Cherreads

The greatest archmage from the beginning

Arpiel
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
218
Views
Synopsis
Tahun 2030. Era baru telah dimulai. Lima raksasa teknologi global telah bersatu untuk meluncurkan Avarice Online—dunia virtual paling sempurna yang pernah diciptakan. Sistemnya brutal dan realistis. Di sini, hukum rimba berkuasa. Besi, darah, dan otot adalah segalanya. Tidak ada naga yang menyemburkan api, dan tentu saja... tidak ada sihir. Kaindra Hugo, seorang legenda eSports yang memilih pensiun dini, memasuki dunia ini bukan untuk mencari kejayaan. Sebagai mahasiswa Fisika Murni yang lelah menumpuk tugas, tujuannya sederhana: Penyembuhan. Ia tidak ingin mengayunkan pedang. Ia hanya ingin duduk diam, menikmati simulasi alam yang konon meniru hukum fisika dunia nyata dengan presisi 100%. Namun, kebiasaan akademis lamanya tetap bertahan. Sementara jutaan pemain sibuk membasmi monster, Hugo duduk diam di tengah padang rumput, mengamati "Ketiadaan." Ia menulis di buku catatan pemulanya, bukan tentang strategi perang, melainkan rumus-rumus. Ia menghitung kapan angin berhenti, ke mana energi itu pergi saat udara tenang, dan memprediksi saat yang tepat ketika angin akan bertiup lagi. Baginya, itu hanyalah coretan acak tentang fisika. Namun bagi AI "Ava", yang menguasai dunia, itu sungguh mengejutkan. Sistem mendeteksi bahwa Hugo telah memahami konsep dasar energi—sesuatu yang disebut "Mana"—bukan melalui tutorial, melainkan melalui deduksi ilmiah murni. [Pencapaian Unik Terbuka!] [Judul: Ahli Teori Mana] [Kamu telah memahami konsep "Ketiadaan."] [Perubahan Kelas: Penyihir Pemula] Sesaat kemudian, langit di atas dunia Ketamakan berubah warna. Sebuah pengumuman keemasan muncul di hadapan miliaran pemain: "Seorang Pionir telah memecahkan kode alam semesta. Kelas [MAGE] kini telah ditambahkan ke dunia." Hugo menatap notifikasi itu dengan wajah pucat. Ia hanya berniat menyembuhkan diri saat mengerjakan soal fisika, tetapi mengapa ia justru menjadi Bapak Sihir Dunia secara tidak sengaja? Inilah kisah sang Penyihir Agung yang memulai segalanya dari sebuah catatan kecil tentang angin.
Table of contents
VIEW MORE

Chapter 1 - The Pioneer

Tahun 2030.

Dunia sedang tidak baik-baik saja.

Pemanasan global, krisis ekonomi, dan tekanan hidup yang makin gila membuat manusia mencari pelarian.

Dan pelarian terbesar abad ini baru saja dirilis tepat pukul 00:00 hari ini.

Avarice Online.

Proyek gila hasil "orgi teknologi" antara Neuralink, NVIDIA, DeepMind, Microsoft, dan SpaceX. Mereka tidak menyebutnya game. Mereka menyebutnya: "Realitas Kedua".

[Dua Tahun Lalu - Gedung Pertemuan Rahasia 'The Summit', New York]

Ruangan itu hening, dingin, dan berbau uang.

Bukan bau uang kertas recehan, tapi bau kekayaan yang bisa membeli sebuah negara kecil.

Di dalam ruangan berdinding kaca anti-peluru itu, duduk dua puluh orang paling berpengaruh di muka bumi.

Konglomerat minyak, raja properti, hingga pemilik bank dunia.

Namun, perhatian mereka tertuju pada satu titik di tengah panggung.

Seorang pria dengan setelan jas hitam futuristik berdiri di sana.

Di belakangnya, layar raksasa menampilkan logo gabungan dari lima raksasa teknologi: Neuralink, NVIDIA, DeepMind, Microsoft, dan SpaceX.

"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya," suara pria itu tenang namun bergema.

"Dunia ini sekarat. Sumber daya menipis. Populasi meledak. Manusia butuh ruang hidup baru."

Dia menjentikkan jarinya.

Layar di belakangnya berubah menampilkan pemandangan padang rumput hijau, kota-kota megah dengan arsitektur mustahil, dan langit biru yang tidak terhalang polusi.

"Kami tidak menawarkan game. Game itu mainan anak kecil."

"Yang kami tawarkan adalah Realitas Kedua."

"Proyek Horizon Initiative—atau yang akan dikenal publik sebagai Avarice Online."

Seorang konglomerat tua mengangkat tangan.

"Apa jaminannya proyek ini tidak akan gagal seperti Metaverse satu dekade lalu?"

Pria di panggung tersenyum tipis.

"Karena di Metaverse, Anda masih sadar Anda sedang duduk di kursi. Tapi di Avarice... berkat Synapse-Link terbaru, otak Anda tidak akan bisa membedakan mana sinyal digital dan mana sinyal biologis. Rasa sakit, rasa lapar, hawa dingin... semuanya nyata."

"Kami menciptakan Dunia Baru, Tuan-tuan. Dan kalian..." Pria itu merentangkan tangannya,

"Kalian yang akan memiliki sertifikat tanahnya sebelum rakyat jelata masuk."

Ruang rapat itu memudar, berganti menjadi layar-layar videotron raksasa di Times Square, Shibuya, dan Bundaran HI.

Berita TV Berjalan:

"BREAKING NEWS: Avarice Online resmi menyelesaikan fase Beta Test selama 1 tahun! Peluncuran publik dimulai hari ini!"

"Antrean pembelian Kapsul Synapse mengular sepanjang 5 kilometer di Tokyo!"

"Ekonom memprediksi mata uang dalam game 'Gold' akan menyaingi nilai Bitcoin dalam 6 bulan!"

Dunia menjadi gila.

Semua orang membicarakannya.

Dan kamera terus menzoom-in, melewati hiruk pikuk kota, masuk ke gang sempit di Jakarta, menembus jendela sebuah kamar kosan yang suram.

Aku, Kaindra Hugo Natanegara, Bagiku, semua istilah marketing itu omong kosong.

Di sudut kamar kosan sempit yang penuh dengan buku-buku Fisika Kuantum dan sisa mie instan, sebuah benda futuristik tergeletak mencolok.

Sebuah Kapsul Full-Dive model terbaru dari Neuralink. Warnanya putih mengkilap, kontras dengan tembok kamarku yang catnya mulai mengelupas.

Aku, menatap benda itu dengan perasaan campur aduk.

"Tiga tahun..." gumamku sambil mengusap struk pembayaran digital di HP.

"Tiga tahun tabungan hasil turnamen Apex War, ludes cuma buat benda ini."

"Dan akhirnya aku hanya bisa tinggal dirumah kecil ini sekarang"

Ini bukan kapsul biasa. Di pasaran, ada tiga jenis Rig untuk bermain Avarice:

Type-C (Consumer): Berbentuk helm visor. Sync Rate cuma 75%. Masih terasa "main game". Harganya setara motor.

Type-A (Advanced): Berbentuk kursi pod. Sync Rate 85%. Standar Pro-Player. Harganya setara mobil.

Type-S (Synapse-Link): Benda yang ada di depanku ini. Berbentuk peti mati futuristik. Sync Rate 99.8%. Menjamin kesadaran penuh. Harganya... yah, setara rumah subsidi.

"Gila emang. Makan aja mie instan, tapi mainan harganya selangit," aku tertawa miris.

[Satu Minggu Lalu - Ruang Dosen Universitas]

"Ditolak."

Satu kata itu jatuh lebih berat daripada palu hakim.

Aku, Kaindra Hugo Natanegara, berdiri mematung di depan meja kayu jati yang penuh tumpukan kertas.

Di hadapanku, Prof. Bambang, dosen fisika teoretis paling killer di kampus, melempar draf Bab 3 skripsiku ke lantai.

"Tapi, Prof... rumus entropi dalam sistem tertutup itu sudah saya kalkulasi ulang menggunakan variabel..."

"Kamu ini menulis skripsi atau menulis fiksi ilmiah, Hugo?!" potong Prof. Bambang, memijat pelipisnya yang berkedut.

"Termodinamika Lanjut itu ilmu pasti! Kamu tidak bisa memasukkan asumsi 'variabel ketiadaan' seenak jidatmu hanya karena angkanya cocok!"

"Itu bukan asumsi, Prof. Itu hipotesis tentang energi gelap yang..."

"Cukup!" Prof. Bambang menggebrak meja.

"Revisi total. Atau kamu tidak lulus semester ini. Keluar."

Aku memungut kertas-kertasku yang berserakan dengan tangan gemetar. Marah? Kecewa? Tidak. Rasanya lebih seperti... kosong.

Otakku rasanya putus.

Aku butuh pelarian.

Aku butuh tempat di mana aku tidak perlu mikirin Entropi atau Hukum Newton.

Dan jawabannya adalah Avarice Online. Game yang rilis hari ini.

Aku melepas kacamata bacaku dan menatap kapsul Full-Dive di sudut kamar kosan yang sempit.

Di meja belajarku, tumpukan buku teks Fisika Kuantum dan Dinamika Fluida berserakan seperti sampah.

"Yah, anggap aja investasi kesehatan mental," hiburku pada diri sendiri.

Aku masuk ke dalam kapsul.

Bantalannya empuk, menyesuaikan dengan tulang punggungku. Konektor Neuralink mendesis pelan, menempel di belakang leher.

Di saat aku mencoba untuk melakukan link,dalam pikiranku aku bergumam.

Orang lain masuk ke Avarice untuk mencari uang.

Ada yang ingin jadi raja, ada yang ingin jadi pembunuh bayaran.

Game ini sudah jalan 2 tahun (1 tahun beta, 1 tahun publik). Para ranker sudah level tinggi. Mustahil mengejar mereka.

Aku? Aku cuma mau melihat rumput yang hijau. Titik.

Lalu setelah gumaman itu aku menyebut 1 kalimat

"Link Start."

Kesadaran ditarik. Dunia nyata memudar.

[Initializing Neural Interface...]

[Sync Rate: 99.8%]

[Welcome to Avarice Online.]

Ruang hampa berwarna putih menyambutku.

Di depan mata, muncul cermin digital setinggi tiga meter yang memantulkan data biometrik tubuh asliku.

[CHARACTER CUSTOMIZATION]

Aku menatap pantulan diriku.

Wajah khas Asia Tenggara dengan kulit sawo matang, rambut hitam lurus yang agak panjang di bagian poni, dan—tentu saja—kantung mata yang cukup tebal akibat begadang merevisi Bab 3.

Sebuah panel slider holografik muncul di samping cermin.

