-eol, apa maksudmu? Jangan bercanda—"
"Aku tidak bercanda," potong Han-eol dengan senyum tulus. Senyum pertama yang benar-benar nyata dalam sepuluh tahun. "Aku pergi. Jangan cari aku, karena aku tidak akan bisa ditemukan."
