Cherreads

Chapter 44 - Dia Duduk di Sana Seolah Itu Tempatnya

Di bengkel yang beraroma logam dan dipenuhi dengung mesin yang konstan, cahaya senja menyelinap masuk melalui jendela yang retak, membasuh ruangan dengan kilau keemasan yang lembut. Debu melayang perlahan di dalam berkas cahaya itu, memberi kesan hampir sakral pada ruang yang berantakan.

Tempat ini bukan sekadar bengkel. Di sinilah mimpi-mimpi dirakit, dibangun dari keringat, makan bersama seadanya, dan tawa yang meledak tanpa rencana. Di antara kabel yang kusut, perkakas berkarat, dan tumpukan besi tua yang menjulang, denyut kerja dan canda ringan berbaur seperti detak jantung sebuah keluarga. Setiap sudut menyimpan kenangan: bekas gosong dari kesalahan pengelasan lama, bangku berkaki satu yang tetap dipakai dengan keras kepala, poster mobil balap yang warnanya memudar dan ditempel bertahun-tahun lalu.

Zinnia berdiri di tengah ruangan, rambut ungunya diikat tinggi, memberi kesan tegas dan cekatan. Cahaya senja menyentuh helai rambutnya, berkilau seperti percikan api.

"Hasil emas minggu ini, dua ratus dua belas gram," katanya sambil menunjuk timbangan digital. Suaranya berwibawa, memotong riuh perkakas yang saling beradu. "Ditambah enam puluh tujuh gram dari minggu lalu. Totalnya dua ratus tujuh puluh sembilan gram."

Radit bersandar santai pada sebuah balok, menutup pisau lipatnya sambil bersiul pelan. Gerakannya terlihat malas, tapi sorot matanya menyimpan kepuasan.

"Akhirnya kerja rodi ini ada hasilnya juga," gumamnya, menyelipkan pisau itu sebelum memutarnya sekali lagi sekadar pamer.

Di dekat jendela, Kaivan mengangkat tangan sedikit. Wajahnya tenang, disinari cahaya matahari yang melukis sosoknya dengan lembut.

"Harga sekarang tiga ratus dua puluh lima ribu per gram," ucapnya datar. "Hampir sembilan puluh juta semuanya." Kata-kata itu meluncur ringan, seolah ia hanya membicarakan cuaca, namun bobot angkanya jatuh berat di benak semua orang.

Frans, yang tadi berselonjor di kursi dengan satu kaki menggantung, langsung menegakkan badan. Senyumnya merekah lebar, matanya berbinar penuh antusias.

"Jadi pembagiannya gimana minggu ini?" tanyanya, condong ke depan.

"Dan kita makan besar lagi, kan? Kayak kemarin?" tambahnya, mengusap dagu seakan sudah mencicipi daging bakar dan minuman yang melimpah. Harapannya yang kekanak-kanakan memancing tawa Radit, yang menepuk bahunya dengan mantap.

Namun tawa itu segera mereda ketika Zinnia menyipitkan mata. Tatapannya tajam, memotong udara. Lengannya terlipat di dada, tubuhnya kaku seperti baja.

"Tapi… kenapa ada cewek duduk di pangkuan Kaivan?" tuntutnya, nadanya seperti percikan api jatuh ke kayu kering.

Semua pandangan serempak beralih ke sudut ruangan. Felicia duduk nyaman di paha Kaivan, seolah itu tempat paling wajar di dunia. Rambut panjangnya tergerai lembut, jarinya memainkan ujung helai rambut dengan santai. Ia hanya tersenyum, tenang dan tak terusik, seakan menantang siapa pun untuk mempersoalkannya.

"Thivi, sekarang semua orang malah ngeliatin kamu," katanya lembut, meski ada kilat api di matanya yang membantah nada bercandanya.

Thivi langsung membalas, tangannya bertolak pinggang, suaranya nyaring dan tajam, cukup untuk menahan tegang yang merayap.

"Hah? Kenapa aku? Kamu yang nempel terus sama dia," sahutnya, setengah bercanda, setengah menantang, dengan sorot mata yang tak mau mengalah.

Zinnia melangkah maju sebelum suasana benar-benar memanas. Ia menancapkan kakinya kuat-kuat, suaranya menggema penuh otoritas, tak memberi ruang untuk membantah.

"Aku bicara ke kalian berdua," bentaknya, jarinya menunjuk Felicia dan Thivi bergantian. Kata-katanya membelah ketegangan seperti pisau, membuat yang lain refleks menegakkan punggung.

Kaivan menghela napas pelan, hampir tak terdengar di tengah dengung mesin. Wajahnya tetap tenang, terlepas, seolah ia menolak terseret ke pusaran api yang mulai membara. Keteguhannya seperti dinding sunyi, satu-satunya yang tak bergeser di ruangan penuh percikan.

Frans, seperti biasa, tak melewatkan kesempatan bercanda. "Enak juga ya, dimanjain dua cewek cantik sekaligus," gumamnya dengan senyum usil, memicu gelombang tawa kecil.

Radit sigap menimpali. "Bawa Tira, pacarmu, terus baru kamu tahu rasanya," ejeknya sambil tertawa. Frans ikut terkekeh puas.

Di tengah riuh itu, Kaivan bangkit perlahan. Suaranya tenang, namun mantap, setiap kata terasa berbobot. "Kita jual sebagian emasnya. Untungnya cukup buat makan besar, dan beli empat karung komponen ponsel buat produksi berikutnya." Seketika semua perhatian tertuju padanya.

Frans kini mengangguk serius. "Aku siapin mobil. Tapi… boleh Tira ikut kali ini?" Nada suaranya melunak, hangat dan tulus.

Kaivan tersenyum tipis dan mengangguk. "Tentu saja. Makin ramai makin baik."

Matahari senja terus merendah, menyinari bengkel dengan cahaya emas cair. Kilau itu menari di atas tumpukan harta yang mereka ciptakan dengan tangan sendiri, berpendar seperti mimpi yang mulai menemukan bentuknya. Tawa dan obrolan berpadu dengan dengung mesin, menjadikan tempat itu lebih dari sekadar bengkel. Ia menjadi ruang tempat tekad dan kebahagiaan tumbuh berdampingan, merajut harapan.

 

More Chapters