Cherreads

The Boy from Nothingness

sarjana_mesum
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
473
Views
Synopsis
Apa itu ketiadaan? Apakah kamu tahu dari mana kehampaan berasal? Apakah kamu tahu apa arti kehampaan sebenarnya? Atau… apakah kamu hanya menyebutnya ketiadaan karena tidak sanggup memahaminya?
VIEW MORE

Chapter 1 - Dongeng yang Tidak Baik Didengar Sambil Berdiri

Aku akan menceritakan sebuah kisah.

Duduklah. Dongeng ini tidak baik didengar sambil berdiri.

Apakah kamu tahu ketiadaan di utara Kekaisaran Levlain?

Dulunya, tempat itu adalah sebuah desa. Kapan tepatnya, tidak ada yang tahu.

Sebuah desa kecil dengan penduduk berjumlah lima puluh satu rumah.

Jumlahnya tidak pernah berkurang dan tidak pernah bertambah.

Seorang gadis muda yang sangat cantik tinggal di sana.

Kecantikannya tidak membuat iri, tetapi membuat orang lupa diri.

Sampai suatu malam, gadis itu diperkosa—tujuh hari tujuh malam, tanpa henti.

Aku tidak akan mengatakan oleh siapa. Kalian semua pasti sudah tahu.

Beberapa bulan kemudian, perutnya membesar.

Saat itulah semua orang mulai membencinya.

Para wanita membencinya karena suami mereka memperkosanya,

lalu pulang ke rumah dan bersumpah tidak melakukan apa-apa.

Para laki-laki membencinya karena ia mengingatkan mereka pada dosa mereka sendiri.

Gadis itu menangis setiap hari, sampai air matanya habis dan berganti darah.

Sembilan bulan berlalu.

Sepuluh.

Sebelas.

Ketika waktunya melahirkan, gadis itu menahannya.

Ia berharap anak itu mati bersamanya di dalam perutnya, hingga lima belas bulan berlalu.

Ketika bayi itu lahir, ia tidak menangis.

Wajahnya tampan, seperti ibunya.

Gadis itu hanya melihat bayinya sekali, lalu berpaling.

Sejak saat itu, ia tidak pernah melihat anak itu lagi.

Saat anak itu berumur satu tahun, penduduk desa berbondong-bondong mendatanginya.

Katanya, pemimpin desa bermimpi dimaki oleh bayi itu.

Lucu, ya? Bayi yang belum bisa bicara, tapi lidahnya tetap dipotong.

Di umur dua tahun, seorang penduduk desa membawa keledai melewati rumahnya.

Ketika keledai itu berteriak, mereka menunjuk anak itu dan berkata,

"Keledaiku berteriak karena anak itu memanggilnya."

Bukankah lidahnya sudah dipotong?Bagaimana anak itu bisa berteriak?Telinga anak itu pun ditusuk sampai rusak.

Umur tiga tahun, orang-orang bilang mereka takut pada tatapannya.

Mereka bilang jantung mereka selalu berdebar setiap kali anak itu menatap.

Maka mata anak itu dicungkil, supaya penduduk desa bisa tidur nyenyak.

Umur empat tahun, kakinya dipotong.

Alasannya? Ketika sore, bayangan anak itu lebih panjang dari tubuhnya.

Umur lima tahun, tangannya dipotong. Karena mereka bilang setiap orang yang berjabat tangan dengannya bermimpi buruk.

Padahal, tidak pernah ada yang menyentuh anak itu.

Jangankan menyentuh—mendekat saja mereka tidak mau.

Kemudian, anak itu dilempar ke kandang kuda dan dibiarkan membusuk.

Di sana, ia hanya bisa makan rumput

dan minum air kencing kuda yang menggenang.

Apakah kamu tahu berapa lama ia bertahan?

Lebih dari lima ratus hari.

Tubuhnya mengering seluruhnya.

Bahkan untuk mengangkat kepala saja, ia tidak lagi mampu.

Sampai suatu malam, ketika tidak ada angin yang berhembus,

suara tanpa wujud terdengar.

"Anakku, aku akan memberikan hadiah untukmu."

Saat itu, mata anak itu tak lagi buta.

Telinganya tak lagi tuli.

Mulutnya tak lagi bisu.

Tangan dan kakinya tumbuh.

Anak itu segera berlari menemui ibunya.

"Ibu," katanya.

"Ibu, aku minta maaf kalau aku bukan anak yang baik.

Aku minta maaf kalau aku—"

Kata-katanya terhenti ketika ia membuka pintu rumahnya.

Sesuatu jatuh dari atas.

Ketika ia mendongak, belatung jatuh satu per satu,

seperti gerimis saat hujan.

Ibunya tergantung di balok rumah.

Tali melilit lehernya.

Tubuhnya sudah membengkak.

Kulitnya mengelupas.

"Lalu bagaimana selanjutnya?"

"Tidak ada yang tahu apa yang terjadi setelah itu. Legenda hanya mengatakan bahwa anak itu kemudian membunuh seluruh penduduk desa. Air mata darah keluar dari matanya, dan kesedihannya tidak mampu ditanggung tanah itu. Tempat ini pun menjadi ketiadaan, seperti sekarang."

Pria itu menepuk ringan kepala bocah di depannya. "Nah, sekarang belajarlah yang rajin. Jadilah kuat, supaya kamu bisa membantu orang-orang yang tertindas."