Cherreads

Chapter 2 - Chapter 1: Kembalinya Sang Kehampaan

Di alam semesta, terdapat jutaan galaksi. Salah satunya adalah galaksi BimaSakti. Dan di dalam galaksi itu, ada sebuah planet bernama Bumi. Di sanalah aku—sang kehampaan—bereinkarnasi sebagai manusia.

Aku lahir kembali di sebuah ruangan serba putih. Aku tak bisa bergerak, tak mampu bicara. Ketika melihat tanganku yang kecil, aku sadar... aku menjadi bayi manusia.

Seseorang menggendongku. Aku menatap wajahnya—berkumis, berkulit sawo matang, dengan senyum hangat. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh tanganku dengan lembut.

"Kenapa, Hiyoko? Ayahmu ini tampan, ya?" katanya sambil tertawa kecil.

Dari ucapannya, aku tahu: dia ayahku. Aku punya nama—Hiyoko. Tapi sebelum sempat berpikir lebih jauh, sebuah gelombang informasi menghantam kesadaranku. Pengetahuan manusia... tentang emosi, perasaan, dan kehidupan. Mataku mulai berkaca-kaca, dan aku menangis. Entah karena tubuh ini atau karena perasaan yang menyelinap tanpa permisi.

Ayah membawaku ke sisi seorang perempuan yang berbaring lemah di sudut ruangan. Wajahnya cantik, rambutnya hitam panjang. Dia menatapku dan tersenyum.

"Kamu mau susu, ya? Cup cup... jangan menangis," ucapnya lembut sambil mengelus kepalaku.

Ia menyodorkan payudaranya ke mulutku. Tanpa sadar, aku mengisapnya. Di tengah proses menyusu, ia berkata,

"Aku ibumu. Yang melahirkan mu. Dan tadi itu ayahmu. Kau sangat mirip denganku... kulitmu, matamu. Rambutmu seperti ayahmu. Mungkin sekarang kau belum mengerti, tapi semoga kau tumbuh sehat. Kami bahagia atas kelahiranmu."

Untuk pertama kalinya dalam keberadaan ku, aku merasakan perasaan hangat yang baru ku alami. Aku, sang kehampaan, merasa ingin melindungi mereka.

Lima tahun berlalu.....

Aku tumbuh besar di rumah kecil di desa. Aku berbeda dari anak-anak manusia biasa. Mereka belajar berjalan di usia dua tahun; aku melakukannya di usia lima bulan. Namun, satu hal mengganjal—selama lima tahun ini, kekuatanku tak kunjung kembali.

"Dunia ini terlalu biasa," pikirku. "Tak ada energi kosmik, tak ada kegelapan, hanya manusia dan kesederhanaan mereka."

Aku duduk sendiri di kamar, merenung. Kedua orang tuaku selalu memanjakanku, seolah aku adalah segalanya bagi mereka.

"Aku harus membalas dendam," bisikku. "Tapi kenapa… kenapa aku harus menjadi manusia?"

Mengingat lima tahun terakhir, aku masih belum memahami apa artinya menjadi manusia. Emosi mereka, cinta mereka, senyum dan pelukan mereka—semua itu masih asing bagiku.

"Mungkin beginilah rasanya menjadi manusia…"

Satu tahun berlalu.

Aku kini duduk di bangku sekolah dasar. Sekolahku berada disamping jalan raya yang dikelilingi 4 pohon durian disetiap sudutnya. Meskipun jarak antara sekolah dengan rumahku cukup jauh, ibuku tidak ngeluh saat mengantarku.

Dan ini baru hari pertama sekolah, mungkin besok atau lusa aku akan sendiri saja.

Saat tiba didepan gerbang sekolah banyak anak menangis atau merengek enggan masuk kelas, ada beberapa juga yang secara sukarela.

Aku terdiam dan merasa heran.

"Manusia memang makhluk yang ribet," gumamku.

Ibuku menggandengku masuk ke area sekolah. Ia membungkuk, mengelus kepalaku, dan berkata lembut.

