Getaran di dalam menara semakin kuat.
Batu-batu kecil berjatuhan dari dinding lorong.
Lampu merah yang menempel di dinding berkedip cepat.
KEDIP… KEDIP… KEDIP…
Seperti menara itu sendiri sedang panik.
Raka menatap Aldren.
"Jantung menara pecah… artinya apa?"
Aldren tidak langsung menjawab.
Matanya masih tertuju ke arah tangga menuju puncak.
Wajahnya terlihat tegang.
"Artinya…" gumamnya pelan.
"Menara sedang memilih pemilik baru."
Raka mengerutkan kening.
"Bukankah itu aku?"
Aldren tersenyum tipis.
Namun senyumnya terasa berbeda.
Lebih dingin.
"Seharusnya begitu."
"Tapi sesuatu berubah."
Tiba-tiba makhluk penjaga di depan Raka bergerak.
Delapan lengannya menekan dinding lorong.
Tubuhnya merendah seperti sedang bersiap melompat.
Dari tenggorokannya keluar suara yang serak.
"Cepat…"
"Naik…"
"Waktu… hampir habis…"
Raka merasakan tanda hitam di telapak tangannya semakin panas.
Seolah-olah sesuatu di puncak menara memanggilnya.
Namun sebelum Raka bergerak—
Aldren tiba-tiba menghalangi jalan menuju tangga.
Tubuh besarnya menutup lorong.
Matanya menyala merah.
"Aku berubah menjadi monster karena menyentuh jantung menara."
"Menurutmu…"
Ia menatap tajam ke arah Raka.
"…aku akan membiarkan orang lain mengambilnya?"
Raka mengepalkan tangannya.
"Menara memilihku."
Aldren tertawa pelan.
"Menara memilih siapa pun yang cukup bodoh untuk naik."
Tiba-tiba getaran besar mengguncang menara.
BOOOOM!
Retakan panjang muncul di dinding lorong.
Dari celah batu keluar cahaya merah gelap.
Makhluk penjaga mengeluarkan jeritan panjang.
"JANTUNG… TERBUKA…"
Aldren langsung menoleh ke arah tangga.
Matanya melebar.
"Tidak…"
"Belum waktunya!"
Raka melihat sesuatu yang aneh.
Cahaya merah dari retakan itu bergerak seperti urat nadi.
Berdenyut.
Hidup.
Dari dalam retakan terdengar suara detak jantung raksasa.
DUM…
DUM…
DUM…
Setiap detakan membuat menara bergetar.
Makhluk penjaga tiba-tiba berbalik menghadap tangga.
Semua lengannya menempel di lantai.
Ia berbisik dengan suara penuh ketakutan.
"Dia… bangun…"
Raka merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
"Siapa?"
Makhluk itu tidak menjawab.
Namun dari puncak tangga terdengar suara langkah baru.
Bukan langkah Aldren.
Bukan makhluk penjaga.
Langkah itu terlalu pelan.
Namun setiap langkah membuat udara terasa semakin berat.
TOK…
TOK…
TOK…
Aldren mundur satu langkah.
Raka bisa melihat sesuatu yang mengejutkan.
Monster itu… takut.
Sebuah bayangan panjang muncul dari kegelapan tangga.
Perlahan…
Seseorang mulai turun dari puncak menara.
Dan suara dingin itu terdengar.
"Akhirnya…"
"Seorang pewaris baru datang."
