Fajar menyingsing dengan warna abu-abu suram, seolah matahari pun enggan melihat kekacauan yang terjadi di hutan perbatasan Veridia. Di dalam gua persembunyian kami, ketegangan masih menggantung tebal di udara, lebih pekat daripada kabut pagi.
Aku masih dalam kondisi setengah lumpuh. Meskipun aku sudah bisa menggerakkan leher dan jari-jari tanganku, kakiku masih terasa seperti jeli rasa anggur yang ditinggalkan di bawah terik matahari. Lady Seraphina duduk di sudut gua, memeluk lututnya, tidak berani menatap mataku setelah insiden "percobaan pembunuhan" semalam.
"Waktu istirahat habis," Elena berdiri, mengencangkan tali kulit yang mengikat pelindung bahunya. Dia menatap ke arah hutan dengan waspada. "Mereka sudah dekat. Aku bisa mencium bau napas mereka yang busuk dari sini."
"Siapa? Penagih pajak?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana.
"Lebih buruk. Blood Hounds," jawab Elena singkat. Dia berjalan ke arahku, lalu berbalik membelakangiku dan berjongkok. "Naik."
Aku menelan ludah. "Nona Elena, ini agak memalukan bagi harga diri pria dewasa sepertiku..."
"Pilih mana: harga diri atau nyawa?" potongnya tajam.
Dengan bantuan Lila yang mendorong punggungku, aku akhirnya "terpasang" di punggung Elena. Dia menggunakan kain jubahnya untuk mengikat pinggangku ke tubuhnya agar aku tidak jatuh saat dia bermanuver. Rasanya... canggung. Wajahku berada tepat di samping helm peraknya, dan aku bisa mencium aroma samar keringat bercampur sabun lavender dari rambutnya.
"Pegangan yang erat, Pahlawan Panci. Jika kau menggigit lidahmu saat aku melompat, aku tidak akan mengobatinya," peringat Elena sebelum dia melesat keluar gua.
"Tunggu! Panci-ku!"
Panci hitam itu melayang sendiri dari tanah masih dalam mode Semi-Sentient dan menempel di tangan kananku seolah-olah ada magnet tak terlihat.
"Oke, Panci. Kau jadi perisai sisi kanan. Jangan sampai pantatku kena panah," bisikku pada benda mati itu. Panci itu bergetar pelan sebagai tanda setuju.
Kami baru saja berlari sekitar lima ratus meter menembus hutan pinus yang lebat ketika suara lolongan itu terdengar.
AWOOOOOOOOO!!!
Suara itu bukan suara serigala biasa. Itu suara yang terdengar seperti logam bergesekan, melengking dan menyakitkan telinga. Dari balik semak-semak di belakang kami, lima bayangan hitam melompat keluar.
Mereka adalah anjing. Tapi menyebut mereka anjing adalah penghinaan bagi anjing pudel. Makhluk-makhluk ini sebesar sapi, kulitnya terbuat dari batuan obsidian yang retak-retak, dan dari retakan itu memancar cahaya magma oranye. Mata mereka kosong, hanya ada api yang menyala, dan air liur mereka menetes membakar rumput yang mereka lewati.
[Sistem Alert: Musuh Terdeteksi!] [Nama: Hellhound Tracker (Tipe Elite).] [Level: 15] [Kelebihan: Tidak bisa lelah, gigitan api, dan sangat setia pada tuannya (Malphas).] [Kelemahan: Air suci, es krim, dan pukulan keras di hidung.]
"Lila! Bom penghambat!" teriak Elena tanpa mengurangi kecepatannya. Dia berlari zig-zag menghindari pepohonan dengan kelincahan yang mustahil bagi seseorang yang membawa beban pria dewasa seberat 70 kilogram di punggungnya.
"Siap, Kak!" Lila, yang berlari di samping Seraphina, merogoh tasnya. Dia melemparkan tiga bola kaca ke belakang.
POOF! POOF! POOF!
Bola-bola itu meledak, mengeluarkan cairan ungu lengket yang menyebar di tanah. Dua Hellhound terdepan menginjak cairan itu. Kaki mereka terpeleset, dan mereka berguling-guling menabrak pohon besar.
GUK! CUIT! (Suara anjing terjepit).
"Hahaha! Itu Lamuan Pelicin Lantai selbukuna!" sorak Lila.
Namun, tiga Hellhound lainnya melompati teman mereka yang jatuh. Mereka semakin dekat. Salah satunya membuka mulut lebar-lebar, bola api mulai terbentuk di kerongkongannya.
"Elena! Awas jam 6!" teriakku.
Elena tidak bisa berbalik karena sedang fokus membawa Seraphina dan Lila keluar dari jalur berbahaya.
"Rian! Lakukan sesuatu!" teriak Elena.