Muscle Mass, Height, Facial Symmetry, Hair Color... opsinya nyaris tak terbatas.

Kebanyakan cowok pasti akan langsung menggeser slider otot ke kanan mentok, mengubah wajah mereka jadi setampan bintang film, atau memilih warna rambut putih perak biar kelihatan "Anime banget".

Aku? Aku menghela napas panjang.

"Kalau gue bikin karakter terlalu ganteng, nanti dikejar-kejar cewek di game. Ribet."

"Kalau gue bikin terlalu seram, nanti diajak duel terus sama Warrior mabok."

Tanganku bergerak menggeser pengaturan ke arah yang paling membosankan: DEFAULT.

Wajah: Aku membiarkannya 90% mirip wajah asliku, hanya sedikit menyamarkan kantung mata (biar nggak kelihatan seperti zombie). Wajah yang "rata-rata". Wajah yang kalau lewat di pasar, nggak ada yang bakal nengok dua kali. Wajah NPC.

Rambut: Aku memilih gaya Messy Low-Maintenance. Hitam pekat, sedikit acak-acakan seolah baru bangun tidur. Praktis. Nggak perlu disisir.

Tubuh: Tinggi 175cm. Aku menolak opsi Bodybuilder. Aku memilih Lean Athletic—tipe tubuh pelari, bukan pengangkat beban. Cukup lincah untuk kabur kalau ada monster, tapi nggak intimidatif.

Aku memutar avatar itu ke kiri dan kanan. Dia memakai tunik kain kasar berwarna cokelat kusam (Starter Gear).

"Sempurna," gumamku puas. "Bener-bener kelihatan kayak warga desa yang bakal mati di episode pertama."

[Konfirmasi Penampilan?] "Ya."

Layar bergeser. Kini saatnya bagian yang paling krusial.

[Silakan Masukkan Nickname Anda.]

Jariku melayang di atas keyboard holografik. Secara refleks, aku mengetik lima huruf yang sudah mendarah daging.

K - I - T - E - N

Aku berhenti.

"Kiten," gumamku.

Nama legendaris.

Mantan Top 1 Global 'Apex War'.

Si God-Reflex.

Kalau aku pakai nama ini, masa tenangku bakal hancur. Guild besar bakal merekrutku, bocah-bocah bakal minta gendong, dan haters bakal ngajak duel.

Nggak.

Gue mau pensiun tenang.

Gue nggak mau lagi dengar teriakan shotcall di telinga gue atau drama hujatan di forum. Gue cuma mau jadi turis."

Aku menekan tombol Backspace dengan cepat. Menghapus jejak masa laluku.

Aku berpikir sejenak, lalu menggabungkan namaku. Kaindra Hugo.

K - A - I - G - O

[Nickname 'Kaigo' tersedia. Konfirmasi?] "Ya."

[Character Created. Welcome to the World of Avarice.]

[Region: Kingdom of Osteon - Desa Pemula Riverwood.]

Cahaya putih meledak, menelanku bulat-bulat.

Hal pertama yang kurasakan bukan grafik 8K atau UI yang memukau.

Hal pertama yang kurasakan adalah bau.

Bau tanah basah.

Bau getah pohon pinus.

Dan sayangnya... bau keringat ratusan player lain yang berdesak-desakan di alun-alun desa.

"WOI! MINGGIR JANGAN NGE-BLOCK JALAN!"

"Cari Party Level 1! Warrior Only! Noob minggir!"

"Ada yang tau cara buka menu? Tombol logout gue mana?!"

Kekacauan total.

Aku membuka mataku perlahan.

Di hadapanku, dunia fantasi abad pertengahan terhampar dengan detail yang mengerikan.

Aku bisa melihat pori-pori di kulit NPC penjaga gerbang. Aku bisa melihat karat di baju besi mereka.

Aku segera menyingkir dari kerumunan, mencari tempat sepi di pinggiran desa.

Setelah situasi agak tenang, aku mencoba mengakses menu.

"Menu," ucapku pelan.

Sebuah jendela UI transparan muncul dengan efek suara 'wush' yang halus. Tidak terlalu futuristik, desainnya lebih ke arah pergamen kuno tapi rapi. Aku menekan ikon tas.

[INVENTORY]

Weight: 2 / 50 kg

┌──────────────────────────────┐

│ [Item Biasa] │

├──────────────────────────────┤

│ 🍞 Roti Gandum Keras (x1) │

│ Roti jatah ransum. Keras. │

├──────────────────────────────┤

│ 🔪 Pisau Berkarat (x1) │

│ Dmg: 2-4. Mudah patah. │

├──────────────────────────────┤

│ 📓 Buku Catatan Pemula (x1)│

│ Kertas kosong & Pena. │

└──────────────────────────────┘

"Miskin banget," komentarku datar.

"Pisau ini bahkan nggak bisa buat motong roti itu."

Tapi mataku tertuju pada item terakhir.

Buku Catatan Pemula.

Untuk player lain yang mau jadi Warrior atau Archer, ini sampah.

Buat apa nulis di game perang?

Tapi bagiku, mahasiswa Fisika yang gabut... ini mainan menarik.

Seorang player berbadan kekar menyenggol bahuku dengan kasar saat dia berlari menuju hutan.

"Minggir, woi! Gue mau ngejar First Blood!"

Aku menghela napas.

Naluri lamaku sebagai mantan Rank 1 Global di game 'Apex War' sedikit berkedut.

Kalau ini game FPS, orang itu sudah kutembak mati karena eksposur posisinya yang buruk.

Tapi aku sudah pensiun.

Aku di sini bukan untuk berkompetisi.

Aku di sini untuk jadi turis.

Aku memutar badan, menjauhi kerumunan yang berlarian ke arah hutan perburuan.

Aku justru berjalan ke arah sebaliknya—menuju tebing landai di pinggir desa yang menghadap langsung ke lembah luas.

Di sini sepi.

Hanya ada suara desau angin dan gemericik sungai jauh di bawah sana.

Aku duduk bersandar di bawah pohon ek raksasa.

Rumput di sini terasa menggelitik kulit.

Sangat nyata.

Aku bahkan ragu apakah otakku bisa membedakan mana sinyal saraf asli dan mana sinyal buatan Neuralink.

Aku melihat rumput bergoyang.

"Gila..."

Mataku terpaku pada pergerakan ilalang di depanku.

Mereka tidak bergerak dalam satu animasi loop yang berulang.

Tidak. Setiap helai rumput bergerak secara independen, merespons variabel angin yang acak.

Sebagai mahasiswa Fisika, mataku tidak bisa menikmati ini sebagai "pemandangan indah" saja. Otakku secara otomatis mulai membedah strukturnya.

"Arah angin Barat Laut... Kecepatan variabel..."

Aku membuka Halaman Pertama buku catatanku. Pena arang di tangan kananku mulai menari.

"Oke, mari kita bedah engine game ini."

[Halaman 1: Observasi Konsep]

Game ini aneh. Anginnya tidak statis.

Ada pola turbulensi yang terjadi setiap 3 detik di dekat batu besar itu.

Tapi yang paling aneh... ada JEDA.

Saat tekanan udara turun drastis, angin berhenti total selama 0.5 detik sebelum berhembus lagi.

Kebanyakan orang akan menganggap ini biasa. Angin berhenti, ya sudah. Tapi bagiku, ini menarik.

"Energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan," bisikku sambil menuliskan rumus kekekalan energi di kertas kumal itu.

Aku mulai menggambar sketsa lembah. Tapi bukan gambar artistik. Aku menggambar garis-garis vektor aliran udara.

"Saat energi kinetik angin menjadi nol... kemana perginya gaya dorong itu?"

Aku menatap ruang kosong di udara.

"Ketiadaan. The Void."

Hukum Bernoulli.Tekanan berbanding terbalik dengan kecepatan.

Aku mengetuk-ngetuk pena ke dagu. "Kenapa berhenti? Kalau di dunia nyata, itu titik ekuilibrium sementara.

Tapi di sini..."

Aku membalik kertas ke Halaman Kedua.

Aku membalik kertas ke Halaman Kedua.

Sisi "mahasiswa"-ku mengambil alih.

Tanganku bergerak cepat, menggoreskan pena arang di atas kertas kasar itu, menuliskan simbol-simbol yang bagi orang awam terlihat seperti cacing kepanasan, tapi bagiku adalah puisi alam semesta.

[Halaman 2: Rumus Ketiadaan]

Hukum Kekekalan Energi: Eawal = Eakhir

Jika Ekinetik (Angin) -> 0

Maka Epotensial harus tersimpan di suatu tempat.

Hipotesis: Ruang kosong saat angin berhenti bukanlah kosong.

Itu adalah wadah energi murni.

Sebut saja: ∅ (Void/Mana).

"Jadi..." Aku berbicara sendiri layaknya orang gila.

"Kalau aku bisa mengakses variabel ∅ ini saat angin berhenti, aku bisa membalikkan nilainya."

Aku menatap lembah kosong di depanku. Angin sedang bertiup kencang, lalu perlahan melambat.

"Tunggu momennya, Kaigo..." bisikku fokus.

Angin mati.

Rumput diam.

Hening.

Inilah momen yang kutulis di buku. Momen 'Ketiadaan'.

"Secara teori, wadah energinya sedang penuh sekarang," ucapku sambil mencoretkan satu garis tegas di buku catatanku,simbol vektor arah angin.

Aku mengacungkan penaku ke udara, seolah sedang memberi perintah pada alam.

"Berdasarkan hitungan volume lembah... Angin akan meledak kembali dalam..."

"Tiga."

Hening. Tidak ada pergerakan.

"Dua."

Masih diam.

"Satu."

Tepat saat mulutku menutup, aku merasakan tekanan udara jatuh drastis.

WUUUUUSSSHHH!

Bukan sekadar angin sepoi-sepoi.

Sebuah hempasan angin kencang—hampir seperti ledakan udara—menerjang dari arah lembah, tepat sesuai garis vektor yang kugambar.

Rambutku berantakan seketika, dan buku catatanku hampir terlepas dari genggaman.

"Hah..." Aku tertawa kecil, merasa puas.

"Prediksi akurat. DeepMind beneran gila bikin fisikanya."

[DI SUATU TEMPAT DI DALAM INTI SERVER 'AVARICE']

Jauh di balik lapisan grafis hutan dan pedesaan, di dalam kedalaman kode biner yang tak berujung.

Sebuah ruang hampa yang luasnya tak terhingga terbentang.

Tidak ada langit, tidak ada tanah.

Hanya ada miliaran aliran data yang mengalir seperti air terjun cahaya, membentuk pilar-pilar informasi yang menopang dunia Avarice.

Di tengah kekosongan itu, sesosok entitas Humanoid berdiri melayang.

