"Aku memintanya dengan santai, dan ternyata hasilnya sungguh mengejutkan," seru Zhu Tian dalam hati dengan penuh ketakjuban saat menatap pemandangan aula megah di hadapannya. Matanya menyapu setiap sudut bangunan itu, dari fondasi hingga atap yang menjulang tinggi. "Dan juga tidak disangka, bahkan ditambahkan gunung-gunung di sekitarnya. Ini sungguh keren," lanjutnya dalam hati, semangatnya mengalir tanpa bisa ditahan.
Bagaimanapun juga, Zhu Tian benar-benar hanya memintanya dengan santai, tanpa ekspektasi apa pun. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hasil akhirnya akan semegah dan semenarik ini. Pemandangan di hadapannya jauh melampaui bayangan apa pun yang sempat terlintas di pikirannya.
"Ini sudah seperti sebuah sekte," gumam Zhu Tian dalam hati, "walaupun cuma satu bangunan."
Di sisi lain, Qin Yuan berdiri dengan sikap hormat. Wajahnya tenang, tetapi di balik ketenangan itu tersimpan rasa gugup yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
"Bagaimana, Senior?" ujar Qin Yuan dengan nada ramah, meskipun di dalam hatinya masih tersisa sedikit rasa takut. Namun, di balik tatapan matanya, terpancar pula rasa percaya diri terhadap hasil yang telah ia siapkan.
Zhu Tian hanya mengangguk pelan dengan sikap santai, seolah semua ini adalah hal yang wajar baginya. Melihat anggukan itu, Qin Yuan merasa seperti kehilangan sebagian beban berat yang menekan dadanya. Bagaimanapun juga, ia tahu betul bahwa satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal di hadapan sosok seperti Zhu Tian—setidaknya, itulah yang ia yakini.
"Silakan," ujar Qin Yuan sambil mengangkat tangannya, mempersilakan dengan sikap sopan untuk menaiki tangga yang menjulang di hadapan mereka.
Zhu Tian terbangun dari lamunannya. Dengan langkah tenang, ia mulai menaiki tangga, kedua tangannya berada di belakang punggungnya, menampilkan sikap seorang senior sejati. Qin Yuan pun segera mengikuti dari belakang, menjaga jarak dengan penuh kehati-hatian.
Saat melangkah, hati Zhu Tian berdebar-debar, dipenuhi semangat yang sulit dijelaskan. Namun tidak lama kemudian, setelah mencapai sekitar tiga ratus anak tangga, ia mulai merasakan kelelahan yang luar biasa.
"Sangat panjang… sangat melelahkan," keluh Zhu Tian dalam hati, berusaha keras agar ekspresinya tetap tenang dan tidak memperlihatkan rasa lelah sedikit pun.
Sepanjang menaiki tangga, pandangannya sering kali teralihkan oleh pemandangan di sekitar. Bangau-bangau putih terbang melintasi langit biru, sayap mereka terbentang anggun. Di kejauhan, air terjun mengalir dari pegunungan, menciptakan suara gemericik yang menenangkan.
"Rasanya seperti di surga," pikir Zhu Tian, terpesona.
Di sisi lain, Qin Yuan semakin kebingungan. "Kenapa senior tidak terbang saja dan langsung mendarat dengan cepat?" pikirnya dalam hati. Sikap Zhu Tian benar-benar sulit dipahami. Namun meskipun begitu, Qin Yuan tidak berani mengajukan pertanyaan apa pun. Ia tetap diam, mengikuti dari belakang tanpa protes.
Seiring waktu berlalu, kondisi Qin Yuan justru semakin memburuk. Wajahnya tampak semakin pucat, dan napasnya mulai tidak teratur. Namun ia tetap bertahan, menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.
Akhirnya, setelah tiga jam berjalan tanpa henti, mereka sampai di puncak. Zhu Tian terengah-engah, tetapi ia sama sekali tidak memperlihatkannya. Ia segera memasang ekspresi tenang, layaknya seorang senior yang tak terpengaruh oleh perjalanan panjang tersebut.
Saat tiba di puncak, sebuah gerbang megah menyambut mereka. Pilar-pilar besar berdiri kokoh di kedua sisi, dan di permukaannya terlukis gambar bangau yang melintasi pegunungan. Ukiran itu tampak hidup, seolah bisa bergerak kapan saja.
