Satu bulan telah berlalu sejak Han-eol meletakkan surat cerai itu.
Di kediaman besar keluarga Choi, suasana seharusnya terasa "sempurna". Park Do-jun kini hampir setiap hari ada di sana, mengisi kursi yang dulu ditempati Han-eol. Namun, ada sesuatu yang salah.
"Ma, kenapa Ayah belum pulang?" tanya Seo-yeon kecil saat sarapan. "Paman Do-jun tidak tahu cara membenarkan rumah bonekaku. Ayah biasanya hanya butuh lima menit."
Ji-soo menghentikan gerakan sendoknya. "Paman Do-jun sedang sibuk di kantor, Sayang. Ayahmu sedang... pergi jauh."
"Tapi Ayah tidak pernah pergi selama ini," sahut Si-woo ketus, meski matanya terus melirik ke arah pintu depan. "Dan Paman Do-jun selalu menyuruhku belajar terus. Ayah dulu setidaknya membiarkanku bermain bola di taman."
Ji-soo merasa sakit kepala. Selama ini, dia pikir Han-eol adalah gangguan—pria membosankan yang hanya ada karena kontrak bisnis. Namun sekarang, setelah Han-eol pergi, dia baru menyadari bahwa Han-eol-lah yang selama ini menjaga "roda" rumah tangga tetap berputar tanpa suara. Han-eol yang ingat jadwal imunisasi, Han-eol yang memperbaiki keran bocor, dan Han-eol yang selalu ada di sudut ruangan, menjadi pendengar yang sabar meski tak dianggap.
Sementara itu, Do-jun mulai kewalahan. Menjadi "suami dan ayah" ternyata tidak semudah hanya datang membawa mainan dan memberikan senyuman manis. Tanggung jawab kantor yang ditinggalkan Han-eol sangat berat, dan anak-anak mulai merengek karena Do-jun tidak memiliki kesabaran setebal Han-eol.
