Tiga hari telah berlalu sejak malam di warung batagor, namun bagi Andini, waktu terasa seperti merangkak. Pikirannya bising, bertarung antara logika yang sadar akan kasta dan hati yang merasa berutang budi. Malam ini, selepas menunaikan sholat Isya di mushola Desa Gelagah Sari, Andini melangkah keluar bersama Alisa.
Udara malam terasa lebih menggigit, seolah memberi tanda akan ada hal besar yang terjadi.
Langkah mereka tertahan di teras mushola. Sosok tinggi itu sudah Bu berdiri di sana, bersandar pada tiang kayu dengan wajah yang tampak tak tenang.
"Ndin," panggil Raka. Suaranya rendah, tapi penuh desakan.
Alisa yang berdiri di samping Andini seketika merasa atmosfer di sekitarnya berubah berat. Ia melirik Andini yang hanya diam membatu.
"Ndin, aku duluan ya? Bapak pasti sudah nunggu di rumah teh," pamit Alisa cepat. Ia tak ingin berada di tengah pusaran emosi itu.
"Eh, Lis, bareng atuh!" cegah Andini, namun Alisa hanya menggeleng pelan dan menghilang di balik kegelapan gang.
Kini tinggal mereka berdua. Raka melangkah mendekat, matanya mengunci pandangan Andini, menagih janji yang sempat tertunda.
"Sudah tiga hari, Ndin. Aku nggak bisa tidur nyenyak sebelum dengar jawaban kamu teh," ucap Raka dengan nada yang hampir terdengar seperti permohonan.
Andini merasa terpojok.
"Jangan di sini bicara mah, Rak. Malu sama yang lain. Ikut aku ke saung pinggir sawah sebentar atuh."Mereka berjalan dalam diam menuju saung kayu di batas desa. Di sana, hanya ada kegelapan sawah dan suara jangkrik yang bersahutan. Andini duduk di tepian saung, meremas ujung mukenanya dengan gelisah.
"Rak... sebenarnya aku masih gamang pisan," Andini akhirnya bersuara, matanya menatap kosong ke depan. "Aku teh takut, Rak. Status kita beda jauh. Aku nggak mau nanti ujung-ujungnya malah jadi luka buat kita berdua."
"Masalah kasta lagi?" Raka berlutut di depan Andini agar bisa menatap matanya. "Ndin, aku nggak butuh harta kamu. Aku cuma butuh kamu di samping aku. Apa itu salah?"
Andini menatap wajah Raka yang begitu tulus. Ada rasa iba yang luar biasa muncul di hatinya. Ia merasa jahat jika harus mematahkan harapan lelaki sehebat Raka. Akhirnya, dengan bibir yang sedikit bergetar, Andini mengangguk.
"Ya sudah... kalau itu mau kamu mah. Aku terima, Rak," ucap Andini lirih. Sebuah kalimat yang lahir dari rasa tidak tega, bukan sepenuhnya dari keyakinan hati.
Malam itu, di saung yang sunyi, mereka resmi bersama. Raka berjanji akan menjaga Andini, meski Andini sendiri merasa seperti sedang berjalan menuju tebing yang curam.
Malam semakin larut di Desa Gelagah Sari, namun mata Andini enggan terpejam. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Seharusnya, dua bulan jadian dengan Raka membuatnya bahagia, tapi nyatanya beban di pundaknya justru terasa makin menghimpit.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil sebuah foto usang dari laci meja kecilnya. Foto seorang pria muda yang gagah dengan tulisan aksara Cina di baliknya. "Sebenarnya aku teh anak siapa atuh?" bisiknya parau.
Andini melangkah ke dapur, mendapati Bu Savia sedang melamun di depan tungku yang sisa apinya mulai padam.
"Ibu..." panggil Andini pelan.
Bu Savia tersentak, buru-buru mengusap matanya. "Naha belum tidur, Ndin? Kenapa atuh
ada yang sakit?"
