Konon, setiap manusia memiliki satu momen di mana hidup mereka bersinar paling terang sebelum akhirnya padam. Bagi Julius Caesar, itu adalah saat ia menyeberangi Sungai Rubicon. Bagi Neil Armstrong, itu adalah langkah pertamanya di bulan.
Bagiku, Rian, 24 tahun, pengangguran profesional dengan spesialisasi menamatkan game RPG dalam waktu kurang dari 24 jam, momen itu terjadi di lorong 3 minimarket.
Misi hari ini adalah misi tingkat SS+: Menyelamatkan dompetku yang sekarat dengan memanfaatkan promo flash sale mie instan rasa soto, 'Beli 1 Gratis 2' Ini bukan sekadar belanja ini adalah perjuangan bertahan hidup.
"Tinggal satu paket lagi!" teriakku dalam hati, mataku terkunci pada target.
Paket mie instan itu bersinar di rak paling bawah, seolah memanggilku dengan aura surgawi. Namun, aku bukan satu-satunya pemburu. Di ujung lorong lain, seorang ibu-ibu dengan daster motif macan tutul dan roll rambut yang masih menempel menatap paket yang sama. Tatapannya tajam, setajam assassin level 99.
Kami berlari.
Langkahku cepat. Sepatu kets dekilku berdecit di lantai keramik yang baru saja dipel. Aku unggul dua langkah. Kemenangan sudah di depan mata. Tanganku terulur, siap merengkuh harta karun MSG itu.
Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Tali sepatu kiriku, yang kumasukkan asal-asalan pagi ini, terlepas. Kaki kananku menginjak tali itu. Hukum fisika bekerja tanpa ampun. Tubuhku melayang ke depan, kehilangan keseimbangan.
Dalam gerakan lambat alias slow motion yang dramatis, aku melihat wajah ibu-ibu daster macan itu berubah dari kompetitif menjadi ngeri. Bukan karena aku jatuh, tapi karena arah jatuhku.
Aku tidak jatuh ke arah mie instan. Aku jatuh menabrak rak besi tinggi di sebelah kiri. Rak itu berguncang hebat. Di puncaknya, tersusun rapi galon-galon air mineral isi ulang yang beratnya masing-masing 19 liter.
Satu galon goyah. Dan jatuh
Hal terakhir yang kulihat bukanlah kilas balik masa kecilku yang bahagia, atau wajah orang tuaku, melainkan pantat galon biru yang meluncur deras menuju kepalaku.
BRAK!
Dunia menjadi gelap. Bunyi tulang retak terdengar samar, lalu hening. Pikiran terakhirku sebelum kesadaranku lenyap sepenuhnya adalah: Sial, kasirnya pasti akan menuduhku merusak properti toko.
"Apakah aku di neraka? Kok dingin?"
Aku membuka mata. Atau setidaknya, aku berpikir aku membuka mata. Tidak ada apa-apa di sini. Hanya ruang hampa berwarna putih yang membentang tanpa batas. Tidak ada langit, tidak ada tanah, tidak ada cakrawala.
Tubuhku terasa ringan. Kulihat tangan dan kakiku, mereka transparan, berpendar dengan cahaya biru muda.
"Wah, jadi hantu itu begini rasanya? Tidak seburuk dugaanku. Setidaknya punggungku tidak sakit lagi karena kebanyakan duduk main game," gumamku sambil melayang-layang.
Tiba-tiba, sebuah suara yang memekakkan telinga bergema dari segala arah. Suaranya datar, monoton, dan terdengar seperti perpaduan antara asisten virtual smartphone dan penyiar berita yang sedang menahan kantuk.
[Ding!] [Sistem Reinkarnasi Antar-Dimensi diaktifkan.] [Memindai Jiwa...] [Subjek: Rian.] [Penyebab Kematian: Trauma tumpul pada kranium akibat objek galon air mineral. Kategori Kematian: Sangat memalukan.]
"Hei! Sopan sedikit!" protesku. Suaraku menggema, tapi tidak ada wujud fisik yang bisa kudebat.
[Analisis Karma: Netral.] [Analisis Prestasi Hidup: Menamatkan 'Dark Souls' tanpa terkena hit (Poin +10), Tidak pernah punya pacar seumur hidup (Poin -50), Mati demi mie instan (Poin -100).] [Total Poin Karma: Minus.]
"Tunggu dulu! Kenapa jomblo mengurangi poin?!" teriakku frustrasi. "Dan hei, mie instan itu sumber kehidupan!"
[Keputusan Sistem: Anda tidak layak masuk Surga. Neraka sedang penuh karena ada promo diskon dosa di dunia bawah. Opsi tersisa: Transmigrasi ke Dunia Fantasi (Isekai).]
