Cherreads

Chapter 5 - Bab 5: Tarian Pedang di Sarang Serigala

Malam di pinggiran Metropolis tidak pernah benar-benar sunyi. Suara dengung mesin dari pabrik-pabrik berat di Distrik Delta menciptakan simfoni industri yang menyesakkan paru-paru. Di tengah hutan beton itu, berdiri sebuah kompleks bangunan yang nampak seperti benteng masa depan: Fasilitas Riset Bio-Gene nomor 04. Bangunan itu tidak memiliki jendela, hanya dinding beton halus yang diperkuat dengan lapisan polimer anti-ledakan, dikelilingi oleh pagar setinggi lima meter yang dialiri listrik bertegangan mematikan.

Di bawah bayang-bayang pohon ek yang meranggas, sebuah SUV hitam berhenti tanpa suara. Pintu terbuka, dan Ling Feng melangkah keluar. Ia mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya, memperlihatkan siluet raga yang meskipun nampak ramping, namun memancarkan aura tekanan yang membuat serangga di sekitarnya berhenti bersuara.

"Tuan Ling," Qin Zhen keluar dari kursi pengemudi, tangannya gemetar saat memegang tablet digital. "Sensor termal di depan sangat sensitif. Bahkan seekor tikus pun tidak bisa lewat tanpa memicu alarm otomatis. Selain itu, pagar listrik ini terhubung langsung ke gardu induk kota. Menyentuhnya berarti penguapan instan."

Ling Feng tidak menjawab. Ia hanya menatap pagar listrik itu dengan tatapan kosong. Di mata manusia biasa, itu hanyalah kawat berduri bertegangan tinggi. Namun, di mata seorang Kaisar, ia melihat aliran elektron yang kacau, sebuah tiruan kasar dari Array Pengikat Petir yang sering ia lihat di Alam Atas.

"Kalian menyebut ini teknologi," ucap Ling Feng, suaranya pelan namun tajam membelah angin malam. "Bagiku, ini hanyalah upaya putus asa manusia untuk menjinakkan kekuatan alam yang tidak mereka pahami. Mereka mencoba membangun dinding, namun mereka lupa bahwa aku adalah pemilik pintu dan kuncinya."

Ling Feng melangkah maju dengan tenang. Saat ia berada hanya beberapa senti dari zona sensor, Qin Zhen menahan napas, menunggu alarm meledak. Namun, kesunyian tetap bertahan. Ling Feng mulai menggerakkan jari-jarinya di udara. Gerakannya tidak cepat, namun sangat presisi, meninggalkan jejak cahaya keemasan tipis yang hanya bisa dilihat oleh mata jiwa.

Inilah Array Pembalik Langit (Sky Reversal Formation). Melalui memori jiwanya yang agung, Ling Feng memanipulasi frekuensi magnetik di sekitarnya. Ia tidak menghancurkan sensor tersebut, ia hanya "menipu" realitas di sekitar sensor itu agar menganggap keberadaannya hanyalah hembusan angin.

Saat tangannya menyentuh pagar listrik yang berderit, percikan api biru raksasa muncul, namun bukannya menyengat Ling Feng, arus listrik itu justru melengkung, seolah-olah sedang bersujud di hadapan tuannya. Seluruh listrik di kompleks tersebut berkedip, meredup, dan akhirnya terhisap masuk ke dalam pori-pori kulit Ling Feng.

"Darahku masih haus," batin Ling Feng. "Energi listrik fana ini terlalu kasar, tapi cukup untuk menghangatkan sumsumku sebelum pertempuran dimulai."

Dengan satu lompatan ringan yang hampir tidak menyentuh tanah, Ling Feng sudah berada di dalam area fasilitas. Ia tidak berlari, ia hanya berjalan dengan langkah yang konstan, namun setiap langkahnya seolah-olah melipat ruang, membuatnya berpindah beberapa meter dalam sekejap.