Begitu melewati gerbang, Qin Yuan melihat bangunan utama yang terletak tepat di tengah kawasan itu. Bangunan tersebut sangat besar dan megah. Di sekelilingnya, tampak banyak lahan kosong yang luas. Namun, lahan itu tidak benar-benar kosong—ada kolam, bebatuan, dan susunan alam yang tampak tertata secara alami.
Setelah mengamati pemandangan sekitar dengan penuh ketakjuban, Zhu Tian melangkah mendekati bangunan utama. Tak lama kemudian, ia tiba di depan pintu masuk yang ukurannya jauh lebih besar dan lebih tinggi daripada tubuhnya—bahkan mungkin sepuluh kali lipat darinya.
Zhu Tian mendorong gerbang besar itu dan masuk ke dalam.
Di dalam, pemandangan yang menakjubkan kembali menyambutnya. Aula utama sangat luas, berada tepat di tengah bangunan raksasa tersebut. Di keempat sudut aula berdiri pilar-pilar besar yang menopang atap, masing-masing diukir dengan naga dan phoenix yang tampak begitu detail.
"Keren… mereka tampak hidup," pikir Zhu Tian dengan kagum. Senyum tipis tanpa sadar muncul di wajahnya. "Aduh, aku tidak boleh terlalu bersemangat."
Ia segera menekan perasaan itu. Bagaimanapun juga, sekarang ia sedang berakting sebagai seorang senior. Sambil sedikit melirik ke belakang, ia memperhatikan Qin Yuan. Keadaan pria itu tampak tidak begitu baik—wajahnya pucat, dan napasnya terdengar kacau.
Di bagian paling depan aula terdapat sebuah tempat duduk besar dan luas.
"Kalau dipikir-pikir, ini bisa dijadikan tempat tidur sekaligus," seru Zhu Tian dalam hati.
Ia melangkah perlahan dan duduk di tempat duduk tersebut.
"Keren… menakjubkan," ucapnya dalam hati dengan semangat yang kembali membuncah. Jantungnya berdebar-debar hebat.
"Senior," seru Qin Yuan sambil membungkuk hormat.
Sapaan itu membuat Zhu Tian tersadar. Ia segera menekan kembali rasa senangnya dan memasang ekspresi tenang.
Zhu Tian menatap Qin Yuan yang masih membungkuk. "Dari sikapnya, rasanya seperti dia mengucapkan selamat… tapi selamat untuk apa?" pikir Zhu Tian dalam hati. Namun ia tidak terlalu memikirkannya.
"Angkat kepalamu," ujar Zhu Tian dengan nada datar, penuh wibawa.
Qin Yuan mengikuti instruksi tersebut. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya berdiri diam sambil menunggu perintah selanjutnya.
Melihat situasi itu, Zhu Tian justru merasa sedikit canggung.
Dalam hatinya, Zhu Tian mulai berpikir, "Saat ini aku belum mengetahui apa pun tentang kultivasi, dunia kultivasi, dan bahkan tentang planet ini."
Setelah mempertimbangkan sejenak, Zhu Tian mulai mengajukan berbagai pertanyaan.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, Qin Yuan terkadang tampak bingung, terkadang pula ragu. Namun ia tetap menjelaskan dengan sebaik mungkin.
Setelah penjelasan yang berlangsung selama tiga jam penuh, Zhu Tian akhirnya mulai sedikit memahami dunia ini dan sistem kultivasi yang ada di dalamnya.
Mengingat Qin Yuan sedang terluka, Zhu Tian pun mengambil keputusan.
"Kamu boleh pergi memulihkan diri," ujar Zhu Tian dengan santai.
"Baik, Senior," jawab Qin Yuan dengan sedikit semangat. Ia kembali membungkuk hormat, lalu berbalik dan pergi.
Zhu Tian kembali tenggelam dalam pikirannya.
"Tempatku sekarang berada di benua bagian timur. Lokasiku tepatnya di Bukit Angin. Benua bagian timur merupakan benua kultivasi tingkat lima, yang dihuni oleh sekte-sekte tingkat lima. Planet ini terbagi menjadi lima benua, dan tempatku sekarang berada di tingkat paling rendah."
Ia mendesus pelan.
"Huu… ini benar-benar semacam plot klasik reinkarnasi dalam novel."
