Tiga hari berlalu semenjak insiden yang terjadi di distrik timur pembelanjaan, Manas kini sudah pulih kembali dan mereka berpamitan kepada Kapten Harper serta mengucapkan terima kasih karena menjaga mereka selama perawatan
Manas: "Kapten Harper kami ucapkan terima kasih karena sudah menjaga kami selama 3 hari, sekaligus kami mau pamit ingin ke Guild Pedagang untuk meneruskan mengantar list bahan pangan untuk dikirim ke desa kami".
Kapten Harper: "Ah jangan dipikirkan, aku juga tertolong berkat inisiatif mu, tapi lain kali jangan menarik diri kalian sendiri kedalam bahaya".
Manas: "Ya kami tahu Kapten, kami pergi dulu ya. Selamat tinggal".
Mereka melangkahkan kaki meninggalkan rumah sakit ksatria yang telah merawat mereka
Diperjalanan menuju Guild Pedagang Sarira menanyakan sesuatu ke Manas
Sarira: "Manas saat kejadian waktu itu, kenapa kamu tiba-tiba ingin ketempat dimana Bubalus Terra mengamuk? Bukannya kamu selalu menghindari hal seperti itu ya".
Manas: "Entahlah, tapi dibenak ku merasa kalau aku tidak datang aku bakal kehilangan sesuatu. Perasaan itu datang juga waktu aku bangun tidur sebelum kita berangkat kerumah mu".
Sarira: "waktu itu kamu hanya nervous kali, dan aku juga sama kalau itu".
Manas: "Kalau yang itu mungkin saja, tapi kejadian kemaren tak mungkin karena nervous kan?"
Sarira: "Kamu benar juga sih, terkadang memang kita semua bisa bertindak tanpa pikir panjang walau tanpa ada alasan yang jelas".
Manas: "Manusia itu memang makhluk yang aneh ya".
Mereka meneruskan perjalanan dan selama perjalanan mereka bersenda gurau sambil melihat-lihat keadaan sekitar yang sudah mulai kondusif pasca kejadian tiga hari yang lalu.
Sarira: "Kelihatannya keadaan sudah agak tenang, semoga saja Guild Pedagang tidak tutup."
Sarira membuka pintu Guild Pedagang dan melangkah masuk, diikuti Manas di belakangnya.
Saat mereka memasuki Guild Pedagang, suasana di dalam tampak sangat sibuk.
Manas memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Ia baru menyadari bahwa satu kejadian saja bisa mengguncang kehidupan begitu banyak orang dan entah kenapa, perasaan itu membuat dadanya terasa berat.
Manas: "Pengiriman pesanan kita mungkin bakal terlambat".
Sarira: "Ya semua terlihat pada kerepotan, apa pesanan kita bisa sampai tepat waktu?".
Mereka berjalan menuju resepsionis sambil memperhatikan sekitar, terlihat para staf hilir mudik membawa tumpukan berkas, sebagian berdiskusi dengan nada tergesa, sementara yang lain mencatat daftar kebutuhan yang terus bertambah.
Manas: "Permisi". Saat Manas memanggil resepsionis, tak lama datanglah wanita muda dari arah dalam konter resepsionis.
Resepsionis: "Selamat datang di Guild Pedagang, ada yang bisa kami bantu?".
Manas: ("Cantiknya...."). Pikiran Manas sempat teralihkan sejenak karena terkesima dengan kecantikannya. Wanita itu berambut pirang dengan mata biru yang indah seperti aquamarine, Kulitnya tampak lembut, mengingatkan pada warna buah persik yang matang.
Resepsionis: "Ada yang bisa dibantu tuan?". Resepsionis itu kembali memanggil Manas
Sarira: "Oy dipanggil tuh". Sarira menyikut perut Manas karena ia tidak merespon perkataannya.
Manas: "aduh duh duh, maaf. Kami ingin mengantar kan list daftar pesanan untuk pangan darurat musim dingin untuk desa Birendra".
Resepsionis: "Tunggu sebentar ya saya ambil buku pendaftaran terlebih dahulu". Wanita itu pergi meninggalkan mereka berdua untuk mengambil kan buku pendaftaran didalam kantor resepsionis.
Sarira: "Apa-apaan tadi, bikin malu saja".
Manas: "Maaf Maaf".
Tak lama wanita tadi kembali dengan membawa buku yang tebal dan terlihat kusam.
Resepsionis: "Maaf membuat kalian menunggu, silahkan isi nama, alamat, dan bahan apa saja yang ingin dipesan".
Manas: "Kalau list pesanan nya sebanyak ini apa bisa?".
Resepsionis: "Tentu saja, nanti tuan tinggal tulis nomor yang ada dibuku ini di kertas list pesanan tuan dan kalau sudah tinggal tempel kertas tadi kedalam halaman yang kosong dibalik nya".
Manas: "Baik". Manas menulis semua persyaratan yang diperlu kan, dan disaat Manas menulis dibuku Sarira mengajukan pertanyaan
Sarira: "Maaf, apa aku boleh bertanya?".
Resepsionis: "Boleh, silahkan apa yang ingin ditanyakan?".
Sarira: "Apa guild pedagang selalu seramai dan sesibuk ini? Soalnya ini baru pertama kami kemari".
Manas: "Aku juga penasaran dengan ini ". Manas sudah selesai menulis dan menyerahkan buku nya kembali.
Resepsionis: "Biasa nya memang ramai tapi kali ini lebih sibuk dari biasanya. Sebab banyak permintaan bantuan datang untuk para korban luka, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, dan mereka yang kini tak lagi memiliki persediaan pangan".
Resepsionis: "Demi menanggulangi dampak dari insiden tersebut, kerajaan memutuskan menanggung seluruh kebutuhan pangan para korban untuk dua bulan ke depan".
Sarira: "Jadi begitu".
Resepsionis: "Baiklah coba saya pastikan kembali apa yang tuan tulis".
Resepsionis: "Atas Nama Manas dari Desa Birendra".
Resepsionis: "Manas?". Resepsionis itu berhenti sejenak saat melihat nama Manas.
Manas: "Ya?".
Callie: "Tidak ada Apa-apa, saya Callie Kenan mewakili guild pedagang mengucapkan terima kasih atas bantuan tuan. Kalau tidak ada tuan mungkin korban jiwa bakal lebih banyak".
Manas: "Aku tidak melakukan apapun, yang aku lakukan cuma mengantarkannya saja, yang mengobati orang-orang juga Sarira". Muka Manas memerah dan ia terlihat gugup karena mendapat pujian dari wanita secantik Callie
Callie: "Tidak, izinkan saya mengucapkan terima kasih dengan selayaknya, berkat bantuan tuan Manas dan nyonya Sarira, nyawa banyak pedagang yang Selamat".
Sarira: "Kebanyakan korbannya pedagang ya".
Callie: "Ya, bagi kami para Pedagang itu bagaikan jantung nya Guild. Kalau tidak ada para Pedagang kebutuhan untuk sehari-sehari tidak akan cukup untuk mencukupi permintaan pasokan di Guild".
Callie: "Untuk membalas jasa tuan dan nyonya sekalian, akan ku pastikan pesanan nya akan tepat waktu".
Sarira: "Terima kasih ya Kak Callie".
Callie: "Senang dapat membantu tuan dan nyonya sekalian".
Manas dan Sarira berjalan meninggalkan Konter, Sarira melambaikan tangannya untuk menandakan kalau pertemuan mereka yang sekarang itu bukan yang terakhir.