Lorong-lorong Fasilitas Delta sangat bersih, berbau pemutih dan bahan kimia yang menyengat. Lampu-lampu LED di langit-langit berkedip-kedip akibat gangguan energi yang dibawa Ling Feng. Di sebuah ruang kontrol yang dipenuhi layar monitor, para operator Bio-Gene mulai panik.

"Sesuatu masuk ke Sektor 2! Sistem sensor kita buta!" teriak seorang operator.

"Aktifkan Unit Pemukul! Segera!" perintah seorang pria berjas putih dari belakang.

Di lorong utama, pintu baja hidrolik terbuka dengan suara desisan uap. Tiga sosok raksasa dengan tinggi lebih dari dua meter melangkah keluar. Mereka adalah mahakarya Bio-Gene: Unit Pemukul Tipe-Gamma. Kulit mereka tidak lagi nampak seperti kulit manusia; ia berwarna abu-abu metalik, hasil dari suntikan karbon dan polimer. Di lengan mereka, tertanam bilah pisau vibrasi yang bisa memotong baja seperti mentega.

Ling Feng berhenti, berdiri di tengah lorong yang sempit. Ia memandang ketiga makhluk itu dengan tatapan kasihan. "Kalian telah membuang martabat raga kalian demi menjadi mesin yang bisa disetir. Darah kalian tidak lagi mengalir, ia dipompa oleh mesin. Sungguh sebuah penghinaan bagi jalur kultivasi."

"Penyusup. Identitas: Tidak dikenal. Tingkat Ancaman: Maksimal. Eksekusi!" suara berat dan monoton keluar dari tenggorokan salah satu Unit Pemukul.

Unit pertama menerjang. Kecepatannya mencapai dua kali kecepatan suara di ruang tertutup. Lantai beton di bawah kakinya retak saat ia meluncur seperti peluru. Bilah pisaunya mengarah tepat ke leher Ling Feng.

PANGG!

Suara logam beradu dengan sesuatu yang sangat keras bergema di seluruh lorong. Penonton di ruang kontrol ternganga. Ling Feng hanya mengangkat dua jarinya—jari telunjuk dan jari tengah—untuk menjepit bilah pisau vibrasi tersebut. Pisau yang seharusnya bisa membelah tank itu kini bergetar hebat di antara jari Ling Feng, sebelum akhirnya...

KRAKK!

Bilah itu hancur berkeping-keping. Ling Feng tidak berhenti di situ. Dengan gerakan yang sangat halus, ia menyentuh dada Unit Pemukul tersebut dengan telapak tangannya.

"Kau ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh darah yang murni?" bisik Ling Feng.

Ia melepaskan gelombang Qi Darah dari Tingkat 2 Tahap 1 miliknya. Energi itu merambat masuk melalui baju zirah polimer, melewati kabel-kabel mekanik, dan langsung menghantam pompa jantung buatan di dalam dada makhluk itu. Seketika, tekanan hidrolik di dalam tubuh Unit Pemukul itu meledak. Cairan pendingin berwarna biru muncrat dari sambungan lehernya saat ia tumbang seperti tumpukan rongsokan.

Dua unit lainnya berhenti sejenak, logika AI mereka sedang mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Namun, Ling Feng tidak memberi mereka waktu. Ia menghilang, meninggalkan sisa-sisa bayangan emas di tempatnya berdiri.

Bugh! Bugh!

Dua pukulan mendarat di kepala kedua unit tersebut. Bukan pukulan biasa, tapi pukulan yang membawa berat dari Sumsum Puncak Ling Feng. Kepala baja itu penyok ke dalam, sensor mata mereka pecah, dan tubuh raksasa itu terlempar menghantam dinding hingga tertanam di dalamnya.

