Cherreads

Teh Hangat di Halaman Belakang

H1ruko
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
12
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - Bab 1: Perkenalan

Di kota kecil Qinghe, jauh dari hiruk pikuk ibu kota, tinggal seorang gadis bernama Mei Lin. Ia bukan putri bangsawan, juga bukan pendekar terkenal—ia hanya membantu bibi-nya mengelola kedai teh kecil di dekat jembatan batu.

Pagi itu, angin musim semi membawa wangi bunga pir. Mei Lin sedang menyusun cangkir ketika seorang tamu baru masuk. Pakaiannya sederhana, tapi cara berdirinya rapi, seperti orang yang terbiasa dengan tata krama.

"Teh apa yang biasa disajikan di sini?" tanyanya sopan.

"Teh hijau Qinghe," jawab Mei Lin sambil tersenyum. "Rasanya ringan. Cocok untuk orang yang baru datang."

Pria itu tersenyum balik. "Kalau begitu, aku akan mencobanya."

Namanya Li Wen. Seorang sarjana yang singgah sementara sambil menunggu hasil ujian negara. Sejak hari itu, ia sering datang—kadang membaca, kadang hanya duduk memandangi sungai. Mei Lin tak pernah bertanya terlalu banyak. Di kota kecil, keakraban tumbuh dari kebiasaan, bukan dari pengakuan.

Suatu sore, hujan turun tiba-tiba. Kedai sepi. Li Wen membantu menurunkan tirai bambu.

"Kau selalu menunggu hujan reda sendirian?" tanyanya.

Mei Lin mengangguk. "Biasanya begitu."

Li Wen menuangkan teh ke dua cangkir. "Kalau hari ini… kita menunggu bersama?"

Mei Lin terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Mereka duduk tanpa banyak bicara. Hujan jatuh, teh menghangat, dan waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Tak ada janji, tak ada kata cinta. Hanya perasaan nyaman—yang dalam dunia sederhana seperti Qinghe, sudah lebih dari cukup.

Saat hujan berhenti, Li Wen berdiri.

"Aku akan pergi ke ibu kota minggu depan," katanya. "Tapi… aku harap bisa kembali."

Mei Lin tersenyum. "Teh Qinghe rasanya sama. Kedainya juga."

Li Wen menatapnya, lalu membungkuk hormat. "Itu sudah cukup menjadi alasan."

Dan di bawah langit sore yang cerah, Mei Lin menyadari: cinta tidak selalu datang dengan badai. Kadang ia hadir seperti teh hangat—sederhana, tenang, dan perlahan meresap ke hati.