Hari pasar selalu membuat Qinghe terasa lebih ramai dari biasanya. Kain warna-warni digantung di sepanjang jalan, pedagang memanggil pembeli dengan suara riang, dan aroma kue beras bercampur dengan wangi rempah.
Mei Lin bangun lebih pagi. Ia membantu bibinya menyiapkan termos teh besar untuk dijual di pasar. Saat sedang mengikat tutupnya, seseorang berhenti di depan kedai.
"Pagi," sapa suara yang sudah mulai ia kenal.
Li Wen berdiri di sana, membawa keranjang bambu kosong. Pakaian sederhananya tampak lebih rapi dari hari-hari biasa.
"Kau ke pasar juga?" tanya Mei Lin.
Ia mengangguk. "Aku ingin membeli kertas dan kuas. Mungkin… sedikit kue beras."
Mei Lin tersenyum. "Kalau begitu, kita searah."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan batu. Li Wen membantu membawakan termos teh tanpa diminta. Langkah mereka selaras, seolah sudah terbiasa.
Di pasar, Mei Lin sibuk melayani pembeli. Li Wen menunggu di dekat meja, kadang membantu menghitung koin, kadang sekadar berdiri menjaga. Beberapa orang tersenyum melihat mereka.
"Anak muda itu rajin," bisik seorang ibu kepada Mei Lin.
Mei Lin hanya menunduk, pipinya sedikit hangat.
Saat pasar mulai lengang, Li Wen kembali membawa dua kue beras.
"Yang satu untukmu," katanya.
Mei Lin menerimanya ragu. "Aku tidak—"
"Aku sudah kenyang," potong Li Wen cepat, meski jelas belum menyentuh yang satunya.
Mereka duduk di tangga batu dekat sungai. Angin menggerakkan air dengan lembut.
"Aku mendapat kabar dari ibu kota," kata Li Wen tiba-tiba. "Hasil ujian akan diumumkan lebih cepat."
Mei Lin menoleh. "Itu kabar baik."
"Ya," katanya, lalu tersenyum kecil. "Tapi juga berarti aku harus berangkat lebih cepat."
Ada jeda. Bukan jeda yang berat—hanya jeda yang meminta kejujuran.
"Kapan?" tanya Mei Lin akhirnya.
"Lusa."
Mei Lin mengangguk pelan. "Kalau begitu… besok teh Qinghe akan lebih hangat."
Li Wen tertawa kecil. "Aku akan datang lebih awal."
Saat mereka berdiri untuk pulang, Li Wen berhenti sejenak.
"Mei Lin," katanya, hati-hati. "Jika aku kembali… bolehkah aku duduk di kedai itu lagi?"
Mei Lin menatap sungai, lalu mengangguk.
"Kalau kau kembali," katanya lembut, "aku akan menyeduhkannya sendiri."
Li Wen tersenyum—senyum yang ringan, tapi cukup untuk membuat langkah pulang terasa lebih pelan dari biasanya.
