Cherreads

Chapter 30 - Bayang-Bayang Ayam Jago Yang Menaklukan

Di pinggiran kota Jakarta yang ramai, di mana suara klakson mobil dan motor saling bersahut-sahutan, hidup seorang pria bernama Pak Joko. Usianya sudah menginjak 45 tahun, tapi tubuhnya masih tegap meski lelah sering menyelimuti wajahnya. Setiap malam, ia mendorong gerobak nasi gorengnya keliling kampung-kampung kumuh di sekitar Tanah Abang. Gerobak itu sudah menjadi sahabat setianya selama sepuluh tahun terakhir, sejak pabrik tempat ia bekerja bangkrut dan memaksa ribuan pekerja seperti dirinya menganggur.

Pagi itu, seperti biasa, Pak Joko bangun sebelum fajar. Ia merebus air untuk kopi hitam pekat, sambil memandang istrinya, Bu Siti, yang masih tertidur lelap di kasur tipis mereka. Anak mereka, Rina, yang berusia 12 tahun, tidur di kamar kecil di belakang. Rumah kontrakan mereka sempit, dindingnya retak-retak, dan atapnya bocor saat hujan deras. Pak Joko menghela napas panjang. "Ya Allah, beri kami rezeki hari ini," gumamnya dalam hati.

Setelah sholat subuh, ia mulai menyiapkan bahan-bahan untuk nasi goreng. Telur, bawang, kecap, dan sisa nasi kemarin. Aromanya harum, tapi itu tak cukup untuk menarik pembeli. Dulu, gerobaknya ramai. Orang-orang antre untuk seporsi nasi goreng pedas dengan telur mata sapi. Tapi sekarang? Semenjak pandemi, orang lebih suka pesan online lewat aplikasi. Gerobak keliling seperti miliknya kalah saing. Orderan sepi, kadang hanya lima porsi semalam. Uang yang didapat tak cukup untuk bayar kontrakan, sekolah Rina, dan obat-obatan Bu Siti yang sering sakit kepala.

Malam sebelumnya, Pak Joko pulang dengan tangan hampa. Hanya dua porsi terjual. Ia duduk di depan gerobak, memandang jalanan yang sepi. "Kenapa ya, Bu? Kok orderan makin sepi aja," katanya pada Bu Siti yang menyambutnya dengan secangkir teh hangat.

Bu Siti duduk di sampingnya, tangannya memijat bahu suaminya yang pegal. "Mungkin orang-orang lagi hemat, Pak. Ekonomi lagi susah. Kamu jangan sedih gitu. Besok pasti lebih baik."

Pak Joko menggelengkan kepala, matanya berkaca-kaca. "Tiap hari gini, Bu. Aku dorong gerobak dari jam 6 sore sampe tengah malam, tapi cuma dapat seratus ribu. Itu pun kalo beruntung. Rina minta beli buku pelajaran baru, tapi duitnya darimana? Aku capek, Bu. Capek banget." Suaranya bergetar, emosi kesedihan yang selama ini ia tahan akhirnya pecah. Ia menutup wajahnya dengan tangan kasar, air mata mengalir pelan. Bu Siti memeluknya, tapi ia tahu, pelukan itu tak bisa mengisi perut mereka.

"Ya sudah, Pak. Kita usaha aja. Mungkin coba jualan di tempat lain, deket stasiun atau pasar," usul Bu Siti dengan suara lembut, tapi Pak Joko tahu itu tak akan banyak membantu. Kompetisi semakin ketat. Penjual online dengan promo diskon membuat gerobak seperti miliknya terlupakan.

Hari berganti hari, kesedihan itu semakin dalam. Pak Joko mulai jarang bicara. Setiap pagi, ia bangun dengan wajah murung, memandang gerobaknya seperti musuh. "Kenapa hidup harus sesusah ini?" pikirnya. Teman-temannya di kampung mulai bercerita tentang cara cepat dapat uang. Ada yang jualan online, ada yang nyopir ojek, tapi yang paling sering dibicarakan adalah judi online. "Coba lo cek m9win, Jok. Sabung ayam online. Gampang, taruh duit kecil, bisa menang gede," kata Bang Udin, tetangga sebelah yang sering nongkrong di warung kopi.

