Suasana ruang ujian akademik sangat berbeda dari arena non-akademik yang penuh sorak.
Di sini, hanya ada suara kursi bergeser pelan, kertas ujian dibagikan, dan detak gugup di dada para peserta.
Di barisan tengah, Rei, Airi, dan Hina duduk di meja masing-masing, memakai kartu nama peserta lomba.
Pengawas :
"Baik, semua sudah duduk? Kita mulai dengan ujian tertulis taktik dan teori dulu.
Yang datang terlambat… tidak akan mendapat waktu tambahan."
Rei memutar bolpoin di jarinya sebentar. Kepalanya sudah penuh strategi, bukan hanya untuk ujian—tapi juga untuk sesuatu yang ia tahu akan datang.
Rei (dalam hati):
Kalau lawannya SMA Shirokaze… cepat atau lambat aku akan bertemu dengannya.
Tarik napas… fokus pada ujian.
Kertas ujian diletakkan di mejanya. Ia baru saja hendak membaca soal pertama ketika—
CREK.
Pintu ruang ujian terbuka tergesa.
Suara gadis terdengar terbata.
Mina :
"Maaf! Saya terlambat! Saya… sempat tersesat mencari ruang ujian…"
Rei tidak menoleh. Tapi jarinya yang memutar bolpoin berhenti sepersekian detik.
Beberapa peserta menoleh sekilas dengan wajah sebal, beberapa lain tidak peduli.
Rei, tanpa mengangkat kepala, sudah tahu siapa suara itu.
Tengkuknya menegang pelan, tapi pandangannya tetap tertuju pada kertas soal.
Rei (dalam hati, datar):
Sudah kuduga… akan begini.
Pengawas menghela napas, namun masih memberi kelonggaran.
Pengawas :
"Peserta dari SMA Shirokaze, ya? Baik, ini pertama dan terakhir.
Silakan masuk, cepat ambil tempat duduk, waktu tetap sama dengan yang lain."
Mina melangkah masuk dengan napas sedikit terburu. Ia menerima kertas ujian dari pengawas, lalu menoleh mencari bangku kosong.
Saat itulah matanya menangkap sosok dengan rambut putih dikuncir rapi dan siluet yang sangat ia kenal—meski kini sedikit lebih dewasa dan tenang.
Mina membeku saat melihat kuncir rambut putih itu.
Bibirnya bergerak, nyaris tanpa suara.
Mina :
"…Rei…?"
Dadanya seperti diremas. Bukan karena terkejut saja—tapi karena ia sadar: ia berharap suara itu salah.
Mina (dalam hati, gemetar):
Itu… Rei? Dia… masih hidup?
Tapi… rambutnya… auranya… berbeda.
Jadi… rumor itu… bohong?
Beberapa teman sekelasnya dari Shirokaze yang duduk agak belakang sempat mendengar nama itu.
Siswa Shirokaze (berbisik pelan):
"Rei…? Maksudnya dia… Hirashi Rei yang dulu satu kelas sama kita…?"
Mereka mengikuti arah tatapan Mina.
Melihat Rei dari samping—rambut putih panjang dikuncir, mata berbeda warna, wajah lebih tenang—mereka ragu-ragu.
Siswi Shirokaze (dalam hati):
Mirip… tapi… jauh lebih beda… Aura, rambutnya yang sekarang lebih panjang, cara dirinya untuk tetap fokus…
Apa benar itu… adalah dia yang dulu pernah menolongku?
Pengawas mengetuk meja depan.
Pengawas :
"Peserta dari SMA Shirokaze, silakan duduk dulu. Waktu terus berjalan."
Mina tersentak, sadar ia masih berdiri mematung di tengah ruangan. Ia buru-buru menunduk.
Mina :
"Maaf…"
Ia melangkah menuju kursi kosong—melewati barisan Rei.
Sesaat, hanya beberapa centimeter memisahkan mereka. Rei tetap menatap kertas soal, bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Mina (dalam hati, perih):
Kau benar-benar… tidak mau menoleh sekali pun, ya…?
