Cherreads

Scriptwriter’s Underwriter

aleraar
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
191
Views
Synopsis
Pada pertengahan abad ke 50, umat manusia mencapai puncak teknologi dengan penemuan reaktor energi matahari. Namun, dari kemajuan itu lahir sebuah anomali bio-elektronik yang mengubah mesin menjadi pembunuh massal dan menghancurkan sel biologis dalam hitungan detik. Dalam sekejap, Bumi jatuh. Sisa-sisa kemanusiaan melarikan diri ke stasiun luar angkasa raksasa bernama NASA. Puluhan tahun kemudian, sebuah unit elit bernama Eraser dikirim kembali ke permukaan Bumi yang kini diselimuti debu merah mematikan. Unit ini terdiri dari para manusia yang menukar fisiknya menjadi tubuh sibernetika tempur dengan kesadaran yang disebut Humanoid. Sementara Manusia Murni hanyalah mereka yang berasal dari kasta rendahan yang bekerja di NASA. Misi mereka simpel yaitu merebut kembali peradaban Bumi dan menyelamatkan para Manusia Murni yang tersisa di Bumi. Genre: Drama, Slice of Life, Action, Post-Apocalyptic, Tragedy, Sci-Fi, Comedy.
VIEW MORE

Chapter 1 - Bab 1: Mengejek

Di depan mereka, pintu hanggar terbuka perlahan, menyingkapkan moncong pesawat peluncur berbentuk tombak yang siap menembus atmosfer Bumi. Cahaya lampu neon putih di hanggar memantul di permukaan belati yang diselipkan Shenyue ke pinggangnya. Suara sistem otomatis NASA bergema:

[One minute to launch, please be ready.]

Shenyue melangkah masuk ke dalam kursi pengikatnya, tepat di samping rekan-rekan Humanoid-nya. Meskipun ia tampak kecil di antara tumpukan baja dan mesin, ada ketenangan yang mengerikan di wajahnya, ketenangan seorang remaja yang tahu bahwa ia adalah satu-satunya makhluk hidup sejati yang akan menantang dunia yang sudah mati.

***

Guncangan hebat mulai menghantam lambung pesawat peluncur saat moncong tombaknya menyentuh lapisan terluar atmosfer Bumi. Di dalam kabin yang sempit, lampu peringatan berwarna oranye berkedip-kedip, memantul di permukaan baju tempur sibernetika Jax dan Lyra.

Melalui jendela kecil di samping kursi pengikatnya, Shenyue menyaksikan pemandangan yang mengerikan sekaligus mempesona: hamparan awan merah yang tebal dan pekat mulai menelan pesawat mereka. Debu merah itu bukan sekadar debu; itu adalah partikel anomali bio-elektronik yang siap menghancurkan sel biologis apa pun yang tidak terlindungi dalam hitungan detik.

Getaran mesin terasa hingga ke tulang Shenyue saat pesawat berjuang melawan turbulensi ekstrim di zona Sektor 7. Jax dan Lyra tampak kaku di kursi mereka, tangan mekanis mereka mencengkeram tuas pengaman dengan bunyi derit logam yang tertutup oleh gemuruh mesin.

Shenyue hanya memejamkan mata, membiarkan tubuhnya mengikuti irama guncangan pesawat. Ia tahu bahwa di balik dinding logam ini, dunia yang telah jatuh sedang menunggunya. Tiba-tiba, suara gesekan logam yang memekakkan telinga terdengar saat sistem pengereman udara diaktifkan.

Pesawat melambat secara drastis, terjun bebas melewati gumpalan debu merah yang semakin gelap. "Tahan posisi! Kita masuk ke zona merah!" teriak Jax melalui sistem komunikasi internal yang terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik.

Shenyue membuka matanya. Di hadapannya, sensor digital pesawat mulai menampilkan visual daratan: reruntuhan reaktor energi matahari yang menjulang seperti tulang belulang raksasa di tengah badai debu. Inilah Bumi, rumah yang kini menjadi neraka bagi umat manusia.

Bunyi desis udara yang keluar dari katup hidrolik menandakan pintu pesawat peluncur akhirnya terbuka di tengah badai debu merah Sektor 7. Jax, yang sudah tidak sabar, menjadi yang pertama melompat turun dengan dentuman kaki logam yang menghantam tanah gersang.

Namun, belum sempat ia mengambil langkah kedua, sebuah bayangan metalik melesat cepat dari balik kabut merah. Itu adalah mesin pembunuh massal, sebuah konstruksi sisa anomali abad ke-50 yang kini hanya mengenal satu perintah yaitu memusnahkan kehidupan.

Mesin itu menebaskan cakar plasma ke arah dada Jax. "Sialan! Mereka sudah menunggu kita!" teriak Jax sambil mengangkat lengan sibernetikanya untuk menahan serangan, menciptakan percikan api listrik yang terang di tengah redupnya atmosfer Bumi.

Melihat rekannya terdesak, Lyra tidak membuang waktu. Ia melompat keluar dari pesawat sembari mengaktifkan senapan energi yang terintegrasi dengan sensor optiknya. Rentetan tembakan biru pucat menghujani punggung mesin tersebut, memaksanya mundur dari hadapan Jax.

