Cherreads

Bayangan yang Terlahir Kembali

Erin_20
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
259
Views
Synopsis
Ia lahir sebagai bayangan— anak haram yang hidupnya hanya untuk membersihkan jalan pewaris sah. Zega Radiulus mengabdikan hidupnya sebagai pembunuh bayaran keluarga bangsawan yang tidak pernah mengakuinya. Saat ia menjadi terlalu kuat, ia dibuang—dibunuh oleh darah yang sama yang ia lindungi. Namun kematian bukan akhir. Ia terlahir kembali sebagai Zaivan Montega, anak bangsawan kaya yang dicemooh dan dianggap lemah. Dengan ingatan kehidupan lamanya, Zaivan memilih jalan berbeda: bertarung bukan untuk melayani, melainkan untuk melindungi keluarga yang akhirnya memberinya kehangatan. Di tengah perebutan wilayah, intrik bangsawan, dan dunia bawah yang kejam, bayangan itu bangkit kembali— bukan sebagai alat, melainkan sebagai penguasa wilayahnya sendiri. Bayangan yang Terlahir Kembali sebuah kisah tentang pengkhianatan, kebangkitan, dan kekuatan yang lahir dari ketidakadilan.
VIEW MORE

Chapter 1 - Bab 1 Bayangan

Tidak ada yang mencatat kelahirannya.

Di rumah besar keluarga Radiulus, tempat nama-nama bangsawan diukir pada marmer dan silsilah dijaga seperti kitab suci, Zega lahir di sudut yang tidak pernah disebut. Ia adalah anak dari kesalahan yang ingin dilupakan—anak seorang pelayan dengan tuannya sendiri.

Ia tidak diberi marga.

Tidak diberi hak.

Hanya diberi satu fungsi: berguna.

Sejak kecil, Zega diajari satu hal—diam.

Menunduk saat para bangsawan lewat.

Menyatu dengan dinding.

Menghilang di balik tirai.

Namun di ruang bawah tanah yang tidak pernah disentuh cahaya, ia dilatih. Bukan sebagai ksatria. Bukan sebagai pewaris. Melainkan sebagai alat.

Tinju. Pisau. Racun. Senyap.

Ia jatuh, bangkit, jatuh lagi. Tulangnya patah lebih dari sekali. Tangannya berdarah hampir setiap hari. Tidak ada pujian. Tidak ada penghargaan. Hanya satu kalimat yang terus diulang:

"Kau hidup untuk keluarga ini."

Dan Zega mematuhinya.

Henrik Radiulus, putra sah, tumbuh di atas panggung.

Disambut tepuk tangan.

Dielu-elukan sebagai masa depan keluarga.

Zega berdiri di belakangnya—selalu.

Ketika Henrik gagal, Zega yang menyelesaikan.

Ketika ancaman muncul, Zega yang menghilangkan.

Ketika nama Radiulus terancam, Zega yang menodai tangannya.

Ia menjadi pembunuh bayaran tanpa nama, bayangan yang memastikan Henrik berjalan di jalan yang bersih.

Dan Zega kuat.

Terlalu kuat.

Bukan karena darah bangsawan.

Melainkan karena latihan tanpa henti, rasa sakit tanpa jeda, dan hidup tanpa pilihan.

Ia tidak pernah meminta lebih.

Tidak pernah bermimpi menjadi tuan.

Ia hanya ingin satu hal: diakui sebagai manusia.

Tugas terakhir datang pada malam hujan.

Zega kembali dengan tubuh penuh luka, napas terengah, dan darah yang belum kering. Target telah disingkirkan. Ancaman terakhir bagi pewaris sah telah hilang.

Ia berdiri di aula batu, basah dan lelah.

Count Radlof Radiulus menatapnya lama.

Henrik berdiri di sisi ayahnya—tenang, terlalu tenang.

"Kau sudah menyelesaikan tugasmu," kata sang Count.

Zega menunduk. Seperti biasa.

Dan saat itulah pedang menembus punggungnya.

Tidak ada peringatan.

Tidak ada penjelasan.

Zega terjatuh ke lantai marmer yang dingin, matanya terbuka, tidak percaya. Darah mengalir cepat—terlalu cepat untuk diselamatkan.

"Maaf," suara Henrik terdengar. "Kau terlalu kuat."

Zega tertawa kecil—suara yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

Ia mati bukan sebagai pengkhianat.

Ia mati bukan sebagai musuh.

Ia mati karena terlalu berguna untuk dibiarkan hidup.

Lampu padam.

Bayangan lenyap.

Prolog

Terlahir Kembali

Gelap tidak langsung berakhir.

Namun ketika kesadarannya kembali, rasa sakit itu... berbeda.

Zega membuka mata—dan melihat langit-langit asing.

Tangannya kecil. Tubuhnya ringan. Napasnya tidak sesak oleh darah.

Ia hidup.

Bukan sebagai Zega Radiulus.

Melainkan sebagai Zaivan Montega—anak dari Baron Montega, bangsawan kaya tanpa kemampuan bertarung. Anak yang dicemooh. Anak yang disebut memalukan.

Dan untuk pertama kalinya, seseorang menggenggam tangannya tanpa perintah.

"Tenang," suara lembut itu berkata. "Kau aman."

Aman.

Kata itu asing.

Hangat.

Dan menghancurkan.

Di tubuh baru ini, Zega—yang kini bernama Zaivan—menyadari satu hal:

Ia tidak terlahir kembali untuk melayani.

Ia terlahir kembali untuk memilih.

Dan dunia akan segera belajar—

bahwa bayangan yang kembali hidup

tidak akan pernah mau kembali ke kegelapan.