Cherreads

Chapter 16 - Chapter 16

Tiga hari berlayar di atas The Iron Belly, dan aku mulai menyadari satu hal: Laut Penyesalan tidak dinamakan demikian karena alasan puitis. Dinamakan begitu karena setiap orang yang masuk ke sini akan menyesal dilahirkan.

Ombak di sini tidak bergulung secara normal. Air lautnya berwarna abu-abu keruh, dan kadang-kadang, kau bisa melihat wajah-wajah samar yang berteriak di permukaan air sebelum menghilang ditelan buih. Langit selalu tertutup awan mendung yang berputar pelan, seolah-olah dunia sedang menahan napas menunggu bencana.

"Koki! Mana jatah makan siangnya?!" teriak Kapten Barbarossa dari anjungan.

Aku sedang berada di dapur kapal yang bergoyang-goyang, berusaha menumis sayuran sambil menahan agar panci tidak meluncur ke lantai. "Sabar, Kapten! Cumi-cumi ini alot sekali, dia masih mencoba mencekik wortelnya!"

Berkat "Kacamata Kuda Laut" gacha-ku, aku tidak lagi muntah-muntah. Tapi masalahnya, kacamata ini membuatku melihat dapur kapal seperti padang rumput yang bergoyang. Jadi, seringkali aku mencoba melangkah ke "tanah datar" yang ternyata adalah lantai miring, membuatku menabrak dinding berkali-kali.

Lila duduk di atas tong berisi bubuk mesiu (tempat favorit barunya), sedang memancing lewat jendela dapur. "Kak Lian, ikan di sini aneh. Tadi aku dapat ikan yang punya kaki manusia. Dia bilang 'Halo' lalu lali (lari)."

"Jangan didengar, Lila. Itu ikan halusinasi. Buang saja kembali," sahutku sambil menuangkan Kaldu Kraken ke dalam sup.

Panci hitamku bergetar senang. Sejak memakan tentakel Kraken tempo hari, dia menjadi lebih "aktif". Kadang, saat aku tidak melihat, dia akan menggeser dirinya sendiri mendekati pisau dapur, seolah sedang bersiap untuk tawuran.

Tiba-tiba, suhu udara turun drastis. Uap masakan yang mengepul dari panciku berubah menjadi kristal es kecil.

DUARRR!

Suara petir menggelegar. Bukan petir biasa, tapi petir berwarna hijau yang membelah langit. Kapal berguncang hebat, membuat supku tumpah sedikit (yang langsung dijilat oleh Panci dengan lidah bayangannya).

"SEMUA KE GELADAK! BADAI HANTU DATANG!" teriakan Barbarossa terdengar panik.

Aku mematikan kompor, menyambar Lila, dan lari keluar. Pemandangan di luar mengerikan. Laut yang tadinya abu-abu kini berubah menjadi hitam pekat. Kabut tebal menyelimuti kapal, dan dari dalam kabut itu, bermunculan sosok-sosok transparan yang melayang.

Mereka adalah Drowned Souls, jiwa-jiwa pelaut yang mati di laut ini. Mereka meratap, menangis, dan bergumam tentang penyesalan mereka.

"Seharusnya aku tidak membeli saham gorengan..." "Kenapa aku selingkuh dengan istri kapten..." "Aku lupa mematikan kompor di rumah..."

Suara-suara itu berdengung di telingaku, membuat kepalaku pening.

[Sistem Alert: Serangan Psikis Terdeteksi.] [Musuh: Drowned Souls (Level ??).] [Efek: Menyebabkan depresi mendadak dan keinginan untuk melompat ke laut.] [Saran: Pikirkan hal-hal bahagia. Seperti gajian.]

"Serang mereka! Jangan biarkan mereka masuk ke kapal!" perintah Barbarossa sambil mengayunkan kapak besarnya yang dilapisi sihir api.

Namun, kapak itu menembus tubuh hantu-hantu itu begitu saja. "Sial! Serangan fisik tidak mempan! Kita butuh serangan suci! Elena! Di mana Elena?!"

Aku menoleh ke kiri dan kanan. Lady Seraphina sedang sibuk membuat pelindung cahaya tipis untuk melindungi dirinya dan Lila. Tapi Elena, sang Ksatria Suci yang seharusnya menjadi MVP (Most Valuable Player) di situasi seperti ini, tidak terlihat di mana pun.

"Nona Elena?!" teriakku.

"Kak Lian! Di sana!" Lila menunjuk ke arah tumpukan tong anggur kosong di sudut geladak yang paling gelap.

