Cherreads

Chapter 3 - Bintang Terlalu Jauh

Setiap pagi, saat matahari mengintip dari ufuk timur, Kaivan terbangun dengan jantung yang berdegup keras. Sinar keemasan yang menyelinap di sela-sela tirai kamarnya terasa seperti pengingat bahwa setiap hari membawa satu kesempatan baru, sebuah harapan yang rapuh. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, namun di balik bayangan itu, kegelisahan tak pernah benar-benar pergi.

"Mungkin… hari ini," gumamnya.

Perasaan Kaivan terhadap Rina telah ia pendam sejak lama. Gadis yang cerah dan cerdas itu selalu berada di sekitarnya, dengan senyum manis yang terukir dalam-dalam di hatinya. Tak jarang ia hanya memandanginya dari kejauhan, pikirannya melayang, sementara tangannya menulis bait-bait puisi di buku hariannya. Setiap baris adalah cermin dari perasaan yang terlalu dalam, terlalu rapuh, untuk pernah ia ucapkan.

Pagi itu, Kaivan mempersiapkan diri dengan penuh kehati-hatian. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan cokelat yang sudah usang. Jemarinya sedikit gemetar saat membalik halaman-halamannya, puisi-puisi yang ia tulis untuk Rina, bait-bait yang ia yakini mampu mewakili perasaan terdalamnya.

Hari terasa cerah. Angin sepoi membawa aroma samar kopi dari kafe tempat mereka sering berkumpul. Saat melangkah memasuki area sekolah, Kaivan melihat Rina duduk di bangkunya, tenggelam dalam sebuah buku. Bibirnya melengkung membentuk senyum lembut setiap kali ia menemukan bagian yang menghibur, dan pemandangan itu membuat Kaivan terpaku di tempat.

"Ini saatnya," katanya pada diri sendiri.

Ia mengepalkan tangan, berusaha menenangkan badai di dadanya. Ketika jam pelajaran berakhir, ia menarik napas dalam-dalam dan mendekati bangku Rina, setiap langkah terasa lambat namun penuh tekad.

"Hai, Rina," sapanya. Suaranya bergetar, namun sarat ketulusan.

Rina mendongak, dan senyum hangat langsung menerangi wajahnya. "Oh, Kaivan! Hai! Ada apa?" balasnya ceria, menutup bukunya dan menatapnya dengan mata yang berkilau.

"A-aku… ingin mengatakan sesuatu," ujar Kaivan pelan tapi tegas. Ia memaksa dirinya menatap mata Rina, meski jantungnya terasa seolah runtuh.

Rina memiringkan kepala sedikit, rasa ingin tahu terpancar dari raut wajahnya. "Oh? Apa itu? Kamu kelihatan serius hari ini," katanya, senyumnya sedikit meredakan ketegangan di dada Kaivan.

Namun sebelum Kaivan sempat melanjutkan, suara langkah tergesa memotong momen itu. Dandi muncul di sisi Rina, mengenakan jaket kulit hitam yang memberinya kesan mencolok tanpa usaha. "Sayang! Akhirnya aku sampai. Maaf telat," katanya, sambil meletakkan tangan di bahu Rina dengan santai.

Wajah Rina langsung berbinar. "Ah, kamu tidak telat kok. Aku baru saja mengobrol dengan Kaivan," ujarnya, sedikit menggeser kursinya untuk memberi ruang.

Kata sayang menghantam Kaivan seperti tamparan. Gaungnya berputar-putar di kepalanya, menghancurkan setiap harapan rapuh yang sempat ia bangun. Ia tetap berdiri di sana, berusaha menutupi rasa perih yang menyebar di dadanya.

"Jadi, sayang, bagaimana kalau kita nonton film malam ini?" tanya Dandi, seolah tak menyadari keberadaan Kaivan.

"Tentu! Kedengarannya seru," jawab Rina antusias. Tawa mereka memenuhi ruang di sekitar bangku itu, beradu keras dengan kesunyian yang menekan Kaivan.

Ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk bicara, tetapi lidahnya terasa berat, tak berguna. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap, merasa semakin kecil setiap detiknya. Akhirnya, ia berdiri perlahan.

"Tidak apa-apa… aku baru ingat masih ada urusan," gumamnya. Suaranya begitu lirih hingga tenggelam oleh tawa mereka.

"Oh, kamu sudah mau pergi? Hati-hati ya, Kaivan!" seru Rina, masih dengan senyum di wajahnya.

Kaivan mengangguk lemah sebelum melangkah pergi. Langit yang cerah tak lagi terasa indah. Semua warna seakan memudar, ditelan kegelapan yang berkumpul di dalam dirinya.

Di bawah langit senja yang memerah, Kaivan berjalan menyusuri trotoar dengan langkah tanpa tujuan. Di tangannya, ia menggenggam erat buku catatan usang itu. Puisi-puisi di dalamnya, yang dulu penuh cinta, kini terasa kosong dan tak bermakna.

Bintang yang Tak Pernah Tergapai.

Judul itu menatapnya dari halaman, seperti cermin dari keberadaannya sendiri. Matanya tertahan pada kata-kata tersebut dengan kepedihan yang sunyi, dadanya terasa berat seolah memikul seluruh beban dunia.

"Kapan aku akan bertemu seseorang yang benar-benar mencintaiku… dan yang bisa benar-benar kucintai, selamanya?"

Pertanyaan itu meluncur sebagai bisikan, hampir tenggelam oleh deru kendaraan yang melintas. Air mata menggenang di matanya, namun ia menahannya, enggan menunjukkan kelemahan, bahkan pada dirinya sendiri.

Di persimpangan jalan yang ramai, Kaivan tanpa sengaja berpapasan dengan seorang gadis berambut merah muda gelap dan bermata ungu terang. Gadis itu berjalan santai sambil mengetuk layar ponselnya, namun Kaivan terlalu tenggelam dalam badai pikirannya sendiri untuk menyadarinya.

Malam itu, di bawah kanopi bintang yang sunyi, Kaivan duduk sendirian di taman dekat rumahnya. Angin malam membawa aroma rumput basah, tetapi tak sedikit pun meringankan beban di dadanya. Air mata mengalir di pipinya, tak terbendung.

"Kenapa, Rina? Kenapa? Aku selalu baik padamu, selalu mengajakmu makan bersama…" bisiknya, seolah bintang-bintang di atas sana mau mendengarkan. Namun langit tak memberi jawaban. Kata-katanya tercerai seperti harapan kosong, tak terdengar, tak dipedulikan.

Dan kemudian, seperti angin tiba-tiba di tengah musim panas, Tania muncul dalam hidupnya. Suatu pagi di sekolah, ia menghampiri Kaivan dengan rambut cokelat panjang yang tergerai lembut dan senyum manis yang seolah mampu mencairkan hati sedingin apa pun. Ia meletakkan sebotol jus dan sebatang cokelat di atas meja Kaivan.

"Kaivan, akhir-akhir ini kamu kelihatan murung. Ada apa?" tanyanya lembut, suaranya penuh kekhawatiran.

More Chapters