Cherreads

Chapter 1 - Kenangan yang Seharusnya Tak Ada

Ia menoleh ke arah Kaivan, yang berlutut di dekat tembok batu. Ujung jarinya memancarkan cahaya biru pucat ketika Tome of Omnicent aktif. Pola-pola cahaya merayap di atas batu dan logam, memperkuat struktur yang sebentar lagi akan runtuh.

"Kaivan, kita harus mencapai puncak sekarang. Mereka akan tiba dalam tiga puluh menit," bisiknya, suaranya seperti hembusan napas yang terbawa badai.

Kaivan mengangguk. "Baik. Ayo bergerak." Namun langkah mereka terhenti ketika tubuh temannya tiba-tiba limbung. Ia terjatuh di atas salju, wajahnya pucat kebiruan. Dengan refleks, Kaivan menangkap bahunya agar ia tidak benar-benar roboh.

"Hei! Jangan berani-beraninya pingsan sekarang!" teriak Kaivan, suaranya bergetar saat berusaha tetap tenang.

Anak itu tersenyum lemah. "Tenang saja… cuma sedikit capek…"

Halaman Tome of Omnicent di tangan Kaivan tiba-tiba bergetar. Huruf-huruf bercahaya terbentuk di udara:

Naiklah. Cari ruang terbuka. Bertahanlah dari gelombang kedua.

Kaivan mengertakkan gigi. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengangkat tubuh temannya ke punggungnya. Otot-ototnya berderit menahan beban.

Mereka menerobos badai, mendaki menuju dataran tinggi. Di belakang mereka, tank darurat milik temannya terkubur di bawah salju dan puing-puing. Di sepanjang jalur, mayat-mayat prajurit dan monster raksasa membeku dalam posisi terakhir saksi bisu dari perang yang belum usai.

Angin meraung, mencambuk wajah dan paru-paru mereka. Setiap langkah terasa berat, setiap tarikan napas seperti menelan pecahan es.

Langit malam memerah oleh api dan ledakan yang memecah kesunyian. Pegunungan Kaukasus tak lagi sunyi; salju putihnya kini ternoda jelaga, abu, dan darah. Cahaya jingga menerangi tank-tank hancur dan helikopter yang terbelah. Api masih menjilat rangka logamnya, melelehkannya perlahan, menciptakan pemandangan neraka beku di bawah salju.

Dari punggung bukit yang dipenuhi reruntuhan, Kaivan dan temannya memandang lembah di bawah, terengah-engah dan terluka. Apa yang mereka lihat adalah sesuatu yang tak seharusnya disaksikan manusia: Gog dan Magog menari di atas puing-puing, merayakan kebangkitan mereka.

Di bawah cahaya api yang berkelip, wujud mereka tampak jelas manifestasi kacau dari ciptaan yang telah rusak. Ada yang kecil dan lincah seperti monyet, ada pula yang besar dan brutal, tumpukan daging dan tulang. Kulit mereka penuh luka, masih meneteskan darah segar.

Sebagian menggerogoti bangkai tank dan helikopter, rahang bergerigi mereka menghancurkan logam seperti biskuit. Gigi kuning tak rata berkilau, mata merah menyala dalam gelap kegilaan purba di setiap tatapan. Yang lain, dipandu naluri aneh, menghiasi diri dengan potongan besi: rantai di dada, pelat baja di bahu, pecahan roket di punggung entah sebagai simbol status, atau teror.

Tawa mereka histeris perpaduan haus darah dan ekstasi, seperti suku yang merayakan perburuan kemenangan. Sebagian menari di atas tumpukan tulang hangus, melakukan ritual mengerikan di bawah hujan bara.

Kaivan terpaku. Napasnya berat, bahunya terbebani tubuh temannya yang lunglai. Dari ketinggian, lembah itu tampak seperti lautan api dan darah. Tenggorokannya kering, pikirannya berputar.

Dari kedalaman ingatan masa kecilnya, sepotong hadis muncul kata-kata yang dulu tak ia pahami, kini menggema dengan beban yang tak tertahankan.

