Cherreads

Chapter 5 - Ch.5 (Beban)

Dua hari berlalu sejak amukan Bubalus Terra di distrik timur pembelanjaan. Manas masih belum sadarkan diri, Sarira masih sabar menantikan Manas sadar di ruang perawatan prajurit Bandriya.

Sarira: "Manas kenapa kamu belum sadar diri juga, sudah Dua hari kamu sudah tak sadarkan diri".

Saat Sarira larut dalam kesedihannya, seorang prajurit mendekat yang mengenakan armor mengkilap disaat terkena sinar matahari pagi yang melewati jendela ruang perawatan

Prajurit dengan armor mengkilap: "Teman mu masih belum sadar juga Sarira?".

Sarira: "Paman Harper...., sebelumnya terima kasih atas bantuan sebelumnya Paman".

Harper: "Itu memang sudah tugas kami, dan aku minta maaf atas keterlambatan kami. Andai saja kami datang lebih cepat mungkin temanmu tidak terluka".

Sarira: "Tidak, aku juga menyesal karena tidak cepat mencarikan bantuan"

Sarira meratapi tubuh Manas dengan tatapan yang penuh menyesalan karena tidak dapat menyelamatkan nya tepat waktu.

Harper: "Mungkin ini bukan waktu tepat, Sarira ada tamu untuk mu".

Sarira: "Tamu untuk ku? Ada keperluan apa?".

Harper: "Akan ku panggil seben....".

Dari arah koridor terdengar suara langkah kaki yang cepat yang menuju kearah nya. Langkah itu semakin dekat dan terdengar suara perempuan memanggil nama nya.

"Sarira.... Sarira...." Suara nya semakin dekat dan terdengar tidak asing

"Sarira apa kalian baik-baik saja". Ternyata suara itu berasal dari Gadis yang pertama kali ia temui saat pertama kali datang ke Ibukota Bandriya.

Sarira: "Vivy!"

Harper: "Vivy sudah jangan berlarian di koridor dan berteriak di koridor nanti mengganggu pasien yang lain".

Vivy: "Maaf Paman".

Vivy: "Sarira kalian baik-baik saja? Seperti tidak ". Ia menengok kearah Manas yang sekujur badannya dibalut perban.

Sarira: "Aku baik-baik saja tapi Manas belum sadarkan diri sampai sekarang".

Manas yang sedang tidak sadarkan diri, ia merasa jiwa nya ditarik menuju tempat yang dimana langit dan laut terlihat menyatu, yang terlihat hanya cakrawala yang tiada ujung nya dan keheningan mendalam. Dalam keheningan nya Manas mendengar suara

"Kini beban itu telah berpindah padamu… sanggupkah kau memikulnya?"

Manas yang tak sempat mengajukan pertanyaan apapun ia langsung ditarik kembali ke dalam tubuhnya, Setelah jiwa nya kembali Ia langsung membuka matanya perlahan. Suaranya perpelan keluar dengan nada yang lirih

Manas: "Ini dimana?".

Sarira yang melihat Manas membuka mata nya, ia langsung memeluknya dengan erat karena saking gembira nya

Sarira: "Akhirnya kamu bangun Manas, ku kira kamu tak akan bangun".

Manas: "Kita ada dimana?".

Vivy: "Sekarang kamu ada di ruang perawatan prajurit Bandriya".

Manas: "Kalau tak salah namamu Vivy".

Sarira: "Vivy datang kemari untuk menjengukmu".

Vivy: "Saat baru sampai ke ibukota aku mendapat kabar dari teman prajurit ku kalau dua hari yang lalu ada MagicBeast yang mengamuk di distrik timur pembelanjaan, insiden itu banyak memakan korban jiwa tapi untungnya korban cedera tidak begitu parah akibat aksi cepat Dua orang warga civil dan sayangnya salah satu dari warga civil itu terluka parah saat mencari korban lainnya."

Vivy: "Waktu aku bertanya nama kedua orang itu, ternyata kamu dan Sarira. Saat aku tahu kalau kalian dirawat disini aku langsung bergegas menuju sini".

Manas: "Terima kasih Vivy, kamu sampai repot-repot datang kemari".

Vivy: "Tak masalah".

Manas: "Oh iya Vivy, apa yang terjadi dengan Bubalus Terra yang mengamuk di ibukota?".

Vivy: "Para prajurit membunuhnya, karena para prajurit tidak ada pilihan lagi. Kalau mereka berusaha menangkapnya hidup-hidup yang ada hanya kerusakannya akan semakin parah".

Manas: "Begitu ya". Manas menunjuk

Harper: "Manas".

Manas: "Ya? Kalau boleh tahu anda siapa ya?".

Sarira: "Oh iya aku lupa mengenalkannya, ini Paman Harper Hazel. Ia kapten dari prajurit Bandriya".

Harper: "Salam kenal Manas, Terima kasih atas inisiatif mu korban jiwa dapat di mininalisir".

Manas: "....."

Harper: "Maaf ya Manas".

Manas: "Untuk apa paman?".

Harper: "Andai saja kami datang lebih cepat, mungkin cedera mu tidak akan separah ini".

Manas: "Tak apa paman". Manas tiba-tiba terdiam dan Sarira menyadari kalau ada yang aneh dengan ekspresi Manas

Sarira: "Ada apa Manas? Wajahmu seperti ingin membicarakan sesuatu".

Manas menggelengkan kepala Manas: "Tidak ada".

Manas: ("Apa maksud dari mimpi barusan? Beban yang ku wariskan? Apa itu berhubungan dengan pedang warisan ayah ku?")

Keheningan dikepala menggemanya meskipun ia dikelilingi banyak orang tapi rasa penasaran nya itu lebih menghantui dirinya, Ia tak tahu apa itu beban yang diwariskan padanya—namun satu hal pasti, hidupnya takkan pernah kembali sama.

More Chapters