Cherreads

Chapter 2 - SUARA DARI DALAM SUMUR

Ardi berusaha menarik tangannya sekuat tenaga.

Cengkeraman dari dalam sumur itu dingin. Bukan sekadar dingin karena air, tapi dingin seperti daging yang sudah lama tidak bernyawa.

"Lepas!" teriak Ardi panik.

Ia menarik tubuhnya ke belakang, namun tangan pucat itu justru semakin kuat mencengkeram pergelangannya. Kukunya yang panjang menggores kulit Ardi hingga terasa perih.

Air dari dalam sumur menetes ke tanah.

Plok… plok…

Dan tiba-tiba tangan itu menarik lagi.

Ardi terpeleset dan tubuhnya hampir jatuh ke bibir sumur. Nafasnya memburu. Ia meraih batu di tanah dengan tangan yang bebas, lalu menghantamkannya ke tangan pucat itu.

Buk!

Sekali.

Buk!

Dua kali.

Pada pukulan ketiga, tangan itu akhirnya terlepas.

Ardi terjatuh mundur ke tanah. Ia segera merangkak menjauh dari sumur dengan jantung berdegup sangat keras.

Namun dari dalam sumur terdengar sesuatu bergerak.

Krek… krek…

Suara seperti kuku yang menggaruk dinding sumur.

Ardi menatap ngeri.

Lalu sesuatu muncul dari kegelapan.

Bukan hanya tangan.

Kepala.

Rambut panjang hitam menjuntai basah menutupi wajahnya. Perlahan makhluk itu naik, seolah memanjat dari dalam sumur yang sempit.

Tubuhnya kurus dan pucat.

Bajunya robek dan basah, meneteskan air yang berbau anyir.

Ardi tidak bisa bergerak.

Makhluk itu akhirnya duduk di bibir sumur. Kepalanya menunduk, rambutnya menutupi wajah.

Sunyi beberapa detik.

Kemudian kepalanya terangkat perlahan.

Wajahnya…

bukan wajah manusia.

Kulitnya pucat keabu-abuan. Matanya hitam pekat tanpa bagian putih. Mulutnya tersenyum terlalu lebar hingga hampir mencapai telinga.

Makhluk itu menatap Ardi.

Lalu berbicara dengan suara yang sangat familiar.

"Kenapa pergi?"

Itu suara Ardi.

Persis.

Ardi mundur sambil gemetar. "Apa… apa kamu?"

Makhluk itu memiringkan kepala, seperti sedang mempelajari sesuatu yang menarik.

"Tadi kamu mau menolongku," katanya dengan suara Ardi.

Kemudian senyumnya semakin lebar.

"Sekarang… kamu malah lari."

Angin malam tiba-tiba berhembus kencang. Pohon-pohon di sekitar halaman berderak.

Makhluk itu berdiri dari bibir sumur.

Kakinya menyentuh tanah dengan gerakan yang aneh, seperti sendi-sendinya tidak biasa digunakan berjalan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Air menetes dari tubuhnya.

Ardi akhirnya berhasil berdiri dan berbalik untuk lari ke rumah.

Namun sebelum ia sempat membuka pintu belakang—

Makhluk itu sudah berdiri tepat di belakangnya.

Padahal Ardi tidak mendengar langkah apa pun.

Perlahan makhluk itu membisikkan sesuatu di telinga Ardi.

"Nanti malam…"

"…kita tukar tempat."

Ardi berteriak keras.

Lampu rumah tiba-tiba menyala.

Pintu belakang terbuka.

Pamannya berdiri di sana dengan wajah panik.

"Ardi! Kamu ngapain di luar?!"

Ardi segera masuk ke dalam rumah sambil terengah-engah. Ketika ia menoleh kembali ke halaman—

Tidak ada siapa-siapa.

Sumur itu kembali sunyi.

Seolah tidak pernah terjadi apa pun.

Namun ketika Ardi melihat pergelangan tangannya…

Ada bekas cengkeraman hitam.

Seperti bekas tangan yang membusuk.

Dan dari arah sumur yang gelap…

Terdengar suara yang sangat pelan.

Suara Ardi.

Tertawa.

More Chapters