Ling Feng terus melangkah, melewati mayat-mayat mekanik itu tanpa melihat kembali. Tujuannya adalah ruang bawah tanah terdalam, tempat ia merasakan getaran yang sangat akrab di jiwanya. Setelah melewati beberapa lapis pintu keamanan yang ia hancurkan hanya dengan tatapan matanya, ia sampai di sebuah ruangan berbentuk kubah.

Di tengah ruangan, di dalam sebuah tabung vakum yang dikelilingi oleh ribuan kabel sensor, terdapat sebuah benda yang nampak seperti gagang pedang yang patah. Logamnya berwarna hitam pekat, namun memancarkan denyut cahaya ungu yang samar.

"Gagang Pedang Penghancur Bintang," gumam Ling Feng, matanya melembut sesaat sebelum kembali menjadi dingin dan tajam. "Kalian berani mengikat senjataku dengan kabel-kabel sampah ini?"

"Senjata itu adalah milik masa depan, anak muda. Dan kau tidak punya hak untuk mengambilnya."

Sebuah suara berat terdengar dari balik bayangan di sisi lain ruangan. Seorang pria paruh baya dengan jas laboratorium putih keluar—Dr. Aris, kepala riset fasilitas ini. Namun yang menarik perhatian Ling Feng bukanlah sang dokter, melainkan pria muda yang berdiri di sampingnya.

Pria itu mengenakan pakaian tradisional yang kontras dengan lingkungan modern ini. Di punggungnya terdapat sebuah pedang panjang dengan sarung pedang berwarna emas. Auranya sangat berbeda dengan para unit pemukul tadi. Ini adalah aura praktisi yang murni, yang telah mengasah tubuh dan jiwanya selama bertahun-tahun.

"Ini adalah Ye Chen," ucap Dr. Aris dengan senyum licik. "Dia adalah salah satu dari sedikit orang di dunia ini yang berhasil menembus Kelas Emas Tahap 1 tanpa bantuan serum murni kami. Dia adalah pedang terkuat Bio-Gene."

Ye Chen melangkah maju. Setiap langkahnya menimbulkan getaran energi yang menekan lantai. Ia menarik pedangnya perlahan, dan seketika, cahaya emas menyelimuti seluruh ruangan. Ini adalah Niat Pedang (Sword Intent) yang cukup kuat untuk membuat praktisi Kelas Perak langsung muntah darah.

"Aku tidak tahu siapa kau," ucap Ye Chen, suaranya tenang namun mengandung ancaman. "Tapi aura yang kau pancarkan... itu bukan aura manusia. Kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup."

Ling Feng tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Kelas Emas? Di duniaku, emas hanyalah bahan untuk membuat piring makan para pelayan. Kau menyebut dirimu pendekar pedang, tapi kau berdiri di bawah perintah seorang pria yang mencoba menggantikan Tuhan dengan tabung reaksi?"

Ling Feng maju satu langkah, dan seketika, aura Ye Chen yang menekan itu pecah berkeping-keping.

"Kau punya bakat, Ye Chen. Tapi kau buta," lanjut Ling Feng. "Pedangmu bersinar karena energi yang dipaksakan, bukan karena pemahaman terhadap langit. Hari ini, aku akan menunjukkan padamu perbedaan antara sebilah pedang yang menyembah cahaya, dan sebilah pedang yang menciptakan cahayanya sendiri."

Ye Chen tidak banyak bicara lagi. Ia melesat, pedangnya membentuk busur cahaya emas yang mematikan, mengarah tepat ke jantung Ling Feng.

Ling Feng tidak menarik senjata. Ia hanya berdiri diam, matanya mengikuti setiap pergerakan bilah pedang Ye Chen dengan presisi yang mengerikan. Pertarungan sejati antara Tingkat 2 (Pembersihan Darah) milik sang Kaisar dan Kelas Emas hasil latihan keras Bumi akan segera dimulai. Dan di ruangan ini, hanya akan ada satu pemenang yang berhak memegang gagang pedang kuno tersebut.

More Chapters