Cherreads

Chapter 28 - Seseorang yang Dia Lindungi

"Oke! Kalau begitu, aku akan tumbuh menjadi gadis seperti itu untukmu!" serunya riang. Tawa ringan meluncur dari bibirnya sebelum ia berlari kecil kembali ke dalam kamar.

Kaivan terdiam, terkejut oleh ketulusan yang begitu polos. Sebelum pikirannya melayang lebih jauh, pandangannya tertarik pada sesuatu di sudut meja. Tome Omnicent terbaring di sana, sampul gelapnya berdenyut dengan cahaya samar yang misterius. Seolah ditarik oleh benang tak kasatmata, ia melangkah mendekat dan membukanya dengan hati-hati.

Di antara halaman-halaman kunonya, kata-kata baru berkilau lembut: ia harus kembali ke tempat terakhir ia bertemu Felicia, dan menyelamatkannya.

Tekad sunyi menguat di dalam dadanya. Ia harus segera pergi. Namun ketika berbalik menuju pintu, bayangan Thivi terlintas di benaknya. Gadis itu masih berada di rumahnya; ia tak mungkin pergi begitu saja. Tanpa ragu, ia memutuskan untuk mengajaknya.

Kaivan menghampiri kamar Thivi dan mengetuk pelan. "Thivi, ayo keluar sebentar malam ini," panggilnya lembut. "Kita cari makan."

Belum sempat kalimat itu selesai, pintu sudah terbuka. Di bawah cahaya hangat lampu kamar, Thivi berdiri dengan celana pendek kasual dan tank top yang pas di tubuhnya. Senyumnya merekah penuh percaya diri.

"Yeay, kita keluar malam ini?" tanyanya cerah.

Kaivan tertegun sejenak, terkejut oleh perubahan mendadaknya. Tatapannya tertahan padanya, campuran heran dan ragu melintas di wajahnya. "Kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanyanya pelan.

Tanpa canggung, Thivi menjawab dengan kepolosan yang menenangkan. "Aku hanya ingin mencoba jadi tipe gadis yang kau sukai. Kau… menyukainya?"

Keheningan membentang di antara mereka, rapuh namun sarat makna. Kaivan menangkap sesuatu yang lebih dalam di balik kata-katanya, keberanian yang tenang, kesediaan membuka diri demi seseorang yang ia hargai.

"Iya," katanya akhirnya, suaranya lembut. "Kau cantik, Thivi."

Senyumnya pun kian merekah. Dengan semangat yang membuncah, ia melompat kecil menuju pintu, seakan malam ini adalah miliknya seorang. Kaivan menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, lalu menyusul, merasa malam itu mungkin menyimpan lebih dari sekadar makan sederhana.

Di bawah langit bertabur bintang, cahaya bulan menorehkan perak di jalanan yang lengang. Langkah demi langkah, mereka berjalan berdampingan, membiarkan keheningan berbicara. Thivi, ceria namun dipenuhi rasa ingin tahu, menyandarkan lengannya ringan pada Kaivan.

"Jadi, kita mau ke mana malam ini?" tanyanya lembut, suaranya seperti melodi kecil yang memecah sunyi.

Kaivan menatap lurus ke depan, menghindari pandangannya. Dengan nada tenang namun tertahan, ia menjawab, "Ke taman. Siapa tahu kita menemukan sesuatu di sana." Seolah berusaha menjaga jarak, meski tetap menuruti rasa ingin tahunya.

Mereka terus melangkah menuju taman kota, suasananya yang damai kontras dengan gejolak sunyi di dada Kaivan, beban Tome Omnicent dan tanggung jawabnya pada Felicia. Di sisinya, Thivi tampak tak menyadari apa pun, puas hanya dengan menikmati malam di dekatnya.

Saat tiba di taman, cahaya lampu-lampu membentuk lingkaran lembut di antara pepohonan, merajut pemandangan magis yang tenang. Namun di tengah keindahan itu, tersaji pemandangan yang mengusik. Seorang pria berdiri tegang, satu tangannya mencengkeram kerah Felicia. Gadis itu berusaha tetap tenang, meski matanya berkilau ketakutan.

