Kaivan membuka matanya. Kilau di sana setajam baja. "Kau tidak mengerti apa yang sedang kau lakukan, Julian. Lepaskan dia… sebelum kau menyesal."
Julian kembali tertawa, tajam dan tanpa belas kasihan. Dengan dorongan kasar, ia melempar Thivi ke lantai. Gadis itu terisak, air mata menggenang di matanya. "Lihat dirimu. Kau tak bisa menyelamatkan siapa pun, bahkan dirimu sendiri."
Kaivan tidak menjawab. Tubuhnya menegang, seperti anak panah yang ditarik dalam keheningan. Lalu, dalam satu gerakan cepat, ia menerjang. Namun Julian lebih dulu bergerak, menghantamkan lutut ke perut Kaivan. Benturan itu melipat tubuhnya, merenggut napasnya. Tome itu terlepas dari genggaman, membentur lantai dingin.
Mata Julian berkilat saat melihat buku itu. "Akhirnya," bisiknya, melangkah perlahan mendekat. "Semua ini… tidak sia-sia."
Di tepi ruangan, Felicia membeku. Wajahnya dipenuhi gejolak batin. Julian menoleh padanya, tersenyum dingin seperti es. "Bawakan kemari, sayang."
Felicia ragu. Langkahnya terasa berat. Ia berjongkok, ujung jarinya menyentuh sampul kasar itu, dan rasa sakit menghantamnya seketika. Dunia berputar, kepalanya terasa terbakar dari dalam. Ia jatuh berlutut, kedua tangannya mencengkeram pelipis. "AAARGH!"
Jeritannya membelah udara, mengguncang ruangan. Mata Julian menyipit penuh jijik. "Tak berguna! Hal sesederhana ini saja tak bisa kau lakukan!"
Tendangannya menghantam sisi tubuh Felicia dengan keras, melemparkannya ke lantai batu. Rintihannya pelan namun menusuk. Julian berdiri menjulang di atasnya, mata penuh penghinaan. "Menyedihkan. Inilah akibatnya terlalu lama bersama orang-orang lemah seperti mereka."
Pemandangan itu merobek sesuatu di dalam diri Kaivan, sesuatu yang gelap dan liar. Napasnya tersengal, tubuhnya nyeri, namun ia memaksa bangkit. Pandangannya terkunci sepenuhnya pada Julian.
Julian berbalik, seringai kejam memelintir bibirnya. Ia merentangkan tangan, seolah menyambut. "Oh? Kau mendatangiku?" ejeknya. "Bukannya lari, kau malah melangkah ke bahaya? Menarik sekali."
Kaivan melangkah maju perlahan, satu langkah demi satu, seperti bayangan yang mendekat. "Aku tak bisa mengakhiri ini dari jauh, Julian," gumamnya. "Untuk mengalahkanmu, aku harus mendekat."
Julian menyerang lebih dulu, namun Kaivan memutar tubuh, gerakannya mengalir seperti air menghindari batu. Tendangan rendah menghantam lutut Julian, membuatnya kehilangan keseimbangan. Tanpa jeda, Kaivan menghantamkan lutut ke dadanya, menjatuhkannya dengan bunyi berat.
Tanpa menunggu, Kaivan menjatuhkan diri di sisi Felicia. Tubuhnya gemetar, didera rasa sakit. Kaivan memeluknya, jemarinya menyisir rambutnya dengan lembut. "Hei… sudah berakhir. Ikut denganku, Felicia. Tak ada alasan lagi bagimu untuk tinggal di sini."
Namun suara dari belakang merobek ketenangan rapuh itu. Julian bangkit tertatih, amarah menyala di matanya. Ia meraih Tome yang terjatuh dan membukanya sembarangan.
"Hanya buku kosong," ejeknya, tawanya membelah udara. "Untuk apa repot-repot membawa ini?"
Kaivan berdiri, pelan dan mantap. Tatapannya tajam, tenang namun menyimpan badai. Dari tasnya, ia mengeluarkan botol kecil, sampo yang ia bawa dari bengkel. Ia menuangkan isinya perlahan ke lantai di sekitar Julian.
"Itu bukan buku kosong," kata Kaivan datar, namun sarat ancaman sunyi. "Kau hanya terlalu buta untuk memahami maknanya."
Julian mendesis marah dan melangkah maju, tetapi lantai licin menjadi sekutu tersembunyi Kaivan. Kakinya tergelincir. Tubuhnya terhempas keras ke lantai. Dalam kekacauan itu, Kaivan menerjang, menghantamkan lutut ke wajah Julian.
Bunyi retakan menggema, tajam dan menentukan. Julian terkapar, mencengkeram hidungnya yang berdarah. "Sialan kau! Pengecut!"
Dari sudut ruangan, Felicia menyaksikan. Kelegaan melihat Julian jatuh bercampur dengan luka mentah di dadanya. Ia menunduk, menyembunyikan air mata yang tetap tumpah.
Jeritan kesakitan Julian menggema saat ia meronta di lantai, memanggil bala bantuan yang tak pernah datang. "Cepat! Habisi dia, bocah sialan itu!"
Namun yang menjawab justru langkah kaki berat. Dari ambang pintu, Radit muncul, tubuhnya menjulang, mata menyala oleh amarah. Tanpa sepatah kata, ia menerjang sisa anak buah. Satu per satu tumbang oleh pukulannya yang berat dan presisi, seperti palu merobohkan dinding rapuh. Dalam hitungan detik, keheningan kembali merebut ruangan.
Julian tergeletak babak belur. Matanya liar hingga akhirnya terkunci pada Felicia. "Felicia! Jangan cuma berdiri di sana! Tolong aku, bodoh!" teriaknya, putus asa berubah menjadi amarah.
Felicia tidak bergerak. Suaranya kini hanyalah gema kosong. Pikirannya justru terikat pada janji Kaivan yang tenang. Aku akan selalu ada untukmu, selamanya. Kata-kata itu terasa seperti benih yang perlahan tumbuh di gurun hatinya. Ia menatap Kaivan yang mendekat, bukan sekadar sebagai penyelamat, melainkan satu-satunya yang masih berdiri.
Kaivan berlutut di hadapannya, menyentuh pipi Felicia yang dingin dengan tangan gemetar. "Jangan takut ditinggalkan," bisiknya, suaranya nyaris seperti napas. "Aku akan selalu ada untukmu. Selamanya."
Felicia bergetar, matanya mengajukan pertanyaan tanpa suara. Benarkah kau akan tinggal? Selalu?
Kaivan mengangguk. "Selalu."