Wajar. Aku pantas dibenci sampai seperti ini.
Ia duduk. Ujian dimulai.
5 MENIT YANG MEMATAHKAN KEYAKINAN
Begitu pengawas mengatakan "mulai", suasana ruangan tenggelam dalam suara bolpoin yang menggores kertas.
Rei membaca soal sekilas—lalu tangannya bergerak cepat, ritmis, tanpa ragu.
Airi melirik sekilas dari samping.
Airi (dalam hati, kagum):
Seperti biasa… baru mulai, dia sudah kelihatan tahu semua isi soal.
Tapi... apa yang mereka ributkan tadi, hingga menyebut nama Rei.
Hina di sisi lain juga fokus, mengingat semua yang ia pelajari bersama Rei dan teman-teman.
Pelan tapi pasti, ia menuliskan jawabannya.
Belum lima menit.
Rei menutup lembar jawabannya, merapikan sudut kertas seolah itu kebiasaan lama.
Lalu ia mengangkat tangan.
Rei :
"Pengawas, saya sudah selesai."
Ruangan sontak menjadi sedikit lebih riuh. Ada yang tanpa sadar menjatuhkan penghapusnya. Bunyi kecil itu terdengar keras di ruangan yang terlalu sunyi.
Pengawas menghampiri, mengambil lembar jawaban Rei, sekilas matanya menyapu beberapa nomor di atas kertas.
Pengawas (dalam hati, tercengang):
Semua… struktur jawabannya rapi dan tepat… bahkan nomor yang paling sulit pun…
Anak ini… bukan murid biasa.
Tapi ia hanya mengangguk formal.
Pengawas :
"Baik, kamu boleh keluar. Silakan istirahat sebelum sesi berikutnya."
Rei bangkit, melangkah ke luar tanpa menoleh ke belakang.
Mina menunduk pada kertas ujiannya. Hatinya bergetar hebat.
Mina (dalam hati):
Ternyata benar masih sama…
Seperti dulu… Rei yang selalu selesai paling cepat dan nilainya paling tinggi…
Akulah… yang benar-benar tidak pantas berdiri di sisimu waktu itu.
Ia menahan air mata, memaksa fokus kembali ke soal.
Di luar, Rei berdiri di koridor, menghela napas panjang.
Rei (dalam hati):
Satu siksaan sudah selesai.
Tinggal… sisanya.
Ia bersandar sebentar di tembok, menenangkan diri, lalu berjalan menuju area luar untuk mengatur napas sebelum sesi berikutnya.
Beberapa menit setelah itu, Airi dan Hina akhirnya keluar dari ruang ujian, wajah lega.
Airi :
"Rei! Waaa, aku bisa jawab semuanya berkat belajar bareng kemarin!"
Hina :
"A-aku juga… walau ada beberapa yang ragu, tapi… mungkin masih bisa lolos…"
Rei tersenyum tipis.
Rei :
"Syukurlah. Kalian sudah berusaha keras."
Belum sempat mereka membahas soal-soal ujian lomba akademik lebih jauh, sosok berambut kuncir dengan telinga beastkin berlari kecil ke arah mereka.
Rika :
"Rei! Airi! Hina!
Cepat ke arena non-akademik! Ravien… sekarang lagi nggak terkendali!"
Hina membelalak.
Hina :
"A-apa!?"
Rei dan Airi saling pandang.
Rei merasakan sesuatu di dadanya menegang—bukan dari ketakutan, tapi dari firasat akan bahaya yang lebih dalam.
Rei :
"Ke sana sekarang."
Mereka bertiga langsung berlari mengikuti Rika, meninggalkan koridor akademik yang sunyi.
PELUKAN YANG MENGHENTIKAN IBLIS
Begitu mereka sampai di arena, suara gaduh dan teriakan panik mulai terdengar.
Murid :
"Tahan dia!"
"Guru, hentikan pertandingannya!"
"Dia bisa membunuh lawannya!"
Saat mereka tiba di pinggir arena, pemandangan yang menyambut membuat dada Hina seakan berhenti berfungsi.
