Reruntuhan di Planet Oasis bukan lagi sekadar pasir dan logam; tempat ini telah menjadi zona corrupted data yang tidak stabil. Ija sedang sibuk melakukan sinkronisasi dengan Terminal Utama di kedalaman ruang bawah tanah, membiarkan timnya berjaga di permukaan.
Di bawah langit yang berkedip statis, ketegangan mulai muncul.
"Aku tidak suka ini," Lyra memutar pedang bintangnya dengan kasar. "Ija selalu melakukan semuanya sendiri. Seolah dia tidak percaya kita bisa menangani ini."
Scarlett duduk di atas bongkahan pilar yang hancur, sibuk mengasah belati bayangannya. Ia melirik Lyra dengan tatapan tajam. "Dia tidak meragukan kita, Lyra. Dia hanya... menjaga ritmenya sendiri. Lagipula, kau sendiri yang bilang dia bajingan yang tak tertolong, kan?"
"Itu sebelum aku melihatnya menghancurkan enam Rasul dalam hitungan menit," potong Aria. Gadis berambut hijau itu berdiri di tengah, tangannya yang bercahaya menahan retakan tanah agar tidak menelan mereka. "Ija sedang memikul beban sistem yang bahkan tidak bisa kita bayangkan. Tapi, kita juga punya peran."
Tiba-tiba, sensor di pergelangan tangan Lyra berbunyi nyaring. Sebuah sinyal ancaman mendekat. Bukan dari langit, tapi dari balik hutan digital yang mulai mengalami glitch hebat.
"Dua unit pengejar kelas berat sedang mendekat. Mereka bukan Rasul, mereka... Cleaner tipe otomatis," ujar Lyra tegas.
"Ija tidak di sini," Scarlett berdiri, bayangan di sekitarnya mulai memanjang. "Ini saatnya kita menunjukkan kalau kita bukan sekadar dekorasi di kapal itu."
Dua mesin pembantai setinggi tiga meter muncul dari balik kabut data. Mereka tidak bicara, tidak bernegosiasi. Mereka hanya berjalan dengan presisi mesin yang mengerikan.
"Lyra, ambil jalur kiri. Scarlett, kau tahu apa yang harus dilakukan di jalur kanan. Aku akan menarik perhatian mereka," perintah Aria. Suaranya yang lembut kini berubah menjadi nada komando yang penuh wibawa.
"Kau? Kau hanya penyembuh!" sahut Lyra kaget.
"Penyembuh bisa mengubah struktur atom, bukan?" Aria tersenyum tipis, matanya bersinar hijau terang.
Lyra melesat maju, pedangnya menari membelah udara. Ia menggunakan teknik Royal Fencing yang ia pelajari dari kerajaan galaksi yang hancur dulu. Meski musuhnya jauh lebih besar, Lyra mengimbangi dengan kelincahan yang membuat mesin-mesin itu sulit mengunci target.
Sementara itu, Scarlett bergerak dalam senyap. Ia tidak menyerang dari depan. Ia menggunakan kemampuan bayangannya untuk "mematikan" gravitasi di bawah kaki para mesin tersebut, membuat mereka oleng dan tidak stabil.
"Sekarang, Aria!" teriak Scarlett.
Aria melepaskan gelombang energi hijau yang menyelimuti kedua mesin itu. Alih-alih menghancurkannya, energi Aria "meretas" sistem internal mereka. Tanaman merambat dari data organik tumbuh subur di dalam sirkuit mesin-mesin itu, menghambat pergerakan mereka secara total.
"Ini bukan sihir, ini adalah overclocking data!" teriak Aria.
Lyra melompat tinggi, pedangnya menebas titik vital di leher mesin yang sudah terkunci oleh tanaman Aria. BAM! Mesin itu tumbang dengan dentuman keras. Scarlett segera menyusul, menancapkan belatinya tepat ke inti prosesor mesin kedua.
Dalam waktu kurang dari dua menit, mereka berhasil membersihkan area tersebut tanpa bantuan Ija.
Saat mereka berdiri dengan napas terengah-engah, Ija keluar dari celah dimensi di dinding reruntuhan. Ia tampak pucat, memegang sebuah chip data kuno di tangannya. Ia terdiam sejenak melihat pemandangan di depannya: dua unit Cleaner hancur total, dan ketiga wanitanya berdiri dengan bangga.
Ija menatap mereka. Wajahnya yang biasanya konyol dan meremehkan, kini berubah menjadi senyum yang sangat tulus.
"Kerja bagus," ucap Ija datar. Ia berjalan mendekat dan tanpa permisi, ia mengacak-acak rambut Lyra, menepuk bahu Scarlett, dan memberikan anggukan hormat pada Aria. "Aku tidak menyangka kalian bisa melakukannya secepat itu. Kurasa aku harus berhenti menganggap kalian hanya butuh perlindunganku."
"Tentu saja!" Scarlett mendengus, menyembunyikan wajahnya yang sedikit tersipu. "Kami adalah rekanmu, Ija. Bukan bonekamu."
"Ya, ya," Ija kembali ke mode misteriusnya, memutar chip data di jarinya. "Tapi jangan terlalu bangga dulu. Informasi di chip ini mengatakan bahwa apa yang kita lawan di Oasis ini hanyalah 'penjaga pintu'. Gerbang yang sebenarnya untuk mengungkap siapa aku... ada di tempat yang jauh lebih dalam."
Ija menatap ketiganya. "Siap untuk perjalanan yang lebih gila?"
"Selalu," jawab mereka bertiga serempak.