"Sesungguhnya Bzzz BZzzzz berkata: 'Wahai Bzzzzz,' dan Bzzzzz menjawab: 'Aku datang memenuhi panggilan-Mu dengan penuh sukacita, wahai Bzzzz.' Lalu dikatakan: 'Ambillah dari keturunanmu orang-orang yang ditetapkan untuk neraka.' Bzzzzz bertanya: 'Siapakah mereka, wahai Tuhanku?' Dijawab: 'Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan masuk neraka, dan hanya satu yang masuk surga.' Para sahabat gemetar ketakutan, bertanya: 'Siapakah di antara kami yang satu itu?' Maka dikatakan… sembilan ratus sembilan puluh sembilan adalah Gog dan Magog, dan satu di antaranya adalah kalian.'"

Sebuah kilatan cahaya meledak di lembah, memantul di dinding-dinding salju yang robek. Dalam sekejap itu, Kaivan menyadari kebenaran yang mengerikan: makhluk-makhluk itu bukan berjumlah puluhan atau ratusan melainkan ribuan. Gelombang gelap mengalir menuruni tebing, menyebar seperti tsunami bayangan. Retakan yang dulu hanya selebar satu meter kini menganga, memuntahkan gerombolan tanpa akhir dari jurang.

"Jadi… ini maksud hadis itu… satu dari sembilan ratus sembilan puluh sembilan," bisik Kaivan parau, tenggelam oleh angin. Genggamannya menguat di bahu temannya. Anak itu hampir tak sadar, wajahnya sepucat salju.

"Lubang itu… bagaimana bisa menyebabkan hal sebesar ini?" Suara Kaivan bergetar, campuran takut dan tak percaya.

Anak itu memaksakan senyum tipis, meski napasnya terputus-putus dan rasa sakit bergetar di matanya. Asap hitam membubung dari reruntuhan, disertai dentuman ledakan dan raungan monster yang menggema di balik kabut. Setiap tarikan napas terasa semakin berat seolah dunia sendiri menekan dadanya.

"Kaivan… aku… nggak kuat lebih lama," seraknya, batuk darah yang menodai bibirnya. "Tenagaku habis… cuma kita berdua. Mana mungkin melawan mereka semua…"

Tatapan Kaivan mengunci mata temannya yang gemetar penuh takut, namun tetap keras kepala. Ia menekan radio di bahunya, suaranya kasar namun teguh. "Bertahan sedikit lagi. Aku akan cari jalan keluar."

Langit di atas mereka bersinar merah darah, seolah dinding neraka mulai retak. Dari kejauhan, seberkas cahaya menghantam tanah, mengguncang udara. Dan di tengah kekacauan itu, sesuatu mulai bergerak.

Kristal di dalam Omnicent mulai berdengung pelan. Cahaya biru tenangnya perlahan berubah menjadi putih menyilaukan. Huruf-huruf samar muncul di permukaannya, membentuk satu kata yang menghantui: Ketemu.

Kaivan membeku. Dunia seakan berhenti. Suara ledakan, jeritan bahkan detak jantungnya lenyap dalam cahaya itu.

Ia terbangun dengan napas tersendat.

Udara di kamarnya dingin dan lembap. Keringat mengalir di pelipisnya, membasahi bantal. Tangannya gemetar saat memegangi kepalanya, rasa sakit menjalar dari pelipis hingga leher.

"Apa itu… mimpi?" bisiknya serak.

Namun bayangan cahaya putih itu tak memudar. Ia masih berpendar di balik matanya redup, namun jelas. Dan di telapak tangannya, ia masih bisa merasakan hangatnya.

Kaivan duduk di tepi ranjang, membiarkan keheningan meregang. Cahaya pagi menyelinap melalui tirai, melukis garis-garis emas di wajah pucatnya. Ia menarik napas dalam, menoleh ke jendela setengah terbuka, tempat dedaunan bergoyang lembut tertiup angin.

Lalu, perlahan, ia berdiri. "Sekolah," gumamnya. "Hari baru."

Namun langkahnya masih berat. Setiap napas mengingatkannya bahwa sesuatu telah berubah entah di dunia, atau di dalam dirinya. Dan jauh di dalam pikirannya, satu kata itu masih bergema: Ketemu.

 

 

More Chapters