Cherreads

Chapter 5 - Dipakai, Lalu Dibenci

"Kaivan, jangan cemberut begitu. Kita lagi jalan santai di tempat yang bagus, harusnya kamu senang," kata Tania sambil menyelipkan lengannya ke lengan Kaivan. "Kamu bakal kelihatan jauh lebih ganteng kalau lebih sering tersenyum."

Kaivan memaksakan senyum, meski rasanya seperti beban. Jauh di dalam hati, ia tahu kebahagiaan ini bukan miliknya. Senyum itu hanyalah topeng lain, satu dari sekian banyak topeng yang telah ia pelajari untuk dikenakan di hadapan orang lain.

Seiring waktu berlalu, jarak di antara mereka tak lagi bisa disangkal. Kaivan mulai menjauh, menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dikelilingi tumpukan buku yang menjadi pelariannya dari kenyataan. Namun bahkan di sana pun, pikirannya terus mengembara. Bayangan Tania menghantuinya, seperti arwah masa lalu yang menolak pergi.

Ia mengisolasi diri, sengaja menghindari tawa ceria teman-temannya. Hari demi hari, ia memilih sudut perpustakaan yang paling jauh. Tenggelam dalam dunia fiksi, ia kerap melamun, membayangkan kehidupan di mana ia memiliki teman sejati, nakama yang berjalan di sisinya menuju tujuan yang sama.

Namun sedalam apa pun ia mengubur diri dalam fantasi, beban kekecewaan tak pernah benar-benar meninggalkan hatinya. Suatu siang, saat ia membalik halaman sebuah novel, suara langkah kaki yang mendekat memecah lamunannya. Ketika mendongak, ia melihat Tania berdiri di hadapannya, dengan senyum yang tetap bersinar seperti biasa.

"Kaivan, kenapa kamu selalu sendirian? Ayo, bicara denganku," ujarnya ceria, sambil menarik kursi di seberangnya tanpa menunggu izin.

"Aku baik-baik saja, Tania. Jangan khawatir," jawab Kaivan datar, jemarinya sedikit bergetar saat mencengkeram buku.

Tak puas, Tania mendekat. "Kaivan, aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku di sini mau mendengarkan."

Kaivan mengembuskan napas panjang dan menutup bukunya dengan gerakan lambat yang disengaja. "Aku tidak ingin membebani siapa pun, Tania. Lebih baik kamu tidak ikut terlibat." Suaranya pelan, namun tegas. Setelah itu, ia berdiri dan pergi, meninggalkan Tania terpaku dalam keheningan.

Hari berubah menjadi minggu, dan Kaivan semakin menarik diri. Setiap ajakan Tania, untuk bertemu, tertawa, berbagi, selalu ia jawab dengan alasan-alasan yang semakin hampa. Sekolah yang dulu terasa hidup kini berubah menjadi dinding-dinding menyesakkan yang seolah terus menghimpitnya. Teman-teman yang dahulu menghangatkan hari-harinya kini terasa begitu jauh, nyaris tak terjangkau.

"Kaivan," panggil Tania pelan suatu sore, menyentuh bahunya saat ia menatap kosong ke luar jendela. "Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"

Kaivan menoleh perlahan, mata kosongnya bertemu dengan mata Tania. "Tania… aku butuh waktu sendiri." Kata-katanya nyaris tak lebih dari bisikan.

Tania menggigit bibirnya, kekecewaan merembes ke dalam suaranya. "Aku cuma ingin membantumu, Kaivan. Aku peduli padamu," pintanya, matanya berkaca-kaca.

Namun Kaivan hanya menggeleng. "Maaf… tapi aku tidak bisa." Dan sekali lagi, ia pergi, meninggalkan Tania membeku di tempatnya.

Di tempat lain, Tania meluapkan perasaannya pada teman-temannya. Di sudut kantin, ia berbicara dengan suara bergetar. "Kenapa Kaivan jadi seperti ini? Aku sungguh-sungguh dengannya. Kami bahkan pernah berjanji, setelah lulus nanti, hubungan kami akan dibawa lebih jauh." Kepalanya tertunduk, air mata hampir jatuh.