Awalnya, Pak Joko menggelengkan kepala. "Ah, haram itu, Din. Aku gak mau." Tapi malam demi malam, saat orderan tetap sepi, pikiran itu mulai menggerogoti. Ia ingat ayahnya dulu suka sabung ayam di kampung. Ayam jago yang kuat, taruhan kecil-kecilan. Tapi sekarang, semuanya online. m9win, situs yang katanya aman dan mudah. "Cuma coba-coba aja," gumamnya pada diri sendiri.

Suatu malam, setelah pulang dengan hanya satu porsi terjual, Pak Joko duduk di depan ponsel tuanya. Bu Siti sudah tidur. Ia buka browser, ketik "m9win sabung ayam". Situs itu muncul, dengan gambar ayam jago gagah dan arena virtual. Ia daftar akun, masukkan nomor rekeningnya. Deposit pertama: 50 ribu dari sisa uang jualan. Jantungnya berdegup kencang. "Ini cuma sekali, buat tambah modal," bisiknya.

Pertandingan pertama dimulai. Dua ayam jago di layar, satu merah, satu biru. Pak Joko pilih yang merah, taruh 20 ribu. Ayam itu lincah, menusuk lawannya. Menang! Saldo naik jadi 80 ribu. Matanya berbinar. "Wah, gampang banget!" Ia tarik napas lega, senyum pertama setelah berhari-hari.

Keesokan harinya, ia cerita pada Bang Udin di warung kopi. "Lo bener, Din. Kemarin aku coba, menang 30 ribu bersih."

Bang Udin tertawa. "Gue bilang juga apa. Tapi hati-hati, Jok. Jangan kebawa nafsu. Main kecil-kecilan aja."

Pak Joko mengangguk, tapi dalam hati, ia sudah merencanakan lagi. Malam itu, orderan masih sepi. Hanya tiga porsi. Ia dorong gerobak pulang lebih awal, buka ponsel. Deposit lagi 100 ribu. Pertandingan kedua, ia pilih ayam biru. Kali ini, kalah. Saldo turun. "Ah, sial. Besok coba lagi," gumamnya.

Kesedihan karena orderan sepi mulai tergantikan oleh adrenalin judi. Setiap hari, ia habiskan waktu siang untuk riset ayam-ayam di m9win. Forum online, video highlight. "Ayam ini kuat, yang itu lemah," catatnya di buku kecil. Bu Siti mulai curiga. "Pak, kok kamu sering main hape? Ada apa?"

Pak Joko bohong. "Cuma cek resep nasi goreng baru, Bu. Biar orderan rame."

Tapi Bu Siti tahu ada yang salah. "Jangan bohong, Pak. Aku lihat kamu gelisah. Kalau ada masalah, cerita dong."

Pak Joko menghela napas. "Gak ada apa-apa, Bu. Cuma capek aja." Tapi emosinya campur aduk. Senang saat menang, tapi sedih saat ingat orderan sepi. "Kenapa aku harus begini? Kenapa nasi gorengku gak laku lagi?" pikirnya, air mata hampir jatuh lagi.

Seminggu kemudian, keberuntungan berpihak. Pak Joko menang besar: 500 ribu dari taruhan 200 ribu. Ia beli buku baru untuk Rina, bayar kontrakan, dan bahkan traktir Bu Siti makan di warung sate. "Ini rezeki, Bu. Alhamdulillah," katanya sambil tersenyum.

Bu Siti bahagia, tapi ragu. "Dari mana duitnya, Pak? Jualan kok tiba-tiba rame?"

Pak Joko gelagapan. "Ada tambahan, Bu. Dari temen pinjam dulu, sekarang balik."

Tapi kebohongan itu tak bertahan lama. Malam berikutnya, ia kalah 300 ribu. Saldo habis. Ia pinjam dari Bang Udin. "Cuma sementara, Din. Besok aku bayar."

Bang Udin menggeleng. "Jok, lo udah kecanduan. Berhenti aja."

