Namun, sebuah suara lain merobek momen itu. Suara Julian, rendah dan tajam, menusuk seperti jarum di luka yang masih terbuka.
"Felicia, sayang… tolong aku. Kalau kamu cuma diam di sana, itu berarti kamu tidak mencintaiku. Kamu tahu aku selalu bisa mencari pengganti."
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan. Di dalam diri Felicia, luka lama terbelah kembali. Ketakutan akan ditinggalkan, kehilangan pijakan hidupnya, mengguncang jiwanya sampai ke dasar. Tubuhnya gemetar saat ia perlahan berdiri, air mata mengalir, seolah ada sesuatu di luar kehendaknya yang menarik benang tak kasatmata.
Felicia berdiri membeku. Tubuhnya gemetar di bawah beban emosi yang datang tanpa peringatan, seperti badai yang merobek pertahanan terakhirnya. Matanya memerah, air mata menggantung di ambang jatuh, sementara bibirnya terkatup rapat menahan segala hal yang ingin ia jeritkan. Ia mencoba berpikir namun tubuhnya bergerak lebih dulu. Dalam hitungan detik, jarak itu lenyap, dan ia menjatuhkan diri di atas Kaivan.
Kaivan tidak melawan. Wajahnya tetap tenang, meski ia tahu badai itu kini tepat di atasnya. Sebelum ia sempat membuka suara, pukulan Felicia menghantam pipinya.
"Kenapa kau tidak melawan?!" jeritnya, suaranya bergetar antara marah dan nyaris pecah.
Pukulan lain menyusul. Liar. Putus asa. Kaivan tetap diam, menerima semuanya tanpa mengangkat tangan.
"Aku tidak akan meninggalkan kekasihku! Aku tidak akan ikut denganmu, Kaivan!" teriak Felicia. Namun semakin keras ia memukul, semakin gemetar tangannya. Amarah itu retak, berubah menjadi rasa sakit yang tak lagi bisa ia bendung.
Darah mengalir dari sudut bibir Kaivan. Tatapannya tetap tertuju padanya tenang, penuh pengertian, tanpa kebencian sedikit pun.
Napas Felicia terputus-putus. Dengan satu pukulan terakhir yang lebih keras, ia berteriak,
"Kenapa kau menolongku waktu itu?! Kita bahkan tidak saling mengenal!"
Pukulannya melambat. Air mata akhirnya jatuh.
"Kenapa kau datang ke sini sekarang?" suaranya pecah. "Untuk balas dendam pada Julian? Karena dia menghancurkan tempat kerjamu?"
Tubuhnya gemetar hebat. "Kenapa… kenapa kau menatapku seperti itu, seakan kau sudah mengenalku seumur hidupmu?"
Tangannya terangkat lalu berhenti di udara. "Kenapa, Kaivan…?"
Tangisnya pecah, memenuhi ruangan dengan kesedihan yang nyaris tak tertahankan.
Ia berhenti memukul. Tangannya kini hanya menempel di tubuh Kaivan. Pandangannya kabur, tetapi ia masih bisa melihat wajah Kaivan yang penuh luka. Ada sesuatu dalam tatapan itu ketenangan di tengah badai yang membuatnya tak mampu bergerak lagi.
Kaivan akhirnya berbicara. Suaranya lemah, nyaris runtuh.
"Maaf… karena sejak awal aku tidak berani jujur sepenuhnya."
Ia menarik napas pendek. "Aku datang bukan hanya untuk menemui orang yang menghancurkan tempat kerjaku."
Pandangan mereka bertaut. "Aku datang… untuk menjemputmu, Felicia."
Tangannya yang terluka terangkat, menyentuh pipi Felicia yang basah oleh air mata. Sentuhan itu begitu ringan, hampir tak terasa, namun membawa kehangatan yang meresap langsung ke dalam jiwanya. Felicia terdiam, terpaku. Kata-kata Kaivan menghantam lebih keras daripada pukulan apa pun.
"Aku akan selalu menjadi perisaimu," bisik Kaivan. "Melawan segala hal yang tidak bisa kamu hadapi sendirian. Tapi… sebagai gantinya, tolong lindungilah aku dari dunia yang terlalu luas untuk kuhadapi sendiri."
