Bukit ini sungguh indah—hamparan rumput hijau membentang sejauh mata memandang, angin lembut berhembus, dan suasana yang begitu menenangkan membuatku merasa ingin tinggal di sini selamanya. Sayangnya, ketenangan itu sedikit terusik oleh pemandangan aneh di depanku: seorang pria berpakaian kuno tergeletak, tubuhnya penuh luka seperti hampir mati.
Setelah beberapa saat aku melontarkan kata-kata spontan karena keheranan, pria itu akhirnya bergerak. Dengan susah payah, ia menengadah dan berbicara.
"Maaf… senior," ucapnya lirih sambil membungkukkan tubuh, bahkan sampai sujud dengan sangat merendah.
"Senior? Yang kamu maksud… aku?" Aku mengerutkan kening, benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Sejak kapan aku menjadi senior? Aku baru saja bangun di tempat asing ini, dan tiba-tiba seseorang memanggilku dengan begitu hormat? Apa-apaan ini.
"Mungkin kamu salah orang?" tanyaku lagi dengan nada terkejut.
Namun pria itu justru makin panik. "T-tidak, senior! Tidak mungkin saya salah!"
Kami berdebat sebentar, dan semakin lama aku hanya merasa lelah. Situasi ini begitu absurd. Aku terbangun di sebuah bukit asing, melihat seorang pria hampir mati, lalu tiba-tiba ia memanggilku senior seolah aku seorang ahli besar. Jujur saja, otakku berputar keras mencoba memahami semuanya.
Apa mungkin aku telah menyebrangi dunia? Masuk ke dunia kultivasi? pikirku dalam hati. Jika itu benar, maka semua yang kulihat sekarang masuk akal.
Akhirnya, dengan penuh kemungkinan yang berputar di kepalaku, aku mengajukan pertanyaan paling dasar.
"Ini… di mana?" tanya Zhu Tian, merasa jantungnya berdebar penuh semangat.
Pria itu segera menjawab dengan sopan, "Jawab senior, ini adalah Planet Lin Cing. Dan tempat kita berada sekarang adalah Bukit Angin."
Mendengar jawaban itu, semangatku langsung melonjak.
"Apakah di dunia ini ada kultivasi?" Aku bahkan tak bisa menahan diri; pertanyaannya keluar begitu saja. Jika ini benar-benar dunia kultivasi, maka ini luar biasa.
Pria itu tampak bingung. Pertanyaan seperti itu seharusnya tidak perlu ditanyakan oleh seorang "senior". Namun ia tetap menjawab dengan hati-hati.
"Y-ya, senior… di sini ada kultivasi."
Perasaan semangat yang belum pernah kurasakan sebelumnya meledak dalam diriku. Di bumi, hidupku cukup membosankan: tinggal di apartemen, bekerja sebentar, makan, bermain game, dan menunggu update novel atau komik kultivasi favoritku. Jika dunia ini benar-benar dunia kultivasi… bagaimana mungkin aku tidak bersemangat?
Beberapa saat kemudian, aku mencoba menekan gejolak di dadaku dan mulai berpikir lebih jernih.
Kenapa pria ini memanggilku senior?
Kulihat sekeliling, dan memang tempat aku berada tampak seperti kawah besar—seperti bekas jatuhnya sesuatu dari ketinggian. Retakan tersebar ke berbagai arah. Apa aku jatuh dari langit? Jika begitu, mungkin pria ini menemukanku dan mengira aku adalah seorang ahli besar yang terluka. Tapi… kenapa dia sendiri yang tampak cedera?, dan kenapa aku tidak terluka sedikitpun atau dia menyembuhkan ku?
Atau mungkin dia memeriksa tubuhku, lalu melihat ingatanku… dan melihat sesuatu yang tidak seharusnya? Atau tubuhku menyimpan rahasia yang tidak kuketahui? Aku terus berpikir sambil melihat keadaan sekitar. Opsi lain, mungkin dia baru saja bertempur dan kebetulan menemukan aku. Yah, bagaimanapun… mungkin aku bisa berpura-pura jadi senior untuk sementara.
Sementara aku tenggelam dalam pikiranku, pria itu mulai merapikan diri. Ia menelan sebuah pill, dan tubuhnya terlihat jauh lebih baik. Ternyata efek pill itu hanya sementara—sekadar membuat penampilannya terlihat sopan. Meskipun ia bisa menggunakan energi spiritual untuk merapikan diri, kondisi tubuhnya sedang kacau akibat serangan balik tadi. Jika bukan karena ada "senior", mungkin darahnya sudah mengalir tanpa henti sejak tadi karena tidak menahan nya, sedari awal menahan efek serangan balik tadi dengan susah payah akan menyebabkan luka yang lebih serius, tapi bagai mana pun aku tidak boleh menunjukkan nya, tidak boleh senior menyadari aku menjelajahi ingatan nya.
Akhirnya, aku memutuskan bertanya langsung daripada terus menebak-nebak.
"Kenapa kamu memanggilku senior?"
Pria itu menegakkan tubuhnya, wajahnya serius dan penuh rasa hormat.
"Karena… Anda memang senior."
Aku terdiam sejenak. Jawaban yang begitu tegas membuatku semakin bingung, namun juga menegaskan satu hal: kemungkinan besar dugaanku benar. Entah dia melihat sesuatu dariku, atau tubuh ini memang memiliki rahasia besar. Lagipula, aku bahkan bukan kultivator—aku hanya manusia biasa dari zaman modern. Tapi di matanya… aku jelas bukan orang biasa.
