Cherreads

Chapter 70 - Saat Ia Memilih Kekacauan

Kemenangan Kaivan bukan hanya soal kekuatan. Itu adalah keberanian untuk menghadapi masa lalunya, dengan kepala tegak, tanpa gentar.

Dari kejauhan, Tania gemetar saat melihat Darius—pria yang dulu pernah ia kendalikan—jatuh tak berdaya ke tanah. Rasa takut melonjak dalam dirinya, tapi pikirannya bergerak cepat. Ia tidak boleh kalah.

"Kaivan! Tolong aku!" teriaknya, air mata mengalir di wajahnya, kedua tangannya menutupi ekspresi putus asa yang dibuat-buat. Tubuhnya hanya tertutup bra dan hotpants. "Mereka… mereka mencoba menyerangku!"

Namun Kaivan tidak bergerak. Ia berdiri tegak di tengah sisa-sisa pertarungan, ekspresinya tak terbaca. Dengan tenang, ia mulai memeriksa kantong dan tas para pria yang tergeletak—dompet, ponsel, rantai—mengumpulkannya satu per satu dengan ketelitian dingin.

"Ethan, bantu aku kumpulkan ini. Kita butuh untuk menebus motorku dan mengambil kembali barang-barangku," katanya datar.

Ethan, yang masih memegang ponselnya, ragu sejenak. Ia melirik Tania. "Tapi dia bilang dia korban, Kai. Darius…"

"Darius bilang, 'Jangan ganggu aku saat aku bersama pacarku,' kan?" potong Kaivan tajam, matanya tak sekali pun menoleh ke arah Tania.

Ethan terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Kamu benar."

"Jangan buang waktu untuk dia. Fokus."

Tania sadar aktingnya gagal. Wajahnya memucat, tapi pikirannya berputar cepat. Jika air mata tak berhasil, maka manipulasi berikutnya harus jauh lebih dalam.

Dalam diam, ia membangun kembali rencananya. Rasa takut di wajahnya menghilang, digantikan topeng tenang yang nyaris membeku. Ia mengingat kelemahan Kaivan—masa lalunya, kebiasaannya, lukanya.

"Kamu pikir kamu sudah menang, Kaivan?" bisiknya pelan. "Tunggu saja. Kamu masih manusia. Kamu masih punya celah. Dan aku akan menemukannya."

Sementara itu, Kaivan berjalan mendekati motor tua itu. Tatapannya bukan tertuju pada mesin semata, melainkan pada apa yang dilambangkannya—kebebasan. Setiap langkahnya adalah pernyataan: ia bukan lagi mangsa, melainkan kekuatan yang lahir dari pengkhianatan. Dan hari ini, tak ada manipulasi yang bisa mengalahkannya.

"Motor siapa itu?" tanya Kaivan. Suaranya tenang, rendah, seperti bisikan senja yang menekan udara, namun tetap tegas.

Ethan mengangkat bahu ragu. "Punya Darius. Yang barusan kamu jatuhkan," jawabnya. "Itu kebanggaan dia. Kamu tahu betapa berharganya itu buat dia."

Kaivan tidak menjawab. Matanya menelusuri rangka motor itu, telapak tangannya menyentuh bodi krom seperti menyentuh relik kuno. Ia menatapnya lama, seolah mencoba memahami bukan hanya bentuknya, tapi juga jiwa di dalamnya.

"Kalau kamu ambil itu, bakal jadi kekacauan," kata Ethan gugup. "Darius punya koneksi. Orang tuanya berpengaruh."

Kaivan tetap diam. Tangannya membuka kompartemen samping, gerakannya cepat dan stabil. Di dalam, ia menemukan dompet kulit, surat registrasi, kartu kepemilikan. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang seolah sudah tahu jawabannya.

Dari reruntuhan pertarungan, Tania muncul lagi, wajahnya dipenuhi amarah dan panik. "Kaivan! Itu motor pacarku!" teriaknya, suaranya menggema.

Kaivan menoleh padanya, tatapannya sedingin baja. "Aku akan menggadaikan ini. Anak buah pacarmu menggadaikan motorku duluan. Aku cuma menyeimbangkan keadaan."

Ia menatap lurus ke mata Tania. "Kamu bilang kamu diserang. Sekarang kamu bilang 'pacar.' Yang mana yang benar?"

Tania membeku. Mulutnya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.

"Itu pencurian, Kaivan!" akhirnya ia berteriak. "Kamu bisa masuk penjara gara-gara ini!"

Kaivan mengangkat bahu. "Silakan saja. Aku tidak takut."

Ethan akhirnya bicara. "Kamu yakin soal ini, Kaivan? Darius tidak akan membiarkan ini begitu saja."

Kaivan menatapnya sebentar, lalu kembali menatap motor itu. "Justru itu alasannya."

Ia naik ke atas motor perlahan, seolah menaiki sebuah keputusan yang tak bisa dibatalkan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kaivan mengambil kunci dari dalam dompet, memasukkannya ke kontak, lalu memutarnya. Raungan mesin Harley hidup, menggelegar memecah kesunyian. Ia duduk diam di atas jok, tangannya menggenggam setang seolah tak akan pernah melepaskannya.

"Ayo, Ethan. Ikut atau tidak?" tanyanya tanpa menoleh.

Ethan menatap punggung Kaivan yang lebar, lalu naik ke belakang, meletakkan tangan di bahunya. "Aku ikut."

Motor itu melaju kencang, meninggalkan puing-puing pertarungan mereka. Di belakang, Tania berteriak, "Kaivan! Aku akan melaporkanmu!" Namun suaranya tercerai oleh angin, hancur menjadi debu di belakang mereka.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah pegadaian kecil. Kaivan turun, tenang di permukaan, tapi matanya menyala di baliknya. Di tangannya, segumpal uang—harga dari kebanggaan musuhnya. Langkahnya terasa berat, seolah setiap lembar uang membawa potongan luka lama.

Ethan bersandar di dinding. "Sekarang apa?"

More Chapters