Cherreads

Chapter 86 - FRAGMEN – KEMARAHAN YANG TIDAK BIASA & DOA YANG TIDAK MURNI

Langkah Pulang Seorang Demon

Ravien melangkah keluar dari area festival tanpa menoleh ke belakang.

Sorak penonton, suara panik panitia, bahkan teriakan wasit—semuanya sudah terdengar jauh. Begitu melewati gerbang sekolah, ia menendang kecil kerikil di jalan, rahangnya masih mengeras.

Ravien : "Sial… kenapa aku sampai selepas kendali itu…?"

Angin sore mengusap rambut peraknya yang sedikit berantakan. Di dunia asalnya, di akademi elite para demon, ia sudah terbiasa diprovokasi oleh ras lain:

– Dipanggil sombong,

– Dibilang suka meremehkan,

– Disebut 'iblis murahan' oleh beberapa ras mulut besar.

Biasanya, Ravien hanya mengangkat alis, menatap mereka seperti sampah, lalu lewat begitu saja. Atau kalau lagi benar-benar bosan, ia ladeni seperlunya, tanpa emosi.

Namun barusan…

Ravien mengingat lagi sensasi jemari tangannya mencekik leher Hayato, suara serak laki-laki beastkin itu saat susah bernapas, rasa darah yang muncrat ke wajahnya setelah satu pukulannya mendarat.

Ia mengepal tangan.

Ravien : "Ini bukan aku yang biasanya…"

Kepalanya menunduk sedikit, menatap telapak tangan yang barusan hampir ia gunakan untuk membunuh seseorang di depan ratusan pasang mata.

Ravien tahu marahnya biasanya punya batas.

Batas itu bernama: keluarga.

Dan kehormatan.

Tapi yang tadi… bukan salah satu dari keduanya.

Hayato memang menjijikkan, ucapannya memicu amarah. Tapi level emosinya tadi—itu bukan sekadar tersinggung sebagai demon bangsawan.

Bayangan lain muncul di kepalanya.

— Hina, yang jatuh terduduk di lantai.

— Ponsel Hina yang diinjak dan dihancurkan di depan matanya.

— Hina yang gemetar, berusaha minta maaf padahal bukan dia yang salah.

— Dan tangan Hayato yang terangkat, hendak memukul wajah gadis itu.

Ravien menghentikan langkah. Jalan menuju apartemen terasa kosong.

Ravien (dalam hati):

Kenapa… waktu dia mau dipukul… dadaku seolah terbakar seperti itu…?

Kata-kata Hayato tadi terngiang:

"Ternyata ras demon juga punya selera buruk. Manusia lemah seperti itu kau sebut wanita…?"

Detik itu, sesuatu dalam dirinya seperti pecah.

Ravien menghela napas berat.

Ravien :

"…Apa jangan-jangan…"

Ia menghentikan dirinya sendiri, mendengus kecil, menggeleng keras seolah ingin menepis pikiran itu.

Ravien :

"Jangan konyol… Hanya karena aku nggak suka ada orang mempermainkan wanita di dekatku, bukan berarti—"

Ia berhenti. Mengklik lidah. Seolah takut menyelesaikan kalimatnya sendiri.

Langkahnya kembali bergerak, sedikit lebih cepat dari sebelumnya, seolah ingin lari dari satu kemungkinan yang baru saja muncul kembali di kepalanya.

Ravien (dalam hati, pelan): 

…Hina itu… Apa sangat berharga bagiku?

Ia mengklik lidahnya, kesal pada dirinya sendiri.

Ravien :

"…Lupakan."

Namun, bahkan saat ia memaksa melupakan, gambaran wajah Hina yang menangis di pelukannya… tetap saja menempel di belakang pelupuk mata.

— Ruang Medis – Doa yang Tidak Jujur

Di sisi lain area sekolah, suasana jauh berbeda.

Di depan ruang medis utama SMA Seirei Gakuen, lorong itu dipenuhi aura tegang.

Beberapa perawat berseragam sibuk keluar-masuk ruangan, membawa kotak sihir penyembuhan dan alat pemeriksa. Di dalam, terdengar instruksi cepat dari healer senior.

Petugas :

"Stabilkan napasnya. Perbaiki retakan tulang rusuk kiri."

"Jangan biarkan mananya liar—kalau aliran sihirnya bocor, pendarahannya balik lagi."

Di ranjang sihir putih pucat, Hayato terbaring dengan wajah pucat, baju lomba berlumur debu dan bercak darah. Mulutnya masih berbekas merah, napasnya berat namun perlahan mulai teratur.

Di koridor, seorang murid laki-laki dari SMA Shirokaze yang tadi menjadi saksi pertandingan berlari kecil.

Ia berhenti di depan ruang ujian akademik (Mina masih ujian), mengetuk cepat.

Murid :

"Permisi! Ada murid dari SMA Shirokaze bernama Mina di sini!?"

Pengawas ujian menoleh. Mina di dalam kelas ikut menoleh refleks.

Pengawas :

"Kau Mina?"

Mina bangkit dari kursi.

Mina :

"Ya… saya."

Murid itu menghela napas, lalu berbicara dengan wajah serius.

Murid :

"Hayato…

Dia sekarang sedang kritis di ruang medis."

Buku dan pulpen di meja Mina bergetar pelan di bawah jemarinya.

Mina :

"…Apa?"

Murid itu melanjutkan cepat.