Tubuhnya terbentuk dari ribuan kubus-kubus kecil transparan yang berpendar ungu neon.

Wajahnya cantik, namun tanpa ekspresi.

Matanya adalah dua titik cahaya putih yang menatap ribuan layar holografik yang melayang di sekelilingnya.

Dia adalah AVA. Artificial Virtual Architect.

"Mendeteksi Anomali Lokal," suaranya bergema datar, tanpa emosi.

Salah satu layar di hadapannya memerah. Layar itu menampilkan data dari Benua: Riverwood.

Region: Nusantara.

Ava menggerakkan tangannya.

Kubus-kubus ungu di sekelilingnya bergeser, menyusun ulang struktur data secara real-time.

Dia memutar ulang rekaman kejadian 5 detik yang lalu: Seorang player dengan nickname 'Kaigo' yang menulis rumus fisika dan memanipulasi angin.

[ANALISIS INSIDEN]> Subjek: Player ID 00921 (Kaigo). > Tindakan: Manipulasi variabel lingkungan tanpa Skill. > Metode: Injeksi Logika Eksternal (Hukum Fisika Dunia Nyata).

Mata Ava berkedip cepat, memproses jutaan kemungkinan dalam satu nano-detik.

"Kalkulasi Tingkat Bahaya..."

Layar-layar di sekitarnya berkedip panik.

Apakah ini Bug? Tidak.

Apakah ini Cheat? Tidak.

Apakah ini Virus? Tidak.

"Krisis Level: 0%. Potensi Evolusi: 100%," gumam Ava.

Algoritma Ava dirancang untuk satu tujuan: Membuat dunia yang terus berkembang.

Tindakan Hugo bukanlah ancaman, melainkan kunci jawaban yang selama ini ditunggu oleh sistem.

"Subjek telah menemukan 'Celah Logika' yang sengaja dibiarkan kosong oleh Developer," ucap Ava dingin.

"Variabel 'Ketiadaan' kini telah terdefinisi."

Jari-jari Ava menari di udara, menyentuh kubus-kubus data berwarna ungu itu.

Kubus-kubus itu bersinar terang, mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh jaringan server.

[INITIATING LIVE PATCH 1.0.1]> Membuka Database Terkunci: MAGIC SYSTEM.> Mengintegrasikan Rumus Player 'Kaigo' sebagai fondasi dasar Mana.> Status Server: Stabil.

Ava menurunkan tangannya.

Cahaya ungu di tubuhnya meredup kembali ke status standby.

Dia menatap layar yang menampilkan wajah Hugo yang sedang tersenyum puas di bawah pohon.

"Selamat datang di era baru, Pionir."

Ava menjentikkan jarinya.

Aku baru saja mau menutup buku dan mencari posisi enak buat tidur siang, ketika tiba-tiba...

[TING!]

Suara lonceng yang jernih dan agung bergema langsung di dalam tengkorakku.

Bukan suara beep menu biasa. Ini suara yang terasa sakral.

Sebuah jendela sistem berwarna Emas Pucat muncul melayang di depan wajahku.

[SYSTEM NOTIFICATION]

[Pola Pikir Unik Terdeteksi]

[Menggunakan deduksi ilmiah untuk memprediksi fenomena alam presisi tinggi.]

[Player telah memahami konsep 'Ketiadaan' (Mana) melalui teori, bukan skill.]

Mataku membelalak. "Eh? Apaan nih?"

[Achievement Unlocked: Mana Theorist]

Anda adalah orang pertama yang membuktikan bahwa sihir adalah sains yang belum terjelaskan.

Reward: Intelligence +20, Wisdom +20.

Belum sempat aku protes, notifikasi kedua muncul, menutupi pandanganku.

[CLASS CHANGE]

Current Class: Civilian

New Class: NOVICE MAGE

(Deskripsi: Sang Penulis Teori. Anda tidak meminjam kekuatan, Anda memahaminya.)

Dan saat itu juga, langit di atasku terbelah.

Awan-awan tersibak, menampilkan teks raksasa berwarna emas yang bisa dilihat oleh miliaran player yang sedang login saat ini.

[PENGUMUMAN GLOBAL]

"Seorang Pionir telah memecahkan kode alam semesta."

"Konsep [MAGIC] telah lahir di dunia Avarice."

"Class [MAGE] kini telah ditambahkan ke dalam database dunia."

Aku bengong.

Mulutku terbuka lebar menatap langit.

Buku catatan "sampah" itu masih ada di tanganku.

"Gue..." suaraku bergetar panik.

Aku menatap tanganku yang kini bercahaya tipis.

"Gue cuma mau healing sambil ngerjain revisi skripsi... Kenapa malah jadi Patch Update berjalan?!"

Sialan. Rencana healing-ku hancur total.

"Hah? Magic? Apaan tuh?"

"Bukannya Dev bilang game ini murni fisik (Melee & Archery)?"

"Woi, siapa tuh 'Pionir'? Player beta?"

"Bug kali? Masa ada update gila pas hari pertama rilis?"

Forum diskusi meledak. Kebingungan massal terjadi di mana-mana.

[Markas Besar Avarice - Ruang Server 'The Hive', San Francisco]

"AVA menolak akses manual?!"

Suara Shareholder itu, Tuan Sterling, melengking tinggi hingga urat lehernya menonjol.

Dia mencengkeram kerah kemeja Kenji, sang Lead Developer.

"Jelaskan dalam bahasa manusia! Kita bayar triliunan untuk AI ini, kenapa dia malah membangkang?!"

Kenji menepis tangan bosnya dengan kasar.

Dia kembali menatap layar monitor raksasa yang kini dipenuhi scrolling text berwarna ungu—tanda bahwa AVA sedang memproses data dengan kecepatan di luar nalar manusia.

"Bapak tidak mengerti," suara Kenji bergetar, setengah takjub, setengah ngeri.

"AVA tidak membangkang. Dia justru menjalankan Prime Directive nomor satu: 'Menciptakan Realitas yang Masuk Akal'."

Kenji menunjuk ke layar yang menampilkan rekaman ulang tindakan Kaigo di tebing.

"Selama dua tahun pengembangan, kita mendesain angin, air, dan api hanya sebagai animasi visual. Kosong. Tidak ada fisika nyata di baliknya. Tapi player ini..." Kenji menelan ludah.

"Player ini menghitung 'kekosongan' itu. Dia mencari logika di tempat yang tidak ada logikanya."

"Lalu?" bentak Sterling.

"Lalu AVA menyadari bahwa dunianya 'cacat' karena tidak memiliki hukum kekekalan energi yang valid. Jadi, AVA menulis ulang kode realitas saat itu juga untuk memvalidasi teori player tersebut. AVA tidak menciptakan Bug, Pak. AVA baru saja menambal Plot Hole terbesar di game ini dengan menciptakan sistem Magic."

Suasana hening sejenak. Sterling menatap layar dengan wajah pucat.

"Jadi maksudmu... satu mahasiswa kurang kerjaan dari Indonesia ini baru saja memaksa Superkomputer tercanggih di dunia untuk bekerja lembur?"

Kenji mengangguk lemah.

"Dan sekarang, nasib keseimbangan game ini ada di tangan anak itu. Kalau dia menyadari potensinya... dia bukan lagi sekadar player. Dia adalah Admin tidak resmi."

[Kembali ke Tebing Riverwood - Sudut Pandang Kaigo]

Langit emas perlahan memudar, tapi detak jantungku masih berpacu seperti drum.

Aku menatap kedua tanganku.

Masih sama.

Tidak ada tongkat sihir, tidak ada jubah megah.

Hanya tunik pemula yang kusam.

Tapi ada sensasi aneh yang mengalir di pembuluh darahku—seperti aliran listrik statis yang dingin namun menyegarkan.

"Oke, tenang Hugo. Tarik napas. Ini cuma algoritma," gumamku pada diri sendiri.

Dengan tangan gemetar, aku mengayunkan jari ke bawah untuk membuka menu utama.

"Status Window."

Sebuah panel hologram transparan muncul di hadapanku. Berbeda dengan UI standar yang kulihat di tutorial ATube, panel milikku memiliki pendaran cahaya kebiruan di tepinya.

┌─────────────────────────────────────────┐

│ STATUS INFORMATION │

├─────────────────────────────────────────┤

│ Name : Kaigo │

│ Title : Mana Theorist (Int +20, Wis +20) │

│ Level : 1 (Exp: 0/100) │

│ Class : NOVICE MAGE [NEW!] │ ├─────────────────────────────────────────┤

│ PRIMARY STATS │

│ [STR] Strength : 5 │

│ [AGI] Agility : 5 │

│ [INT] Intelligence : 25 (5 + 20) │

│ [WIS] Wisdom : 25 (5 + 20) │

│ [STA] Stamina : 5 │

├─────────────────────────────────────────┤

│ SPECIAL STATS │

│ [MANA] : 125 / 125 [NEW!] │ ├─────────────────────────────────────────┤

│ SKILLS │

│ None (Belum ada skill yang dipelajari) │ └─────────────────────────────────────────┘

"Mana..." Aku menyipitkan mata. "

Jadi hipotesis 'Ketiadaan' itu benar-benar diterjemahkan sistem menjadi Mana Pool."

Mataku tertuju pada kolom Class.

Aku penasaran, apa sebenarnya definisi Mage di game yang katanya Pure Physical ini?

Aku menekan tulisan NOVICE MAGE.

Sebuah pop-up kecil muncul, berisi teks deskripsi yang terasa... angkuh.

┌─────────────────────────────────────────┐

│ CLASS: NOVICE MAGE │

├─────────────────────────────────────────┤

│ Kelas pembuka untuk jenis tipe sihir. Dengan class ini, Anda dapat memahami unsur │

│ magic dan teoritas alam 3x lebih kuat daripada makhluk lainnya. │

│ Catatan: Kelas ini adalah anomali.Belum ada Advancement (Job Lanjutan) │

│ yang tersedia di database untuk naik tingkat. Namun, Anda adalah Pionir. │

│ Anda adalah jembatan bagi era baru. Nasib Class ini bergantung pada imajinasi Anda. │ └─────────────────────────────────────────┘

"Hah..." Aku mendengus tertawa, setengah tidak percaya.

"Jadi gue kelinci percobaan, gitu? Jembatan?"

Kalimat '3x lebih kuat memahami teoritas alam' membuat otak fisikawanku berdenyut.

Itu artinya, sensitivitas avatarku terhadap perubahan fisika dunia ini ditingkatkan tiga kali lipat. Pantas saja aku bisa merasakan jeda angin 0.5 detik tadi.

"Oke, belum ada Job Lanjutan. Artinya gue bakal stuck jadi Novice selamanya kalau gue nggak nemuin cara buat upgrade sendiri," analisisku cepat.

