Cherreads

The Great Martial God

TisuBasah
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
193
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - Debu dari Sepuluh Ribu Era

Langit di atas Gunung Mo-Tian tidak pernah benar-benar mati, ia hanya membusuk. Awan ungu pekat hasil korosi aura Ba-Huang menggantung rendah, meneteskan hujan asam tipis yang mengikis bebatuan purba. Di bawah naungan langit yang sekarat itu, seorang gadis remaja berlari dengan napas tersengal.

Mu Lan-Xing, atau yang biasa dipanggil Mu-mu, mencengkeram erat bakul anyamannya. Di dalamnya terdapat beberapa tanaman herbal layu, satu-satunya harapan untuk menyambung hidup di desa bawah kaki gunung.

"Daging segar... Sssst... Baunya sangat manis..."

Suara parau itu datang dari balik kabut. Mu-mu membeku. Dari kegelapan, muncul sesosok makhluk setinggi dua meter. Kulitnya bersisik hijau gelap, lidahnya yang bercabang menjulur panjang, dan matanya kuning vertikal penuh nafsu membunuh. Lizard Demon, siluman kadal tingkat rendah, namun cukup kuat untuk membantai satu desa manusia biasa.

"Tolong... jangan..." Mu-mu mundur selangkah, namun kakinya tersandung akar pohon tua. Ia jatuh terduduk tepat di depan sebuah bongkahan batu raksasa yang tertanam di dinding gunung.

Batu itu aneh. Berbeda dengan batu gunung lainnya yang terkikis asam, batu ini halus, hitam pekat, dan ditumbuhi lumut emas yang seolah-olah bernapas.

Srak!

Kuku tajam sang siluman menyambar, merobek bahu kecil Mu-mu. Darah merah segar memercik, mengalir turun ke atas permukaan batu hitam tersebut.

"AKHHH!" Mu-mu menjerit, menutup matanya saat moncong siluman itu terbuka lebar, siap menghancurkan kepalanya.

Namun, maut tidak kunjung datang.

Sebaliknya, Gunung Mo-Tian bergetar. Getaran itu bukan gempa biasa, itu adalah detak jantung yang sudah berhenti selama sepuluh ribu era, tiba-tiba berdenyut kembali. Darah Mu-mu meresap ke dalam pori-pori batu hitam, dan seketika itu juga, lumut emas di permukaannya meledak menjadi cahaya yang membutakan.

BOOOOM!!!

Ledakan itu tidak menghasilkan api, melainkan gelombang tekanan udara yang begitu padat hingga sang siluman kadal terlempar mundur, tulang rusuknya remuk hanya karena tekanan suara.

Di pusat ledakan, debu purba menyelimuti sosok yang perlahan bangkit.

Seorang pemuda. Kulitnya seputih porselen namun terlihat sekeras perunggu. Rambut hitam panjangnya tergerai menutupi wajahnya yang memiliki garis rahang setajam pahatan dewa. Ia berdiri di sana, telanjang di tengah badai energi, menatap tangannya sendiri dengan ekspresi bingung.

"Berisik..." suara pemuda itu rendah, namun bergaung di seluruh lembah. "Kau... mengganggu tidurku selama sejuta tahun."

Siluman kadal itu, meski terluka, didorong oleh insting buasnya. Ia melompat kembali, mengeluarkan cakar beracunnya. "MATI KAU, MANUSIA!"

Pemuda itu, Jue Yan, bahkan tidak memasang kuda-kuda. Ia tidak tahu cara bertarung. Ia tidak merasakan energi Qi di dalam tubuhnya. Yang ia rasakan hanyalah satu hal, Dunia ini terasa sangat, sangat ringan. Seolah-olah jika ia bernapas terlalu kuat, gunung ini akan rata.

Saat siluman itu tinggal satu inci dari wajahnya, Jue Yan hanya mengayunkan tangan kanannya secara asal, seperti orang yang sedang mengusir lalat.

PLAK!

Dampaknya sungguh tidak masuk akal.

Bukan hanya siluman itu yang hancur menjadi kabut darah, tapi tekanan angin dari ayunan tangan "ngasal" Jue Yan terus melaju, membelah kabut, merobek ratusan pohon di belakangnya, dan menciptakan parit sepanjang seratus meter di lantai hutan seolah-olah ada naga raksasa yang baru saja lewat.

Hutan yang tadinya rimbun kini gundul dalam satu tebasan tangan kosong.

Jue Yan berkedip. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap Mu-mu yang gemetar di bawahnya.

"Terlalu rapuh," gumam Jue Yan dengan nada sombong yang alami. "Kenapa semuanya di dunia ini terasa seperti terbuat dari kertas?"

Ia mencoba melangkah maju menuju Mu-mu, tapi saat kakinya menyentuh tanah,

KRAKKK!

Lantai gunung retak sedalam satu meter hanya karena berat satu langkah kakinya yang belum terkendali. Jue Yan mendengus kesal. Ia lupa cara menjadi "ringan".

Di kejauhan, di balik awan ungu, sembilan pasang mata raksasa di ufuk dunia terbuka sesaat. Sang penguasa malapetaka, Ba-Huang, merasakan sesuatu yang seharusnya sudah mati kini telah bernapas kembali.

Jue Yan menatap ke arah langit, seringai tipis muncul di wajah tampannya.

"Jadi, ini adalah Era Malapetaka? Memuakkan."