━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔥 CHAPTER 121 — "Sovereign vs Damien, Sentuhan Jari yang Mengguncang Realitas"
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌕 ADEGAN 1 — Jari yang Menghentikan Dunia
Jari Sovereign mendekat.
Jaraknya hanya tiga senti dari dahi Damien.
Rex, Hana, dan Zura tetap membeku—hanya bisa menyaksikan dengan mata yang nyaris tak bisa bergerak.
Sovereign of the Hollow Moon mengerutkan kening.
"Kenapa auramu melonjak drastis, bocah?"
Damien menatapnya lurus.
"Aku sudah bilang… kau menyentuh batas yang salah."
Suara misterius itu muncul lagi, tetapi hanya di dalam kepala Damien.
> "Tenangkan dirimu. Jangan pakai implusikan luna berlebihan. Pakai teknik dasar dulu. Kau belum siap untuk teknik tingkat tinggi."
Damien menarik napas…
dan seluruh gua berguncang.
CRAAAAAK—
Lapisan es yang membekukan waktunya mulai retak pelan.
Sovereign terkejut.
"Mustahil… Mortal Rein Realm sepertimu tidak mungkin bergerak dalam domainku."
Damien menaikkan dua jarinya, membentuk gerakan mengiris bulan yang ia pelajari sejak awal.
"Moonfall Decree — Crescent Break."
CLANG—
Dua jari Damien menahan jari Sovereign.
Hanya itu.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada cahaya besar.
Tidak ada teknik mewah.
Tapi…
TEEEEENG—!!
Gelombang suara menghantam seluruh gua seperti gong bulan dipukul.
Sovereign mundur setengah langkah.
Matanya membesar.
"…Kekuatanmu… bukan lunar biasa. Ini… lebih tua."
Rex melihat retakkan es di sekitar Damien.
Dengan suara pelan dari bibir beku:
"BR—BROOOOAPAANITUUU…"
Hana bahkan menangis sedikit—lebih karena kaget Damien bisa menahan Sovereign daripada takut mati.
Zura bergetar.
"Ini… ini energi pramula… energi sebelum lunar terbentuk…"
Damien mengatur napas.
Ia tidak menang.
Tidak lebih kuat.
Tidak mendekati.
Dia hanya… bertahan satu sentuhan.
Dan itu sudah membuat Sovereign tak percaya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌑 ADEGAN 2 — Ujian Kedua yang Tidak Pernah Disebut
Sovereign menurunkan tangannya perlahan.
"…Kau lolos dari ujian pertamaku. Tapi ada ujian kedua."
Damien: "Tentu saja."
Rex (masih beku): "BRO JANGAN IYA-IYA AJA—"
Sovereign mengangkat tangan.
Bayangan lunar keluar dari tubuhnya, berubah menjadi kepingan bulan hitam mengitari Damien.
"Kali ini, aku tidak akan menyentuhmu."
Kepingan lunar itu melayang seperti bulu.
Lembut.
Ringan.
Tidak berbahaya.
Sovereign:
"Jika kau bisa berdiri tanpa berlutut ketika tiap kepingan menyentuhmu… kau lulus."
Damien mengerutkan dahi.
"Ini terlihat terlalu mudah."
Sovereign tertawa kecil.
"Bocah… tiap kepingan ini menahan pecahan aura lunar absolut. Jika mentalmu goyah sedikit pun… jiwamu akan runtuh."
Damien bersiap.
"Baik. Kirimkan."
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌘 ADEGAN 3 — Serangan Tanpa Luka, Serangan Tanpa Wujud
Kepingan pertama menyentuh bahu Damien.
BRAK—!!
Damien terdorong ke belakang satu langkah.
Rasa sakitnya seperti kepala dihantam bulan itu sendiri.
Rex (masih beku):
"BRO… SUARA HANTAMANNYA KAYAK GUNUNG RUNTUH…"
Kepingan kedua menyentuh lengan Damien.
CRAAAK—!!
Lengan Damien bergetar keras, nyaris patah dari dalam.
Tapi ia menggertakkan gigi dan tetap berdiri.
Damien:
"Kalau cuma segini… gampang."
Sovereign tersenyum tipis.
"Kau sombong. Baik."
Kepingan ketiga melesat—
lebih cepat
lebih berat
lebih memukul jiwa daripada tubuh.
DUUUUM—!!
Damien terjatuh satu lutut.
Zura menggigil.
"T-tidak… kalau Damien menyentuh tanah… dia gagal…"
Rex:
"BROOO JANGAN JATUH PLIS—"
Damien berusaha bangkit.
Tapi tubuhnya melawan.
Kemudian suara misterius itu muncul lagi.
> "Bangun. Kau pewaris rasa sakit. Bukan korban."
Damien menutup mata.
Memfokuskan.
Bangun perlahan.
Berdiri.
Tegak.
Sovereign menajamkan mata.
"…Menarik."
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌕 ADEGAN 4 — Kepingan Terakhir
Ada satu kepingan tersisa.
Warnanya hitam-biru.
Mengandung tekanan paling berat.
Seolah mewakili seluruh kemauan Sovereign.
Sovereign:
"Kepingan terakhir. Jika kau mampu menahan ini, aku akan mengakui keberadaanmu."
Damien membuka mata.
"Lempar."
Sovereign mengangkat jari…
dan kepingan itu meluncur.
Dalam sepersekian detik, suara misterius berkata pelan:
> "Gunakan teknik itu. Yang kuberikan dari awal."
Damien mengangkat dua jari.
Cahaya bulan tipis muncul, tapi kali ini tercampur warna hitam pekat, seperti kehampaan sebelum dunia terbentuk.
"Abyssal Crescent — First Form."
Kepingan itu menabrak…
dan dunia seakan berhenti.
BOOOOOOOOM—!!
Gelombang cahaya hitam-perak meledak tanpa suara.
Gua retak.
Udara terhisap.
Es berubah menjadi debu halus.
Rex, Hana, dan Zura terlepas dari pembekuan.
Damien masih berdiri.
Satu lutut goyah…
tapi tidak jatuh.
Sovereign terdiam lama.
Sangat… sangat lama.
Sampai akhirnya ia berlutut dengan satu kaki—
bukan karena kalah,
tapi sebagai pengakuan.
"Kau… tidak hanya mewarisi lunar…
Tapi juga jurang yang lebih tua dari semua cahaya."
Damien:
"Aku tidak peduli jurangnya. Aku hanya peduli orang-orangku."
Sovereign menunduk sedikit.
"…Baik. Damien Valtreos."
"Mulai hari ini… namamu masuk dalam daftar 'yang tidak boleh disentuh' oleh seluruh pemburu lunar."
"Dan sebagai gantinya…"
Sovereign menunjuk langsung ke dada Damien.
"Aku akan menemuimu lagi… saat Lyanna Frostveil memasuki fase kebangkitannya."
Damien mengepal.
"Aku akan siap."
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔥 END CHAPTER 121
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