"Tapi aku butuh, Din. Orderan masih sepi. Rina butuh biaya sekolah." Suara Pak Joko memelas, emosi kesedihan bercampur putus asa.

Hari-hari berikutnya jadi neraka. Pak Joko dorong gerobak dengan pikiran melayang ke m9win. Orderan semakin sepi karena ia sering pulang cepat. Suatu malam, hujan deras. Jalanan banjir. Tak ada pembeli. Ia duduk di bawah pohon, basah kuyup. "Ya Tuhan, kenapa begini terus?" Ia menangis sendirian, tangannya memegang ponsel. Buka m9win, deposit sisa uang 50 ribu. Taruhan all-in. Ayam pilihannya kalah lagi. Habis sudah.

Pulang ke rumah, Bu Siti menunggu. "Pak, kamu kemana aja? Rina nangis, katanya ayah gak pulang-pulang."

Pak Joko jatuh ke pelukan istrinya. "Maaf, Bu. Aku salah. Aku coba judi sabung ayam di m9win. Awalnya menang, tapi sekarang kalah semua. Aku sedih banget, Bu. Orderan sepi, hidup susah, aku pikir ini jalan pintas." Air matanya deras, emosi kesedihan yang selama ini tertahan meledak.

Bu Siti terkejut, tapi ia peluk suaminya erat. "Kenapa gak cerita dari awal, Pak? Kita hadapi bareng. Judi itu bukan rezeki, tapi musibah. Besok kita cari kerja lain. Aku bisa jualan kue di pasar."

Pak Joko mengangguk, tapi hatinya hancur. Malam itu, ia hapus akun m9win. Esok pagi, ia dorong gerobak lagi dengan semangat baru. Orderan masih sepi, tapi ia tak lagi sendirian. Dialog dengan Bu Siti jadi obat. "Terima kasih, Bu. Aku janji gak lagi."

Tapi godaan datang lagi. Bang Udin cerita, "Ada turnamen besar di m9win, Jok. Hadiah jutaan."

Pak Joko tergoda. "Cuma sekali lagi," pikirnya. Ia pinjam uang dari rentenir. Deposit 1 juta. Pertandingan final, ayamnya unggul. Menang! Saldo jadi 3 juta. Ia girang. "Ini rezeki beneran!"

Tapi keesokan harinya, ia taruhan lagi. Kalah. Lagi kalah. Hutang menumpuk. Rentenir datang ke rumah. "Bayar sekarang, atau rumah lo gue sita!"

Bu Siti marah. "Pak, kenapa lagi? Kamu janji!"

"Aku salah, Bu. Aku pikir bisa kaya cepat." Pak Joko menangis, kesedihan lebih dalam dari sebelumnya.

Akhirnya, ia jual gerobaknya untuk bayar hutang. Keluarga mereka pindah ke kampung, hidup sederhana. Pak Joko belajar dari kesalahan. "Judi bukan peruntungan, tapi jebakan," katanya pada Rina suatu hari.

Rina memeluk ayahnya. "Aku bangga sama Ayah, meski susah."

Pak Joko tersenyum, meski sedih masih ada. Hidup berlanjut, tanpa m9win, tanpa ilusi cepat kaya. Hanya usaha dan doa.

Setelah kejadian itu, Pak Joko mencoba bangkit. Ia bekerja sebagai buruh bangunan di kampung halamannya di Bogor. Upah harian 100 ribu, cukup untuk makan sehari-hari. Bu Siti jualan kue basah di pasar, Rina sekolah dengan beasiswa dari desa. Tapi bayang-bayang m9win masih menghantui. Malam-malam, saat semua tidur, Pak Joko sering bangun, memandang langit-langit rumah bambu mereka. "Kenapa aku dulu bodoh begitu?" gumamnya.

Suatu hari, teman lama dari Jakarta datang. Namanya Mas Toni, dulu sesama penjual keliling. "Jok, lo tau gak? m9win sekarang ada fitur baru, sabung ayam live dari Filipina. Grafiknya bagus, oddsnya tinggi. Gue udah menang 5 juta bulan lalu."

Pak Joko geleng-geleng. "Gak lagi, Ton. Aku udah kapok."

