Kota Odelia di pagi hari adalah orkestra kekacauan yang teratur. Suara roda kereta kuda yang menggilas batu jalanan beradu dengan teriakan pedagang ikan dan denting palu dari bengkel pandai besi. Namun, di depan gerbang utama Guild Petualang, suasana terasa jauh lebih formal dan tegang. Sebuah kereta kuda mewah dengan ukiran emas murni dan lambang keluarga Vandermere terparkir dengan angkuh, dikelilingi oleh empat ksatria penjaga dengan ekspresi yang seolah-olah baru saja menelan jeruk nipis busuk.
"Jangan menyentuh kain penutupnya, Rakyat Jelata," bentak salah satu penjaga saat aku mencoba mendekat untuk melihat logo di pintu kereta.
Aku segera menarik tanganku, memeluk panci hitamku seperti seorang anak kecil memeluk boneka beruang. "Sori, Bang. Cuma penasaran. Ini keretanya pakai mesin turbo atau cuma pakai tenaga wortel?"
Penjaga itu hanya mendengus, sementara Elena berjalan mendekat dengan langkah mantap. Dia sudah mengenakan zirah lengkapnya, tampak sangat profesional dan berwibawa.
"Berhenti bertingkah memalukan, Rian," bisik Elena tajam sebelum dia membungkuk hormat di depan pintu kereta. "Saya Elena von Aethelgard, perwakilan dari Guild Odelia. Kami siap untuk tugas pengawalan menuju wilayah Veridia."
Pintu kereta terbuka sedikit. Sebuah tangan mungil yang mengenakan sarung tangan sutra putih muncul, diikuti oleh suara lembut yang terasa agak bergetar. "Terima kasih, Ksatria Suci. Mari segera berangkat. Waktu adalah sesuatu yang tidak saya miliki saat ini."
[Ding!] [Quest Utama Aktif: "Pengawalan Sang Mawar Berduri".] [Tujuan: Mengawal Lady Seraphina Vandermere ke Veridia dalam kondisi hidup.] [Reward: 2000 Gold, Peningkatan Reputasi Bangsawan, dan 1x Tiket Gacha "Benda Terkutuk".] [Peringatan: Ada bau pengkhianatan di udara. Harap tajamkan indra penciuman Anda.]
"Benda Terkutuk? Hadiah macam apa itu?!" batin ku protes. Tapi melihat angka 2000 Gold, aku langsung berdiri tegak. Uang sebanyak itu bisa membeliku ribuan bungkus mie instan dan mungkin sebuah rumah kecil yang punya kamar mandi pribadi.
Perjalanan dimulai. Elena menunggangi kuda putihnya di sisi kanan kereta, sementara aku... yah, aku duduk di bagian belakang kereta bersama tumpukan karung logistik. Menjadi "pembawa barang" memang posisi yang menyebalkan, tapi setidaknya aku tidak harus menahan pegal karena menunggang kuda.
Hutan Odelia perlahan menghilang, digantikan oleh padang rumput yang luas dan berbukit-bukit. Namun, keheningan itu terasa tidak wajar. Selama tiga jam perjalanan, Lady Seraphina tidak pernah sekalipun keluar atau bahkan membuka jendela keretanya.
"Nona Elena," panggilku saat kami beristirahat sejenak di dekat sebuah mata air. "Apa kau tidak merasa aneh? Bangsawan biasanya sombong dan banyak permintaan, tapi yang satu ini diam seperti patung."
Elena turun dari kudanya, memberikan minum pada hewan itu. "Setiap orang punya rahasia, Rian. Lady Seraphina adalah putri dari keluarga yang sedang jatuh karena tuduhan makar. Dia menuju Veridia untuk mencari suaka. Wajar jika dia waspada."
"Atau mungkin dia diculik?" tebakku asal.
"Jangan bicara sembarangan."