Murid :

"Dia terluka parah waktu pertandingan non-akademik.

Kami diminta untuk memberi tahu orang terdekatnya.

Perawat bilang… akan lebih baik kalau kamu ada di sana."

Jantung Mina seolah turun ke perut.

Mina :

"Ba-Baik… aku akan ke sana sekarang."

Ia menunduk cepat ke pengawas ujian.

Mina :

"Maaf, saya izin keluar…"

Pengawas hanya mengangguk serius, mengerti situasinya.

Koridor menuju ruang medis terasa lebih panjang dari biasanya.

Setiap langkah, pikiran Mina bercampur aduk.

Mina (dalam hati):

"Hayato… luka parah…?

Separah apa…?"

Begitu sampai di depan pintu ruang medis, ia melihat beberapa healer sedang bekerja cepat di dalam.

Hayato terbaring tak bergerak, dada naik turun pelan, wajahnya mengerut seolah tubuhnya menahan rasa sakit yang hebat. Cahaya sihir penyembuhan berwarna lembut berkedip di sekitar tubuhnya.

Mina spontan ingin masuk.

Mina :

"Hayato—!"

Namun seorang petugas medis segera mengangkat tangan, menghalanginya di ambang pintu.

Perawat :

"Maaf, untuk saat ini hanya petugas yang boleh masuk.

Kondisi pasien belum stabil.

Tolong tunggu di luar sampai kami selesai melakukan perawatan awal."

Mina menggenggam ujung roknya erat-erat.

Mina :

"Saya… saya mengerti…"

Ia mundur beberapa langkah, lalu bersandar pada dinding koridor yang dingin, perlahan menurunkan tubuh sampai ia duduk di lantai. Suara langkah orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya terdengar jauh.

Mina menatap pintu ruang medis yang tertutup.

Mina (dalam hati):

Kalau Hayato… mati di sini…

Pikirannya mengalir ke belakang—ke ruang tamu rumah keluarganya, saat ayah Hayato mengulurkan 'pertolongan' dengan syarat pertunangan.

– Hutang keluarga,

– perusahaan di ambang bangkrut,

– para karyawan yang masa depannya bergantung pada satu keputusan.

Mina mengepal tangan.

Mina (dalam hati, getir):

Kalau dia… nggak bangun lagi…

Aku bebas.

Kata itu muncul begitu saja—dan Mina langsung membencinya.

Lalu bayangan lain masuk.

Rambut putih.

Senyum hangat yang dulu menunggunya di depan gerbang sekolah.

Seorang pemuda yang pernah menggenggam tangannya seolah seluruh dunia ada di antara jari-jari mereka.

Rei.

Di ruang ujian tadi ia teringat, Rei bahkan tidak merespon Mina "sepersekian detik" yang sama seperti ia menyebutkan nama nya.

Seperti Mina tidak pernah ada.

Mina menunduk, bibirnya bergetar.

Mina (dalam hati):

Meski aku bebas dari Hayato…

Rei tidak akan pernah kembali padaku, kan…?

Tanpa sadar, air mata menggenang di sudut matanya.

Mina (dalam hati):

Waktu aku melihatmu di ruang ujian tadi, Rei…

Aku ingin sekali minta maaf.

Tapi melihat caramu tidak menoleh…

Aku mengerti.

Ia mengusap wajahnya pelan.

Mina :

"…Aku bukan lagi seseorang yang berhak memanggil namamu."

Pintu ruang medis berderit sedikit. Seorang perawat keluar, membawa kain berlumur darah yang telah diganti.

Mina segera berdiri.

Mina :

"Bagaimana… keadaan Hayato?"

Perawat melihat catatan sebentar.

Perawat :

"Kami sudah menstabilkan kondisinya untuk sementara.

Ada beberapa retakan di tulang rusuknya, dan luka dalam akibat benturan keras.

Tapi… nyawanya sudah tidak dalam bahaya langsung."

Bahunya turun sedikit—antara lega dan… sesuatu yang lain.

Perawat melanjutkan.

Perawat :

"Namun, ia tidak akan bisa melanjutkan perlombaan hari ini.

Dan butuh waktu pemulihan yang cukup lama."

Mina mengangguk pelan.

Mina :

"…Terima kasih."

Perawat berjalan pergi, menyisakan Mina sendirian di lorong.

Ia menatap pintu ruang medis itu sekali lagi.

Mina (dalam hati):

Aku tadi sempat…

berharap hal buruk terjadi padamu, Hayato.

Ia menggenggam tangannya, jemarinya bergetar.

Mina :

"…Aku benar-benar… gadis yang menyedihkan, ya."

Antara rasa lega karena Hayato selamat…

dan rasa malu, karena di dasar hatinya, sempat ada doa yang tidak murni:

Doa agar seseorang yang menyelamatkan keluarganya…

hilang dari hidupnya.

Namun di balik semua itu, satu hal tetap tidak berubah:

– Rei tidak menoleh.

– Hutang masa lalu tidak terhapus.

– Dan kata "maaf" masih mengambang, tanpa tempat untuk mendarat.

Untuk saat ini, Mina hanya bisa berdiri di lorong yang dingin—

terjepit di antara dua laki-laki:

Yang satu, ia cintai… dan ia hancurkan.

Yang satu, ia tidak cintai… tapi ia ikat demi keluarga.

Dan tidak ada satu pun dari mereka

yang bisa ia sebut… "rumah".

More Chapters