Seorang gadis berambut kuncir menepuk bahunya dengan menenangkan. "Dia tidak pantas mendapatkanmu, Tania. Kamu sudah menolak banyak cowok demi dia, tapi dia malah membuatmu menangis."

Kata-kata itu memicu gelombang penilaian. Tak lama kemudian, Kaivan menjadi sasaran empuk ejekan. Di kelas, bisik-bisik berubah menjadi olok-olok, menusuk lebih dalam daripada kesunyian mana pun.

"Hei, bocah yatim! Berani-beraninya kamu ngacangin cewek tercantik di sekolah!" ejek seseorang, disusul tawa kejam.

"Lihat potongan rambutnya, kayak mangkuk! Sok keren banget sih?" sindir yang lain.

Di sebuah bangku taman, Kaivan duduk sendirian, memandangi daun-daun gugur. Kenangan akan kebahagiaan yang singkat kembali muncul, rapuh, seperti mimpi yang tak pernah benar-benar nyata. Tanpa ia sadari, air mata mengalir di pipinya.

"Dekat dengan Tania berarti dimanfaatkan. Menjauh darinya berarti dicemooh," gumamnya, dadanya dipenuhi keputusasaan. Ia merasa terjebak, berdiri di antara dua jurang yang sama-sama menjanjikan kehancuran.

"Aku tidak akan membiarkan rasa sakit ini menguasai diriku lagi," bisiknya parau. Setiap hinaan, setiap luka, semuanya akan menjadi batu bata, disusun tinggi untuk membangun dinding pelindungnya. Mungkin suatu hari, hidupnya tak lebih dari rantai yang menuntunnya melangkah ke depan, kepala tertunduk, diseret oleh takdir yang tak bisa ia lawan maupun hindari.

Suatu malam, di tengah keheningan, Kaivan terbangun dengan tubuh basah oleh keringat. Mimpi buruk itu kembali, wajah-wajah yang mengejeknya, tawa Tania, dan dirinya sendiri berdiri sendirian di tengah kehancuran. Ia mengusap wajahnya dan menatap cermin di samping tempat tidur.

"Kaivan, apa sebenarnya yang kamu cari?"

Ia bertanya pada pantulannya, namun tak ada jawaban. Hanya keheningan, memekakkan dan menyesakkan.

Saat fajar menyingsing, Kaivan kembali ke perpustakaan, satu-satunya tempat yang pernah memberinya kedamaian. Di sana, ia menenggelamkan diri dalam lautan kata, berharap menemukan secuil ketenangan. Namun jauh di lubuk hati, ia tahu bahwa melarikan diri bukanlah jawaban.

"Mungkin suatu hari nanti, aku tidak akan hidup seperti landak," pikirnya, meski keraguan masih mengendap di hatinya. Untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah berharap dan bertahan, menyusun kembali serpihan dirinya yang hancur.

Setelah satu tahun penuh air mata dan kekecewaan, Kaivan melangkah ke kelas baru dengan hati yang berat. Pengacakan siswa menandai awal baru bagi sebagian orang, namun baginya, itu adalah akhir dari segala yang familiar. Rina, Dandi, Tania… teman-teman yang dulu menjadi poros dunianya kini telah pergi. Kini, pagi-paginya dimulai dengan langkah lelah menuju sekolah, seolah beban dunia menekan pundaknya.

Lorong-lorong sekolah yang biasanya riuh oleh tawa dan obrolan terasa asing bagi Kaivan. Setiap langkah membawa perih yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata. Bagi dirinya, suara-suara itu tak lebih dari gema masa lalu yang tak akan pernah bisa ia sentuh kembali. Ia berjalan dengan kepala sedikit tertunduk, setiap pijakan mengingatkannya betapa jauhnya ia terseret dari kebahagiaan yang pernah ia kenal.

"Kenapa aku harus berada di sini?"

More Chapters