Cherreads

Chapter 57 - Pintu yang Seharusnya Tak Pernah Terbuka

Kaivan mengangguk. "Ada sesuatu yang ingin kucoba."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Felicia langsung bersiap. Kakinya terbuka selebar bahu, lutut sedikit ditekuk, tangan terangkat siap. Tatapannya menajam, penuh kendali. Kaivan menirukan posisinya, kaku namun penuh tekad. Ia mendengarkan dengan saksama—bisikan angin, napas Felicia, dan detak jantungnya sendiri.

Selama beberapa detik sunyi, waktu terasa berhenti.

Lalu Felicia bergerak lebih dulu. Tangannya melesat menuju bahu Kaivan. Ia mencoba menghindar, tapi gagal. Serangan itu mengenai sasaran dan memaksanya mundur. Rasa sakit menjalar. Frustrasi muncul.

"Fokus…" bisiknya. Ia menarik napas dalam, mengingat kata-kata Tome: percepat pikiranmu.

Felicia menyerang lagi. Pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi. Kaivan mencoba menghindar—gagal. Sebuah tendangan hampir mengenai tulang rusuknya.

Namun pada detik itu… dunia melambat.

Ia melihat semuanya. Sudut pukulan Felicia. Irama napasnya. Kedipan matanya. Dunia seperti masuk ke gerakan lambat.

Kaivan bergerak. Menyamping. Menghindar. Lalu membalas, tangannya melesat menuju bahu Felicia.

Felicia mundur, terkejut. Lalu ia tersenyum. "Bagus, Kaivan. Tapi jangan cepat puas," katanya, kembali ke posisi siap.

Kaivan berdiri tegap. Tubuhnya gemetar, tapi hatinya mantap dengan keyakinan baru. Ia baru saja menyentuh batas baru dalam dirinya. Dan ini… baru permulaan.

Akselerasi itu memudar hampir seketika. Kaivan mencoba menyerang lagi, tapi tubuhnya melemah. Napasnya berat. Felicia maju cepat, serangannya tepat mengenai bahu Kaivan dan menjatuhkannya.

Ia berdiri di atasnya, napasnya sendiri sedikit berat, namun senyumnya tulus. "Kamu lebih cepat," katanya, mengulurkan tangan. "Kamu bahkan sempat membalas sebelum aku menjatuhkanmu. Dan aku tadi serius."

Kaivan menerima tangannya dan bangkit perlahan. Tubuhnya gemetar, tapi matanya menyala penuh tekad. Kata-kata Felicia menancap dalam, menyalakan percikan yang bahkan tak ia sadari ia butuhkan.

Matahari mulai tenggelam, melukis langit dengan cahaya ungu lembut. Felicia menarik napas sebelum berbicara lagi. "Aku pulang duluan."

Dari dekat dinding, Thivi yang sejak tadi bersandar santai berseru, "Tumben! Biasanya kamu nunggu Kaivan."

Felicia hanya memberi senyum tipis. "Adik-adikku pasti kangen. Sudah beberapa hari aku tidak pulang."

Thivi menyipitkan mata dengan ekspresi jahil, tapi tak berkata lagi. Kaivan memandang Felicia yang berjalan menjauh, dadanya terasa kosong, meski ia tak tahu kenapa.

Setelah Felicia pergi, Kaivan membuka Tome Omnicent. Halamannya bergerak perlahan, kata-kata terbentuk di permukaan:

"Felicia pulang untuk menyiapkan seragamnya. Mulai besok, ia akan bersekolah di SMA yang sama denganmu."

Kaivan membaca dalam diam, bibirnya melengkung tipis. "Kasihan, mau kasih kejutan tapi sudah ketahuan duluan," gumamnya.

Senja makin meredup. Kaivan bersiap pulang, dengan Thivi naik ke jok belakang motornya.

Motor melaju santai, jalanan diselimuti cahaya jingga keemasan yang perlahan berubah menjadi ungu pekat. Angin mengusap rambut mereka, hanya suara daun bergesekan yang menemani keheningan. Namun hati Kaivan tetap gelisah. Ada sesuatu yang berubah. Hari-hari biasa telah berakhir.

Memecah sunyi, Kaivan bertanya datar, "Kamu tidak masuk kelas hari Senin? Tidak pulang ke rumah?"

Di belakangnya, Thivi tersenyum lembut. Mata birunya berkilau dalam cahaya senja. "Aku ingin bertemu ibumu. Ayahku ingin bicara dengannya."

Kaivan mengernyit. Pikirannya membeku sesaat. "Ayahmu? Soal apa?" gumamnya, tapi tidak bertanya lebih jauh.

Thivi tetap diam. Keheningannya menggantung seperti teka-teki. Kaivan hanya bisa terus berkendara, dikejar kemungkinan-kemungkinan yang samar.

Saat mereka sampai di rumah, Thivi langsung menemui ibu Kaivan yang sedang menonton televisi. Dengan tenang, ia menyerahkan ponselnya. "Bu, ini dari ayah saya. Beliau ingin bicara."

Ibu Kaivan menerimanya dengan wajah sedikit cemas. Ia melirik layar sebelum menjawab. Suaranya stabil, tapi penuh pertanyaan yang tak terucap. Kaivan berdiri di ambang pintu, mendengarkan dalam diam.

Percakapan itu singkat. Setelah selesai, keheningan canggung memenuhi ruangan. Tatapan ibunya berpindah antara Thivi dan Kaivan, sebelum akhirnya ia berbicara jelas, meski pelan. "Thivi akan tinggal di sini selama seminggu. Dia sedang libur sekolah."

Kaivan hanya mengangguk. Ia tak tahu harus merasa senang atau justru gelisah. Kehangatan muncul, tapi rasa tidak tenang tetap ada. Thivi selalu datang membawa misteri.

Malam segera memeluk rumah itu. Kelelahan menekan tubuh Kaivan. Setelah membongkar ratusan ponsel dan latihan keras dengan Felicia, yang ia inginkan hanya mandi dan tidur.

Tanpa bicara, ia masuk ke kamar mandi. Baru saja ia hendak membuka keran, langkah kaki tergesa terdengar dari luar. Seolah sesuatu akan terjadi.

Pintu terbuka tiba-tiba. Thivi berdiri di sana dengan senyum cerah penuh antusias. "Kamu tidak senang ya, Kaivan? Aku akan tinggal di sini selama seminggu penuh…?"

Suaranya terhenti. Mata birunya melebar saat sadar Kaivan hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Wajahnya langsung memerah. "Waaah!" teriaknya, menutup pintu keras. Namun bukannya keluar, ia tetap di dalam, suaranya terdengar dari balik pintu dengan nada menggoda. "A… aku bisa bantu gosok punggungmu kalau mau," katanya, jelas menahan malu.

Kaivan memijat pangkal hidungnya, kesal. "Thivi, kamu lagi ngapain? Keluar! Bagaimana kalau ada orang rumah tahu?" desisnya.

Namun seperti biasa, Thivi tidak mau mundur. Dengan tenang, ia mengunci pintu kamar mandi lalu mendekat. Kali ini, ia melepas jaketnya, menyisakan pakaian dalam. Dengan senyum jahil, ia memiringkan kepala. "Santai. Aku tidak telanjang, jadi tidak apa-apa, kan? Jadi… kamu mau aku mulai dari mana, Kaivan?" tanyanya berani, seolah situasi itu hal paling normal di dunia.

More Chapters