Cherreads

Chapter 20 - Kesadaran yang terbangun

Suara itu terus bergema di dalam kepala Raka.

"Kunci telah terbuka."

Raka memegang kepalanya.

Rasa sakit menjalar seperti ribuan jarum menusuk pikirannya.

Di sekelilingnya, puncak menara terus bergetar.

Batu-batu jatuh dari langit-langit.

Urat hitam di dinding bergerak semakin cepat seperti makhluk hidup.

Makhluk dari jantung menara menatap Raka dengan penuh minat.

"Ya…"

bisiknya pelan.

"Bangunlah."

Cahaya merah dari tanda di tangan Raka menjalar ke lengannya.

Lalu ke dadanya.

Dan akhirnya menyebar ke seluruh tubuhnya.

Raka terengah.

"Kenapa… aku merasa… menara ini…"

Ia menatap dinding yang berdenyut.

"…seperti bagian dari diriku?"

Makhluk itu tersenyum puas.

"Karena memang begitu."

Pria berambut putih melangkah maju dengan wajah tegang.

"Jangan dengarkan dia!"

Namun sudah terlambat.

Kenangan lain muncul di kepala Raka.

Ia melihat dirinya yang masih kecil berdiri di ruangan jantung menara.

Pria berambut putih berlutut di depannya.

"Mulai hari ini…"

suara pria itu dalam kenangan terdengar jelas.

"…kau akan menjadi penjaga segel menara."

Anak kecil itu—Raka—mengangguk polos.

"Apakah menara ini berbahaya?"

Pria itu menatap jantung menara yang berdenyut.

"Lebih berbahaya dari yang bisa kau bayangkan."

Kenangan itu menghilang.

Raka terjatuh ke satu lutut.

Napasnya berat.

"Aku… mengingatnya."

Makhluk dari jantung menara tertawa kecil.

"Bagus."

Ia berjalan mengelilingi Raka perlahan.

Seperti predator yang menilai mangsanya.

"Sekarang kau tahu."

"Selama ini kau bukan pewaris."

"Kau adalah penjara."

Raka menatapnya dengan mata tajam.

"Penjara untukmu?"

Makhluk itu berhenti berjalan.

Matanya menyala merah terang.

"Untukku… dan untuk menara."

Pria berambut putih mengepalkan tangannya.

"Jika segel itu benar-benar terbuka…"

Ia menatap makhluk itu dengan penuh kebencian.

"…dunia di luar menara akan hancur."

Raka menatap mereka berdua.

Satu adalah pencipta menara.

Yang lain adalah makhluk dari jantungnya.

Dan dirinya…

adalah kunci.

Tiba-tiba Aldren menggeram dari balik puing-puing.

Monster itu perlahan bangkit lagi.

Tubuhnya penuh luka.

Namun matanya masih dipenuhi kegilaan.

"Kalian semua… bicara terlalu banyak…"

Ia menatap jantung menara yang pecah.

"Aku tidak peduli siapa yang hidup atau mati."

Ia mulai merangkak menuju pusat ruangan.

"Aku hanya ingin kekuatan menara."

Makhluk dari jantung menara menoleh padanya.

Ekspresinya berubah bosan.

"Kau masih hidup?"

Aldren tertawa serak.

"Selama menara ini hidup…"

Ia mengangkat cakarnya.

"…aku juga tidak akan mati."

Raka berdiri perlahan.

Tanda di tangannya kini bersinar stabil.

Ia merasakan sesuatu yang baru.

Ia bisa merasakan seluruh menara.

Setiap retakan.

Setiap getaran.

Setiap makhluk yang ada di dalamnya.

Makhluk dari jantung menara memperhatikannya dengan senyum tipis.

"Oh?"

"Sepertinya kau mulai memahami."

Raka mengangkat tangannya.

Tiba-tiba dinding menara bergerak.

Urat-urat hitam menegang.

Aldren langsung berhenti bergerak.

Tubuhnya tertahan oleh batu yang tiba-tiba mencengkeramnya.

Aldren menggeram marah.

"Apa ini?!"

Raka menatapnya dengan tenang.

"Menara ini…"

Ia mengepalkan tangannya.

"…masih mendengarkanku."

Makhluk dari jantung menara tertawa.

Namun kali ini tawanya terdengar lebih tertarik daripada mengejek.

"Menarik sekali."

Ia menatap Raka dalam-dalam.

"Kalau begitu, kunci…"

Ia membuka kedua tangannya.

"…apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Di bawah kaki mereka—

seluruh menara tiba-tiba bergetar lebih kuat dari sebelumnya.

BOOOOOOOM!

Retakan raksasa muncul di lantai puncak.

Dari dalam retakan itu…

sesuatu yang jauh lebih besar dari jantung menara mulai bergerak.

Pria berambut putih berbisik dengan wajah pucat.

"Itu tidak mungkin…"

Raka menatap retakan itu.

Dan untuk pertama kalinya…

ia merasakan ketakutan dari menara itu sendiri.

More Chapters