Cherreads

Chapter 85 - Bab: AIR MATA YANG MENGIKATKAN HATI

Airi berlari turun ke arena begitu wasit meniup peluit tanda pertandingan dihentikan.

Di tengah lapangan, Hina masih berdiri terpaku, bahunya bergetar, mata basah. Sorot mata para penonton bercampur: takut pada Ravien, kasihan pada Hayato, dan bingung melihat gadis manusia yang menangis di tengah semua itu.

Airi langsung memeluk Hina dari belakang.

Airi :

"Hina… ayo, kita keluar dulu dari sini…"

Hina hanya mengangguk kecil. Kakinya lemas, tapi Airi memapahnya pelan. Rei, Rika, dan Riku ikut turun, membentuk lingkar kecil seolah menjadi perisai agar tidak ada yang mengganggu mereka.

Mereka meninggalkan arena lomba dan berjalan menuju taman kecil di dekat sekolah—tempat yang sedikit lebih tenang, jauh dari kerumunan dan sorak.

Di bangku kayu bawah pohon, Hina duduk menunduk, masih menggenggam ponsel yang sudah rusak, pecahannya digenggam seperti harta yang patah.

Airi duduk di sampingnya, sementara Rei bersandar di pagar kayu, Rika dan Riku berdiri tak jauh.

Airi akhirnya membuka suara.

Airi : "Riku, Rika… bisa jelasin nggak?

Kenapa Ravien sampai… bisa seperti itu barusan?"

Riku menghela napas, menggaruk tengkuknya.

Riku :

"Sebenarnya… awalnya yang harus maju itu Rika.

Dia yang dijadwalkan turun untuk duel 1 lawan 1."

Rika mengangguk kecil, wajahnya masih kesal teringat lawan tadi.

Riku :

"Tapi sebelum pertandingan mulai, Ravien tiba-tiba berdiri.

Dia menahan Rika, bilang dia yang mau maju.

Rika sempat protes, tapi Ravien bilang…"

Riku menatap Hina sesaat sebelum melanjutkan.

Riku :

"…lawannya itu adalah orang yang bikin Hina menangis."

Airi dan Rei sama-sama menegang.

Airi :

"Jadi Ravien sadar… itu orang yang tadi menabrak Hina?"

Rika :

"Iya. Waktu dia bilang begitu, aku lihat sendiri ekspresi matanya.

Bukan cuma marah… tapi benar-benar jijik."

Riku mengangguk.

Riku :

"Makanya Rika biarin dia maju.

Awalnya pertarungan normal—Lawan itu menyerang dengan agresif.

Tapi Ravien terus-terusan cuma nerima pukulan, kayak sengaja.

lalu beastkin itu memukul tanpa henti…

Tapi Ravien masih tidak goyang sama sekali."

Rika :

"Dan setelah itu, kalian lihat sendiri…"

Suasana jatuh sunyi sejenak.

Hina mengepalkan tangan di atas roknya.

Hina :

"Ini… semuanya salahku…"

Semua menoleh.

Hina menggigit bibir, air mata kembali mengalir.

Hina :

"Kalau waktu itu aku nggak main ponsel sambil jalan…

Kalau aku fokus aja ke jalan… aku nggak bakal nabrak orang itu.

Ponselku nggak bakal hancur… Ravien nggak bakal marah…

Dan… semua ini nggak akan terjadi…"

Airi menggeleng cepat, memegang kedua bahu Hina.

Airi :

"Hina, bukan salah kamu!"

Hina menatap Airi dengan mata merah.

Airi :

"Yang salah itu dia, beastkin itu!

Cuma gara-gara ditabrak sedikit, dia hancurin ponselmu di depan muka kamu.

Bahkan berniat untuk memukulmu. Itu bukan reaksi wajar, itu keterlaluan."

Rika ikut menimpali, nada serius.

Rika :

"Aku sepakat. Aku beastkin, tapi…

nggak ada alasan buat nginjek harga diri orang lain cuma karena kesal."

Riku menghela napas, lalu menatap Rika.

Riku :

"Ngomong-ngomong, sebenarnya… siapa sih beastkin itu?

Gayanya sombong banget, seakan nggak ada yang bisa nyentuh dia."

Rei yang sedari tadi diam, akhirnya menegakkan badan, menatap kosong ke arah pepohonan taman.

Rei :

"Namanya Kurogane Hayato."

Semua terdiam.

Rei melanjutkan, suaranya tenang tapi berat.

Rei :

"Dia… adalah pacar dari Mina.

Cowok yang dulu jadi salah satu alasan hidupku hancur di SMA Shirokaze."

Airi, Hina, Rika, dan Riku serempak membelalak.

Rika :

"Jadi… yang dihajar Ravien tadi itu…"

Rei mengangguk pelan.

Rei :

"Iya. Cowok itu."

Rika mencondongkan badan, tertawa sinis.

Rika :

"Kalau begitu, dia pantas dapat pukulan.

Maaf saja, ya… tapi orang yang ngerasa kuat terus injek orang lemah apalagi seorang wanita, buatku nggak ada bedanya dengan sampah."