Tiba-tiba, suara pintu kereta terbuka terdengar. Sosok mungil keluar dengan mengenakan kerudung hitam panjang yang menutupi seluruh wajahnya. Dia berjalan perlahan menuju ke arah kami, langkahnya tampak lemas.
"Ksatria Elena," panggil Lady Seraphina. Suaranya terdengar jauh lebih serak daripada tadi pagi. "Bolehkan saya mendapatkan air? Dan... apakah pelayanmu ini bisa memasakkan sesuatu yang hangat? Perut saya terasa seperti dipelintir."
Elena menoleh padaku. "Rian, jalankan tugasmu."
Aku mengangguk. Inilah saatnya menggunakan hadiah gacha dari chapter sebelumnya. Aku menyalakan api kecil, mengeluarkan panci kesayanganku, dan menuangkan sedikit air serta sayuran kering. Dan tentu saja, aku menambahkan "Kecap Manis Takdir" yang kudapatkan kemarin.
"Ini dia, Lady. Sup Sayuran Manis ala Rian. Dijamin perut tenang, hati senang, dan mulut... eh, jujur," kataku sambil menyodorkan mangkuk kayu.
Seraphina menerima mangkuk itu. Dia mengangkat sedikit kerudungnya—hanya sampai bagian mulut—dan mulai meminumnya. Begitu cairan hitam manis itu menyentuh lidahnya, tubuhnya tersentak.
[Efek Item Aktif: "Kejujuran Mutlak" (Durasi 5 Menit).]
"Bagaimana rasanya, Lady?" tanya Elena sopan.
"Ini manis sekali," gumam Seraphina. Lalu, tiba-tiba matanya yang tertutup kain tampak bergetar. "Tapi tidak semanis pengkhianatan ayahku yang menjualku pada pemuja iblis di Veridia demi posisi politik."
Elena membeku. Aku tersedak ludah.
"Lady Seraphina? Apa maksud Anda?" Elena bertanya dengan nada mendesak.
"Aku tidak menuju suaka," lanjut Seraphina, kata-kata mengalir dari mulutnya tanpa bisa dihentikan. "Aku sedang dikirim sebagai tumbal. Para ksatria penjaga di luar itu? Mereka bukan pelindungku. Mereka adalah penjagaku agar aku tidak kabur sebelum ritual di Veridia dimulai. Dan sejujurnya, aku sangat benci zirahmu yang terlalu berkilau itu, Elena, itu membuat mataku silau."
Elena segera mencabut pedangnya, tapi para penjaga Vandermere sudah bergerak lebih cepat. Empat ksatria itu sudah menghunuskan pedang mereka ke arah kami.
"Sial! Efek jujurnya terlalu kuat!" teriakku sambil memegang panci.
"Dasar bodoh!" bentak pemimpin penjaga. "Kami harus membunuh kalian sekarang karena kalian sudah tahu terlalu banyak!"
Pertempuran pecah di pinggir jalan setapak. Elena menghadapi tiga penjaga sekaligus dengan gerakan yang sangat efisien dan mematikan. Namun, pemimpin penjaga yang paling besar bergerak ke arah Lady Seraphina dan aku.
"Kemari, Lady! Jangan buat ini menjadi sulit!" teriak si pemimpin sambil mengayunkan pedang besarnya.
"Jangan sentuh dia, Bang!" Aku melompat di depan Seraphina, mengangkat panciku setinggi mungkin.
TANGG!!
Benturan itu begitu keras hingga kakiku amblas beberapa senti ke dalam tanah. Tanganku mati rasa, tapi panci itu—sekali lagi—menyelamatkan nyawaku.
[Corruption Meter: 0.35%] [Mendeteksi Ancaman Tinggi. Mengaktifkan Skill Pasif: "Panic Cooking Mode".]
