Cherreads

Chapter 27 - Tome Garis Takdir yang Hampir Bertemu

Begitu semuanya siap, mereka pun naik ke dalam mobil. Frans duduk di kursi pengemudi, dengan Radit di sebelahnya. Thivi memilih duduk di bangku belakang, tepat di samping Kaivan. Sepanjang perjalanan, tawa dan obrolan ringan mengisi ruang sempit itu. Sesekali Frans melontarkan celetukan cerdas, dan Radit dengan antusias menimpalinya dengan lelucon lain.

Langit Bandung berkilau keemasan saat senja perlahan turun, membalut kota dengan kehangatan lembut. Bangunan-bangunan tua berdiri anggun, bayangannya memanjang di bawah matahari yang kian tenggelam. Di area parkir sebuah mal yang dulu megah, kini sedikit memudar oleh waktu, Zinnia telah menunggu.

Dengan sikap percaya diri dan tenang, rambut ungunya terikat kuncir, bergoyang halus ditiup angin sore. Matanya yang tajam dan hidup menyapu sekitar, penuh kewaspadaan sunyi.

Begitu Kaivan turun dari mobil, tatapan Zinnia langsung terkunci pada gadis yang berdiri di sampingnya. Alisnya sedikit menyempit, percik rasa ingin tahu menyala di dalam sorot matanya. Dengan langkah anggun namun penuh wibawa, ia melangkah mendekat. Bunyi hak sepatunya bergaung lembut di antara sunyi parkiran. Senyum samar penuh misteri terukir di bibirnya.

"Siapa dia, Kaivan?" tanyanya, suaranya bergetar tipis saat angin memainkan helaian rambutnya.

Kaivan mengusap tengkuknya sebelum menatap Zinnia dengan tenang. "Ini Thivi," ujarnya mantap. "Dialah yang membantu kami menemukan koneksi untuk semua ponsel bekas itu. Tanpanya, mungkin kami tidak akan berhasil."

Namun Zinnia tampak belum puas. Ia melangkah lebih dekat, kini hampir sejajar dengan Kaivan. Pandangannya beralih ke Thivi, meneliti gadis itu tanpa berkedip. "Lalu kenapa dia selalu di sisimu? Sebenarnya, apa hubungan kalian?" tanyanya, nada suaranya kini lebih tajam.

Akhirnya, Thivi angkat bicara. Ia melangkah setengah maju hingga berdiri sejajar dengan Kaivan. Dengan gerakan lembut, ia menyibakkan rambut hitam pendeknya ke belakang. "Ayahku meminta Kaivan menjagaku selama aku di sini," katanya, suaranya lembut namun tegas. "Itu sebabnya aku harus tetap dekat dengannya."

Merasakan ketegangan yang kian menebal, Kaivan melangkah di antara mereka, berdiri tepat di tengah. "Zinnia," ucapnya pelan namun mantap, "Thivi sekarang bagian dari tim kita. Kami tidak akan sampai sejauh ini tanpa bantuannya. Dia memberi kami akses ke para penjual yang sebelumnya tak bisa kami jangkau. Aku harap kau bisa menerimanya."

Kata-katanya membawa keyakinan yang sulit digoyahkan. Zinnia menatapnya lama, mata gelapnya berkilau oleh emosi yang sulit diterjemahkan. Akhirnya, ia mengangguk kecil. "Baik," katanya singkat. Ia sedikit berpaling, nada suaranya kembali ringan. "Jadi, kapan kita mulai membongkar ponsel-ponsel itu?"

Kaivan tersenyum tipis, melirik ke arahnya. "Mungkin hari Minggu," jawabnya santai. "Hari ini sudah cukup larut, dan kita perlu persiapan matang. Tak perlu terburu-buru."

Zinnia mengangguk setuju, lalu memberi instruksi dengan suara tegas namun terukur. "Frans, Radit, simpan semua ponsel di gudang. Pastikan rapi, supaya nanti kita bisa langsung bekerja tanpa kendala."

Frans, yang berdiri dekat mobil, mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya. "Siap, bos," katanya sambil menyeringai lebar. Tubuhnya yang tinggi membuat pekerjaan berat itu tampak ringan. Radit yang santai namun cekatan segera ikut membantu, mengangkat karung-karung berisi ponsel.

Sementara itu, Thivi tetap berada di sisi Kaivan. Tiba-tiba ia bicara, membuat Kaivan terkejut. "Oh, Kaivan, rumahmu di mana? Aku ingin tinggal di sana sebentar dan menyimpan barang-barangku dengan aman."

Kaivan menoleh, matanya sedikit membesar. "Kau ingin tinggal di rumahku?" tanyanya ragu.