"Tapi lo liat dulu deh. Cuma liat, gak taruhan." Mas Toni buka ponselnya, tunjukkan arena virtual. Ayam-ayam jago dengan bulu mengkilap, penonton virtual berteriak. Jantung Pak Joko berdegup lagi. Adrenalin itu kembali.

Malam itu, ia tak bisa tidur. "Cuma liat-liat aja," bisiknya. Ia pinjam ponsel Rina, daftar akun baru. Deposit kecil, 20 ribu dari upah harian. Menang. Lagi menang. Saldo naik.

Bu Siti curiga lagi. "Pak, kamu lagi judi ya?"

"Gak, Bu. Cuma cek berita." Bohong lagi.

Dialog mereka semakin sering berujung pertengkaran. "Aku sedih liat kamu gini, Pak. Kita udah susah, jangan tambah susah lagi," kata Bu Siti dengan air mata.

Pak Joko memeluknya. "Maaf, Bu. Aku berhenti."

Tapi ia tak berhenti. Taruhan semakin besar. Dari 20 ribu jadi 100 ribu, lalu 500 ribu. Pinjam dari teman, dari saudara. Saat menang, ia beli motor second untuk antar Bu Siti ke pasar. "Ini buat kita, Bu."

Bu Siti senang, tapi tahu asalnya. "Dari judi lagi?"

Pak Joko diam.

Kemudian, kekalahan besar datang. Taruhan 1 juta pada ayam favorit, tapi ayam itu cedera di menit pertama. Kalah. Hutang menumpuk lagi. Rentenir dari kota datang ke kampung. "Lo kabur kemari, Jok? Bayar sekarang!"

Pak Joko panik. Ia lari ke hutan di belakang rumah, duduk di bawah pohon, menangis. "Kenapa aku gak bisa berhenti? Orderan sepi dulu bikin aku sedih, tapi ini lebih parah." Emosinya campur: marah pada diri sendiri, sedih pada keluarga.

Rina menemukannya. "Ayah, kenapa?"

Pak Joko cerita semua. "Ayah salah, Nak. Judi itu racun."

Rina peluk ayahnya. "Kita lawan bareng, Ayah."

Dengan bantuan keluarga, Pak Joko ikut kelompok dukungan mantan pecandu judi di masjid desa. Ia cerita pengalamannya. "Saya dulu penjual nasi goreng, orderan sepi bikin putus asa. Lalu coba m9win, sabung ayam online. Awalnya menang, tapi akhirnya hancur."

Orang-orang mendengar, belajar. Pak Joko bangkit lagi. Buka warung kecil di kampung, jual nasi goreng rumahan. Orderan mulai rame, karena cerita inspirasinya menyebar.

Tapi kesedihan itu tak pernah hilang sepenuhnya. Setiap malam, saat melihat ayam jago di TV, ia ingat. "Jangan tergoda lagi," gumamnya.

Tahun berganti. Rina lulus SMA dengan nilai bagus, dapat beasiswa kuliah. Pak Joko dan Bu Siti hidup tenang. Gerobak nasi goreng baru dibeli, kali ini stasioner di depan rumah. Orderan tak lagi sepi, karena Pak Joko tambah menu spesial: nasi goreng ayam jago, tapi tanpa judi tentu.

Suatu hari, Bang Udin datang dari Jakarta. "Jok, lo hebat. Gue masih main m9win, tapi sekarang gue kalah terus. Bantu gue dong."

Pak Joko tersenyum. "Datang ke masjid, Din. Kita bicara dari hati ke hati."

Dialog mereka panjang. "Gue sedih, Jok. Keluarga gue cerai karena ini."

"Same here, hampir. Tapi berhenti sekarang, sebelum terlambat."

Akhirnya, Bang Udin berubah. Pak Joko jadi panutan di kampung. Ceritanya tentang peruntungan palsu di sabung ayam m9win jadi pelajaran bagi banyak orang.

Hidup Pak Joko tak sempurna, tapi ia bahagia. Kesedihan karena orderan sepi dulu jadi motivasi. "Usaha halal itu barokah," katanya pada Rina.

Rina tersenyum. "Ayah pahlawanku."

More Chapters