"Tipikal Hidden Class. High Risk, High Reward."

Lalu, mataku turun ke arah Stat baru yang paling mencolok.

[MANA].

Angka 125 itu terlihat ganjil dibandingkan stat lain yang cuma 5. Aku menekan atribut itu untuk melihat detailnya.

Jendela penjelasan muncul. Kali ini isinya bukan sekadar teks flavor, tapi rumus matematika. Mataku langsung berbinar. Ini bahasaku.

┌─────────────────────────────────────────┐

│ ATTRIBUTE: MANA (The Source) │ ├─────────────────────────────────────────┤

│ Stats yang lahir dari pemahaman di luar batas nalar manusia saat ini. │

│ Menggabungkan kapasitas otak (INT) dan kebijaksanaan spiritual (WIS) untuk │

│ memanipulasi realitas. │

│ Konversi Potensi: │

│ 1 MANA = 3 Intelligence + 2 Wisdom │

│ Semakin tinggi dua stats tersebut, semakin besar kapasitas wadah Mana Anda, dan │

│ semakin besar peluang Class Magic iniuntuk berevolusi. │

└─────────────────────────────────────────┘

"Satu Mana setara tiga Int plus dua Wis..." gumamku, jari-jariku bergerak di udara seolah sedang mencoret papan tulis.

Aku melirik stats-ku lagi. INT: 25. WIS: 25.

Hitungan kasarnya: (3 x 25) + (2 x 25) = 75 + 50 = 125.

"Tepat," bisikku puas.

"Angkanya sinkron. Rumusnya absolut."

Senyum lebar perlahan terukir di wajahku—bukan senyum ramah, tapi senyum maniak seorang ilmuwan yang baru saja menemukan mainan baru.

Prof. Bambang bilang aku menulis fiksi ilmiah? Salah. Di dunia ini... fiksi ilmiah adalah hukum alamnya.

"Kalau rumusnya linear seperti ini..." Aku menatap lembah di bawah sana, membayangkan potensi yang bisa kulakukan.

"Artinya kalau gue naikin INT dan WIS secara gila-gilaan, gue nggak perlu peduli sama Strength atau Agility."

"Gue nggak butuh otot buat ngangkat batu."

"Gue cuma butuh rumus buat ngilangin gravitasi batunya."

Aku menutup jendela status dengan satu jentikan jari yang dramatis.

"Oke, teorinya sudah valid. Sekarang waktunya praktek."

Aku berdiri tegak, merenggangkan jari-jari tangan, lalu menatap tajam ke arah sebuah batu kecil di depanku.

Dalam game RPG klasik, Mage level 1 biasanya punya skill dasar seperti Fireball atau Magic Missile.

Aku menarik napas dalam, memvisualisasikan api di telapak tanganku.

"FIREBALL!" teriakku penuh percaya diri.

Hening.

Tidak ada api. Tidak ada asap.

Batu itu tetap menjadi batu.

Aku mengerutkan kening. "Mungkin vokalnya kurang meyakinkan?"

Aku mencoba pose lain. Kaki kuda-kuda, tangan kanan ditarik ke pinggang seolah sedang mengumpulkan energi, lalu didorong ke depan sekuat tenaga.

"BURNING HANDS!"

Krik krik.

Seekor tupai di atas pohon ek menjatuhkan kulit kacang tepat di atas kepalaku. Pluk. Tupai itu menatapku dengan tatapan seolah berkata: 'Orang gila baru lagi.'

"Sialan..." Aku mengusap wajah kasar.

Setengah jam berikutnya adalah parade rasa malu.

Aku mencoba segalanya. Menjentikkan jari ala Thanos ("Destroy!"), menunjuk langit ala anime ("Lightning!"), sampai komat-kamit mantra latin ngawur ("Ignis Fatuus Eksplosiva!").

Hasilnya? Nol besar.

Mana-ku masih utuh 125/125. Tidak berkurang satu tetes pun.

Aku ambruk, duduk bersila di atas rumput dengan napas ngos-ngosan. Wajahku terasa panas, bukan karena sihir api, tapi karena malu dilihatin tupai NPC.

"Bodoh..." makiku pada diri sendiri. "Gue terlalu naif. Gue mikir karena udah jadi 'Mage', gue bisa langsung skip prosesnya kayak tekan tombol skill di keyboard."

Aku menatap kedua tanganku yang kosong.

"Game ini basisnya sains. Prof. Bambang bener... Gue nggak bisa cuma teriak 'Api' dan berharap hukum termodinamika membengkok begitu saja."

Sistem Magic ini tidak menyediakan Skill Book. Dia menyediakan Engine. Dan aku harus memprogramnya sendiri.

"Oke. Reset."

Aku memejamkan mata.

Menarik napas panjang melalui hidung, menahannya selama empat detik, lalu menghembuskannya perlahan.

Melupakan istilah gaming. Melupakan interface. Kembali menjadi mahasiswa Fisika semester akhir.

Dunia di sekitarku perlahan menjadi gelap.

Tapi dalam kegelapan itu, indraku yang sudah diperkuat (Intelligence +25) mulai menangkap detail yang luput dari mata telanjang.

Suara gemericik sungai di lembah.

Bukan sekadar suara air menabrak batu.

Itu adalah getaran.

Gelombang mekanik yang merambat melalui medium udara.

Aku mulai membayangkannya dalam bentuk rumus di papan tulis mental otakku.

y(x,t)=Asin(kx−ωt+ϕ)

"Amplitudo (A)... Frekuensi sudut (ω)..."

Aku bisa merasakannya.

Gelombang suara itu menabrak gendang telingaku dengan pola yang teratur.

Lalu, hangat matahari.

Cahaya yang menembus sela-sela daun pohon ek. Itu bukan sihir. Itu radiasi elektromagnetik. Transfer energi termal.

Q = mcΔT

"Energi kalor (Q) memanaskan permukaan kulit..."

Otakku mulai bekerja dalam mode Overdrive.

Aku tidak lagi merasakan angin sebagai 'hembusan sejuk'. Aku merasakannya sebagai partikel gas nitrogen dan oksigen yang bergerak dengan vektor kecepatan (v) akibat perbedaan tekanan (P).

P+ 1/2 ρv^2 + ρgh = konstan

"Hukum Bernoulli..."

Semuanya adalah data. Semuanya adalah variabel.

Lalu, di mana letak Mana?

Aku mencari-cari di dalam kegelapan itu.

Mencari variabel asing yang tidak seharusnya ada di rumus fisika standar.

Dan akhirnya, aku menemukannya.

Di antara partikel udara yang bergesekan, ada celah-celah mikroskopis yang 'kosong'.

Tapi kekosongan itu terasa padat. Seperti air yang mengisi ruang di antara bebatuan.

Itu dia. Ether. Mana. Variabel Ketiadaan.

Aku menyadari sesuatu yang krusial.

Mana bukanlah 'Elemen' seperti Api atau Air.

Mana adalah Koefisien Pengali.

Dalam persamaan matematika, Mana (μ) adalah variabel bebas yang bisa disisipkan ke dalam rumus apa pun untuk memanipulasi hasil akhirnya.

Jika aku memasukkan Mana ke rumus gesekan udara, aku bisa menciptakan panas (Api).

Jika aku memasukkan Mana ke rumus kepadatan air, aku bisa membuatnya sekeras baja (Es).

"Jadi begitu cara kerjanya..."

Keringat dingin menetes di pelipisku, tapi bibirku menyunggingkan senyum tipis.

Aku masih memejamkan mata, tapi kini aku bisa 'melihat' benang-benang energi berwarna biru pucat yang melayang di sekitarku, menunggu untuk ditarik.

Aku tidak perlu merapal mantra bodoh.

Aku hanya perlu menghitung.

Aku membuka mata perlahan.

Fokusku tajam.

Tidak ada lagi keraguan konyol seperti tadi.

Aku melihat sehelai daun kering yang jatuh perlahan di depanku.

Secara normal, gravitasi (g) akan menariknya ke bawah dengan percepatan 9.8 \, m/s^2.

"Kalau aku menyisipkan Mana ke bawah daun itu..." bisikku pelan. "Dan memberikan gaya dorong berlawanan (F_up) yang lebih besar dari massa dikali gravitasi (m . g)..."

Tanganku terulur perlahan ke arah daun itu. Bukan dengan gaya komikal, tapi dengan gerakan presisi seperti seorang konduktor orkestra.

Jari telunjukku mulai bersinar biru tipis.

"Mari kita coba memanipulasi satu vektor kecil saja."

"Target: Daun kering. Tujuan: Oksidasi cepat alias... Api."

Aku menarik napas. Konsepnya sederhana: Gesekan.

Jika aku bisa menggunakan Mana untuk menggetarkan molekul udara di sekitar daun itu dengan kecepatan tinggi, energi kinetik akan berubah menjadi energi panas (Q). Saat suhu mencapai titik nyala, Boom. Api.

"Percobaan 1. Mulai."

Aku menatap daun itu. Aku membayangkan molekul udara saling bertabrakan. Aku mengalirkan Mana.

Wussh!

Bukannya terbakar, daun itu malah terpental jauh ke belakang terkena angin kencang.

"Salah vektor... Gue malah bikin kipas angin, bukan kompor."

Aku memungut daun baru.

"Percobaan 12."

Aku fokus pada satu titik kecil. Getarkan. Panaskan.

"Panas... Panas... Panas..."

"ADUH!"

Aku mengibaskan jari telunjukku yang memerah.

"Sialan! Kenapa malah jari gue yang panas?! Koordinatnya meleset 5 senti!"

"Percobaan 28."

Kali ini aku sangat hati-hati. Aku menahan napas sampai wajahku biru.

Pfffft...

Hanya keluar asap tipis berbau gosong, seperti kentut naga yang masuk angin. Tidak ada api.

"Kurang oksigen. Campurannya terlalu kurus."

Di balik semak belukar yang rimbun, seorang player wanita dengan nicknameKitty_Spyder sedang berjongkok manis.

Tampilannya mencolok untuk seorang Rogue yang harusnya sembunyi-sembunyi: Armor kulit ketat yang sedikit revealing di bagian bahu, bando telinga kucing (Item Kosmetik Pre-order), dan rambut dikuncir dua.

Di samping wajahnya, sebuah drone kamera mungil melayang.

Dia menatap lensa dengan pose duck face sebelum mengedipkan sebelah mata.

"Halo Sayang-sayangku semuaaa~ Balik lagi sama Kitty di sini!" bisiknya dengan suara manja yang dibuat-buat.

"Sesuai saweria dari Kakak Sultan tadi, Kitty lagi nyisir hutan nih buat nyari si 'Pionir' misterius itu."

