Pagi masih gelap ketika Mas Slamet mengangkat tungku soto dari belakang rumah kontrakan 3x4 di Kampung Sawah, Tangerang. Asap kayu bakar mengepul harum, bercampur bau kaldu ayam yang sudah mendidih sejak jam tiga dini hari. "Ya Allah, berkahi rezeki hari ini," gumamnya sambil mengaduk kuah dengan sendok kayu panjang.
Istri, Mbak Siti, sudah sibuk mencuci mangkuk plastik. Anak sulungnya, Rian, 12 tahun, membantu menyusun gerobak. Anak bungsu, Lila, 7 tahun, masih meringkuk di tikar dengan selimut tipis.
"Modal qurban kita baru Rp 3,8 juta, Mas," kata Mbak Siti pelan sambil menyerahkan termos air panas. "Kambing tahun ini minimal 12 juta. Kalau cuma kambing kecil, malu sama tetangga. Semua orang sudah pesan tempat di masjid."
Mas Slamet diam. Tangannya terus mengaduk. Setiap hari ia jualan soto ayam kampung dari jam 5 pagi sampai jam 2 siang. Penghasilan bersih rata-rata Rp 180.000–Rp 220.000. Kalau hujan, tinggal Rp 90.000. Sudah tiga tahun berturut-turut ia tidak bisa qurban. Tahun lalu cuma bisa sedekah Rp 500.000. Malu sekali waktu imam masjid bertanya, "Slamet, tahun ini ikut?"
"Insya Allah tahun ini bisa, Sit," jawabnya sambil tersenyum paksa. Dalam hati ia berhitung: butuh tambahan Rp 8,5 juta lagi dalam waktu 40 hari menuju Idul Adha.
Siang itu, setelah jualan selesai, Mas Slamet duduk di bangku warung kopi depan rumah sambil ngerokok. HP Android-nya yang layarnya sudah retak bergetar. Notifikasi TikTok:
"Sabung Ayam Live di M9Win! Menang 1 menit bisa dapat 50x lipat! Deposit 50 ribu langsung main!"
Ia scroll terus. Video orang menang jutaan. Satu komentar: "Alhamdulillah, modal qurban dari sini bro. 3 hari langsung lunas."
Malamnya, setelah anak-anak tidur, Mas Slamet duduk di teras dengan HP. Ia buka aplikasi M9Win yang sudah di-download diam-diam. Daftar pakai nomor baru. Deposit pertama Rp 100.000 dari uang rokok dua hari.
Pertandingan pertama: Ayam Merah vs Ayam Hitam. Taruhan Rp 20.000 di Ayam Merah. Dua menit kemudian… Ayam Merah menang KO. Saldo jadi Rp 185.000.
"Ya Allah… ini beneran?" bisiknya.
Malam itu ia main sampai jam 1. Menang lagi Rp 340.000. Total saldo Rp 525.000. Ia tarik Rp 300.000 ke rekening BCA. Besok paginya Mbak Siti heran melihat Mas Slamet beli daging ayam kampung 5 kg lebih banyak dari biasanya.
"Rezeki tambahan dari mana, Mas?"
"Dari… langganan tetap yang bayar utang lama," bohongnya.
Hari ketiga, saldo di M9Win sudah Rp 2,1 juta. Ia menang besar di pertarungan "Royal Fight" — ayam juara vs ayam juara. Taruhan Rp 500.000, menang 3,2x. Malam itu ia tidur sambil memeluk HP.
Tapi keberuntungan tidak selamanya manis.
Minggu kedua, ia mulai "panas". Deposit lagi Rp 1 juta (dari tabungan soto + tarikan sebelumnya). Bermain di arena besar, taruhan Rp 300.000–Rp 500.000 per ronde. Kalah. Kalah lagi. Dalam 45 menit, saldo tinggal Rp 180.000.
Ia duduk di belakang gerobak soto, kepala pusing. Mbak Siti melihat wajah suaminya pucat.
"Mas… kamu kenapa? Jangan bilang kamu main judi."
Mas Slamet menggeleng. "Cuma main HP doang, Sit. Santai."
Malam itu ia berjanji dalam hati: "Ini terakhir. Cuma mau balikin modal qurban."
Besoknya ia main lagi. Kali ini pakai fitur "Auto Bet" di ayam favoritnya, si "Jago Merah Garuda". Taruhan otomatis Rp 100.000 per ronde. Ronde 1: kalah Ronde 2: kalah Ronde 3: menang kecil Ronde 4–7: kalah berturut-turut. Saldo nol lagi.
Ia keluar rumah, berdiri di pinggir sawah, menangis diam-diam. "Ya Allah, ampuni hamba. Hamba cuma mau qurban… bukan mau kaya."
