Raka menoleh ke arah tangga.
Suara dari bawah masih terdengar.
Gesekan… gesekan…
Seperti sesuatu merangkak perlahan menaiki dinding menara.
Suara Aldren menggema pelan dari bawah.
"Jangan dengarkan semua yang mereka katakan."
"Sebagian dari mereka sudah kehilangan akal."
Raka kembali menatap pria yang dirantai di dalam ruangan.
Pria itu tampak sangat kurus. Rambutnya panjang dan kusut, seperti sudah bertahun-tahun tidak dipotong.
Namun matanya masih penuh ketakutan.
"Berapa lama kau di sini?" tanya Raka.
Pria itu tertawa pelan.
Tawa yang terdengar putus asa.
"Aku sudah berhenti menghitung…"
Ia menunjuk ke arah dinding ruangan.
Raka melihat banyak goresan angka di batu.
Ratusan.
Mungkin ribuan.
Pria itu berbicara lagi.
"Dulu aku juga seperti kamu."
"Dipanggil oleh menara."
"Diberi tanda pewaris."
Raka menatap telapak tangannya.
Tanda hitam itu masih bersinar samar.
"Lalu kenapa kau tidak menjadi penguasa menara?"
Pria itu tersenyum pahit.
"Karena aku melarikan diri."
Raka mengernyit.
"Maksudmu?"
Pria itu menunjuk ke atas menara.
"Untuk menjadi penguasa, kau harus mencapai puncak."
"Di sana ada jantung menara."
"Jika kau menyentuhnya… menara akan menjadi milikmu."
"Namun ada harga yang harus dibayar."
Raka merasakan perasaan tidak enak.
"Harga apa?"
Pria itu menatap Raka dengan mata kosong.
"Jiwamu."
Angin dingin tiba-tiba berhembus melalui lorong menara.
Lampu merah di dinding berkedip.
Pria itu melanjutkan dengan suara gemetar.
"Pewaris sebelumnya… Aldren…"
Raka langsung menoleh ke arah tangga.
"Dia menyentuh jantung menara."
"Dan menara memakan jiwanya."
Pria itu menunjuk ke atas dengan tangan gemetar.
"Itulah kenapa dia berubah menjadi monster."
Tiba-tiba langkah berat terdengar dari tangga.
THUD…
THUD…
Suara itu semakin dekat.
Pria yang dirantai langsung panik.
"Cepat pergi!" bisiknya.
"Kalau dia tahu aku bicara denganmu—"
Suara Aldren tiba-tiba terdengar tepat di belakang Raka.
Sangat dekat.
"Menarik…"
Raka perlahan menoleh.
Aldren sudah berada di lorong.
Tubuhnya yang besar menempel di dinding batu.
Matanya merah menyala.
Ia menatap pria yang dirantai itu.
Senyumnya perlahan melebar.
"Aku sudah bilang… beberapa tawanan di sini suka bercerita."
Aldren merangkak mendekat.
Pria yang dirantai mulai berteriak ketakutan.
"Tidak! Tolong—"
Aldren berhenti tepat di depan pintu.
Kemudian ia menoleh ke arah Raka.
"Apakah dia mengatakan sesuatu yang menarik?"
Di belakang Aldren…
Tangga menara tiba-tiba bergetar lagi.
Namun kali ini lebih kuat.
Dan dari atas terdengar sesuatu yang baru.
Bukan suara jantung.
Melainkan…
suara sesuatu yang sedang bangun di puncak menara.