Dalam kondisi panik, aku tidak memukulnya dengan panci. Aku mengambil "Spons Cuci Piring Abadi" yang sudah terlumuri sisa sup manis dan minyak babi, lalu melemparkannya tepat ke arah helm besi si pemimpin penjaga.
Spons itu menempel di celah matanya.
"Apa-apaan ini?! Mataku! Licin sekali!" teriaknya sambil berusaha melepas spons yang berminyak dan licin itu.
Aku tidak membuang waktu. "Pukulan Pantat Panci: Edisi Spesial!"
Aku mengayunkan panci secara vertikal, menghantam bagian bawah dagu helmnya dengan kekuatan penuh.
DUAK!
Bunyi benturan logam bertemu dagu manusia itu terdengar sangat renyah. Si pemimpin penjaga terangkat dari tanah, berputar di udara, lalu jatuh pingsan dengan lidah menjulur keluar.
Sementara itu, Elena sudah menyelesaikan urusannya. Tiga penjaga lainnya terkapar dengan luka yang tidak mematikan tapi cukup untuk membuat mereka tidak bisa bangun selama beberapa jam.
Hening kembali melanda padang rumput itu.
Elena mengatur napasnya, lalu menatap Lady Seraphina yang masih terduduk lemas di dekat roda kereta. Kerudungnya tersingkap sedikit, menampakkan wajah yang sangat cantik namun pucat pasi, dengan sebuah tanda tato aneh di lehernya yang berbentuk mata merah.
"Jadi... ini adalah misi jebakan," desis Elena. Dia menoleh padaku dengan tatapan maut. "Dan kau, Rian... apa yang kau masukkan ke dalam sup itu sampai dia membongkar semuanya?!"
"Hanya kecap, Nona! Sumpah! Kecap manis!"
Elena memijat keningnya. "Lupakan saja. Lady Seraphina, jika apa yang Anda katakan benar, kami tidak bisa membawa Anda ke Veridia. Itu sama saja dengan mengirim Anda ke kematian."
Seraphina menatap kami dengan pandangan kosong. "Tapi jika aku tidak pergi, ayahku akan dibunuh oleh kultus itu. Aku tidak punya pilihan."
Aku berjalan mendekat, membersihkan panciku dengan spons (yang sekarang sudah kotor lagi). "Ada pilihan ketiga, Lady. Kita pergi ke sana, tapi bukan sebagai tumbal. Kita pergi ke sana untuk mengobrak-abrik pesta mereka. Lagipula, aku punya banyak stok bumbu dapur yang belum kucoba pada monster kultus."
Elena menatapku, lalu menatap Seraphina. Sebuah senyum tipis—senyum yang sangat berbahaya—muncul di wajah sang Ksatria Suci. "Sepertinya 'Pahlawan Panci' kita mulai belajar cara menggunakan otaknya. Baiklah. Kita akan menuju Veridia. Tapi kali ini, kita yang akan berburu."
[Ding!] [Quest Terupdate: "Operasi Penyamaran di Veridia".] [Status: Berbahaya.]
Saat kami mulai mengikat para penjaga yang pingsan, aku merasakan Corruption Meter-ku kembali berdenyut. Bayangan hitam di kejauhan tampak melambai padaku, seolah-olah dia sangat senang karena aku memutuskan untuk menuju ke sarang kultus iblis.
"Rian," panggil Elena saat aku sedang sibuk mengikat tangan si pemimpin penjaga.
"Ya?"
"Sup tadi... sebenarnya baunya lumayan enak. Lain kali, jangan pakai efek jujur. Aku tidak ingin kau tahu apa yang kupikirkan tentangmu saat kau sedang tidur."
Aku menelan ludah. "Ehh... emangnya Nona mikir apa?"
"Lupakan! Cepat bereskan ini!"
Aku tertawa kecil, tapi di dalam hati, aku bertanya-tanya: Sampai kapan komedi ini akan bertahan sebelum kecap manis takdir benar-benar berubah menjadi darah pahit kehancuran?