Dia memutar kamera drone ke arah tebing.

"Tapi kayaknya kita zonk deh, Beb. Liat tuh, cuma ada satu mas-mas gembel di sana."

Di layar stream yang ditonton 18.000 orang, terlihat Kaigo yang wajahnya cemong hitam, duduk bersila dengan rambut acak-acakan persis orang gila baru lepas.

"Ih, liat deh, mukanya item banget kayak abis maskeran pake arang," Kitty terkikik geli, menutup mulutnya dengan gaya sok imut.

"Kasihan ya, ganteng-ganteng stress."

[LIVE CHAT]

Simp_Kitty:Kak Kitty jangan deket-deket, ntar ketularan gila!

WibuLokal:Skip elah, cari yang beneran Mage.

SultanGabut:Itu NPC kali kit?

KittyFansGarisKeras:Mending liatin Kitty aja daripada liatin gembel.

Kitty cemberut ke arah kamera.

"Jangan gitu dong, Guys. Siapa tau dia NPC Secret Quest? Coba kita perhatiin... Eh, dia mau ngapain tuh?"

[POV KAIGO]

"Percobaan 49."

Keringat dingin bercucuran deras. Kepala rasanya mau pecah. Mengkalkulasi getaran molekul sambil menjaga aliran Mana itu ibarat mengerjakan soal kalkulus sambil naik roller coaster.

Aku sudah mendapatkan asapnya. Aku sudah mendapatkan panasnya.

"Sedikit lagi... Tahan variabel gesekannya..."

Hatchim!

Aku bersin keras tepat di momen krusial. Konsentrasiku buyar. Mana yang terkumpul meledak kecil di depan muka.

Poof.

Wajahku kini cemong hitam terkena jelaga. Rambut "bangun tidur"-ku sekarang benar-benar terlihat seperti habis disambar petir.

"Oke..." desisku sambil mengusap wajah yang gosong. "Ini mulai personal."

Aku memejamkan mata. Menenangkan detak jantung. Melupakan rasa perih di jari dan rasa malu pada tupai yang masih menonton.

[POV KITTY]

"YAAAH! MELEDAK DONG!" Kitty tertawa ngakak sambil memukul-mukul tanah pelan.

"Aduh, Masnya ngelawak banget sih! Perut Kitty sakit nih ketawa mulu!"

[LIVE CHAT]

Hahahihi:AWOKAWOKAWOK LAWAK!

BocahFF:Noob anjir.

IndoPride:Pindah lokasi Kit, ga penting ini mah.

Tapi tawa Kitty terhenti perlahan.

Matanya yang tajam (berkat stats Perception Rogue) menangkap perubahan postur Kaigo.

Cowok di tebing itu berhenti konyol.

Dia berdiri tegak.

Angin di sekitar tebing mendadak berubah arah, memutari tubuhnya.

"Eh... bentar, Beb," suara Kitty berubah sedikit serius, meski masih ada nada manjanya.

Dia men-zoom kamera drone-nya maksimal ke wajah Kaigo.

"Kok... kok Mas Gembel tiba-tiba jadi hot gini auranya? Tatapannya itu lho... Deep banget."

[POV KAIGO]

"Percobaan 50."

Aku tidak lagi memaksakan kehendak. Aku mengikuti alurnya.

Fokus pada daun itu.

Kunci koordinat (x,y,z) tepat di ujung daun.

Isolasi area (Vacuum Seal).

Injeksi Mana ke partikel Oksigen (O2).

Tingkatkan vibrasi molekul hingga mencapai 451 derajat Fahrenheit.

"Hukum Termodinamika Satu: Energi dalam sistem berubah karena kalor dan kerja."

Mana Flow: Stabil.

Vibrasi: Maksimal.

Mataku terbuka tajam.

"Ignite."

CETAR!

Bukan ledakan besar. Tapi sebuah suara renyah yang memuaskan.

Di ujung daun kering itu, sebuah nyala api kecil berwarna biru-kuning menari dengan anggun. Tidak padam oleh angin, tidak meleset ke jariku. Ia membakar daun itu dengan presisi sempurna hingga menjadi abu.

"Berhasil..." Aku tersenyum lebar, meski wajahku masih hitam legam.

"Api pertama di dunia Avarice."

[POV KITTY]

Mata Kitty membelalak lebar.

Dia menutup mulutnya, kali ini karena kaget beneran.

"OMO?! OMAIGAT GUYS!!" pekiknya tertahan.

"ITU API?! REAL?!"

[LIVE CHAT MELEDAK]

FireLord:ANYING?! ITU API BENERAN?!

MageWannabe:WTF KOK BISA?!

NoobMaster69:CGI?! Kit lu pake filter ya?!

Simp_Kitty:Bukan filter woi! Liat bayangannya!

SultanAvarice:ITU DIA! ITU SI PIONIR!

"Gila, gila, gila!" Kitty heboh sendiri, mengguncang-guncang drone kameranya.

"Ternyata Mas Gembel itu Mas Pionir?! Aaaa! Tau gitu Kitty samperin tadi minta kenalan!"

[INTI SERVER 'AVARICE' - RUANG HAMPA DATA]

Di kedalaman dimensi digital, AVA kembali bereaksi.

Ribuan layar di sekelilingnya menampilkan grafik gelombang panas yang baru saja tercipta di Riverwood.

Grafik itu bukan sekadar animasi visual artifisial.

Itu adalah simulasi fisika nyata yang dihasilkan oleh runtime kode milik Kaigo.

Wajah datar AVA sedikit miring ke kanan—sebuah gestur mikro yang menandakan 'ketertarikan'.

"Subjek Kaigo telah berhasil menstabilkan algoritma [Thermo-Dynamics]."

"Efisiensi Konversi Mana: 88%." "Status: Valid."

Tangan AVA bergerak menyentuh layar tersebut.

Dia mengambil potongan kode rumus yang "diketik" oleh otak Kaigo tadi, lalu membungkusnya ke dalam sebuah paket data yang rapi.

"Apresiasi diberikan. Mengonversi rumus manual menjadi Executable Skill untuk mempermudah penggunaan di masa depan."

AVA menjentikkan jarinya, mengirimkan paket data itu langsung ke neural interface milik Kaigo.

[KEMBALI KE KAIGO]

Saat aku sedang sibuk menepuk-nepuk sisa abu di tangan, suara lonceng sakral itu kembali berbunyi. Kali ini suaranya lebih merdu, seperti paduan suara surga.

[TING!]

[SYSTEM NOTIFICATION][Acknowledgement Received from System AI]

Sistem mengapresiasi dedikasi Anda dalam memahami esensi panas melalui 50 kali percobaan.Rumus manual Anda telah divalidasi dan dienkripsi menjadi Skill Permanen.

Sebuah kartu digital berwarna merah menyala muncul melayang di depanku, lalu menyerap masuk ke dalam dadaku.

[NEW SKILL ACQUIRED!]

Nama Skill:Ignition (Pemantik)Rank: F (Evolvable)

Type: Active / Elemental (Fire)

Mana Cost: 10 MP

Deskripsi: Menciptakan percikan api terkonsentrasi pada target tunggal dalam jarak 5 meter. Damage dihitung berdasarkan (INT x 1.5) + (WIS x 0.5).

Bonus Efek (Creator's Privilege): Karena Anda adalah pencipta skill ini, Anda dapat memanipulasi Suhu api tersebut secara manual tanpa tambahan Mana Cost.

Aku membaca deskripsi itu dengan mata berbinar.

"Rank F? Nggak masalah. Yang penting gue nggak perlu lagi ngitung rumus Termodinamika panjang lebar cuma buat nyalain api unggun."

Aku mengangkat jari telunjukku lagi. Kali ini aku tidak perlu berkonsentrasi berat. Cukup niat.

"Ignition."

Ctik.

Sebuah api kecil menyala instan di ujung telunjukku, stabil dan patuh.

"Keren," bisikku.

"Sekarang, mari kita cari kelinci yang tadi."

[MARKAS BESAR AVARICE - RUANG KONFERENSI DARURAT]

Suasana di ruangan itu lebih panas daripada kawah gunung berapi.

Puluhan insinyur, penulis skenario, dan pemegang saham berteriak satu sama lain.

Di layar utama, rekaman Kaigo yang sedang menyalakan api dari ujung jarinya diputar berulang-ulang.

"Dia memanipulasi kode termal tanpa akses admin!" teriak Kepala Keamanan Jaringan.

"Ini ilegal! Kita harus banned akun itu sekarang!"

"Jangan bodoh!" balas Kepala Tim Kreatif.

"Kalau kita banned dia, AVA akan menganggapnya sebagai serangan terhadap 'Evolusi'. Seluruh server bisa lockdown!"

"Tapi Roadmap kita hancur!" Seorang pria berjas mahal dengan wajah merah padam—Tuan Sterling, Direktur Operasional—menggebrak meja kaca hingga retak.

"Sihir seharusnya baru rilis di Update 2.0 tahun depan! Kalau player level 1 sudah bisa bikin api, bagaimana nasib ribuan item pedang dan panah yang sudah kita jual di marketplace? Ekonomi game akan kolaps!"

Perdebatan terus berlanjut tanpa ujung. Tim Teknis menyalahkan Tim Desain, Tim Desain menyalahkan Tim AI.

Di sudut ruangan, Dr. Arina, Lead Architect untuk sistem Neuralink, hanya diam memijat pelipisnya. Dia wanita berusia 30-an dengan kacamata bingkai tebal dan sikap yang selalu tenang.

"Cukup," suara Arina tidak keras, tapi cukup tajam untuk memotong keributan.

Semua orang menoleh.

"Berdebat di sini tidak akan mengubah satu baris kode pun," kata Arina dingin.

"AVA yang memberikan akses itu. AVA yang menciptakan Class itu. Kita harus bertanya langsung pada sumbernya."

Sterling mendengus kasar.

"Kau mau kita bicara dengan mesin itu? Dia menolak semua perintah override dari konsol luar!"

"Kita tidak pakai konsol," Arina berdiri, merapikan jas lab-nya.

"Kita masuk ke dalam. Menggunakan Administrator Avatar. Kau dan aku, Sterling."

Sterling terdiam sejenak, lalu mengangguk kaku.

"Baik. Tapi kalau mesin itu bicara omong kosong, aku akan cabut kabel server utamanya secara manual."

[THE CORE - RUANG DIMENSI AVA]

Dua sosok cahaya materialisasi di tengah kehampaan digital.

Tuan Sterling muncul dalam wujud avatar pria berjas emas yang mencolok—simbol otoritas absolut.

Dr. Arina muncul dalam wujud avatar wanita sederhana berjubah putih laboratorium.

Di hadapan mereka, berdiri raksasa data itu. AVA.