Di tengah lapangan, Ravien berdiri dengan aura demon bergejolak.
Satu tangannya mencengkeram leher seorang beastkin—Hayato—mengangkatnya tinggi ke udara.
Darah mengalir dari mulut Hayato, menetes ke tanah.
Beberapa guru yang mencoba mendekat tadi masih terkapar di pinggir arena setelah terpental oleh dorongan kekuatan Ravien.
Rei mengepalkan tangan. Nalurinya sebagai manusia yang pernah jatuh dan bangkit lagi berteriak untuk maju menghentikan.
Rei (dalam hati):
Dan kalau dibiarkan… kita semua akan kehilangan seseorang hari ini.
Ia hendak melangkah—namun sosok lain sudah berlari lebih dulu.
Hina.
Tanpa pikir panjang, Hina menerobos barisan para murid, mengabaikan jeritan panitia.
Saat seseorang mencoba menahan lengannya—Hina menepis tanpa sadar.
Nafasnya memburu, tapi ia tidak berhenti—hingga akhirnya ia berlari ke belakang Ravien dan memeluk pinggangnya erat.
Hina :"Ravien… cukup…!"
Suara Hina bergetar.
Hina:
"Aku… aku nggak apa-apa…
Jadi… tolong… jangan lanjutkan lagi.
Kalau kamu terus… aku yang nggak akan sanggup…"
Ravien terdiam. Tinju kanannya masih terangkat.
Arena terasa sunyi—bahkan napas penonton seperti tertahan.
Ravien menunduk sedikit, melirik tangan kecil yang memeluknya erat dari belakang. Ia bisa merasakan tubuh Hina bergetar hebat.
Ravien (pelan, hanya cukup untuk Hina dengar):
"Kalau aku membiarkan dia… suatu hari dia akan menyakitimu lagi."
Hina menggeleng, masih menempel di punggung Ravien.
Hina :"Kalau kamu… membunuh atau menghancurkan dia di sini…kamu yang akan terluka… Ravien."
Kata-kata itu sederhana, tapi menancap.
Beberapa detik, hanya ada desiran angin di atas arena.
Akhirnya—tinju Ravien perlahan turun.
Ia melepaskan cekikannya dan, bukan menurunkan Hayato dengan lembut, melainkan melemparnya ke luar arena.
Tubuh Hayato menghantam tembok pembatas sekali lagi, dan ambruk tak berdaya. Guru-guru medis segera berlari menghampiri.
Ravien meraih tangan Hina yang masih memeluknya, melepaskan pelan-pelan hingga genggaman itu terurai. Ia tidak menoleh sedikit pun kepada Hina.
Tanpa sepatah kata, ia berbalik—lewat di samping Hina yang masih menangis—dan berjalan keluar arena.
Dari pinggir lapangan, Rei, Airi, Rika, dan Riku menyaksikan semuanya dalam diam.
Airi menggenggam ujung bajunya, dada sesak.
Airi (dalam hati):
Hina… akhirnya… berhenti pura-pura kuat sendirian, ya…
Walau cara yang membuatmu menangis sekarang… jauh dari yang kami bayangkan…
Rei menatap punggung Ravien yang menjauh, lalu bergeser pada Hina yang berdiri dengan bahu bergetar memandang tanah.
Rei (dalam hati):
Dunia ini… keras untuk orang lemah.
Tapi untuk pertama kalinya, Hina punya seseorang yang siap marah untuk dirinya…
Masalahnya sekarang… apakah Ravien bisa berhenti sebelum menghancurkan dirinya sendiri juga?
Dan di antara sorak, bisik-bisik, dan keputusan panitia yang segera menyusul,
Hina masih berdiri di tengah arena, bahunya bergetar.
Tapi untuk pertama kalinya… ia tidak merasa sendirian.
Rei mengepalkan tangan dalam diam.
Dan ketika Ravien berjalan pergi tanpa menoleh, semua orang mengerti—
hari ini bukan sekadar lomba.
Hari ini… ada sesuatu yang berubah.