Jantung hantuku berdegup kencang. Isekai? Serius? Ini adalah impian setiap wibu dan gamer di muka bumi! Menjadi pahlawan, dikelilingi gadis-gadis cantik, punya kekuatan sihir penghancur dunia. Akhirnya, keberuntunganku berputar!
"Saya terima! Saya terima!" seruku antusias. "Kirim aku sekarang! Beri aku kekuatan Overpowered! Aku mau jadi Demon Lord atau Pahlawan Cahaya!"
[Permintaan diterima. Memulai inisialisasi 'Sistem Gacha Takdir'.]
Sebuah roda rolet raksasa muncul entah dari mana, melayang di hadapanku. Ukurannya masif, dengan ribuan petak hadiah yang berwarna-warni.
[Karena poin keberuntungan Anda terdeteksi sangat rendah (-999), Anda tidak bisa memilih kelas atau senjata Anda sendiri. Anda harus memutarnya melalui Gacha.]
Aku menelan ludah. "Oke, Gacha. Aku sudah biasa main Gacha. Meskipun biasanya ampas, tapi kali ini pasti beda. Ayo!"
Roda itu berputar. Wuuung... wuuung...
Mataku menelusuri hadiah-hadiah yang tertera di sana. Pedang Excalibur (Rate 0.001%) - Lewat. Tongkat Sihir Merlin (Rate 0.001%) - Lewat. Darah Naga (Rate 0.01%) - Lewat.
Roda itu mulai melambat. Jarum penunjuk melewati Armor Emas Hercules... melewati Cincin Solomon... dan semakin pelan saat mendekati area berwarna emas berkilauan.
"Ayolah... berhenti di Grimoire of Destruction... ayolah..."
Jarum itu bergeser satu milimeter lagi, meninggalkan area emas, dan berhenti tepat di sebuah kotak kecil berwarna cokelat kusam dan berkarat yang nyaris tak terlihat saking kecilnya. Luas areanya di roda itu mungkin 50%, tapi warnanya menyatu dengan latar belakang.
KLIK.
[Ding! Selamat! Gacha Selesai.] [Anda mendapatkan Item Kelas: Common (Sampah/Barang Bekas).] [Nama Item: Panci Penggorengan Bekas Nenek Moyang.]
Hening. Benar-benar hening.
"Apa?" tanyaku lirih.
[Deskripsi: Panci besi hitam yang sudah gosong di bagian pantatnya. Pegangannya agak goyang, perlu dikencangkan dengan obeng. Memberikan efek pasif 'Tetanus' jika melukai musuh, dan efek aktif 'Bonk' (suara nyaring yang memalukan).]
"KAU BERCANDA?! AKU MAU MENYELAMATKAN DUNIA DENGAN PANCI?!"
[Proses Transfer Dimulai. Semoga beruntung, Pahlawan Panci. Jangan mati di hari pertama.]
Lantai di bawahku (yang sebenarnya tidak ada) tiba-tiba terbuka. Aku terperosok ke dalam kegelapan.
"SISTEM SIALAAAAAAN...!!!"
Angin berdesing kencang di telingaku. Sensasi jatuh bebas ini terasa sangat nyata. Jauh lebih nyata daripada wahana di Dufan. Aku bisa melihat daratan di bawahku semakin membesar. Hutan hijau yang luas, sungai yang berkelok, dan gunung-gunung menjulang.
Indah. Sangat indah. Kecuali fakta bahwa aku sedang meluncur ke arah kanopi pohon dengan kecepatan terminal.
BRAK! KRAK! BUG!
Tubuhku menghantam ranting-ranting pohon raksasa, mematahkan dahan-dahan, sebelum akhirnya mendarat dengan bunyi SPLAT yang basah dan menjijikkan.
Anehnya, aku tidak merasa sakit yang berarti. Tulangku tidak patah. Sepertinya tubuh baruku ini sedikit lebih tahan banting daripada tubuh manusia bumiku. Atau mungkin, benda yang kududuki ini menyelamatkanku.
Aku meraba pantatku. Terasa basah, lengket, dan...kenyal. Perlahan, aku membuka mata. Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan hutan purba yang rimbun. Udara berbau tanah basah dan... cuka?
Aku menunduk. Aku sedang duduk di atas gundukan gel transparan berwarna biru muda. Ukurannya sebesar mobil city car.
"Slime?" gumamku.
Gundukan gel itu bergetar. Perlahan, dua buah mata merah menyala muncul di permukaan tubuhnya, diikuti dengan sebuah mulut lebar yang terbentuk dari cairan, lengkap dengan deretan gigi taring yang tampak tajam dan melayang-layang di dalam tubuhnya.
Ini bukan Slime lucu seperti di anime isekai santai yang bisa dijadikan bantal. Ini monster. Monster sungguhan.