Tiga hari ia berhenti total. Jualan soto sepi karena hujan deras. Penghasilan cuma Rp 70.000 per hari. Tabungan qurban malah berkurang jadi Rp 3,2 juta. Anak-anak mulai makan mie instan setiap malam.
Pada hari ke-18 sebelum Idul Adha, Mas Slamet dapat telepon dari ketua RT: "Slamet, tahun ini kamu ikut qurban kan? Kami mau pesan kambing bareng. Kalau mau gabung, bayar Rp 2,5 juta per orang untuk kambing share."
Ia jawab gemetar, "Insya Allah, Pak."
Malam itu ia buka M9Win lagi. Deposit terakhir Rp 750.000 — seluruh sisa tabungan soto dan pinjam Rp 300.000 dari tetangga warung pecel.
Ia masuk ke arena "Grand Championship Sabung Ayam M9Win". Taruhan besar: Rp 500.000 di ayam legendaris bernama "Si Hitam Petir" lawan "Si Putih Dewa".
Pertarungan dimulai. Ayam Hitam Petir langsung menyerang ganas. Paruhnya mengoyak lawan. Penonton virtual berteriak. Dua menit 12 detik… Si Hitam Petir menang mutlak.
Saldo langsung loncat jadi Rp 4,8 juta.
Mas Slamet berdiri, tangan gemetar. Ia lanjut ke ronde berikutnya. Kali ini taruhan Rp 1,2 juta di ayam yang sama.
Menang lagi. Rp 11,4 juta.
Ronde ketiga: "Final King Fight". Taruhan all-in Rp 5 juta di "Si Hitam Petir" melawan juara bertahan. Sepuluh menit pertarungan paling tegang yang pernah ia lihat. Ayamnya hampir kalah, tapi di detik-detik akhir… satu serangan mematikan. KO.
Saldo akhir: Rp 28.760.000
Mas Slamet jatuh berlutut di lantai kontrakan. Air mata mengalir deras. Ia tarik Rp 15 juta langsung ke rekening. Sisanya ia kunci.
Pagi harinya ia bangunkan Mbak Siti. "Sit… lihat."
Ia tunjukkan mutasi rekening. Mbak Siti menutup mulut, menangis tersedu.
"Mas… ini dari mana?"
"Dari ayam, Sit. Tapi ayam di HP. Aku janji… ini yang terakhir. Setelah qurban, aku kita bareng" anu ya."
Siang itu Mas Slamet datang ke ketua RT. "Pak, saya ambil dua slot kambing. Satu untuk keluarga, satu untuk tetangga yang belum mampu."
Ia bayar Rp 5 juta cash. Sore harinya ia beli kambing sendiri di pasar hewan, kambing jantan besar, bulu hitam mengkilap, harga Rp 13,5 juta.
Malam menjelang Idul Adha, Mas Slamet duduk di depan gerobak soto yang sudah dicat ulang. Ia buka M9Win untuk terakhir kalinya.
Ia ketik di kolom review: "Terima kasih M9Win. Kamu kasih aku modal qurban. Mulai hari ini aku berhenti sementara. Semoga yang lain lebih beruntung dari ku."
Tombol Suspend Account ditekan. Aplikasi Tersembunyi dari HP.
Hari raya tiba. Di lapangan masjid, Mas Slamet berdiri di barisan depan bersama kambingnya yang sudah diikat pita merah. Saat imam menyembelih, ia mengucap takbir dengan suara lantang. Air mata jatuh lagi, tapi kali ini air mata bahagia.
Setelah sholat Id, tetangga-tetangga mengerubungi gerobak sotonya yang sekarang sudah bertuliskan "Soto Slamet – Berkah Qurban".
"Wah, Mas Slamet tahun ini qurban dua ekor ya?" "Iya, Pak. Rezeki dari Yang Maha Kuasa."
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Mas Slamet duduk di teras bersama Mbak Siti dan dua anaknya. Lila bertanya, "Papa, tahun depan kita qurban sapi ya?"
Mas Slamet tersenyum, mengelus kepala anaknya. "Insya Allah, Nak. Tapi papa janji… kita cari rezeki yang halal. Soto ini saja sudah cukup. Yang penting kita selalu bersyukur."
Angin malam berhembus pelan. Asap sisa tungku masih mengepul tipis. Di kejauhan, suara takbir masih terdengar samar.
Mas Slamet memandang langit. "Terima kasih, Ya Allah. Modal qurban sudah cukup. Sekarang hamba mau jualan soto dengan tenang."
Dan sejak hari itu, gerobak soto Mas Slamet tidak pernah lagi sepi. Karena orang-orang tahu: di balik kuah soto yang panas, ada cerita seorang ayah yang pernah bertaruh nyawa di arena ayam maya… demi bisa berkurban di jalan Allah.