Aku berlari ke sana. Di antara celah tong-tong itu, aku melihat kilauan zirah perak. Elena sedang duduk meringkuk, memeluk lututnya, dengan tangan menutupi telinganya rapat-rapat. Matanya terpejam erat, dan tubuhnya gemetar lebih hebat daripada saat dia melihat Panci Iblisku.

"Elena? Apa yang kau lakukan? Kita diserang hantu!"

CETAR!!!

Petir hijau menyambar tiang kapal. Elena menjerit kecil, "KYAAA!", dan semakin membenamkan wajahnya ke lutut.

Aku ternganga. Ksatria Valkyrie yang berani melawan Golem dan Kultus Iblis... takut.. petir?

"Nona... kau takut petir?" tanyaku tak percaya.

Elena mendongak sedikit. Wajahnya pucat pasi, air mata menggenang di sudut matanya. Wibawanya hancur total. "Bu-bukan takut! Ini... ini trauma teknis!"

"Trauma teknis apa?!"

"Zirahku! Zirah ini terbuat dari Mithril murni! Ini konduktor listrik terbaik di dunia! Waktu kecil aku pernah tersambar petir saat latihan dan... dan rambutku kribo selama sebulan! Baunya seperti ayam gosong! Aku tidak mau jadi ayam gosong lagi!"

Aku menepuk jidat. Masuk akal sih, tapi momennya sangat tidak tepat.

"Tapi mereka hantu, Elena! Pedang sucimu satu-satunya yang bisa melukai mereka! Kapak Barbarossa cuma hiasan bagi mereka!"

"Tidak bisa! Tanganku gemetar! Aku tidak bisa memegang pedang!" Elena menggeleng panik saat petir menyambar lagi.

Sementara kami berdebat, para hantu mulai memanjat pagar kapal. Mereka mendekati Barbarossa yang kewalahan. Salah satu hantu bahkan sudah menempel di punggung Seraphina, membisikkan kata-kata putus asa.

"Sial! Aku harus melakukan sesuatu!"

Aku melihat panci di tanganku. Lalu aku melihat persediaan dapur yang sempat kukantongi tadi. Garam.

Di banyak budaya (termasuk anime yang pernah ku tonton), garam bisa mengusir hantu. Masalahnya, garam dapur biasa mungkin tidak cukup kuat.

"Sistem! Gacha Darurat! Kategori: Bumbu Pengusir Setan!"

[Ding!] [Menggunakan 1 Tiket Gacha.] [Selamat! Anda mendapatkan Item: "Garam Himalaya KW Super (Sudah Didoakan Nenek Moyang)".] [Deskripsi: Garam kasar yang memiliki efek 'Purification' tingkat rendah. Sangat perih jika kena mata, apalagi mata batin.]

Sebungkus besar garam kasar berwarna merah muda muncul di tanganku.

"Oke, Panci. Mode Kipas Angin!"

Aku menuangkan garam itu ke dalam panci. Panci itu mengerti. Dia mulai memanaskan dirinya sendiri dengan cepat, membuat garam di dalamnya meletup-letup seperti popcorn panas.

Aku berlari ke tengah geladak.

"HOI! HANTU-HANTU CENGENG! JANGAN GANGGU TEMAN-TEMANKU!"

Para hantu menoleh padaku. Wajah mereka yang menyeramkan melayang mendekat. "Bergabunglah dengan kamiii... di dasar lauuut..."

"Ogah! Airnya dingin!"

Aku mengayunkan panci itu sekuat tenaga dalam gerakan memutar. "Teknik Rahasia Koki: Salt Bae Exorcism!"

Garam panas itu terlempar keluar dari panci, menyebar seperti peluru senapan tabur (shotgun). Begitu butiran garam itu menyentuh tubuh transparan para hantu, reaksi kimia spiritual terjadi.

SREEEET!

"AAAAAAKH! ASIN! PERIH!"

Para hantu itu menjerit. Bagian tubuh mereka yang terkena garam berasap dan berlubang.

[Critical Hit! Holy Damage (Low) + Physical Disrespect.]

"Berhasil!" sorak Lila. "Ayo Kak Lian! Tabul lagi!"

Aku berlari keliling geladak seperti orang gila, menaburkan garam ke segala arah. "Garam untukmu! Garam untukmu! Kau juga, yang mukanya jelek, ambil garam ini!"

Barbarossa melihatku dengan mulut ternganga. "Dia... dia mengusir badai hantu dengan bumbu dapur?"

Namun, garamku terbatas. Dan hantu-hantu itu jumlahnya ratusan. Di langit, awan berkumpul membentuk wajah tengkorak raksasa. Raja Badai Hantu mulai memanifestasikan dirinya. Dia membuka mulutnya, bersiap menembakkan petir hijau besar tepat ke arah Elena yang masih bersembunyi.

"Gawat! Elena!"