[Sistem Alert: Musuh Terdeteksi!] [Nama: Acid Slime (Level 3)] [Status: Lapar dan Marah karena diduduki.] [HP Musuh: 150/150]
Slime itu menggeram suara seperti air mendidih yang meletup letup.
Aku panik. Aku mencoba berdiri, tapi kakiku terpeleset cairan lendir. Di tangan kananku, aku merasakan beban yang familiar. Aku mengangkatnya. Sebuah panci hitam legam. Pantatnya gosong, gagangnya kayu yang sudah lapuk.
"Oke, Rian. Tenang. Kau gamer. Anggap ini tutorial," bisikku pada diri sendiri, meski tanganku gemetar hebat. "Tapi biasanya tutorial dikasih pedang kayu, bukan alat masak!"
Slime itu tidak menunggu aku siap mental. Ia melontarkan sebagian tubuhnya seperti peluru lendir ke arah wajahku.
Refleksku bekerja. Terima kasih kepada ratusan jam bermain game aksi, tubuhku bergerak sebelum otakku memproses. Aku menunduk ke kiri, berguling di atas akar pohon yang menonjol. Cairan lendir itu menabrak batang pohon di belakangku.
CESS! Batang pohon itu berasap dan berlubang. Itu asam! Kalau kena mukaku, tamatlah riwayat wajah pas-pasan ini.
"Oke, itu berbahaya! Banget!"
Slime itu memanjangkan tubuhnya menjadi semacam tentakel cambuk dan menyabet ke arah kakiku. Aku melompat agak canggung dan mendarat di tanah becek.
Sekarang atau tidak sama sekali. Jarak kami dekat. Aku mencengkeram gagang panci itu dengan dua tangan seolah-olah itu adalah Greatsword.
"RASAKAN INI! JURUS... OSENG-OSENG MERCON!" teriakku, murni karena panik.
Aku mengayunkan panci itu sekuat tenaga ke arah "wajah" si Slime.
TANG!!!
Suara yang dihasilkan sungguh luar biasa. Bukan suara sfx epik, melainkan suara nyaring dan cempreng seperti ibu-ibu yang memukul tiang listrik tanda ronda malam. Gema suaranya memantul ke seluruh hutan, membuat burung-burung beterbangan.
Panci itu menghantam tubuh kenyal Slime. Getarannya menjalar hingga ke gigiku.
Ajaibnya, Slime itu terpental mundur. Tubuhnya bergetar hebat tak terkendali.
[Ding! Critical Hit!] [Efek Pasif 'Gema Dapur' Aktif: Gelombang suara frekuensi tinggi mengacaukan inti tubuh Slime.] [Damage: 45]
"Hah? Sakit juga?" Aku terbelalak melihat bar HP musuh berkurang sepertiganya. Kepercayaan diriku yang tadinya di dasar jurang, kini merangkak naik setinggi mata kaki. "Ternyata panci ini bukan sekadar sampah!"
Slime itu meraung marah, tubuhnya memerah. Ia bersiap menerjang dengan seluruh badannya untuk menelanku bulat-bulat.
"Tidak semudah itu, Ferguso!"
Aku berlari menyongsongnya. Tepat saat Slime itu melompat, aku melakukan sliding (yang lebih mirip terpeleset tapi terlihat keren) ke bawah tubuhnya yang melayang, lalu bangkit dan memutar badan.
"Pukulan Pantat Panci!!"
PLAK! TANG! BUK!
Aku memukulinya bertubi-tubi seperti koki yang sedang mencincang daging alot. Cairan biru muncrat ke mana-mana. Setiap pukulan menghasilkan bunyi TANG yang semakin nyaring.
Pada pukulan terakhir, aku melompat dan menghantamkan panci dari atas ke bawah tepat di inti tubuhnya yang berupa kristal kecil.
KRAK!
Kristal itu retak. Tubuh Slime itu meledak menjadi genangan air biasa, menyisakan batu kristal kecil di tanah.
Napas ku terengah-engah. Keringat dingin membasahi punggung. Aku berdiri di sana, di tengah hutan asing, berlumuran lendir biru, memegang panci gosong, dengan pose kemenangan yang konyol.
[Ding! Anda membunuh Acid Slime.] [Level Up! Level 1 -> Level 2.] [Mendapatkan Title: 'Koki Jalanan'.]
"Title macam apa itu..." Aku jatuh terduduk, lemas. "Tapi aku hidup. Aku berhasil."
Baru saja aku hendak mengatur napas, sebuah sensasi dingin menusuk tengkukku. Bukan karena angin, tapi karena insting purba yang berteriak: BAHAYA.
Semak-semak di depanku tersibak perlahan. Bukan monster yang keluar kali ini. Tapi langkah kaki yang terdengar berat dan berirama besi.
Seorang wanita melangkah keluar dari balik bayangan pohon.