Riku berkeringat dingin sebentar dan menelan ludah.

Riku (dalam hati):

Kalau Ravien tahu aku dulu sempat melukai Rei hingga masuk UKS…

apa aku juga bakal bernasib sama dengan Hayato itu…?

Airi menatap Rei.

Airi :

"Berarti… Mina juga ada di sini sekarang…?"

Rei menatap langit siang yang bersih, menghembuskan napas panjang.

Rei :

"Iya...Dia itu… gadis yang tadi terlambat masuk ruang ujian akademik."

Hina dan Airi terkejut.

Hina :

"Jadi… gadis yang minta maaf karena telat itu…"

Airi mengepalkan tangan, mata berkilat marah.

Airi :

"Jadi dia… orang yang bikin Rei sampai hampir menyerah sama hidupnya dulu."

Ia spontan berdiri, seakan hendak mencari Mina di antara kerumunan festival.

Airi :

"Kalau aku ketemu dia—"

Lengannya ditahan Rei sebelum ia sempat melangkah.

Rei menggeleng pelan.

Rei :

"Nggak usah, Airi."

Airi :

"Tapi—"

Rei menatapnya—tatapan lelah, tapi juga hangat.

Rei :

"Aku nggak mau… luka yang lagi aku sembuhkan sekarang

kebuka lagi cuma karena aku balas dendam."

Ia mengalihkan pandangan ke kejauhan, seakan melihat dua dunia sekaligus.

Rei :

"Aku punya kamu di sini… dan Aelria di dunia sana.

Kalau aku terus menengok ke belakang… aku cuma akan nyakitin kalian, dan diriku sendiri."

Kata-kata itu pelan, tapi berat sampai ke dada Airi.

Airi menggigit bibir, lalu perlahan melepaskan genggamannya, menunduk.

Airi :

"…baik...Kalau itu keinginanmu… aku ikut."

Riku menoleh ke Rika yang mulai tampak ingin bergerak ke arah area SMA Shirokaze.

Riku :

"Rika."

Rika :

"Apa?"

Riku tersenyum tipis, mengelus pelan kepala pacarnya.

Riku :

"Kalau Rei sendiri udah milih untuk nggak ngejar masa lalu…

kita juga nggak berhak ikut campur terlalu jauh.

Kayak waktu itu, dia milih memaafkan aku di UKS… padahal aku bikin dia babak belur dulu."

Rika terdiam sejenak, lalu mendesah pelan.

Rika :

"…iya, sih...Kalau dia saja bisa memilih untuk tidak menoleh ke belakang,

kita nggak boleh lebih marah dari orang yang disakiti."

Suasana kembali tenang. Hanya suara angin dan sedikit keramaian festival di kejauhan.

Beberapa detik kemudian, Rika menoleh.

Rika :

"Ngomong-ngomong… Ravien sekarang di mana?

Aku nggak lihat dia sejak keluar arena tadi."

Hina tersentak kecil, baru tersadar.

Hina :

"Ravien…!"

Ia berusaha bangkit, tapi Airi menahan pundaknya pelan, diikuti Rei dan Riku.

Rei :

"Biarkan dia sendiri dulu, Hina.

Yang barusan dia lakukan itu bukan hal ringan.

Dia butuh waktu buat nenangin dirinya sendiri."

Riku mengangguk.

Riku :

"Besok… atau lusa… kita masih bisa bicara sama dia.

Sekarang… biar dia mengatur napas dulu."

Hina menggigit bibir, ingin protes, tapi pada akhirnya hanya mengangguk pelan.

Hina (dalam hati):

…Ravien.

Terima kasih…

Tapi jangan hancurkan dirimu sendiri cuma karena aku.

Di tengah keheningan itu—

GROOOOOKKK…

Suara perut yang sangat jelas terdengar.

Semua menoleh ke arah sumber suara: Rika, yang langsung menegang, pipinya memerah.

Riku terbahak.

Riku :

"Sepertinya ada seseorang yang lebih menderita dari tadi… karena lapar."

Rika :

"Riku!!"

Ia memukul lengan pacarnya dengan gemas. Airi dan Hina pun ikut tertawa—tawa kecil yang akhirnya memecah tekanan berat di udara. Rei tersenyum tipis, rasa sesak di dadanya sedikit mengendur.

Rei :

"Kalau begitu… sebelum ronde selanjutnya… kita makan dulu, ya."

Airi :

"Setuju!

Hina harus makan yang manis-manis biar nggak sedih lagi."

Hina mengusap sisa air matanya, lalu tersenyum lembut.

Hina :

"Iya… aku… mau makan bersama.

Terima kasih, semuanya…"

Mereka pun bangkit dari bangku taman, berjalan bersama menuju deretan stand makanan.

Di belakang mereka, bayangan luka lama, ancaman dendam, dan masa lalu yang menghitam…

masih ada.

Tapi untuk pertama kalinya,

di tengah semua itu, mereka bisa melangkah maju—

dengan tawa, makanan hangat, dan genggaman yang tidak lagi sendirian.

More Chapters