"Jax, amankan sektor kiri! Ada lebih banyak lagi yang datang!" seru Lyra saat sensornya mendeteksi lusinan sinyal mesin lain yang mulai merayap keluar dari reruntuhan reaktor.

Shenyue turun terakhir dengan langkah yang sangat ringan, hampir tak terdengar di atas permukaan debu. Di tengah kepungan mesin-mesin yang kian mendekat, ia tidak menunjukkan ketakutan. Dengan gerakan yang sangat efisien, ia mencabut belati dari pinggangnya, senjata sederhana namun mematikan di tangannya.

Saat salah satu mesin pembunuh menerjang ke arahnya, Shenyue menghindar dengan gerakan yang melampaui kecepatan manusia normal. Sel-sel darah putih di tubuhnya bereaksi secara instan terhadap atmosfer beracun di sekitarnya, memberinya ketenangan dan fokus yang mengerikan. Tanpa suara, ia menusukkan belatinya tepat ke celah sirkuit pada leher mesin itu, memutus aliran energinya dalam satu gerakan presisi.

Jax menerjang maju seperti tank seberat satu ton. Kepalan tangan sibernetikanya yang besar menghantam pelat baja salah satu mesin pembunuh dengan kekuatan hidrolik yang memekakkan telinga, membuat mesin itu terlempar dan hancur berkeping-keping.

Tanpa membuang waktu, ia mengaktifkan modul amunisi di lengannya, melepaskan rentetan tembakan jarak dekat yang menghancurkan sirkuit lawan di sekelilingnya dengan kejam. "Mati kalian, sampah rongsokan!"

Di sudut lain, Lyra bergerak dengan presisi seorang pembedah. Sensor optik di mata kirinya berputar cepat, mengunci target dengan akurasi seratus persen. Setiap tembakan senapan energinya menembus titik lemah mesin, sambungan leher, engsel kaki, atau inti daya dengan efisiensi yang dingin.

Langkah kaki logamnya yang berdenting ritmis di atas tanah gersang seolah menjadi penanda maut bagi setiap mesin yang mencoba mendekat. Namun, di tengah kebrutalan mesin lawan mesin itu, Shenyue bergerak dalam keheningan yang mematikan.

Ia adalah bayangan di tengah debu merah yang mencekik. Tanpa perlindungan baja, remaja 16 tahun ini mengandalkan insting murni dan gerakan yang mengalir. Saat seekor mesin melompat dengan cakar plasma terbuka, Shenyue merendahkan tubuhnya, membiarkan serangan itu lewat hanya beberapa milimeter di atas kepalanya.

Dengan satu hentakan kaki yang kuat, ia meluncur ke bawah mesin tersebut. Belatinya yang berkilau karena cahaya neon membelah udara. Dengan presisi yang mengerikan, ia menusukkan belati itu ke celah ventilasi mesin, lalu memutarnya dengan tenaga yang tidak masuk akal untuk ukuran seorang Manusia Murni, sel darah putihnya yang aneh memberikan dorongan adrenalin dan fokus yang membuat waktu seakan melambat baginya.

Mesin itu meledak dalam percikan listrik statis. Shenyue tidak berhenti; ia segera melompat ke arah mesin berikutnya, bergerak di antara puing-puing dengan kelincahan yang bahkan membuat sensor penglihatan Lyra sulit untuk melacaknya.

Ledakan demi ledakan terus mengguncang tanah gersang Sektor 7 saat unit Eraser membelah kepungan musuh. Jax mengamuk seperti badai baja; kepalan tangan sibernetikanya menghantam pelat baja mesin pembunuh hingga hancur berkeping-keping dengan kekuatan hidrolik yang memekakkan telinga.

Di sisi lain, Lyra tetap bergerak dengan presisi dingin, senapan energinya memuntahkan tembakan biru pucat yang tepat menembus inti daya setiap lawan yang mencoba mengepung mereka. Di tengah kekacauan logam dan api tersebut, Shenyue melihat sebuah celah di balik reruntuhan reaktor energi matahari.

Sambil menghindari cakar plasma dengan gerakan yang melampaui kecepatan manusia normal, ia meluncur di antara kaki-kaki mesin dan menusukkan belatinya ke celah ventilasi mereka dengan tenaga yang tidak masuk akal.

"Di sana! Di bawah fondasi reaktor utama!" teriak Shenyue, suaranya membelah gangguan elektromagnetik.

Mereka bertiga melakukan desakan terakhir yang brutal. Jax melepaskan seluruh amunisi dari modul lengannya untuk menciptakan jalan, sementara Lyra melindungi area belakang dengan akurasi seratus persen. Setelah menumbangkan mesin raksasa terakhir yang menghalangi jalan, mereka tiba di sebuah pintu baja tebal yang tertimbun debu merah dan reruntuhan beton.

Shenyue segera mendekati panel manual yang sudah berkarat. Di saat sensor optik Lyra kesulitan menembus gangguan di area tersebut, insting Shenyue bekerja lebih cepat. Dengan satu hentakan kuat dan tarikan pada tuas darurat, pintu rahasia itu terbuka dengan suara desis udara yang berat.