Yah… apa pun alasannya, lebih baik aku manfaatkan situasi ini dulu. pikir Zhu Tian, menghela napas panjang.
Zhu Tian perlahan berdiri dengan sikap seorang ahli. Ia berjalan tenang menjauh dari retakan tanah tempatnya jatuh tadi, kedua tangan berada di belakang punggungnya sambil memandang hamparan luas bukit itu.
"Hmm, tempat ini sungguh bagus," ujar Zhu Tian dalam hati saat memperhatikan pemandangan tersebut.
Sebagai seseorang yang gemar membaca novel kultivasi, berbagai hal liar sering terlintas dalam benaknya. Dan sekarang, satu ide kembali muncul.
"Tempat yang bagus… dan seorang ahli…" gumam Zhu Tian sambil melirik pria yang hampir mati itu. "Bagus, aku akan membangun sebuah sekte di tempat ini."
Jantungnya berdetak cepat penuh semangat.
"Siapa namamu?" tanya Zhu Tian sambil melirik pria itu.
Pria itu segera menjawab penuh hormat, "Qin Yuan."
Qin Yuan… udah kayak nama protagonis novel aja, pikir Zhu Tian sambil bercanda dalam hati.
"Tingkat kultivasi?" tanya Zhu Tian santai.
"Sebelumnya Body Integration… tetapi sekarang turun ke Core Formation," jawab Qin Yuan dengan suara gemetar ketakutan.
Body Integration ke Core Formation… jauh atau nggak ya turunnya? Zhu Tian tidak tahu tingkat kultivasi dunia ini. Nada takut pria itu membuatnya tidak ingin bertanya lebih jauh.
Pengetahuannya dari novel bicara jelas: jangan memaksa mengetahui rahasia orang kuat saat dirimu masih lemah.
Zhu Tian hanya mengangguk kecil, seolah sudah memahami sesuatu.
"Apakah dengan tingkat kultivasimu sekarang kamu bisa membangun sebuah bangunan?" tanya Zhu Tian santai.
"Jawab Senior, dengan tingkat kultivasi saya saat ini, saya bisa membangunnya dalam kondisi tertentu," jawab Qin Yuan hormat.
Zhu Tian mengangguk ringan. "Bangun satu aula dengan seribu tangga, dan aulanya ditutup oleh awan."
Setelah mengatakannya, Zhu Tian sendiri merasa permintaannya agak berlebihan. Jika pihak lain menolaknya, itu masih wajar. Tetapi jawaban Qin Yuan membuatnya terkejut.
"Saya bisa, Senior," jawab Qin Yuan tegas, seolah tugas itu mudah.
Di dalam hatinya, Qin Yuan sudah siap menerima tuntutan apa pun dari Senior. Ia bahkan menganggap ini sebagai bentuk hukuman karena telah melihat sebagian ingatan Senior—sesuatu yang tidak diketahui oleh Zhu Tian sama sekali dan karena melihat ingatan itu kultivasi nya turun, dan walaupun membangun bangunan dengan ketentuan senior itu agak sedikit susah untuk kondisi ku sekarang, karena sekarang energi spiritual dalam diri Qin yuan tidak stabil, walaupun begitu ini termasuk hukuman yang ringan.
Qin Yuan merasa lega dan bersyukur. Ia sempat bingung kenapa Senior tidak membangun bangunan itu sendiri, tetapi ia tidak berani berpikir terlalu jauh. Baginya, ini adalah kehormatan sekaligus hukuman yang ringan.
Senior pasti tidak menginginkan bangunan biasa, pikir Qin Yuan. Detik berikutnya ia mengeluarkan sebuah batu meteorit dari kantong penyimpanannya.
Menggunakan batu meteorit harusnya cukup. Meski mungkin tetap dianggap rendah oleh Senior… tapi hanya ini bahan paling kokoh yang aku punya. Qin Yuan sedikit bimbang, karena batu meteorit bukanlah material berkualitas bagi kultivator tingkat tinggi di planet ini.
Ia melempar batu meteorit itu ke udara. Api panas membungkus batu tersebut, memutarnya untuk mulai melelehkan materialnya.
Sambil itu berlangsung, Qin Yuan menggerakkan kedua tangannya. Tanah di depan mereka terangkat, naik setinggi lima ratus meter dengan lebar dua ratus meter. Dengan dasar sebesar ini, bangunan yang diminta Senior pasti bisa terbangun.
Energi spiritual mengalir, membentuk seribu tangga dari puncak hingga ke dasar tanah raksasa itu.
Batu meteorit yang sudah cair terbang ke atas pondasi tanah tersebut. Perlahan, cairan itu membentuk sebuah bangunan megah: sebuah aula menjulang tinggi dengan sisi-sisi indah dan lekuk bangunan yang menunjukkan kemewahan.
Setelah menyelesaikan struktur bangunan dan tangganya, Qin Yuan menepuk kantong penyimpanan, mengeluarkan sebuah batu spiritual. Ia membentuk segel di tangannya; batu itu terbang ke angkasa lalu terpecah menjadi empat bagian.
Gerakan tangannya berubah cepat, membentuk array ilusi, pertahanan, dan serangan sekaligus. Dari array ilusi itu, perlahan-lahan muncul awan, gunung kecil, air terjun yang mengalir, serta bangau-bangau yang beterbangan.
Dalam beberapa saat saja, aula yang diminta Zhu Tian sudah berdiri dengan megah, tertutup awan lembut dan pemandangan ilusi yang hidup.