"Sialan! Aku ini paket, bukan petarung!" Tapi tanganku bergerak. Adrenalin membuat kelumpuhan di tubuh bagian atasku menghilang sementara. "Panci! Mode Penangkis!"
Aku mengayunkan panci ke belakang punggung Elena tepat saat bola api itu meluncur.
TANG!!!
Bola api itu menghantam pantat panci, memantul ke atas, dan meledak di dahan pohon, menghujani kami dengan serpihan kayu gosong. Panci itu panas membara, tapi gagangnya tetap dingin di tanganku.
"Wow! Panas! Panas!" teriakku. "Elena, lari lebih cepat! Pantatku mulai hangat!"
"Diam dan terus menembak!" balas Elena. "Anggap dirimu turret pertahanan! Aku kakinya, kau senjatanya!"
"Turret?! Kau pikir ini game Call of Duty abad pertengahan?!"
Tapi ide itu... masuk akal. Elena tidak bisa menggunakan kedua tangannya untuk memegang Greatsword dengan efektif sambil menggendongku. Aku harus jadi penyerang jarak jauh.
"Sistem! Gacha! Sekarang! Aku butuh proyektil!"
[Ding!] [Permintaan Darurat Diterima. Menggunakan 1 Tiket Gacha "Bumbu Dapur".] [Memutar...] [Selamat! Anda mendapatkan Item: "Cabai Rawit Setan (x50 Butir)".] [Deskripsi: Cabai dengan tingkat kepedasan 50 Juta Scoville. Dapat menyebabkan kebocoran lambung dan penyesalan mendalam pada lubang pembuangan musuh.]
Sebuah kantong kecil berisi cabai merah mungil muncul di tanganku.
"Lila! Kau punya ketapel atau semacamnya?!" teriakku.
"Tangkap ini!" Lila melemparkan sebuah karet ketapel sederhana yang biasa dia pakai untuk iseng menembak burung.
Aku menangkapnya. Dengan posisi bergelantungan di punggung Elena yang sedang melompat-lompat, aku memasang sebutir cabai rawit ke karet ketapel.
"Rasakan ini, Anjing Neraka! Spicy Shot!"
Aku membidik Hellhound yang paling dekat, yang baru saja hendak menggigit kaki Elena. Aku melepaskan tembakan.
Jepret!
Cabai mungil itu melesat lurus, masuk tepat ke dalam lubang hidung Hellhound itu yang besar dan basah.
Hening sejenak.
Lalu...
NGUINGGGGG!!!
Hellhound itu berhenti mendadak. Matanya yang berapi membelalak lebar. Dia mulai bersin-bersin hebat, mengeluarkan api dari hidungnya. Dia menggaruk-garuk moncongnya ke tanah, melolong kesakitan seolah-olah baru saja menghirup lava murni.
[Critical Hit! Weakness Exploded!] [Musuh terkena status: 'Hidung Terbakar'. Akurasi berkurang 100%.]
"Berhasil! Hahaha! Makan itu!" tawaku puas.
"Bagus, Rian! Terus tembak!" puji Elena, napasnya mulai memburu.
Kami terus berlari. Aku menjadi sniper dadakan di punggung Elena. Setiap kali ada Hellhound yang mendekat, aku menembakkan cabai rawit ke mata atau hidung mereka. Kombinasi lari cepat Elena dan tembakan akuratku (terima kasih auto-aim sistem yang diam-diam membantu) membuat kami berhasil menjaga jarak.
Namun, hutan semakin menipis. Di depan kami, terbentang sebuah jurang lebar dengan jembatan gantung tua yang terbuat dari tali dan papan kayu lapuk. Di bawahnya, sungai deras mengalir dengan bebatuan tajam yang siap meremukkan tulang.
"Jembatan itu!" tunjuk Seraphina. "Itu perbatasan wilayah Veridia!"
"Cepat seberangi!" perintah Elena.
Lila dan Seraphina berlari duluan. Jembatan itu bergoyang hebat ditiup angin. Elena menyusul di belakang. Kayu-kayu tua berderit menahan beban kami berdua ditambah zirah berat Elena.
Saat kami sampai di tengah jembatan, Hellhound terakhir yang ukurannya jauh lebih besar, mungkin sang Alpha muncul di tepi jurang. Dia tidak mengejar ke jembatan. Sebaliknya, dia membuka mulutnya lebar-lebar, mengumpulkan energi api yang sangat besar. Dia tidak berniat mengejar kami. Dia berniat menghancurkan jembatannya.
"Gawat! Dia mau memutus talinya!" teriakku.
"Pegangan!" Elena mempercepat langkahnya, tapi jarak ke seberang masih sepuluh meter lagi.
Alpha Hellhound itu menembakkan bola api raksasa. Bukan ke arah kami, tapi ke tiang penyangga jembatan di sisi kami tuju.
DUARRR!
Tali jembatan putus.
Jembatan itu runtuh seketika. Kami melayang di udara. Gravitasi menarik kami ke bawah menuju sungai kematian.