Thivi tersenyum lembut, sorot matanya sulit dibaca. "Tentu. Bukankah dulu kau juga pernah menginap di rumahku?" balasnya hangat, dengan keakraban samar di balik kata-katanya.

Frans, yang masih sibuk bersama Radit, tak tahan ikut nimbrung. Sambil mengangkat suara, ia bercanda, "Kalau begitu, kapan aku bisa mengajak pacarku, Tira, menginap juga?"

Radit terkekeh, menggeleng pelan. "Tak akan terjadi, Frans. Kau harus menikahi Tira dulu. Tapi Kaivan sepertinya dapat pengecualian khusus," godanya, menepuk bahu Frans, mencairkan suasana dengan tawa.

Senja melukis langit dengan keindahan sunyi, emas yang perlahan memudar menjadi kesyahduan lembut. Cahaya lembut tenggelam, membungkus kota dalam hening magis. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, menyatu dengan bayang-bayang yang memanjang.

Kaivan bersandar pada pagar balkon, menatap jauh ke cakrawala. Gumaman pelan meluncur dari bibirnya, lebih ditujukan pada dirinya sendiri.

"Untung Ibu tidak ada di rumah hari ini, hanya adikku. Dia baru pulang nanti malam."

Nada suaranya terdengar ringan, namun tersimpan rasa lega di dalamnya, seolah malam ini benar-benar menjadi miliknya, sebuah kesempatan langka untuk bernapas dalam damai.

Beberapa langkah di belakangnya, Thivi menoleh dengan senyum cerah yang selalu menghiasi wajahnya. Mata birunya berkilau, menantang gelapnya senja. Dengan nada menggoda, ia bertanya, "Jadi… aku tidur di mana?"

Kaivan menoleh, tersenyum kecil penuh ketenangan. "Kau bisa tidur di kamarku, kalau mau. Nanti aku jelaskan pada adikku," jawabnya lembut, seperti tuan rumah yang ingin membuat tamunya merasa nyaman.

Namun Thivi tak mau kalah. Ia menyipitkan mata dengan senyum jahil, melangkah mendekat. "Oh? Kau tak ingin tidur di sampingku? Kau bisa melakukan apa pun padaku sepanjang malam," godanya, tawa mengalir ringan dari ucapannya, namun kepolosannya entah bagaimana tetap terjaga. "Atau… mungkin aku yang seharusnya melakukan sesuatu padamu?"

Kaivan tertawa kecil, memilih tak menanggapi secara langsung. "Thivi," gumamnya, setengah pada diri sendiri. Ia telah terbiasa dengan sifat ceria dan beraninya, namun malam ini terasa sedikit berbeda.

Waktu seolah melambat saat mereka akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah ringan Thivi membawanya ke kamar Kaivan, kehadirannya memenuhi ruangan dengan energi cerah. Ia meletakkan barang-barangnya di sudut, matanya berbinar saat menatap sekeliling. "Kamarmu rapi juga," komentarnya santai.

Kaivan mengangkat satu bahu. "Kadang-kadang," jawabnya, duduk di kursi dekat jendela.

Tanpa banyak canggung, Thivi mulai berganti pakaian, melepas busana sebelumnya dan mengenakan pakaian yang lebih longgar dan nyaman. Kaivan dengan sopan memalingkan wajah, meski ia tetap merasakan perubahan halus di udara ruangan.

Setelah selesai, Thivi mendekat sambil tertawa pelan dan menepuk bahunya. "Kaivan, sebenarnya tipe gadis seperti apa yang kau sukai?" tanyanya ringan, seolah hanya rasa ingin tahu sesaat.

Kaivan menoleh, terkejut oleh pertanyaan itu. "Kenapa kau menanyakan hal itu?" balasnya, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

Thivi terkekeh, matanya berbinar penuh rasa penasaran. "Aku hanya penasaran. Kau tak pernah terlihat tertarik pada siapa pun."

Kaivan tersenyum tipis, mencoba mengalihkan pembicaraan dari ranah yang terlalu pribadi. Dengan nada bercanda, ia mulai menyebutkan gambaran gadis yang nyaris mustahil.

"Mungkin… wanita yang sangat cantik, bertubuh seksi, ukuran dada di atas cup D, pinggul besar dan indah, tinggi lebih dari 180 cm. Pakaian yang menggoda, belahan dada terlihat, riasan rapi tapi tidak berlebihan, rambut panjang terurai, dan berkacamata agar terlihat pintar…"

Kedengarannya seperti lelucon. Namun reaksi Thivi sama sekali di luar dugaan. Wajahnya justru berseri, penuh antusiasme.

More Chapters