Andini tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung meletakkan foto usang itu di atas meja kayu yang lapuk. Begitu melihat foto itu, raut wajah Bu Savia berubah pucat pasi. Ia segera membuang muka, tangannya sibuk merapikan kayu bakar yang sebenarnya sudah rapi.
"Ibu, tolong... siapa pria ini teh?" desak Andini.
"Sudah atuh, Ndin, jangan dibahas lagi. Itu mah masa lalu," jawab Bu Savia dengan suara yang dipaksakan tenang, meski jemarinya gemetar hebat. "Mending kamu tidur, besok harus bangun pagi."
"Ibu selalu begini!" suara Andini mulai naik. "Setiap aku tanya, Ibu selalu mengelak. Apa aku nggak berhak tahu siapa ayahku sendiri? Apa aku harus terus-terusan merasa jadi anak haram yang nggak jelas asalnya?"
Mendengar kata "anak haram", bahu Bu Savia merosot tajam. Ia terdiam lama, hanya suara napasnya yang terdengar berat dan tersendat-sendat. Ia mencoba bicara, tapi bibirnya hanya bergetar tanpa mengeluarkan suara.
"Ibu... please," lirih Andini.
Bu Savia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis yang tertahan selama dua puluh satu tahun akhirnya pecah juga.
"Namanya... Alexander lim," ucapnya dengan suara yang nyaris hilang, tersendat oleh rasa sesak di dada. "Dia ayah kamu, Ndin. Pria dari etnis Tionghoa."
Andini tertegun. "Orang Cina, Bu? Terus sekarang dia di mana?"
Bu Savia menggeleng lemah sambil terisak. "Ibu sama ayah kamu teh dulu menikah siri tanpa restu. Mertua Ibu... orang kaya di Jakarta, Ndin. Mereka mah kasta tinggi pisan. Pas mereka tahu ayah kamu nikah sama wanita desa yang miskin jiga Ibu... mereka murka luar biasa."
Bu Savia menjeda kalimatnya, dadanya naik turun berusaha mengatur napas yang sesak. "Ayah kamu dipaksa pulang, disekap... Ibu diusir pas lagi mengandung kamu. Mertua Ibu bilang, kehadiran Ibu sama kamu teh cuma noda buat keluarga mereka. Ayah kamu akhirnya dijodohkan sama wanita pilihan orang tuanya, anak orang kaya yang sederajat."
"Jadi dia ninggalin Ibu gitu aja karena takut sama orang tuanya?" tanya Andini, suaranya kini terdengar tajam dan dingin.
"Dia nggak punya pilihan, Ndin! Mertua Ibu mengancam bakal celakain kita kalau dia nggak nurut," bela Bu Savia dengan sisa tenaganya. "Mereka nggak sudi darah mereka bercampur sama darah orang miskin jiga kita."
Mendengar itu, Andini tidak menangis. Malah, matanya memancarkan amarah yang sangat pekat. Ia menatap foto pria di meja itu dengan pandangan benci yang mendalam. Kebencian yang lahir dari rasa sakit karena dibuang.
"Jadi karena kasta lagi? Karena kita miskin, mereka tega buang aku sama Ibu?" tanya Andini dengan nada yang sangat rendah namun mematikan.
"Ndin, jangan membenci kitu atuh, gimanapun dia teh..."
"Ayah?!" Andini berdiri tiba-tiba, kursinya sampai berderit keras. "Ayah macam apa yang biarin anaknya hidup susah sementara keluarganya hidup mewah di Jakarta? Keluarga Ayah teh semuanya jahat, Bu! Mereka lebih milih martabat daripada darah daging sendiri!"
Andini mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Aku nggak butuh mereka, Bu. Dan aku nggak mau tahu lagi soal orang-orang kaya itu!"
Andini melangkah pergi meninggalkan ibunya yang masih bersimpuh di dapur.
Di dalam kamarnya, Andini bersumpah. Ia benci orang kaya, ia benci keluarga Lim itu, dan ia benci kenyataan bahwa ia memiliki darah dari orang-orang yang telah menganggapnya sebagai "noda".