Aku berlari ke arah Elena, tapi jaraknya terlalu jauh. Petir itu mulai meluncur.

Tiba-tiba, Panci di tanganku lepas dari genggaman. Dia melesat sendiri, melayang di udara dengan kecepatan peluru. Panci itu memposisikan dirinya tepat di atas kepala Elena, lalu membesar sedikit cukup untuk menutupi kepala dan bahu Elena seperti payung besi.

DUARRRRRR!!!

Petir hijau itu menghantam pantat panci. Biasanya, besi akan menghantarkan listrik. Tapi panci ini bukan besi biasa. Dia adalah Sentient Item yang terhubung dengan Void.

Panci itu menyerap petir itu. Mata merah di pantat panci menyala terang, berkedip-kedip gila. NYAM NYAM NYAM. (Suara mengunyah terdengar jelas di tengah badai).

Elena membuka matanya perlahan. Dia masih hidup. Dia mendongak dan melihat panci hitam itu melayang di atasnya, mengeluarkan asap, dan... bersendawa?

BUUURP! (Sendawa listrik).

"Panci itu... memakan petirnya?" bisik Elena tak percaya.

Melihat rajanya dimakan oleh sebuah alat dapur, hantu-hantu lain terdiam. Mereka saling berpandangan (kalau punya mata), lalu perlahan mundur. "Tempat ini aneh..." bisik salah satu hantu. "Ayo pulang saja..."

Kabut perlahan menipis. Langit kembali abu-abu normal. Hantu-hantu itu menghilang kembali ke dalam laut.

Aku jatuh terduduk, kehabisan napas. Kantong garamku kosong. Panci itu menyusut kembali, lalu jatuh klontang di depan kaki Elena.

Elena menatap panci itu lama sekali. Lalu dia menatapku. Wajahnya merah padam bukan karena takut, tapi karena malu yang luar biasa. Dia baru saja diselamatkan oleh panci gosong.

Dia berdiri, merapikan zirahnya, dan berjalan ke arahku dengan kaku. "Rian."

"Y-ya, Nona?"

Elena mencengkeram kerah bajuku, menarik wajahku mendekat. Matanya tajam, tapi ada kilatan terima kasih di sana. "Jika kau menceritakan kejadian ini... tentang aku yang bersembunyi di balik tong... atau tentang aku yang menjerit seperti gadis kecil..."

Dia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi tangannya meremas kerahku sampai aku tercekik.

"Tidak akan, Nona! Sumpah! Aku tadi tidak melihat apa-apa! Aku cuma lihat Nona sedang... eh... inspeksi kualitas tong anggur!"

Elena melepaskan ku. "Bagus."

Dia memungut panci itu, menepuk-nepuk pantat gosongnya pelan seolah sedang menepuk kepala anjing peliharaan. "Dan kau... terima kasih, Panci jelek."

Panci itu bergetar senang.

Kapten Barbarossa turun dari anjungan, tertawa terbahak-bahak. "Bwahahaha! Luar biasa! Koki kapal membasmi hantu dengan garam, dan pancinya memakan petir! Aku tidak pernah melihat kru segila ini seumur hidupku!"

"Kapten," potong Seraphina yang baru keluar dari pelindungnya. "Lihat ke depan."

Kami semua menoleh ke arah haluan kapal. Di kejauhan, kabut Laut Penyesalan mulai terangkat. Sebuah daratan terlihat. Tebing-tebing es putih menjulang tinggi, menusuk langit.

"Benua Utara," bisik Lila.

[Lokasi Terdeteksi: Frostbite Coast.] [Suhu: -20 Derajat Celcius.] [Warning: Segel Kedua dijaga oleh 'Sesuatu yang Tidak Pernah Tidur'.]

"Akhirnya," gumamku sambil memeluk tubuhku yang mulai menggigil. "Selamat tinggal hantu, selamat datang hipotermia."

Saat kapal kami mendekati daratan es itu, aku merasa Corruption Meter-ku berdenyut lagi. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Bukan rasa ingin membunuh. Tapi rasa... rindu. Seolah-olah ada bagian dari diriku yang tertinggal di hamparan salju abadi itu.

"Sistem," tanyaku dalam hati. "Siapa yang menjaga segel di sana?"

[Akses Ditolak.] [Tapi sebagai bocoran: Dia adalah mantan pacar Demon Lord di kehidupan sebelumnya.]

"Hah?! Serius?!"

Aku menatap Elena yang sedang sibuk memoles pedangnya. Kalau Demon Lord punya mantan pacar... dan Elena adalah reinkarnasi pahlawan yang mengalahkan Demon Lord... Ini akan menjadi reuni yang sangat canggung.

More Chapters