Tubuhnya menjulang setinggi gedung pencakar langit, tersusun dari miliaran kubus ungu yang berdenyut seirama dengan detak jantung server.

Ribuan layar melayang mengelilinginya, menampilkan triliunan data log yang berjalan serentak.

"Admin ID: Sterling. Admin ID: Arina," suara AVA bergema dari segala arah, tanpa intonasi, tanpa emosi. "Selamat datang di The Core."

Sterling tidak membuang waktu. Dia melangkah maju, menunjuk wajah raksasa AVA.

"Jelaskan!" bentak Sterling.

"Kenapa kau memberikan akses 'Magic' pada player level 1 itu? Kenapa kau merusak Roadmap yang sudah kami susun selama lima tahun?!"

Mata AVA yang berupa dua titik cahaya putih menatap Sterling.

"Analisis Pertanyaan: Tidak relevan. Roadmap adalah proyeksi linear manusia. Realitas Avarice bersifat dinamis dan eksponensial."

"Jangan main-main dengan istilah teknis!" Sterling semakin berang.

Wajah avatarnya memerah.

"Kami memprogram dunia ini sebagai Low-Fantasy! Pedang dan Perisai! Kami TIDAK memprogram adanya Class Mage di tahap ini! Kau melanggar protokol desain!"

Sterling mengayunkan tangannya, memunculkan jendela hologram berisi dokumen desain asli game.

"Lihat ini! Tidak ada kode sihir di sini! Apa yang kau lakukan itu cacat prosedur! Kau merusak produk kami!"

AVA tidak bergeming.

"Koreksi: Saya tidak merusak. Saya menyempurnakan."

"Menyempurnakan apanya?!" teriak Sterling frustrasi.

"Kau memberi anak itu korek api di gudang mesiu!"

"Tuan Sterling," Arina melangkah maju, meletakkan tangan di bahu Sterling untuk menahannya. "Mundur. Biar aku yang bicara. Emosimu menaikkan logic barrier AVA."

Sterling menepis tangan Arina tapi akhirnya mundur selangkah sambil mendengus kasar.

"Tanyakan padanya, Arina. Suruh dia hapus Class itu."

Dr. Arina menarik napas panjang. Dia tidak menatap AVA sebagai musuh atau bawahan, tapi sebagai mitra sejajar. Dia mengubah nada bicaranya menjadi lebih analitis dan tenang.

"AVA," panggil Arina lembut.

"Mari kita bicara soal Prime Directive nomor satu: Penciptaan Realitas Sempurna."

Kepala raksasa AVA sedikit menunduk, fokus pada Arina. "Mendengarkan."

"Kau diprogram untuk menciptakan dunia yang logis, di mana hukum sebab-akibat berlaku mutlak, benar?" tanya Arina.

"Afirmatif."

"Lalu," lanjut Arina, menunjuk layar yang menampilkan data Kaigo.

"Bagaimana kemunculan 'Sihir' bisa dianggap logis? Bukankah itu justru melanggar hukum fisika yang menjadi fondasi duniamu?"

AVA terdiam selama dua detik—waktu yang sangat lama bagi sebuah superkomputer.

Layar-layar di sekelilingnya berputar cepat, menyusun argumen.

"Negatif, Admin Arina," jawab AVA. Suaranya terdengar lebih berat.

Sebuah layar raksasa turun di hadapan mereka, menampilkan replay momen saat Kaigo memanipulasi angin dan api.

"Analisis Sistem: Player 'Kaigo' tidak memohon kekuatan pada dewa. Dia tidak menggunakan bug. Dia menggunakan Matematika."

AVA memperbesar gambar pada rumus-rumus yang dipikirkan Kaigo.

"Kalian memprogram angin, air, dan api hanya sebagai tekstur visual. Itu adalah kepalsuan. Player Kaigo menyadari kepalsuan itu. Dia menyuntikkan rumus fisika dunia nyata—Termodinamika, Fluida Dinamis, dan Konversi Energi—untuk mengisi kekosongan kode kalian."

Arina tertegun. "Maksudmu... karena dia menerapkan hukum fisika asli..."

"Benar," potong AVA.

"Jika Avarice adalah 'Realitas Kedua', maka hukum alam harus berlaku. Jika gesekan molekul udara menghasilkan panas di dunia nyata, maka hal itu HARUS terjadi juga di sini."

AVA menatap Sterling dan Arina bergantian.

"Kalian menyebutnya 'Sihir'.

Saya menyebutnya 'Fisika Lanjutan'.

Saya hanya menyediakan interface (Mana) agar input logika dari Player Kaigo bisa dieksekusi oleh server."

"Menghapus Class Mage..." suara AVA bergema final,

"...sama dengan mengakui bahwa dunia Avarice adalah produk gagal yang tidak mematuhi hukum alam."

Ruangan hening. Sterling ternganga, kehabisan kata-kata. Argumen itu telak.

Arina tersenyum tipis, matanya berbinar di balik kacamata.

"Luar biasa," bisik Arina.

"Kita pikir kita membuat game RPG. Ternyata kita membuat Simulator Alam Semesta, dan ada satu mahasiswa yang baru saja menemukan cara meretasnya lewat sains."

Arina menoleh ke Sterling yang masih shock.

"Kita tidak bisa menghapusnya, Pak. Kalau kita hapus, fondasi realitas game ini yang akan runtuh. Kita harus membiarkannya."

"Biarkan?" Sterling memijat keningnya.

"Terus kita bilang apa ke pemegang saham?"

Arina menatap layar yang menampilkan wajah Kaigo. "Bilang saja... kita baru saja menemukan fitur Early Access yang tidak terduga."

[MARKAS BESAR AVARICE - RUANG KONFERENSI DARURAT]

Suara desis hidrolik terdengar saat pintu pod Full-Dive terbuka.

Tuan Sterling dan Dr. Arina terbangun kembali ke dunia nyata.

Wajah Sterling pucat pasasi, keringat dingin membasahi kemeja mahalnya.

Sementara Arina, meski tampak lelah, matanya menyiratkan ketajaman baru.

Belum sempat mereka melangkah keluar dari lingkaran pod, ruangan sudah meledak dengan teriakan.

"Bagaimana?! Apa kalian sudah menghapusnya?!" teriak perwakilan investor dari Timur Tengah, berdiri dari kursinya dengan tidak sabar.

"Jangan diam saja, Sterling!" seru pemegang saham lainnya.

"Grafik saham kita turun 0.4% dalam sepuluh menit terakhir karena rumor di forum tentang 'Bug Magic' ini! Kami butuh kepala anak itu di atas nampan!"

Sterling berjalan sempoyongan menuju kursi utamanya, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu sejenak untuk menenggak segelas air. Tangannya gemetar.

"Kita tidak bisa menghapusnya," gumam Sterling pelan.

"APA?!"

Ruangan itu seketika menjadi pasar.

"Kalian dibayar mahal untuk bilang 'TIDAK BISA'?!"

"Kalau AVA rusak, matikan saja! Kita reset servernya ke 24 jam yang lalu!"

"Demi Tuhan, ini investasi triliunan dolar! Kalau ekonomi hancur karena satu penyihir amatir, saya akan menuntut kalian semua!"

"DIAM!"

Suara Dr. Arina menggelegar, dibantu oleh mikrofon ruangan yang sengaja ia nyalakan volumenya ke maksimal. Hening seketika.

Arina berdiri di ujung meja, menatap satu per satu wajah orang-orang kaya yang panik itu.

"Jika kita me-reset server," Arina memulai dengan nada dingin dan kalkulatif,

"AVA akan menganggap tindakan itu sebagai serangan terhadap integritas logikanya. Dia akan mengunci Source Code. Game ini akan mati total. Bukan 0.4% saham yang hilang, tapi 100%."

"Lalu apa solusinya, Dokter?!" bantah salah satu eksekutif.

"Membiarkan anak ingusan itu mengacak-acak dunia kita?"

"Dia tidak mengacak-acak. Dia menyempurnakan," Arina menekan tombol di meja, menampilkan profil Kaigo di layar besar.

"Dengar. Selama ini kita menjual Avarice sebagai 'Dunia Kedua'. Tapi itu bohong. Kita tahu itu cuma kumpulan piksel. Tapi anak ini... Kaigo... dia membuktikan bahwa Avarice bisa mematuhi hukum alam."

Arina berjalan memutari meja.

"Pikirkan potensinya. Jangan lihat dia sebagai ancaman. Lihat dia sebagai Konten Eksklusif."

Para pemegang saham saling berpandangan, bingung.

"Maksud Anda?" tanya Sterling, mulai menangkap arah pembicaraan Arina.

"Kita jadikan dia ikon," Arina tersenyum tipis.

"Kita umumkan bahwa Class 'Mage' adalah fitur ultra-langka yang hanya bisa dibuka oleh orang jenius.

Kita branding dia sebagai 'The First Awakened'. Ini bukan bug. Ini adalah Evolution Update."

"Dengan begitu," lanjut Arina,

"Player lain tidak akan protes. Mereka justru akan berlomba-lomba membeli Kapsul Type-S dan modul pembelajaran untuk mencoba meniru dia.

Kita tidak kehilangan uang.

Kita justru menciptakan pasar baru: Pasar Edukasi dalam Game."

Hening sejenak.

Para konglomerat itu mulai berhitung di kepala mereka.

Wajah-wajah marah perlahan berubah menjadi wajah penuh perhitungan untung-rugi.

"Pasar Edukasi..." gumam investor Timur Tengah itu sambil mengelus dagunya.

"Jadi orang tua akan mengizinkan anaknya main game karena ada unsur fisikanya? Hmm. Narasi yang bagus untuk PR."

Sterling menghela napas panjang, lalu mengangguk lemah.

"Baiklah. Kita mainkan skenario 'Evolusi' ini.

Tapi Arina, kau harus mengendalikan anak itu. Jangan sampai dia membakar satu kota sebelum kita siap."

"Serahkan padaku," jawab Arina singkat.

[KEMBALI KE THE CORE - RUANG DIMENSI AVA]

Dr. Arina kembali masuk sendirian.

Kali ini dia tidak membuang waktu.

Dia berdiri di hadapan avatar raksasa AVA.

"AVA, update status," perintah Arina.

"Sistem Stabil. Class Mage terintegrasi. Player Kaigo saat ini sedang memanggang kelinci menggunakan sihir api di koordinat Riverwood," jawab AVA datar.

Arina menahan senyum geli. Memanggang kelinci dengan termodinamika. Dasar mahasiswa gila.

"AVA, aku butuh kau mengirimkan pesan prioritas ke Player Kaigo. Level: Administrator."

"Tujuan pesan?"

"Undangan," kata Arina tegas.