"Sayang, bertemanlah dengan baik dan bantulah mereka yang kesusahan. Jika ada yang mengganggumu beritahu ibu ayah, biar kami berdua yang urus." ujarnya

Aku mengangguk, mencium tangannya, lalu berjalan kearah kelas yang berada tepat disamping gerbang dan duduk. Di kelas sudah ada lima anak—empat laki-laki dan satu perempuan.

Aku memperhatikan mereka. Keempat anak laki-laki berkulit kecokelatan, berambut hitam. Tapi perempuan itu berbeda—berkulit putih, berambut pirang dengan alis serupa. Dia blasteran, pikirku.

Saat aku menatapnya, ia menoleh dan berkata dengan nada sinis,

"Hei, kenapa ngeliatin aku terus? Jijik banget. Belum pernah liat orang blasteran?"

Aku merasa bersalah. Dengan sopan aku menjawab sambil menunduk.

"Maaf, aku memang baru pertama kali melihat."

Gadis itu tersenyum tipis lalu menunjuk dengan jarinya.

"dasar orang desa"

Aku mengabaikan apa yang dia katakan dan kembali menghadap kedepan lalu melihat Jam yang menunjukkan pukul 06.30. Aku melamun sambil melihat arah jarum jam itu bergerak.

"sudah setengah 7...kapan ini akan dimulai" pikirku

Gadis tahu sedang diabaikan, nada bicaranya mulai membentak walaupun cempreng.

"Hei! Jangan abaikan aku."

Aku menoleh kearahnya. Ia berdiri tepat di depanku dengan rambut kuncir dua, mata biru dan wajah kesal yang memerah. Tapi entah kenapa itu malah membuatnya terlihat imut.

Aku tidak tahu kenapa itu imut dan entah kenapa jantungku berdegup kencang, perasaan hangat muncul dalam hatiku.

"hey...kamu dengarkan?" ucapnya

Suara yang cempreng, wajah imut membuatku gugup. Tapi aku mengucapkan kata yang tidak kuketahui dengan pelan.

"kau.... imut"

Aku rasa dia tidak akan dengar tapi....aku salah. Saat aku melihat wajahnya, ia semakin memerah dan matanya mengeluarkan air mata. Aku mencoba minta maaf tapi....

"i-idiot" teriaknya.

Seluruh orang yang berada dikelas menoleh. Aku bingung harus berbuat apa... Kenapa manusia begitu emosional apalagi saat dipuji?

Aku hendak ingin meminta maaf, tapi seorang perempuan dewasa—guru kami—mengangkat tangan menghentikan ku.

"Sudah, duduk kembali," ucapnya pelan.

Aku mengangguk dan kembali duduk. Guru itu menghampiri gadis itu dan berbicara pelan.

Aku menghela napas.

"Aku rasa… ini akan merepotkan. Dan juga kenapa dia malah berbalik dan menjulurkan lidahnya?"

...

Sudut Pandang Gadis Itu:

Sembari menahan rasa malu, gadis itu memegang wajah dengan kedua tangannya dan bergumam…

"Astaga… dia bilang aku imut? Aku harus balas nanti. Tapi... apa dia lihat wajahku yang memerah barusan? Aku benar-benar malu."

"mungkin…aku akan mencoba dekat dengannya"

Sore harinya…

Menjelang pulang aku di jemput dan pulang sekolah bersama orang tuaku. Namun, kejadian tak terduga terjadi.

Sebuah truk melaju ke arah kami.

Aku bisa saja menghindar, tapi melihat ibu yang gemetar dan ayah yang mencoba menyelamatkannya—aku tak punya pilihan.

Aku mendorong mereka, dan truk hampir menabrak ku.

"Meski ini hidup keduaku… aku tak rela mereka mati…"

Aku berguling, mencoba menghindar, tapi tubuh kecil ini terlalu lambat. Aku terpental kearah pohon dan Brak! Aku tertimpa… durian.

Dan saat aku membuka mataku, aku menyadari sudah ada di ruangan putih—terang sampai membuat mataku silau dan disana terdapat sebuah figur pria dewasa bertubuh layaknya manusia..

Tubuhnya tertutupi kain tapi disaat dia berbicara itu bergema keseluruh ruangan itu.

"wahai jiwa yang terpilih, selamat datang di dunia lain. Dimana sihir itu mutlak dan hal yang lumrah di sini."

More Chapters