"ELENA!" teriak Seraphina dan Lila dari seberang tebing yang aman.
Di udara, waktu seolah melambat. Aku melihat wajah Elena yang tertutup helm, tapi aku bisa merasakan ketenangannya.
"Rian," ucapnya tenang di tengah deru angin jatuh. "Percaya padaku?"
"Dalam situasi ini?! YA!"
Elena mencabut pedang besarnya di udara. Dia tidak menebas musuh. Dia menancapkan pedangnya sekuat tenaga ke dinding tebing batu saat kami jatuh melewatinya.
KRAAAAK!
Pedang itu menancap dalam ke celah batu, menahan bobot kami berdua dengan sentakan yang menyakitkan. Kami tergantung di sana, berayun-ayun lima puluh meter di atas sungai, hanya ditahan oleh gagang pedang dan kekuatan lengan Elena yang luar biasa.
"Argh..." Elena mengerang, otot lengannya menegang maksimal. "Kau... berat sekali... Rian..."
"Maaf! Aku akan diet mulai besok!"
Di atas tebing, Alpha Hellhound melolong kecewa karena mangsanya tidak jatuh ke sungai. Dia bersiap menembak lagi ke arah kami yang menjadi target diam di dinding tebing.
"Lila! Sekarang!" teriak Elena.
Di atas tebing, Lila sudah siap. "Makan ini, Anjing Jelek! Mega Boom Potion!"
Lila melemparkan seluruh isi tasnya ke arah Alpha Hellhound. Ledakan warna-warni terjadi—asap, lendir, api, dan bau busuk bercampur jadi satu. Tanah di tepi tebing tempat Alpha itu berdiri runtuh karena ledakan.
Anjing raksasa itu melolong saat pijakannya hilang, dan dia jatuh melewati kami, meluncur deras menuju sungai di bawah.
BYURRR!
Hening.
Elena menarik napas panjang. "Lila... Seraphina... tarik kami naik..."
Setengah jam kemudian, kami semua terbaring di rumput aman di sisi seberang jurang. Napasku masih memburu. Jantungku berdetak secepat drummer musik metal. Tapi anehnya, sensasi di kakiku mulai kembali. Efek kelumpuhan itu hilang karena guncangan adrenalin.
Aku melepaskan ikatan di pinggangku dan berguling dari punggung Elena. Ksatria wanita itu berbaring telentang, melepaskan helmnya. Wajahnya basah oleh keringat, rambut pirangnya menempel di dahi, tapi dia tersenyum. Senyum yang benar-benar lepas.
"Kita... gila," katanya sambil tertawa kecil di sela napasnya. "Turret cabai rawit? Serius?"
Aku ikut tertawa, memijat kakiku yang kesemutan. "Hei, itu efektif! Kau lihat muka anjing itu saat hidungnya terbakar? Epik!"
Lady Seraphina merangkak mendekat. Dia tidak bicara, tapi dia mengambil sapu tangannya dan membersihkan debu dari wajah Elena, lalu beralih membersihkan wajahku. Tindakan kecil itu mengatakan lebih banyak daripada ribuan kata maaf.
"Terima kasih," bisik Seraphina. "Kalian berdua... terima kasih."
[Ding!] [Quest Selesai: Melarikan Diri dari Veridia.] [Reward: XP +1000, Hubungan Party Meningkat Maksimal.] [Corruption Meter: 0.15% (Stabil).]
Aku melihat ke langit yang mulai cerah. Kami selamat. Tapi saat aku melihat ke arah hutan di depan kami wilayah tak bertuan yang harus kami lewati selanjutnya aku melihat bayangan hitam tipis berdiri di antara pepohonan. Bayangan diriku versi iblis.
Dia tidak lagi menakut-nakuti. Dia hanya berdiri di sana, menatap Elena dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sedih? Rindu?
"Nikmati waktumu, Rian," suara itu bergema di kepalaku. "Semakin kau mencintai mereka, semakin indah saat aku menghancurkannya nanti."
Aku mengepalkan tangan, meraih panci hitamku yang setia. "Kita lihat saja nanti, Brengsek," gumamku pelan.
"Kau bicara dengan siapa, Rian?" tanya Lila sambil memunguti sisa cabai rawit yang berceceran.
"Bukan siapa-siapa," aku berdiri, mengulurkan tangan pada Elena untuk membantunya bangkit. "Ayo. Perutku lapar. Aku butuh bahan masakan sungguhan, bukan bubur lumpur lagi."
Elena menggenggam tanganku. Genggamannya kuat dan hangat. "Masaklah yang enak, Pahlawan Panci. Kau berutang nyawa padaku hari ini."
"Siap, Nona Komandan."
Kami berjalan menjauh dari jurang, masuk ke dalam hutan baru yang menyimpan misteri baru. Petualangan kami masih panjang.