Waktu seolah berhenti sesaat. Dia adalah definisi dari fantasi itu sendiri. Rambut pirang keemasan yang panjang diikat ekor kuda, berkilauan tertimpa sinar matahari yang menembus dedaunan. Wajahnya memiliki proporsi sempurna yang mustahil ada di dunia nyata; mata biru sedingin es kutub, hidung mancung, dan bibir tipis yang terkatup rapat.
Dia mengenakan zirah pelat perak full body yang didesain elegan namun fungsional, bukan zirah bikini yang sering ada di game murahan. Di tangannya, tergenggam sebuah pedang besar (Greatsword) yang panjangnya hampir menyamai tinggi badanku. Pedang itu memancarkan aura suci yang membuat mataku sakit hanya dengan melihatnya.
Dia menatapku. Lalu menatap lendir di bajuku. Lalu menatap panci di tanganku.
Ekspresinya tidak berubah. Datar. Dingin. Menghakimi.
Perlahan, dia mengangkat pedang raksasa itu dengan satu tangan seolah beratnya seringan kapas dan mengarahkan ujungnya tepat ke jakun leherku.
"Identifikasi dirimu, Makhluk Asing," suaranya merdu, namun mengandung otoritas yang memaksaku untuk patuh. "Kenapa kau muncul dari langit dan membantai penjaga ekosistem hutan ini dengan... peralatan... dapur?"
Aku menelan ludah. Ujung pedang itu hanya berjarak satu sentimeter dari kulitku. "A-aku Rian. Pahlawan... Panci?" jawabku ragu.
Wanita itu menyipitkan matanya. Tiba-tiba, sebuah layar status transparan muncul di atas kepalanya. Hanya aku yang bisa melihatnya.
[Nama: Elena von Aethelgard] [Kelas: Saintess Knight (Ksatria Suci)] [Level: ??? (Terlalu tinggi untuk diintip oleh kroco sepertimu)] [Status Hubungan: Waspada / Menganggapmu Orang Gila]
Namun, di bawah status itu, ada teks yang berkedip sangat cepat, nyaris tak tertangkap mata, berwarna merah darah yang kontras dengan antarmuka sistem yang biru.
[Role Masa Depan: Cinta Sejatimu / Eksekutor Kematianmu] [Potensi Ancaman bagi MC: ABSOLUT]
Aku berkedip, mengira aku salah lihat. Tulisan merah itu menghilang secepat kilat, kembali menjadi status biasa.
"Pahlawan Panci?" Elena mengulangi kata-kataku dengan nada skeptis yang kental. Dia menurunkan pedangnya sedikit, tapi tidak menyarungkannya. "Dunia ini semakin aneh. Raja Iblis bangkit, monster bermutasi, dan sekarang Dewa mengirim orang gila bersenjata panci."
Dia menghela napas panjang, lalu menatapku lagi. Kali ini, ada kilatan aneh di matanya. Rasa familiar yang membingungkan. Seolah... dia pernah melihatku sebelumnya. Atau mungkin aku yang merasa pernah melihatnya?
Jantungku berdesir aneh. Bukan karena takut, tapi perasaan dejavu yang menyakitkan di dada.
"Bangunlah," perintahnya. "Kau terlihat menyedihkan. Jika kau bisa membunuh Slime itu sendirian, mungkin kau tidak sepenuhnya tidak berguna. Ikut aku."
"Ke mana?" tanyaku sambil berusaha berdiri, lututku masih goyah.
"Ke Ibukota. Aku butuh pembawa barang. Kuda-ku baru saja dimakan Wyvern kemarin," jawabnya santai sambil berbalik badan dan mulai berjalan.
"Tunggu! Aku baru sampai di sini! Aku bukan kuli panggul!" protesku sambil mengejarnya.
"Pilihannya ada dua, Pahlawan Panci," kata Elena tanpa menoleh. "Ikut aku dan dapat makan, atau tetap di sini dan jadi makan malam Serigala Hutan saat matahari terbenam."
Aku menatap hutan yang mulai gelap, lalu menatap punggung Elena yang tegap dan bersinar. Perutku berbunyi nyaring.
"Oke, aku ikut! Tapi namaku Rian, bukan Pahlawan Panci!"
Saat aku berlari kecil menyusul langkah kakinya yang lebar, aku tidak menyadari sesuatu. Di sudut pandanganku, di bagian paling bawah antarmuka Sistem yang tersembunyi, sebuah meteran kecil baru saja muncul.
[Corruption Meter (Tingkat Kerasukan): 0.01%] [Segel 'The Calamity': Terkunci rapat.] [Status Mimpi: Non-Aktif (Untuk saat ini).]
Angin hutan berhembus dingin, membawa aroma petualangan dan darah yang belum tertumpah. Kisahku di dunia Aethoria baru saja dimulai. Kisah tentang tawa, panci gosong, dan tragedi yang menunggu di ujung jalan.