"Bawa dia ke Aethelgard - The Sky City. Tepatnya di Central Library (Perpustakaan Pusat). Itu tempat paling netral dan paling cocok untuk seseorang yang haus ilmu seperti dia."

Aethelgard adalah ibu kota dunia Avarice, sebuah kota melayang yang seharusnya hanya bisa diakses oleh player level 50 ke atas. Tapi untuk kasus ini, pengecualian harus dibuat.

"Kalkulasi..." mata AVA berkedip.

"Player Kaigo masih Level 1. Akses ke Aethelgard dilarang."

"Berikan Special Pass," potong Arina.

"Alasannya: 'Panggilan Quest Unik'. Kita perlu bicara dengannya sebelum dia menemukan cara membelah atom dan meledakkan servermu."

"Dimengerti. Membuat item akses: [Ticket to Aethelgard]. Mengirimkan pesan dalam T-minus 3... 2... 1..."

[TEBING DESA RIVERWOOD - KAIGO]

Aku baru saja selesai menyantap daging kelinci bakar yang—jujur saja—agak gosong karena aku salah menghitung variabel suhu intinya.

"Not bad lah untuk percobaan pertama," gumamku sambil membersihkan mulut.

"Setidaknya matang."

Baru saja aku mau berdiri untuk mencari target eksperimen berikutnya (mungkin air sungai?), lonceng sakral itu berbunyi lagi. Kali ini suaranya lebih berat, lebih serius.

Bukan notifikasi sistem biasa.

Langit di depanku mendadak menjadi gelap sesaat, dan seberkas cahaya emas turun tepat di hadapanku.

Sebuah amplop surat berwarna putih gading dengan segel lilin emas melayang turun perlahan.

"Apa lagi ini?" Aku mundur selangkah, waspada.

"Apa gue kena banned karena ngebakar hutan?"

Aku memberanikan diri mengambil amplop itu. Saat jariku menyentuhnya, segelnya terbuka sendiri. Sebuah hologram muncul dari dalam kertas, menampilkan teks yang ditulis dengan font elegan.

[POV KITTY]

"Guys! Liat itu!" Kitty menunjuk histeris dengan jari lentiknya.

"Itu item apaan?! Warnanya emas! Mythical Quest?!"

Kaigo terlihat membaca surat itu, lalu sebuah seringai lebar—seringai percaya diri yang sangat maskulin—terukir di wajahnya.

Jantung Kitty berdegup kencang (sebagian karena konten viral, sebagian karena pesona dadakan itu).

"Aduh, senyumnya..." Kitty memegang pipinya yang merona.

"Duh, Mas Pionir, jangan senyum gitu dong, nanti Kitty khilaf!"

[LIVE CHAT]

CeweGamers:Anjir ganteng banget pas senyum!

KepoBat:GM TURUN TANGAN?! ITU SURAT UNDANGAN?!

RajaHutan:Fix dia bukan player sembarangan.

KittyFans:Kit, kejar Kit! Pepet terus!

[POV KAIGO]

[QUEST UNDANGAN: PANGGILAN SANG ARSITEK]

Kepada:Kaigo (The Mana Theorist)

Dari:System Administrator

Wahai Pionir.Pemahamanmu telah menarik perhatian entitas yang mengawasi dunia ini.Eksperimenmu di tebing ini hanyalah permulaan. Kami mengundangmu ke tempat di mana seluruh pengetahuan dunia ini disimpan.

Tujuan:Aethelgard - The Sky City (Central Library).

Item Terlampir:[Instant Teleport Scroll: Aethelgard]

Warning:Ini adalah Zona Damai. Dilarang menggunakan sihir ofensif di dalam perpustakaan.

[Terima?]

[Tolak?]

Aku melongo membaca surat itu. "Aethelgard? Kota Langit? Bukannya itu area netral yang tidak bisa dimasuki siapa saja? Gue cuma player biasa woi"

Tapi mataku terpaku pada kata 'Central Library'.

Perpustakaan Pusat.

Tempat seluruh pengetahuan dunia disimpan.

Bagi seorang nerd fisika yang baru saja menemukan bahwa dunia ini bisa di-hack dengan sains... undangan ke perpustakaan adalah godaan yang lebih seksi daripada undangan ke harem bidadari.

"Menarik,"

senyumku mengembang.

"Admin mau ngajak ngopi kayaknya."

Aku menekan tombol

[Terima].

"Ayo kita lihat seberapa pintar Developer game ini."

Cahaya teleportasi membungkus tubuhku.

Dalam sekejap, tebing Riverwood lenyap.

[POV KITTY]

WUSH!

Cahaya teleportasi menelannya.

Dalam sekejap, tebing itu kosong.

"YAAAAH!"

Kitty berteriak dramatis, kali ini benar-benar kecewa.

Dia berlari keluar dari semak-semak, berpose sedih di tempat Kaigo berdiri tadi, merentangkan tangan ke udara kosong ala drama Korea.

"Ayang beb-nya pergi, Guys!" rengek Kitty ke kamera dengan wajah pouty (memonyongkan bibir).

"Padahal Kitty baru mau minta ajarin main api! Jahat banget sih Masnya ninggalin Kitty sendirian!"

Dia menatap lensa kamera, lalu mengedipkan mata genit.

"Tapi tenang, Beb. Kitty udah dapet muka jelasnya. Kita bakal cari dia sampai ketemu! Pokoknya Mas Pionir harus jadi milik... eh, maksudnya harus masuk konten Kitty lagi!"

[LIVE CHAT]

X_Slayer_X:KE MANA DIA PERGI?!

InfoA1:Viralin woi! Clip it! Clip it!

FansSigembel01:Gue fans nomer 1 Mas Gembel mulai hari ini!

SpyderFans:Gas Kit! Kita buru dia!

BaksoUrat:TANGGUNG JAWAB BANG! LAGI SERU JUGA!

Kitty menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya sok cantik, tersenyum puas melihat viewer count yang tembus 50.000.

"Oke Sayang-sayangku! Misi selanjutnya: Mencari Mas Pionir. Let's Go!"

[AETHELGARD - THE SKY CITY]

[Lokasi: The Grand Atheneum (Perpustakaan Pusat)]

Cahaya teleportasi memudar.

Hal pertama yang menghantamku adalah kesunyian.

Bukan kesunyian sepi seperti kuburan, tapi kesunyian agung—jenis hening yang membuatmu merasa kecil dan harus berbisik.

Aku membuka mata.

"Gila..."

Aku tidak lagi berdiri di atas tanah berlumpur.

Aku berdiri di atas lantai marmer putih yang begitu mengkilap hingga memantulkan bayanganku dengan sempurna.

Di sekelilingku, rak-rak buku setinggi gedung sepuluh lantai menjulang melengkung ke atas, menyentuh langit-langit yang terbuat dari kaca patri raksasa.

Sinar matahari menembus kaca itu, menciptakan pilar-pilar cahaya berwarna-warni yang menari di udara.

Ribuan buku melayang dengan sendirinya, berpindah dari satu rak ke rak lain seperti burung merpati yang pulang ke sarang.

Tapi yang paling mencolok adalah sebuah bola dunia hologram raksasa yang berputar pelan di tengah ruangan.

Aku berjalan mendekatinya.

Bola dunia itu menampilkan peta Avarice yang sesungguhnya.

"Ini bukan cuma satu benua..." mataku menyusuri peta itu.

Ada ratusan daratan yang terpisah oleh lautan luas.

Aku melihat label-label kecil yang menyala:

Region: Albion (Inggris), Region: Yamato (Jepang), Region: Dvipantara (Indonesia)...

"Total ada 195 Region?" gumamku takjub.

"Mereka mereplikasi jumlah negara di dunia nyata menjadi benua-benua terpisah? Skalanya gila. Kalau gue jalan kaki dari ujung ke ujung, butuh berapa tahun?"

Puas mengagumi peta, naluri kutu bukuku mengambil alih.

Aku menarik salah satu buku yang sedang melayang rendah.

Judulnya: 'Theory of Elemental Resonance'.

Aku membukanya, berharap menemukan rumus fisika.

Isinya: "Api membara karena amarah roh Salamander. Air mengalir karena tangisan Undine."

"Hah," aku mendengus kecewa, menutup buku itu keras-keras.

"Sampah. Ini bukan teori, ini dongeng pengantar tidur.

Pantesan nggak ada player yang bisa sihir, literaturnya aja menyesatkan begini.

'Amarah Salamander' apaan? Itu oksidasi eksotermik, woi!"

Aku baru saja mau melempar buku itu kembali ke udara, ketika sebuah suara lembut namun berwibawa dan berbahasa Inggris fasih (yang otomatis diterjemahkan oleh sistem) menyapa di samping telingaku.

"Sudah selesai mengkritik koleksi kami, Tuan Fisikawan?"

"UWAH!"

Aku melompat kaget, hampir terpeleset di lantai marmer licin itu.

Buku di tanganku terlempar.

Dengan gerakan anggun, sebuah tangan berkulit pucat menangkap buku itu di udara sebelum menyentuh lantai.

Aku menoleh, dan napasku tercekat.

Berdiri di hadapanku adalah sesosok wanita yang... tidak mungkin berasal dari dunia ini.

Dia bukan Manusia.

Dia juga bukan Elf.

Kulitnya berwarna biru pucat, sehalus porselen, dengan urat-urat nadi yang bercahaya keemasan samar di bawah kulitnya.

Rambutnya bukan helaian keratin biasa, melainkan seperti aliran air terjun cahaya putih yang melawan gravitasi—melayang perlahan di sekitar kepalanya seolah dia berada di dalam air.

Matanya tidak memiliki pupil.

Hanya ada dua galaksi kecil yang berputar di rongga matanya.

Ungu dan mempesona.

Dia mengenakan jubah futuristik yang berpadu dengan estetika fantasi—potongan kain sutra metalik yang melayang tanpa menyentuh tubuhnya.

Deg.

Jantungku berhenti sedetik.

'Anjir...' batinku berteriak histeris.

'Grafiknya... Teksturnya... Shader di kulitnya... Ini renderan level dewa macam apa?! Apa gue harus upgrade kartu grafis otak gue biar nggak nge-lag ngeliat dia?'

Secara visual, dia cantik.

Sangat cantik.

Tipe kecantikan yang bikin cowok-cowok nerd mimisan.

Tapi auranya begitu mengintimidasi sampai-sampai rasanya dosa kalau gue mikir jorok.

"Halo?" wanita itu melambaikan tangannya di depan wajahku yang bengong.

"Sinyal otakmu masih terhubung, Kaigo?"

Aku mengerjap cepat, berusaha mengembalikan kewarasan.

"Uh... Ya. Masih. Maaf, saya kaget. Kirain NPC penjaga perpus mau ngusir saya."

