---
🔥 CHAPTER 80 — "Ruang Patah, Dua Dewa Bangkit, & Kebangkitan Primordial Lyanna (10%)"
Lanjut dari ledakan terakhir Chapter 79.
---
❖ ADEGAN PEMBUKA — KEHILANGAN DI TITIK BUTA REALITA
Cahaya ledakan itu akhirnya menghilang.
Langit kembali kelabu.
Arcelian, Damien, semua hilang.
Lyanna menjerit, suara parau dan putus asa.
Lyanna:
"DAMIENNN—!!"
Zura mencengkeram pedangnya, tubuh gemetar.
Rex berlutut sambil bengong.
Hana memeluk Lyanna yang hampir pingsan.
Namun… di udara yang retak, muncul jejak energi bulan dan retakan dimensi kecil.
Zura menatapnya tajam.
"…itu bukan kematian. Mereka tersedot ke ruang patah dimensi."
Lyanna membuka mata lemah.
"…ruang… patah?"
Zura mengangguk perlahan.
Zura:
"Tempat di antara dunia. Sering muncul ketika dua teknik di luar batas dunia bertabrakan…"
Ia menatap langit.
"…dan Damien memakai kekuatan yang tidak seharusnya bisa dipakai mortal."
Lyanna memegang dadanya.
Aura Primordial Ice-nya berkedut liar.
"Damien… tolong selamat…"
---
❖ ADEGAN 1 — RUANG PATAH DIMENSI
Gelap.
Kosong.
Tidak ada tanah, tidak ada langit—hanya retakan cahaya terapung seperti serpihan kaca.
Damien jatuh menghantam lantai dimensi yang tidak stabil.
BRUK!
Ia batuk darah.
Bahunya sobek, pedangnya pecah setengah.
Namun ia masih berdiri.
Lalu terdengar suara langkah dari belakang.
Arcelian Frostveil.
Armor retak, bibir berdarah.
Tatapan membunuh.
Arcelian:
"Kau… benar-benar membuatku serius, manusia rendahan."
Damien mengusap darah dari dagunya.
Tattoo bulan di punggungnya berdenyut pelan.
Damien:
"Kau juga…
terlalu banyak bicara."
Arcelian menggeram.
"Di tempat ini, tidak ada penonton. Tidak ada gangguan.
Aku bisa mencabikmu tanpa batas."
Damien tersenyum kecil—dingin, yakin, menantang.
Damien:
"Maka mari lihat… siapa yang tersisa pada akhirnya."
Keduanya menyerang.
---
❖ ADEGAN 2 — PERTARUNGAN TERAKHIR DI RUANG PATI DIMENSI
CLASH! CLASH! CLASH!
Pedang bintang dan sabit bulan saling bertabrakan, memercikan cahaya yang belah ruang.
Arcelian menekan Damien dengan aura bintangnya.
Arcelian:
"Kekuatanmu hanya pinjaman! Kau tidak bisa—"
Damien memotongnya dengan tendangan ke rahang.
Damien:
"Aku tidak peduli."
Arcelian meludah darah.
Murka.
Arcelian: "STAR HOWLING NOVA!"
Rasi bintang meledak di belakangnya.
Dimensi bergetar.
Damien terpental jauh, tulangnya retak.
Damien:
"Ugh— sial…"
Ia mencoba bangkit—namun lututnya goyah.
Saat Arcelian hendak menghabisi Damien—
DUA SUARA SEKALIGUS MUNCUL DI KEPALANYA.
Satu dalam nada halus namun dingin seperti rembulan.
Satu berat, dalam, seolah berasal dari kedalaman kosmos.
---
❖ ADEGAN 3 — DUA DEWA MULAI MENGAJAR
🌙 Suara 1 — Kael Arclight, Dewa Bulan
> "Berdiri.
Kau adalah pewaris bulan.
Teknikku tidak akan membiarkanmu jatuh pada manusia berkasta rendah."
⚡ Suara 2 — Dewa Misterius (Dewa Tertinggi, Sahabat Kael Dulu)
> "Fokus.
Tarik napas.
Aku akan mengajarimu gerakan yang bahkan dunia ini tidak kenal."
Damien hampir jatuh karena shock.
Damien (dalam hati):
"Kalian berdua… muncul… sekarang?!"
Kael Arclight:
> "Kau akan mati kalau aku telat sedikit. Jadi diam dan dengarkan."
Dewa Misterius:
> "Hmph. Bulan itu lambat. Biarkan aku yang mulai."
Kael Arclight:
> "Apa kau mau anak ini hancur sekarang? Teknikmu terlalu kasar."
Dewa Misterius:
> "Dan teknikmu terlalu lembek."
