Cherreads

AKU MEMBAWA ISTRIKU KE MANA PUN AKU PERGI

pemula76
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
92
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - AKU MEMBAWA ISTRIKU KE MANA PUN AKU PERGI

Hujan turun perlahan.

Di gubuk kecil di pinggir pegunungan, Mei Yun terbaring tenang. Wajahnya pucat, napasnya telah lama berhenti.

Lin Chen duduk di sampingnya, memegang tangan yang kini dingin.

"Aku pulang," katanya pelan, seolah istrinya masih bisa mendengar.

Tak ada tangisan histeris.

Tak ada teriakan.

Hanya kesunyian…

dan seorang pria yang menolak melepaskan.

Ia membungkus tubuh istrinya dengan kain putih bersih, menggendongnya di punggung.

"Maaf," bisiknya.

"Aku belum siap kehilanganmu."

Orang-orang desa menatapnya dengan takut.

"Dia gila…"

"Kenapa membawa mayat ke mana-mana?"

Lin Chen tak peduli.

Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, namun hatinya lebih berat lagi jika harus meninggalkan Mei Yun.

Saat malam tiba, ia duduk di api unggun, berbicara padanya.

"Hari ini kita melewati sungai yang kau suka," katanya lembut.

"Airnya masih jernih… seperti dulu."

Angin malam berhembus.

Ia tersenyum kecil.

"Aku tahu… kau mendengarkan."

Di setiap tempat yang mereka lewati, kenangan muncul.

Di padang rumput—

tempat Mei Yun pernah tertawa sambil berlari.

Di kota kecil—

tempat mereka pertama kali bertemu.

Lin Chen menceritakan semuanya, seolah istrinya masih hidup.

"Aku menang hari ini," katanya suatu malam.

"Aku berhasil tidak menangis."

Namun saat ia menunduk…

air mata jatuh ke kain putih.

Seorang tabib tua menghentikannya.

"Biarkan dia beristirahat," ucapnya pelan.

"Orang mati harus dilepaskan."

Lin Chen menggeleng.

"Baginya, aku rumah," jawabnya.

"Bagiku, dia alasan aku masih berjalan."

Tabib itu terdiam.

Untuk pertama kalinya…

tak ada yang bisa membantah cinta itu.

Di puncak gunung, badai salju datang.

Lin Chen memeluk tubuh Mei Yun erat, melindunginya dari dingin.

"Maaf… aku tak bisa memberimu kehangatan lagi," ucapnya gemetar.

Kesadarannya memudar.

Dalam mimpi, Mei Yun berdiri di hadapannya—tersenyum hangat.

"Kau sudah cukup berjalan," katanya lembut.

"Aku lelah melihatmu menderita."

"Aku tidak ingin sendirian," jawab Lin Chen.

"Kau tidak sendirian," katanya.

"Aku ada… di hatimu."

Pagi datang.

Salju berhenti.

Lin Chen terbangun dengan air mata kering di wajahnya.

Ia akhirnya mengerti.

Di bawah pohon sakura liar, ia menggali tanah dengan tangannya sendiri.

Dengan perlahan…

ia membaringkan Mei Yun.

"Aku akan terus berjalan," katanya lirih.

"Untuk kita berdua."

Ia mencium kening istrinya untuk terakhir kali.

Lin Chen melanjutkan perjalanan—sendirian.

Namun setiap senja, ia berbicara ke udara.

Saat tertawa,

saat sedih,

saat lelah—

Mei Yun tetap ada.

Bukan di punggungnya lagi,

melainkan di jiwanya.

Bertahun-tahun kemudian, Lin Chen duduk di bukit yang sama.

Angin berhembus lembut.

"Aku menepati janjiku," katanya sambil tersenyum.

"Aku membawamu ke mana pun aku pergi."

Langit memerah.

Dan untuk sesaat—

ia merasa…

tidak sendirian.

TAMAT