Kaivan berhenti. Tatapannya menajam. Ia menarik napas perlahan, lalu melangkah maju. Sentuhan tangan Thivi pada lengannya menjadi peringatan sunyi, namun ia mengabaikannya.

"Hei, tenang. Tak perlu main pukul. Ada apa ini?" ucap Kaivan mantap.

Pria itu menoleh dengan seringai sinis. "Apa urusanmu? Jangan ikut campur," bentaknya. Felicia mencoba bicara, tapi cengkeramannya justru menguat.

"Cukup," kata Kaivan rendah namun tegas. "Menarik kerah seorang gadis? Pria macam apa yang melakukan itu?"

Udara terasa semakin berat. Felicia bersuara gemetar, berusaha meredakan suasana. "Tidak apa-apa, Kaivan. Aku baik-baik saja." Namun mata pria itu sudah memaku Kaivan, dingin penuh niat jahat.

"Oh, jadi kau Kaivan?" ejeknya, melangkah mendekat dengan langkah berat. Di belakang Kaivan, tubuh Thivi menegang, merasakan bahaya yang mengembang.

Kaivan maju, berdiri di antara mereka. Tubuhnya tegang, namun ekspresinya tetap tenang. "Mundur, Thivi," katanya pelan.

Tanpa peringatan, pria itu melayangkan pukulan keras. Kaivan menahan sebagian dengan kedua lengannya, namun nyeri tetap menghantam perutnya. Ia terhuyung, tapi tak mundur.

"Jangan ikut campur, bocah!" geram pria itu, menghantamkan lutut. Kaivan mengatupkan rahang, menahan sakit, sorot matanya tak goyah.

Tiba-tiba, Thivi mengangkat ponselnya, memotret. "Berhenti, atau aku telepon polisi!" teriaknya. Tatapan pria itu beralih padanya, gelap dan mengancam.

"Thivi, jangan!" seru Kaivan.

Namun pria itu sudah bergerak. Dalam sekejap, tinju Kaivan melesat, menghantam wajahnya hingga terlempar mundur.

Pria itu menyerang lagi dengan liar, namun Kaivan menghindar, membalas dengan tendangan cepat ke kepala. Hantaman itu menjatuhkannya ke tanah, tak sadarkan diri.

Dengan napas berat, Kaivan menoleh pada Felicia. Meski tubuhnya terasa nyeri, langkahnya mantap, seolah menutup jarak bukan hanya secara fisik, tetapi juga luka di antara mereka. Ia berlutut di hadapannya.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya lembut.

Felicia perlahan mengangkat wajahnya. Saat pandangan mereka bertemu, waktu seakan berhenti. Dengan ragu, ia meraih tangan Kaivan. Sentuhan itu terasa seperti jembatan rapuh antara dua hati yang sama-sama terluka. Kaivan membantunya berdiri perlahan.

Felicia masih menggenggam tangannya, enggan melepas rasa aman itu. Rasa terima kasih dan kebingungan halus berkelebat di matanya, diterangi cahaya lembut lampu taman.

Di sisi lain, Thivi memperhatikan dalam diam. Kedua lengannya terlipat, bibirnya sedikit mengerut, sorot matanya tak terbaca, di antara rasa ingin tahu dan cemburu samar.

"Jadi… siapa kamu bagi Kaivan?" tanyanya, senyum kecil terukir, namun ada ketegangan di balik suaranya.

Felicia terdiam. Pandangannya jatuh ke tanah, jemarinya meremas ujung bajunya. Bibirnya terbuka, tapi tak ada kata keluar.

Kaivan merasakan ketegangan naik. Ia meraih kepala Thivi, menepuknya lembut, bukan sekadar gerakan, melainkan upaya menenangkan.

"Jangan tanya sekarang. Felicia masih syok," katanya pelan namun tegas.

Thivi menghela napas, mengangkat bahu, lalu melangkah mundur perlahan, membiarkan momen rapuh itu tetap milik mereka berdua, meski detak di dadanya masih tak sepenuhnya tenang.

More Chapters