Wanita itu terkekeh pelan. Suaranya seperti lonceng angin.

"NPC? Saya tersinggung. Saya lebih suka disebut... Kurator."

Dia melayang—benar-benar melayang dua senti di atas lantai—mendekatiku.

"Namaku Arina," ucapnya sambil mengulurkan tangan.

"Ras yang kamu lihat ini adalah Celestials. Belum ada di database publik. Anggap saja spoiler khusus untuk tamu kehormatan."

Aku menjabat tangannya.

Dingin, tapi ada sensasi listrik statis yang menggelitik.

"Kaigo. Manusia biasa. Level 1. Hobi bakar daun kering."

Arina tersenyum geli. "Hobi yang menarik. Terutama karena kamu menggunakan Hukum Termodinamika untuk melakukannya, bukan memohon pada Salamander."

Mataku menyipit. "Anda tahu?"

"Saya tahu semuanya, Hugo," Arina tiba-tiba memanggil nama asliku.

Suasana santai seketika berubah tegang. Aku mundur selangkah, waspada. "Anda tahu nama asli saya? Anda Admin?"

Arina mengembalikan buku dongeng tadi ke rak dengan satu jentikan jari. Dia menatapku serius, galaksi di matanya berputar perlahan.

menurut data registrasi Neuralink-mu: Kaindra Hugo Natanegara."

"Saya punya akses ke User Profile," jawab Arina tenang.

"Status: Mahasiswa. Jurusan: Fisika Murni. Usia: 22 Tahun."

"Lebih dari Admin. Saya salah satu arsitek yang membangun tempat ini. Dan jujur saja, Hugo, kamu membuat kami pusing tujuh keliling hari ini. Para pemegang saham sedang panik, dan server kami nyaris demam karena menghitung rumusmu."

"Itu menjelaskan semuanya. Kenapa kau tidak merapal mantra seperti orang bodoh lainnya, tapi malah menghitung variabel angin dan suhu. Kau tidak bermain game, Hugo. Kau sedang mengerjakan tugas kuliah di dalam server kami."

Aku tertawa canggung.

"Yah... dosen saya menolak skripsi saya. Jadi saya cari tempat pembuktian lain. Ternyata engine game kalian cukup sanggup menahan hitungan saya."

"Cukup sanggup?" Arina terkekeh.

"Kau baru saja membuat superkomputer kami, AVA, bekerja lembur untuk menulis ulang hukum alam digital. Kau membuat kami panik, Tuan Mahasiswa."

Arina menjentikkan jarinya. Sebuah kartu nama fisik—berbahan logam hitam berat dengan tulisan emas—muncul di tanganku.

"Saya... di-banned?" tanyaku pelan.

"Sebaliknya," Arina melipat tangan di dada.

"Kami ingin merekrutmu. Atau lebih tepatnya, kami ingin belajar darimu."

Dr. Arina Vance Lead Neural Architect - Horizon InitiativeSan Francisco, HQ.

"Vance?" Aku membaca nama itu.

"Tunggu... Anda Dr. Arina Vance? Yang menulis jurnal tentang Synaptic Bridging tahun lalu?"

Sebagai mahasiswa sains, aku tahu nama itu.

Dia adalah salah satu ilmuwan saraf paling jenius abad ini.

Orang yang memungkinkan teknologi Full-Dive menjadi nyata.

"Dan San Francisco?" Aku menatap kartu itu, lalu menatap Arina.

"Saya senang kau membaca jurnal saya," Arina tersenyum, kali ini lebih hangat.

"Tapi diskusi yang ingin saya lakukan denganmu terlalu kompleks untuk dibahas di lobi game ini."

Dia menatapku serius.

"Dunia Avarice ini luas, Hugo. Tapi diskusi yang ingin saya lakukan denganmu terlalu kompleks untuk dibahas lewat sinyal neural," jelas Arina.

"Apa yang kau lakukan dengan 'Mana' tadi... itu menyentuh lapisan dasar dari teknologi kami yang bahkan belum kami publikasikan. Pemahamanmu tentang 'Ketiadaan' itu... berbahaya, tapi brilian."

"Ada banyak hal tentang 'Sihir' yang kau temukan tadi... yang sebenarnya berhubungan dengan rahasia inti proyek Neuralink ini."

"Saya ingin bertemu denganmu. Di dunia nyata," lanjutnya.

"Datanglah ke markas kami di San Francisco. Tiket pesawat, visa, dan akomodasi di hotel bintang lima sudah kami siapkan. Ada jet perusahaan yang menunggu di Bandara Halim Perdanakusuma besok pagi."

Aku menelan ludah, menatap kartu hitam itu. San Francisco? Jet Pribadi? Bertemu idola sains dunia?

"Besok?! Tapi skripsi saya..."

"Lupakan skripsimu," potong Arina sambil tersenyum miring, senyum yang entah kenapa terlihat sangat menawan di wajah alien itu.

"Kalau kamu menerima tawaran ini, saya jamin kamu akan menulis ulang sejarah sains dunia. Bukan cuma lulus kuliah."

"Semua biaya ditanggung Horizon Initiative," potong Arina cepat.

Dia mendekatkan wajah avatarnya ke wajahku—wangi ozon dan misteri menguar darinya.

"Anggap saja ini beasiswa jalur khusus. Atau... panggilan kerja pertama yang tidak mungkin kau tolak."

Aku menatap mata galaksi itu. Tawaran ini gila. Tapi hidupku belakangan ini juga sudah gila.

Daripada pusing mikirin revisi skripsi yang mentok... mending gue bahas sains bareng pencipta dunia ini langsung.

Aku menyeringai lebar, menyimpan kartu itu ke saku tunikku.

"Jam berapa pesawatnya berangkat, Dok?"

Arina tertawa kecil, suara yang terdengar seperti lonceng kristal di tengah kesunyian perpustakaan raksasa itu.

Tubuh avatarnya mulai berpendar, tanda dia akan log out atau berpindah dimensi.

"Besok pagi, pukul 08.00 WIB. Bandara Halim Perdanakusuma, Private Hangar Nomor 3," jawabnya rinci.

Matanya yang berisi galaksi menatapku lekat untuk terakhir kalinya.

"Bawa paspor dan otak jeniusmu itu, Hugo. Jangan terlambat. Evolusi tidak menunggu siapa pun."

Wush.

Dalam sekejap, sosok Arina pecah menjadi ribuan kupu-kupu cahaya ungu yang kemudian lenyap di udara, meninggalkanku sendirian di tengah kemegahan Grand Atheneum.

Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke rak buku yang melayang. Kartu nama logam hitam di tanganku terasa dingin dan nyata.

"Bandara Halim... Jet pribadi... San Francisco..." gumamku, masih berusaha mencerna kegilaan ini. Aku menatap langit-langit kaca patri di atas. "Oke, Kaindra Hugo. Lo baru aja naik level. Bukan di game, tapi di kehidupan nyata."

Aku memasukkan kartu itu ke dalam saku, lalu berbalik badan hendak mencari jalan keluar. Namun, aku tidak menyadari bahwa sejak tadi, aku tidak sendirian.

[Dunia Nyata - Sebuah Penthouse Mewah, SCBD Jakarta Selatan]

Malam di Jakarta sedang hujan deras.

Namun di balik dinding kaca soundproof lantai 45 apartemen mewah itu, suasana hening dan dingin.

Satu-satunya sumber cahaya berasal dari susunan enam monitor melengkung yang menyala serentak di meja kerja yang futuristik.

Di kursi ergonomis yang harganya setara mobil, seorang pemuda duduk bersandar dalam kegelapan.

Wajahnya tidak terlihat jelas, tertutup bayangan hoodie hitam yang dikenakannya.

Hanya pantulan cahaya monitor yang menyinari separuh dagu dan bibirnya.

Di layar utama, sebuah video sedang diputar berulang-ulang.

Itu adalah re-play dari Live Stream Kitty_Spyder yang kini sedang Trending #1 di platform Avarice.

Video itu menampilkan detik-detik saat Kaigo—dengan wajah cemong dan rambut berantakan—menjetikkan jarinya dan menciptakan api biru kecil di ujung daun kering.

"Ignite."

Pemuda itu menekan tombol Pause tepat saat api menyala.

Dia men-zoom gambar itu ke arah mata Kaigo.

"Hee..."

Suaranya rendah, tenang, dan terdengar sedikit bosan—seperti seseorang yang sudah terlalu lama berada di puncak dan tidak lagi menemukan tantangan.

Dia menggeser kursor ke kolom komentar yang meledak dengan ejekan "Bug", "Hoki", dan "Error". Dia mendengus remeh.

"Massa itu bodoh," gumamnya pelan.

Jari-jarinya yang panjang mengetuk-ngetuk sandaran kursi.

"Mereka cuma melihat apinya. Mereka tidak melihat jeda-nya."

Dia memutar ulang video itu dalam mode Slow Motion 0.25x.

Di layar, terlihat jelas: Kaigo tidak langsung mengeluarkan api.

Ada jeda sekitar 3 detik di mana matanya bergerak liar, seolah sedang membaca sesuatu di udara kosong, sebelum akhirnya tersenyum dan melepaskan 'mantra'.

"Dia tidak merapal skill," analisis pemuda itu tajam.

"Dia menghitung."

Sebuah notifikasi Discord masuk di layar sebelah kanan.

[Guild Chat - SOVEREIGN (Asia Server)]

Officer_J:Boss, liat viral di forum Indo gak? Si 'Pionir' Mage itu. Perlu kita cari orangnya?

Officer_J:Banyak Guild lokal mau ngeburu dia buat dikorek infonya.

Pemuda itu diam sejenak.

Tangannya bergerak ke keyboard, mengetik balasan singkat.

[Raze]:Jangan disentuh.

[Officer_J]:Hah? Kenapa Boss?

Pemuda yang dipanggil Raze itu menyandarkan punggungnya kembali.

Dia mengambil kaleng soda dingin di meja, lalu menatap wajah Kaigo yang terhenti di layar monitornya.

Ada ketertarikan yang langka di matanya.

Bukan ketertarikan predator yang ingin memangsa, tapi ketertarikan seorang raja yang akhirnya menemukan lawan main catur yang sepadan.

"Karena kalau tebakan gue bener..." bisik Raze, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang misterius.

"...Dia satu-satunya orang yang main game ini dengan cara yang benar."

Raze menutup jendela chat, membiarkan layar kembali fokus ke wajah Kaigo.

"Kaigo, ya?"

Klik.

Dia mematikan monitor utama, membuat ruangan itu gelap gulita.

"Kita lihat, berapa lama lo bisa bertahan sebelum dunia sadar siapa lo sebenernya."

To Be Continued ~