"Tenang. Aku tahu apa yang kulakukan," jawab Radit, jari-jarinya bergerak cekatan dan penuh fokus.
Felicia tiba-tiba menegang. Nalurinya menyala.
"Cepat. Waktu kita hampir habis."
Di aula utama yang dipenuhi bayangan, Raphael berdiri di tengah kerumunan yang sunyi. Suaranya tenang, namun mengandung wibawa yang tak terbantahkan. Mata para rekrutan muda di hadapannya kosong, seperti wadah hampa yang telah kehilangan kehendak.
Kaivan menyelinap masuk tanpa suara. Namun Raphael berbalik, seolah merasakan kehadirannya. Senyum tipis yang penuh arti terukir di bibirnya. "Kaivan. Aku tidak menyangka kau akan kembali."
"Kita harus pergi. Mereka memanfaatkanmu. Aku punya bukti, ini bukan pelatihan. Ini terorisme."
Keheningan berat turun di antara mereka. Raphael menatap Kaivan lama, lalu mengembuskan napas pelan.
"Kalau begitu, aku ikut denganmu."
Di ruang penyimpanan yang pengap dan remang, Radit, Felicia, dan Ethan bekerja dalam diam yang tegang. Keringat menetes di wajah Radit saat ia menyusun kabel dan rangkaian kecil, mengikuti instruksi bercahaya dari Tome Omnicent di layar ponselnya. Felicia berdiri di dekat pintu, tubuhnya siaga, matanya menyapu setiap sudut. Tangan Ethan gemetar, tetapi ia tetap membantu, menyambungkan kabel satu per satu.
"Selesai," bisik Radit, menyeka keringat di dahinya. Namun sebelum rasa lega sempat hadir, langkah kaki bergema dari lorong.
Felicia bereaksi seketika. Batang besi di tangannya terangkat, tubuhnya tegang namun terkendali. Radit dan Ethan membeku, tatapan mereka menyiratkan kata yang sama, bahaya.
Pintu berderit terbuka. Seorang pria bersenjata masuk. Namun Felicia lebih cepat. Dalam satu ayunan tajam, besi itu menghantam lehernya. Tubuh pria itu roboh tak sadarkan diri.
Mata Ethan membelalak. "Kamu... cepat sekali."
"Kita harus bergerak. Aku khawatir pada Kaivan," jawab Felicia tenang namun tegas.
Radit meraih tas berisi bahan peledak yang telah dirakit. "Ayo," katanya, memimpin jalan. Tiga bayangan menyusup ke lorong gelap, menuju jantung bangunan.
Sementara itu, Kaivan dan Raphael melintasi lorong sempit. Mata Kaivan menyisir dinding remang, waspada terhadap setiap gerakan. Raphael berjalan di belakangnya, diam namun gelisah.
Lalu Raphael berhenti. Senyum tipis terbit di bibirnya, tatapannya berubah dingin. Kilatan logam menyembul dari balik mantelnya.
"Kaivan," bisiknya.
Sebelum Kaivan sempat bereaksi, bilah pisau menembus sisi tubuhnya. Darah mengalir hangat. Kaivan terhuyung, matanya melebar oleh keterkejutan.
"Raphael... apa yang kau lakukan?" Suaranya bergetar, antara bingung dan sakit.
Wajah Raphael mengeras oleh kepahitan. "Kau selalu ikut campur. Selalu jadi pahlawan. Selalu merusak semua yang sudah kuusahakan. Aku muak."
Kaivan jatuh berlutut, darah menggenang di lantai, tetapi genggamannya pada Tome Omnicent tetap kuat. "Aku hanya ingin menyelamatkan semua orang. Menghentikan kegilaan ini."
"Kau tidak mengerti," desis Raphael. "Aku tidak butuh diselamatkan. Aku ingin dilihat. Aku ingin mereka akhirnya menyadari keberadaanku. Dan kau merampas itu dariku."
Tome itu mulai bersinar redup. Kata-kata bercahaya membentuk sebuah kenangan, seorang anak kecil duduk sendirian di ruangan kosong, menatap pintu yang tak pernah terbuka.
"Orang tua Raphael adalah anggota dewan. Terlalu sibuk untuk memperhatikan putra mereka sendiri," ungkap Tome dalam cahaya sunyi.
Napas Kaivan tercekat. Lukanya berdenyut, tetapi hatinya terasa lebih perih. "Jadi kau akan menghancurkan segalanya hanya agar mereka menoleh padamu?"
Raphael mengepalkan tangan, matanya menyala. "Mereka tak pernah punya waktu untukku. Aku mencoba segalanya, tapi mereka tak pernah melihat. Jika dunia mengingatku... jika aku mati karenanya... mungkin mereka akan menyesal."
Keheningan kembali turun, berat dan menyakitkan. Suara Raphael bergetar, retak oleh beban perasaannya sendiri. Kaivan, meski lemah, perlahan meraih ke belakang, menggenggam karambit tersembunyi. Dengan napas berat dan tersendat, ia mencabut pisau yang masih tertancap di tubuhnya. Darah menetes ke lantai, namun yang ingin ia bebaskan bukan hanya dirinya, melainkan hati Raphael yang terbelenggu kesedihan.
Raphael terpaku, matanya bergetar. Dalam momen rapuh itu, Kaivan tersenyum tipis penuh lelah. "Jika suatu hari mereka berhenti sibuk, tapi kau sudah tiada... lalu untuk siapa kau ingin mereka banggakan? Semua ini bukan balas dendam. Ini hanya anak kesepian yang ingin diperhatikan."
Kata-kata itu menghantam seperti bilah tajam. Raphael membeku. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan badai. Kaivan mencabut pisau dari sisinya dan melemparkannya ke dinding. Denting logam memecah udara.
"Kadang aku juga merasakannya," ucap Kaivan pelan. "Tak ada yang memanggil namamu, tak ada yang meraih tanganmu. Tapi kebenaran tetap ada, meski dunia menolak melihatnya. Karena itu aku terus melangkah."
Tubuh Raphael gemetar. Tangannya meraih sabuknya, mengeluarkan granat asap. Ia melemparkannya ke lantai. Ledakan kecil menyemburkan asap tebal yang menyelimuti ruangan dalam kabut kelabu.
"Kau punya teman. Ada yang peduli padamu," gumam Raphael, suaranya retak. "Kau tidak akan pernah mengerti."
Kaivan bergerak mengikuti naluri. Meski terluka, ia meloncat menghindar saat asap memenuhi lorong, mengubahnya menjadi labirin bayangan dan sunyi. Napasnya semakin berat. Di balik kabut, suara Raphael terdengar lirih dan patah.
"Terkadang berbuat baik hanya membuatmu tak terlihat. Seolah kau tak pernah ada."
Kata-kata itu menusuk dalam, membangkitkan kenangan lama yang tak ingin Kaivan sentuh. Namun tak ada waktu untuk ragu. Ia melangkah perlahan, mata menyipit, mencari siluet Raphael di tengah kabut.
Kilatan baja muncul tiba-tiba. Raphael menerjang. Pisau membelah udara. Kaivan memutar tubuhnya, nyaris menghindar, tetapi bilah itu tetap menggores lengannya. Darah mengalir hangat dan cepat.
