Cherreads

Chapter 11 - Chapter 11 — Hati Yang Nggak Bisa Dipaksa

Maya mulai menghilang.

Bukan dramatis.

Nggak sampai pindah sekolah.

Cuma… jarang ada.

Jarang nongkrong.

Jarang ketawa.

Jarang kelihatan.

Kalau pun ada di kelas, dia lebih banyak diem. Tatapannya kosong, tapi bukan kosong yang tenang. Kosong yang capek.

Orang-orang pikir cuma lagi bad mood.

Cuma satu orang yang tau itu lebih dari sekadar bad mood.

Rafi.

Dan itu bikin semuanya makin berat.

Sore itu Rafi nggak sengaja liat Maya duduk sendirian di belakang perpustakaan. Tempat yang dulu sering mereka pakai buat kabur sebentar dari keramaian.

Refleks, kakinya hampir melangkah.

Hampir.

Tapi dia berhenti.

Karena sekarang, tiap langkah ke arah Maya bukan cuma tentang dia lagi.

Ada Nadira.

Dan Rafi nggak mau jadi orang yang setengah-setengah.

Dia balikin badan.

Tapi sebelum pergi, dia sempat denger suara pelan.

Isak.

Langkahnya kaku.

Maya jarang nangis. Dulu kalau ada masalah, dia cerita. Dia marah. Dia ngeluh.

Sekarang dia nangis sendirian.

Dan Rafi cuma berdiri jauh, ngerasa dadanya diremas.

Dia pengen dateng.

Pengen duduk di sampingnya kayak dulu.

Pengen bilang semuanya bakal baik-baik aja.

Tapi dia tau… kalau dia lakuin itu, luka ini nggak bakal pernah selesai.

Jadi dia pergi.

Dan itu mungkin keputusan paling kejam yang pernah dia ambil.

Malamnya, Maya buka chat Rafi.

Ngetik.

Hapus.

Ngetik lagi.

Aku kangen.

Hapus lagi.

Akhirnya dia cuma kirim:

Maaf ya.

Centang dua.

Dibaca.

Nggak dibalas lama.

Beberapa menit yang rasanya kayak jam.

Akhirnya muncul balasan.

Jangan minta maaf ke aku. Maafin diri kamu dulu.

Itu bukan jawaban yang dia harapkan.

Itu lebih nyakitin.

Karena Rafi nggak marah.

Nggak nyalahin.

Nggak juga kasih harapan.

Dia cuma… ngelepas.

Dan dilepas itu rasanya jauh lebih sepi daripada ditolak.

Sementara itu, Nadira mulai ngerasa sesuatu.

Bukan karena Rafi berubah ke dia. Rafi tetap baik. Tetap perhatian.

Tapi ada luka yang masih kebuka.

"Aku nggak mau kamu kuatir tiap denger nama Maya," Nadira bilang suatu sore waktu mereka jalan bareng.

Rafi langsung jawab, "Aku nggak—"

"Kamu masih peduli."

Rafi diam.

"Iya," akhirnya dia ngaku.

Nadira angguk pelan. "Itu manusiawi."

"Takutnya kamu capek."

Nadira senyum kecil, tapi matanya nggak sepenuhnya tenang.

"Aku cuma takut kamu balik bukan karena cinta. Tapi karena nggak tega."

Kalimat itu bikin Rafi merinding.

Karena dia tau… kemungkinan itu ada.

Dan dia nggak mau jadi orang yang milih karena kasihan.

Beberapa hari kemudian, kabar itu sampai ke Rafi.

Maya pingsan di kelas.

Bukan karena sakit parah. Cuma kecapekan, kurang tidur.

Tapi Rafi panik.

Refleks dia berdiri duluan waktu guru teriak minta tolong.

Refleks dia yang pertama sampai di samping Maya.

Tangannya gemetar waktu pegang bahunya.

Maya buka mata pelan.

Dan untuk sepersekian detik, tatapan itu balik.

Tatapan yang dulu.

Lemah. Bergantung. Nyari dia.

Itu cukup buat bikin hati Rafi goyah.

Tapi di pintu kelas, Nadira berdiri.

Ngeliat semuanya.

Bukan dengan marah.

Tapi dengan wajah yang pelan-pelan ngerti.

Malamnya Nadira nggak chat Rafi duluan.

Biasanya dia kirim pesan kecil sebelum tidur.

Malam itu nggak ada.

Rafi yang akhirnya ngetik.

Kamu marah?

Balasan datang lama.

Nggak.

Beberapa detik kemudian.

Cuma sadar satu hal.

Rafi nunggu.

Aku nggak bisa saingan sama masa lalu kamu.

Kalimat itu sederhana.

Tapi Rafi tau itu bukan cemburu.

Itu takut.

Dan mungkin… tanda dia mulai lelah.

Di kamar masing-masing, tiga orang itu sama-sama nggak tidur.

Maya nangis pelan, ngerasa kehilangan yang benar-benar nyata sekarang.

Rafi duduk diam, ngerasa ditarik ke dua arah yang sama-sama nyakitin.

Dan Nadira… untuk pertama kalinya ngerasa dia mungkin cuma jadi jeda di antara dua orang yang belum selesai.

Dan yang paling perih?

Nggak ada yang benar-benar salah.

Tapi semuanya tetap sakit.

More Chapters