Cherreads

Chapter 3 - KEKUATAN YANG TERBANGUN

Arven masih berdiri di tengah Hutan Kelam, napasnya belum stabil setelah pertarungan singkat dengan serigala bayangan.

Kabut hitam dari monster itu perlahan menghilang di udara.

Tangannya masih menggenggam pedang Relicta yang memancarkan cahaya biru lembut.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku…?" bisiknya.

Tiba-tiba tubuhnya terasa hangat.

Seperti ada energi yang mengalir melalui pembuluh darahnya.

Di saat yang sama, suara Relicta kembali terdengar di pikirannya.

"Itu adalah mana."

"Mana?"

"Energi kehidupan dunia ini. Semua makhluk memiliki mana, tetapi hanya sedikit yang bisa merasakannya… apalagi menggunakannya."

Arven menatap tangannya.

Ia bisa merasakan sesuatu di sekelilingnya.

Angin.

Tanah.

Pohon-pohon di hutan.

Seolah semuanya memiliki energi yang samar.

"Pedangku telah membangunkan potensi yang tertidur di dalam dirimu." lanjut Relicta.

Arven mencoba menggerakkan pedang itu perlahan.

Anehnya, pedang tersebut terasa sangat ringan.

Seolah-olah memang diciptakan untuknya.

Namun tiba-tiba—

CRACK!

Suara ranting patah terdengar dari balik pepohonan.

Arven langsung menoleh.

Dari kegelapan muncul tiga pasang mata merah.

Lalu enam.

Kemudian sepuluh.

Sekelompok serigala bayangan keluar dari balik semak-semak.

Tubuh Arven menegang.

"Kenapa… ada sebanyak ini?!"

Relicta menjawab dengan tenang.

"Monster selalu tertarik pada energi mana yang kuat. Dan sekarang… kau bersinar seperti obor di tengah malam."

Serigala-serigala itu mulai mengelilinginya.

Geraman rendah memenuhi udara.

Arven menggenggam pedangnya lebih erat.

"Aku tidak mungkin melawan mereka semua…"

"Kau bisa."

"Bagaimana?!"

Pedang itu bersinar lebih terang.

"Biarkan mana mengalir melalui tubuhmu… lalu arahkan ke pedang."

Arven menutup matanya sejenak.

Ia mencoba merasakan energi hangat yang tadi mengalir dalam tubuhnya.

Lalu ia menyalurkannya ke tangannya.

Ke pedang.

Tiba-tiba cahaya biru menyelimuti seluruh bilah pedang Relicta.

Mata Arven terbuka.

Serigala bayangan pertama melompat ke arahnya.

Dengan refleks, Arven mengayunkan pedangnya.

WHOOSH!

Gelombang cahaya biru melesat keluar.

BOOOM!

Tiga serigala bayangan langsung hancur menjadi kabut hitam.

Arven sendiri terkejut.

"Apa itu tadi?!"

Namun serigala lainnya tidak berhenti.

Mereka menyerang bersamaan.

Arven menggerakkan tubuhnya mengikuti insting.

Tebasan demi tebasan memenuhi udara.

Cahaya biru menari di antara pepohonan.

Beberapa saat kemudian…

Hutan kembali sunyi.

Semua serigala bayangan telah lenyap.

Arven jatuh berlutut ke tanah, kelelahan.

"Kekuatan itu… terlalu besar…"

Relicta berbicara lagi.

"Ini baru awal."

Arven mengangkat kepalanya.

"Apa maksudmu?"

"Karena dunia ini jauh lebih besar dari desa kecilmu."

Pedang itu bersinar pelan.

"Dan banyak makhluk di luar sana yang akan memburumu… demi kekuatan yang kau miliki."

Angin malam berhembus melewati pepohonan.

Arven menatap langit yang gelap.

Tanpa ia sadari, takdirnya sudah berubah.

Dan perjalanan yang jauh lebih berbahaya telah menunggunya.

More Chapters