Isak Felicia tumpah bebas, bukan lagi karena amarah, melainkan karena menyerah. Tangan yang tadi ingin melukai kini memeluknya erat.
"Benarkah… kamu akan tetap di sisiku, apa pun yang terjadi?" tanyanya dengan suara parau, penuh luka yang belum sembuh.
Kaivan hanya mengangguk. Senyum hangat melembutkan lebam dan luka di wajahnya. Itu sudah cukup. Felicia runtuh ke dalam pelukannya, isaknya mengguncang bahunya.
"Aku minta maaf… aku minta maaf sudah memukulmu… Kaivan…"
Ia menangis di dadanya, tubuhnya lunglai seolah seluruh beban akhirnya luruh. Kaivan memeluknya dalam diam, teguh, seperti rumah yang selama ini Felicia cari namun tak pernah ia temukan. Waktu seakan berhenti. Dalam pelukan itu, mereka bukan lagi dua manusia yang terluka, melainkan dua jiwa yang saling menemukan di tengah reruntuhan.
Felicia akhirnya mengangkat wajahnya, masih gemetar. "Aku… aku tidak tahu harus berkata apa…"
Kaivan mengusap air matanya dengan ibu jari. "Kamu tidak perlu mengatakan apa pun sekarang. Aku di sini. Aku akan tetap di sini."
Di sudut ruangan yang remang, Julian menatap mereka, wajahnya merah oleh amarah. Teriakannya membelah udara.
"Kalau kamu mau seperti ini, aku akan mencari yang lain!" Suaranya retak oleh keputusasaan, seolah dunia yang ia bangun runtuh seketika.
Kaivan berdiri tegak. Dengan suara lembut namun tegas, ia berbisik di telinga Felicia, "Katakan padanya, Felicia. Katakan bahwa kamu sudah tidak peduli lagi."
Felicia perlahan berbalik. Matanya masih basah, tetapi kini bersinar oleh keberanian. Ia menatap Julian dan berkata dengan jelas.
"Julian, aku ingin putus. Carilah orang lain jika itu yang kamu mau."
Kata-kata itu menghantam Julian seperti palu. Ia menerjang maju, tetapi Felicia menarik Kaivan mendekat lalu menendang perut Julian dengan keras hingga ia terhempas. Julian membeku, terpaku. Dunia yang ia bangun dari kendali hancur seketika.
Kaivan, masih lemah, berusaha berdiri. Felicia segera menopangnya. Dari sudut ruangan, Radit menatap dengan amarah membara.
"Boleh aku memberinya pelajaran, Kaivan?" tanyanya, wajahnya memerah oleh emosi.
Kaivan mengangkat tangan sedikit. "Tidak, Radit. Aku punya rencana yang lebih baik."
Ia menoleh ke Felicia. "Kamu tahu di mana Julian memarkir motornya?"
Felicia mengangguk, perasaannya masih bergolak.
Dengan hati-hati, Kaivan mengambil pisau milik Julian. Mereka bergerak menuju pintu. Langkah Kaivan berat, tetapi nadanya tetap tenang saat ia berhenti di depan Julian.
"Kalau kamu berani mengejarku lagi, aku pastikan kamu tidak akan bisa berjalan," katanya datar.
Julian menunduk, gemetar menghadapi ancaman yang tak bisa ia sangkal.
Kaivan hampir keluar ruangan ketika ia menoleh sekali lagi. Tatapannya menembus sosok yang meringkuk di sudut.
"Dan jangan pernah menyentuh Feliciaku lagi," tambahnya, tajam bagai pisau.
Felicia tertegun. Di tengah lelah dan luka, matanya membesar lalu merunduk.
Feliciaku… ya?
Senyum tipis menyelinap di bibirnya, hangat dan asing, seperti cahaya pertama setelah badai.
Radit mengikuti di belakang, menggelengkan kepala. Apa bocah ini sadar dengan apa yang baru saja ia katakan? Atau… dia benar-benar jatuh cinta? Sebuah dengusan keluar bersama rasa lega.
Begitu mereka berada di luar, Kaivan memberi instruksi singkat. Knalpot dipenuhi lumpur, tangki oli diisi pasir, radiator disiram air selokan. Saat pagi tiba, Julian dan kelompoknya hanya bisa mendorong motor mereka pulang, kepala tertunduk oleh rasa malu yang tak mungkin terhapus.
