Jauh dari hiruk pikuk Seoul, di sebuah kafe kecil di pinggiran danau Brienz, Swiss, seorang pria dengan kemeja flanel sederhana duduk menyesap kopi hitam.
Itu adalah Han-eol. Kulitnya sedikit lebih gelap karena sering terpapar matahari, tapi matanya bersinar. Tidak ada lagi lingkaran hitam karena kurang tidur atau stres tekanan batin.
"Han-eol! Cepat kemari! Cahayanya sedang bagus untuk memotret!" teriak Min-ho dari dermaga kayu.
Han-eol tertawa, benar-benar tertawa. "Tunggu sebentar, biarkan aku menghabiskan roti ini!"
Dia baru saja menyelesaikan pendakian singkat pagi itu. Selama perjalanan ini, dia belajar banyak hal sederhana: cara menyalakan api unggun, cara berbicara dengan orang asing menggunakan bahasa isyarat dan tawa, serta cara memaafkan dirinya sendiri.
Dia tidak lagi memikirkan Ji-soo. Dia tidak lagi merasa sakit hati teringat caci maki Si-woo. Baginya, kehidupan lamanya adalah sebuah mimpi buruk yang sudah dia lupakan saat bangun tidur.
"Ternyata dunia seluas ini," batinnya sambil menatap puncak gunung yang tertutup salju. "Kenapa dulu aku mengurung diri di dalam kotak emas yang pengap?"