Damien yang berdarah-darah:
"…kalian berdua serius bertengkar di kepalaku saat aku mau mati?"
Keduanya berhenti sejenak.
Kael Arclight:
> "…lanjutkan kau dulu."
Dewa Misterius:
> "…akhirnya kau belajar sopan."
Damien:
"INI BUKAN WAKTUNYA BERDEBAT—!!"
Arcelian:
"Dasar gila… kau bicara pada siapa?"
Dua dewa mengabaikannya.
---
❖ ADEGAN 4 — TEKNIK SEMPURNA PERTAMA
⚡ Dewa Misterius memberi teknik pertamanya:
"VOID STEP — Absolute Phase Shift"
— Bergerak 1 detik keluar dari realita
— Tak bisa disentuh atau dilihat
— Hanya bisa dipakai 3 kali sehari
Suara Misterius:
> "Gunakan itu. Hindari serangannya.
Lalu bunuh dia."
🌙 Kael Arclight memberi teknik keduanya:
"Lunar Sever Art — Moonfall Slash"
— Serangan bulan penuh yang memotong energi dan jiwa
— Mengabaikan armor dan es tingkat bintang
— Hanya bisa digunakan setelah tubuh stabil
Kael Arclight:
> "Pertama hindari…
lalu tebas jantungnya."
Damien menarik napas panjang.
Tattoo bulan berdenyut stabil.
Matanya berubah menjadi emas keperakan.
Damien:
"Baik."
---
❖ ADEGAN 5 — DAMIEN MELAWAN BALIK (PERTAMA KALINYA)
Arcelian melompat, rasi bintangnya berputar.
Arcelian:
"MATILAH, MANUSIA!!"
Pedang bintangnya turun.
Damien menghilang.
Void Step aktif.
Arcelian menebas udara kosong.
Matanya melebar.
Arcelian:
"A—apa?!"
Damien muncul di belakangnya.
Moonfall Slash — Aktif.
Sabit bulan raksasa terlukis di udara.
Damien berbisik pelan:
Damien:
"Kali ini… kau yang jatuh."
SRAAASH—!!!
Arcelian terpental, armor bintangnya pecah, dada terbelah.
Ia batuk darah sambil tersungkur.
Arcelian:
"Kau… kau bukan manusia…"
Damien:
"Aku Damien Valtreos."
Arcelian jatuh berlutut.
Tidak mati—tapi tidak bisa berdiri lagi.
---
❖ ADEGAN 6 — DI DUNIA NYATA… KEBOHONGAN LYANNA TERBONGKAR
Lyanna tiba-tiba pingsan.
Bukan karena shock—
tapi karena darahnya bereaksi.
Aura es primordial memancar dari tubuhnya.
Zura terkejut.
"…darah primordialnya bangkit!"
Hana menutupi wajahnya.
"…dia membuka segel 10% karena Damien hilang…"
Rex:
"10%??!! Itu kaya… udah dewa mini??"
Retakan es di tanah membentuk simbol kuno Frostveil Purba.
Lyanna terbangun perlahan.
Matanya berubah menjadi biru es dengan pupil berbentuk kristal.
Lyanna (suara bergema):
"Di mana… Damien…?"
Semua terdiam.
Zura:
"Kau harus tenang—"
Lyanna menatap langit—dan segala aura di radius 200 meter membeku.
Lyanna:
"Aku akan membuka retakan itu."
---
❖ ADEGAN PENUTUP — PORTAL MENUJU RUANG PATAH
Sementara Damien berdiri di depan Arcelian yang terluka parah…
Suara Misterius kembali berbicara:
> "Ini baru permulaan.
Aku punya 12 teknik sempurna.
Dan kau akan belajar semuanya."
Kael Arclight menambahkan:
> "Setelah keluar dari sini, kau harus menguasai tubuhmu.
Dan kau… harus siap menerima warisanku."
Damien menghela napas.
Damien:
"…guru-guru yang merepotkan."
Keduanya:
> "DIAM."
Damien mengangkat pedangnya, bersiap mengakhiri Arcelian—
Namun retakan besar terbuka tepat di atas mereka.
Es primordial menyelimuti ruang patah.
Lyanna turun… dengan aura kuno mengelilinginya.
Kepalanya menunduk, rambutnya melayang.
Matanya bersinar biru kristal.
Lyanna (suara bergema):
"Damien…"
Damien menoleh kaget.
"…Lyanna?!"
CHAPTER berakhir dengan Lyanna yang menatap Arcelian dengan aura membunuh:
Lyanna:
"Tidak ada yang menyentuhnya…
selain aku."
---
🔥 END CHAPTER 80
